Ini sudah 15 tahun berlalu, masih ku simpan rapih dalam kalbu. Sepenggal cerita yang sudah lama terjadi. Membuat malam – malam ku tak berbintang. Cahaya indahnya seolah enggan untuk bersinar. Kisah dimana cinta tak mungkin bersama. Membuatnya begitu hitam tak berwarna. Tak ada lagi pelangi yang bersinar setelah hujan. Bukankah semua orang memiliki rasa cinta dan sayang,? bukankah perasaan itu datang tiba-tiba dan tak pernah tahu kemana ia akan berlabuh, ia datang tak mengenal waktu dan tempat. Karena cinta mutlak dimiliki oleh setiap orang.
Setiap kisah ini selalu ku tulis dalam lembaran – lembaran kertas putih. Bahkan ku tulis ketika pertama kali kita bertemu. Hari itu adalah hari pertama aku tinggal di rumah baru. Sebuah rumah di atas perbukitan di daerah Cipanas. Jauh sekali dari polusi kendaraan, udaranya yang sejuk mampu membuat hati siapa pun yang sedang gundah menjadi lebih tenang dan nyaman. “ Ibu, kata kak Zidan di deket rumah pak RT ada danau ? boleh kan Zahra kesana ?”. Tanya ku dengan nada penuh semangat. Ibu melihatku sambil tersenyum, “ iya emang ada danau disana, danaunya indah banget loh Ra. Disana ada banyak bunga. Kamu bisa merasa begitu tenang. Disana adalah tempat yang tepat untuk meluapkan semua perasaan. Kamu bisa berbagi kisah dengan alam. Berbagi cerita dengan air dan bunga. Tentu boleh sayang, tapi hati – hati ya danaunya dalam. “
Aku suka sekali bunga, apalagi mawar putih. Bagiku mawar putih adalah lambang ketulusan. Danau itu selalu menjadi tempat favoritku sampai sekarang. Pertama kali aku melihat danau itu, hati dan pikiran ini begitu tenang. Ibu benar disana banyak sekali bunga, pemandangannya begitu indah. Berbagi kisah dengan alam ? Berbagi cerita dengan air dan bunga ? Apa maksud Ibu? entahlah, apa mungkin alam bisa mendengar dan memahami cerita kita? Tanyaku dalam hati. Aku duduk diatas bebatuan, menghadap ke arah danau, sambil menulis semua isi hatiku di buku harian. Aku suka menulis di buku harian. Ada perasaan lega ketika aku menulis semua yang aku rasakan. Aku ingat ketika wajah penuh kesejukan itu menyapaku dengan hangat. “ Hei, kamu lagi ngapain disini? ”. Tanya seorang anak laki – laki bertubuh tinggi dengan lesung di pipinya, wajahnya bersinar melukiskan sebuah kesejukan. Dia membuatku terkejut dan hampir jatuh ke danau. “ mmm, aku lagi nulis sambil ngeliatin danau, kamu siapa? “ ucapku gugup.
“ Aku Zaki, maaf ya udah buat kamu kaget. Kayanya aku baru liat kamu deh. Boleh aku duduk disini ?” Aku mengangguk sambil tersenyum malu.
“Aku Zahra, baru kemarin pindah kesini.” Ujarku.
“ Zahra, selamat datang di danau Pelangi . Danau ini namanya danau Pelangi. kamu tahu danau ini bisa menjadi tempat curhat yang paling baik. Kamu bisa berbagi semua cerita dan kisah kamu bukan hanya di atas kertas putih.”
“kenapa namanya pelangi ? “
“ Karena pelangi selalu datang setelah hujan. Pelangi memiliki warna yang berbeda, tapi apabila disatukan bisa membuatnya lebih berbeda dari yang lain. Pelangi selalu terlihat indah. Dia seperti kabar gembira setelah hujan membasahi bumi. Pelangi bisa membuat semua orang tersenyum. Kamu tahu, setelah hujan biasanya akan ada pelangi disini”. Matanya melihat keatas. Seolah – olah ada pelangi yang sedang memancarkan warna – warni yang menakjubkan.
Saat itu, aku melihat sinar pelangi di matanya. Sinar yang memancarkan ketulusan. Kau tahu Zaki, saat kejadian itu aku selalu berharap bisa melihat pelangi di danau ini.
Besok adalah hari pertama aku masuk ke sekolah baru. Rasanya takut, malu, dan minder. Setelah diberi tahu kalau aku kelas X.1, Bu Fatimah sebagai wali kelas mengajakku masuk kelas dan memintaku untuk memperkenalkan diri. Tegangnya luar biasa. Zaki juga di kelas yang sama denganku, dia duduk paling depan. Melihat ku sambil menahan tawa. Mungkin ia pengen ketawa melihatku berkeringat dan gugup ketika memperkenalkan diri. Zaki ternyata anak yang pintar, ia adalah salah satu siswa berprestasi. Pantas jika ia disenangi banyak wanita. Sahabat baru ku Ashila juga menyukainya, ia selalu berharap kalau Zaki mencintainya. Dia pikir Zaki juga punya perasaan yang sama padanya. Ashila selalu cerita tentang Zaki. Ashila memiliki mata yang indah, wajahnya cantik, ia selalu ramah pada semua orang. Aku hanya tersenyum ketika Ashila bercerita.
Hampir setiap hari aku pergi ke danau, disana pasti akan ada Zaki yang sedang asyik bermain air. Aku selalu menulisnya, menuliskan semua yang terjadi ketika aku di danau bersamanya.Suatu hari aku melihatnya membuat perahu dari kertas, dia bilang di danau ini akan ada perahu yang bisa membuatnya terbang menuju pelangi. Semenjak itu aku memanggilnya dengan sebutan Mr. Rainbow.
Waktu terus berlalu, aku sudah kelas 3 SMA. Hampir 3 tahun aku memendamnya, memendam semua perasaan ini. Tak ada seorangpun yang tahu. Entah sampai kapan perasaan ini mengisi hari – hariku.Aku ingat ketika Zaki memberi hadiah ulang tahun ke- 17. Dia memberi kan kado yang paling indah yang takkan terlupakan. Waktu itu hari mulai senja tepat ketika hujan berhenti mengguyur cipanas dan sekitarnya dari pagi. Zaki tiba – tiba datang dan membawaku berlari menuju danau. “Ayo Zahra kita lari, sebentar lagi Ra, sebentar lagi “. “sebentar lagi ? sebentar lagi apanya?” tanya ku heran. “pelangi.. pelanginya Ra “ jawabnya sambil berlari menuju danau. Sampainya di danau, pelangi itu benar – benar ada. Indah sekali, sungguh indah ciptaan-Mu Rabb. “Selamat ulang tahun Zahra, Oh iya ada lagi kejutan buat kamu Ra,ini mawar putih buat kamu. Gimana,bagus kan? Tadi di depan rumah bunga mawar putihnya kebetulan ada yang lagi mekar. Kamu tahu, cinta pertama ku juga suka bunga mawar putih. “ Ia tersenyum malu. Cinta pertamanya juga suka bunga mawar putih.Selama ini Zaki belum pernah cerita tentang cinta pertamanya. “ Oh ya ? emang siapa cinta pertama nya Ki? “ tanya ku penasaran. “ hahaha cinta pertama, emang susah ya untuk dilupakan. “ wajahnya memerah, baru kali ini aku melihat Zaki seperti itu.” Emang siapa Ki? Kasih tau dong aku jadi penasaran nih ! “ rasa penasaranku semakin tinggi. Siapa orang yang pertama kali meluluhkan hatinya ? siapa orang yang membuatnya susah untuk melupakannya? Siapa dia ? . “ hem, dia Asyila.. “ jawabnya singkat.
Asyila ? Asyila cinta pertamanya Zaki , hatiku kaget bukan main. Jadi selama ini perasaan Asyila benar, Kalau Zaki memang suka. Ya ampun, kenapa harus Asyila ? kenapa ? Entah apa yang terjadi jika Ashila tahu semua ini. Asyila tak pernah cerita tentang ini.”kamu mau kan cerita tentang Asyila? Kok selama 3 tahun ini aku gak pernah tahu.” Aku ingin tahu semua ceritanya. Zaki mengangguk pelan. Ia langsung tersenyum dan mulai bercerita.
Ternyata Asyila adalah teman sahabat orang tuanya Zaki. Mereka sudah lama saling kenal. Memang tak pernah ada yang tahu kalau Zaki pernah menyatakan semua perasaannya. Zaki mengungkapkan semuanya di danau, ketika Asyila dan kelurganya sedang bertamu ke rumah Zaki. Saat itu mereka baru kelas 3 SMP. Tapi, Zaki tak pernah meminta Asyila untuk menjadi pacarnya. Zaki masih menyimpan rapih perasaannya samapai sekarang. Kalau aku tahu semua ini dari awal. Mungkin Asyila juga menyimpan semua perasaannya.
Maafkan aku Asyila, perasaan ini tiba – tiba datang, aku hanya bisa diam dan menulis semua ini dalam sebuah lembaran – lembaran kertas putih.
Tepat di lembaran 125 buku harianku. Ashila datang ke rumah ku untuk belajar bersama. Sebentar lagi ujian, aku dan Ashila ingin lulus dengan nilai yang memuaskan dan masuk perguruan tinggi favorit. “ Aku bawa makanan dulu ya Syil, Ibu masak pisang keju buat belajar kita kali ini. “ Ibu memang suka sekali memasakkan makanan ringan setiap kali kami belajar bersama. “ Iya Ra, aduh jadi ngerepotin Ibu kamu hehe “. Saat aku membawa makanan ke dapur, Ashila ternyata melihat buku harian yang lupa ku simpan di atas kasur. “ Akan ada pelangi setelah hujan lebat. Mr. Rainbow, buku apa ya ini. Pelangi ? bukankah Zaki senang pelangi. Zaki sering mengatakannya waktu kecil.” Ucap Ashila, ia penasaran dengan isi buku harianku. Aku melihat Ashila hampir membuka buku harianku. “ Aduh ketahuan deh aku hampir buka buku hariannya, ha ha ha. Mr. Rainbow siapa Ra ? kok sampulnya ada nama Mr. Rainbow sih?” tanya Ashila. “ Rahasia, namanya juga buku diary. Semua isinya juga pasti rahasia. Ha ha ha . Asyila kamu ini ya, untung gak sempet baca.” Hampir saja. Ashila gak boleh tahu tentang Mr. Rainbow.
Ke esokan harinya di sekolah, “ Syil, kita ke kantin yuk ! lapar nih” sambil memegang perut. “ Kamu duluan aja Ra, aku lagi gak laper.” Tumben Ashila gak laper, biasanya dia yang selalu semangat kalau diajak ke kantin. Ternyata bukan itu alasan Ashila yang sebenarnya. Dia ingin tahu tentang Mr. Rainbow. Celakanya aku selalu membawa buku harian kemanapun aku pergi. Ashila membaca buku harianku. Hampir setengah buku ia baca, Asyila pasti tahu siapa Mr. Rainbow. Seperti dugaanku, Ashila akan marah kalau ia tahu isi buku itu. Setelah jam istirahat selesai, Ashila hanya diam menunduk. Dia membuatku bingung dan khawatir. Tadinya kupikir dia sakit, wajahnya terus menenduk tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ashila memintaku untuk tidak langsung pulang. Ketika semua anak kelas termasuk Zaki telah pulang, Ashila menangis di depanku.
“Maaf aku udah baca buku harian kamu. Aku mau kamu jujur sama aku Ra, siapa Mr. Rainbow ?” tangannya bergetar, ia benar – benar telah membacanya. Aku diam tak menjawab. “Ra, jawab. Siapa Mr. Rainbow itu Ra ?” Ashila terus memaksa ku untuk menjawab. Tanganku gemetar, mataku berlinang. Apa aku harus jujur? Apa sekarang waktunya untuk jujur dengan perasaan yang selama 3 tahun ini kupendam sendiri ? “ ehh.. baik Syil, oke aku jujur sama kamu. Mr. Rainbow itu adalah Zaki. Aku gak tahu kapan perasaan ini datang Syil. Maafkan aku, aku tak pernah bermaksud untuk mengkhianatimu. Aku tahu kamu pasti marah, tapi aku mohon jangan pernah kamu benci sama aku Syil.”
Air mata ku mengalir begitu saja. Aku merasa menjadi sahabat yang paling jahat baginya. Suasana menjadi hening.” Kamu tahu kan kalau aku suka sama Zaki, kenapa kamu sejahat ini sama aku Ra ? kamu jahat Ra.” Aku hanya diam dan menunduk. Ashila pergi meninggalkanku sendiri di kelas. Apa aku salah menyukainya? Kenapa harus Zaki yang aku suka ? kenapa waktu itu aku harus bertemu dengannya di danau? Aku terus menyalahkan diri sendiri, menyalahkan waktu yang tak pernah kembali. Aku lari menuju danau pelangi.
Aku menangis sendiri di atas bebatuan. Menatap langit yang tertutup kabut tebal. Kabut itu menutup cahaya matahari. Awan hitam mulai berkumpul, ia seolah ingin mengeluarkan air yang banyak dari langit. Hujan pun turun dengan lebat, aku masih terdiam disana. Aku menangis bersama hujan, bersama langit dan danau. Seakan – akan aku sedang berbagi kisah dan cerita bersama alam. Hujan mulai reda, aku sudah berhenti menangis. Mata ku sembab, tubuhku kedinginan. Aku pulang ke rumah dengan basah kuyup. Malamnya aku merasa demam, tubuhku kedinginan, suhu badanku sangat tinggi. Keesokan harinya Ibu membawa ke dokter.
Di waktu yang sama, ada seseorang yang sedang menahan rasa sakit dari penyakit yang di deritanya. Dia merasa pusing, tubuhnya menggigil kedinginan, suhu tubuhnya tinggi.Matanya merah, wajahnya begitu pucat. Dia segera dilarikan ke rumah sakit. Dia adalah Zaki.
Sakitku mulai pulih, aku mulai masuk sekolah. Ashila masih terlihat marah, dia tidak berbicara apapun. “ Zaki masuk rumah sakit “. Ucap Ashila singkat. Aku kaget mendengarnya. Sudah hampir satu minggu ia tak masuk sekolah. Selain keluarganya, tidak ada yang tahu tentang penyakit yang Zaki derita. Zaki tidak mau melihat banyak orang merasa khawatir.
“ Zahra, bangun Zahra , bangun … bangun nak “. Ibu mengetuk pintu kamarku dengan keras. “Aduh Ibu, ini kan masih pagi Bu.” Aku membuka pintu kamar dengan malas. “Zahra, Zaki … Zaki Ra… Zaki meninggal.” Ibu memeluk ku erat. Aku tak percaya dengan apa yang Ibu katakan. Semuanya seperti mimpi buruk. Tak kan ada lagi Mr. Rainbow, tak kan ada lagi wajah yang mampu menyejukkan hati ini. Tak kan ada lagi cahaya pelangi yang bersinar di matanya. Aku mohon, bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Zaki takkan pernah tahu isi hati ku.
Waktu seolah berhenti sejenak. Aku mengingat masa – masa indah yang ku lalui bersamanya. Air mataku tak bisa kubendung lagi ketika ku lihat tubuh Zaki membeku seperti es. Tapi, wajahnya melukiskan ketenangan. Zaki mengidap kanker, 4 tahun ia berjuang melawan penyakitnya. Tak pernah menunjukan rasa sakit, gelisah, dan takut. Ashila tiba – tiba memeluk ku. “ Zahra, itu bukan Zaki kan ? itu bukan dia kan ? Zaki masih hidup. Maafkan aku Zahra, kamu berhak menyukainya, aku terlalu egois. Semua orang berhak untuk menyayanginya. Tak seharusnya aku melarangmu. “ Aku tak mampu berkata apapun. Air mata ku terus mengalir. “ Iya Shila, kamu benar Zaki tak pernah mati, ia selalu hidup dalam hati dan kenangan kita.” Zaki, kamu memang pergi untuk selamanya. Tapi pelangi tak kan pernah pergi. Kau tahu, aku selalu berharap bisa melihat indahnya pelangi di danau. Perasaan ini selalu memiliki tempat untuk ku simpan. Selamat jalan, semoga kau tenang disana Mr. Rainbow.
🤧🤧
ending yang membagongkan.
***