Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam , namun aku masih tak dapat memejamkan mata . Udara masih terasa panas meski sudah ku nyalakan ac di dalam kamar . Sudah satu bulan aku meninggalkan rumah ku di kota D . Sudah satu bulan pula aku tidak pernah membalas pesan dan mengangkat telpon nya . Aku berjuang untuk melupakan nya , dan menunjukkan ketegasan serta harga diri ku sebagai perempuan .
Aku memang mencintai nya , menyayangi nya , begitu pun ia. Namun ia selalu saja memandang rendah diri ini . Dengan pangkat dan jabatan yang dimiliki nya , ia merasa bisa mendapatkan wanita mana pun , walau pun pada kenyataan nya ia juga selalu kandas sebelum berlayar.
Kenapa tiba –tiba malam ini aku sangat merindu kan nya , hingga terasa sakit sekali hati ini . Ingin sekali berlari memeluk nya, batin ku . Aku tidak dapat membuang wajahnya dari pelupuk mata ku , hingga ku tatap foto nya yang terpampang di ponsel ku. Kenapa , kenapa kamu begitu dengan ku ? Airmata kembali mengucur tanpa izin ku .
Teringat kembali ucapan nya ketika ia menceritakan sedang pendekatan dengan gadis lain , bagaimana ia memperlakukan nya seperti ratu . Ia memberikan berbagai hadiah , menghubungi nya setiap hari .
Sementara dengan ku tidak pernah ia menghubungi ku duluan , tidak pernah membelikan ku sesuatu atau sekedar membawakan oleh-oleh jika pulang dari luar kota .
Sejak ia menghubungi ku mengatakan bahwa ia akan di pindah ke kota D , dan meminta ku menjemput nya di bandara . Ia menyebutkan semua kebutuhan nya . Aku pun membantu nya karena aku pikir ia belum tahu jalan dan segala sesuatu nya di kota D. Hubungan kami berjalan baik , semua kebutuhan nya aku penuhi . Hingga suatu hari perlahan – lahan keluar lah sifat asli nya .
Diantara rindu , terselip sakit hati yang teramat dalam di hati ku hingga terbayang kembali masa kami masih jalan bersama .. Suatu hari kami berjalan ke sebuah mall , aku mengantarkan nya untuk membeli hiasan untuk di rumahnya . Ketika sedang melihat – lihat , mata ku tertuju ke barisan barang hingga tidak sadar saat ia bertanya mengenai harga.
“ Berapa itu ?” tanya mas Sandi .
“ Sekitar delapan puluh ribu “ jawab ku sambil menatap barisan barang di rak yang paling atas
“ Delapan puluh enam ribu , berapa sih matematika kamu “ ucap nya dengan sinis merendahkan ku . Ku lihat ia tersenyum sinis sambil melirik ku dengan ujung mata nya . Kemudian ia berlalu meninggalkanku.
Aku terkejut mendengar nya , selama ini belum pernah ada seorang pun yang merendahkan ku seperti itu , apalagi lelaki . Aku kesal , marah ,terhina dan tersinggung , aku merasa ia merendahkan ku di tempat umum .
Seketika itu juga aku mencari barang dengan harga delapan puluh enam ribu , ternyata berada di rak yang di bawah . Pantas saja berbeda, pikirku .
Belum sempat aku menjelaskan , kalau aku sedang menatap harga barang yang rak paling atas sehingga tidak tahu kalau harga barang yang di bawah nya yang ia tanyakan , namun ia sudah berpindah ke rak yang seberang nya. Aku pendam semua , aku masih bersikap baik dan biasa saja .
Setiap minggu aku datang mengunjungi nya di rumah dinas , menemani nya belanja kebutuhan nya . Terkadang kalau aku sempat hari biasa pun aku datang sekedar mengirim makanan yang aku cantol di pintu rumah nya .
Jika ia ingin pulang mengunjungi orangtua nya aku pun mengantar nya , kebetulan rumah kakak ku juga satu kota dengan keluarga nya. Sehingga aku akan stay di rumah kakak ku , ia akan ke rumah orangtua nya dengan membawa mobil ku .
Awal nya aku berharap hubungan ini akan berjalan lancar , aku pun pernah beberapa kali gagal sehingga kini aku lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan . Karakter yang aku utamakan , karena kalau karakternya bertolak belakang dengan ku , aku pastikan akan sering ribut nanti nya . Aku sudah trauma dengan ribut – ribut , aku ingin bisa saling memahami , dan saling menghargai . Berbicara dengan baik – baik tanpa harus tarik urat .
Dari Bahasa tubuh , aku menunjukkan kalau hubungan ini layak nya sepasang kekasih meski pun tidak ada kata “ mau kah kamu menjadi kekasih ku” seperti layak nya pasangan lainnya . Ia pun seperti itu , ia akan marah kalau aku tidak datang di hari weekend .
Aku menggandeng tangannya ketika berjalan , meski pun ia tampak dingin , tidak berusaha mengenggam kembali . Aku ingat semua perkataan nya , tentang apa yang ia suka dan apa yang ia tidak suka . Ku siapkan makanan dan minuman kesukaannya ketika kita akan bepergian , supaya ia tidak bosan di perjalanan .
Aku menelpon nya ,kadang hanya mengirimi nya pesan sekedar menanyakan kabar , namun ia tidak pernah membalas . Kalau pun membalas itu setelah sehari kemudian . Aku masih berpikir ia sibuk . Sehingga aku pun mengirimkan pesan stiker yang bertuliskan “miss you “ . Namun lagi –lagi tidak di balas .
Setiap kali ia bepergian dinas keluar kota , sepulangnya ia membawakan oleh –oleh untuk teman – teman nya bahkan ia pun ingat untuk membawa ke keluarga .
Namun tidak ada sedikit pun untuk ku . Rasa nya sedih sekali , aku tidak ada dalam daftar orang yang layak untuk di ingat . Lagi – lagi aku diam , aku pikir biarlah aku bisa beli kalau pengen . Dan itu terjadi berulang –ulang kali .
Ia akan menghubungi ku ketika ia butuh aku untuk mengantar nya ke suatu tempat , aku merasa seperti nya hanya di jadikan supir pribadi nya . Namun aku kembali mengalah .
Hingga pada suatu hari , saat ia mengajak ku makan siang . Aku pun menyetujui nya . Setiba nya di rumahmakan , saat itu kondisi rumahmakan nya sangat ramai dan penuh . Sehingga kami mendapat mendapat meja yang dekat dengan kasir . Sambil menunggu makanan datang , aku pun mencoba membuka obrolan .
“ Kemarin ke sana pergi nya sendiri , mas ?” tanya ku dengan lembut .
Lalu ia menjawab dengan sinis bahkan tanpa melihat ke arah ku “sama anak buah ku “
“Ooohh .. kamu sekamar sendiri atau berdua sama anak buah ?” tanya ku santai , sekedar basa basi .
“ SAMA ANAK BUAH ATAU BUKAN , BUKAN URUSAN KAMU , NGAPAIN KAMU NANYA – NANYA .. “ bentak nya . Aku yang kaget rasa nya ingin menangis .
Ingin rasa nya aku membalas nya , namun aku takut akan jadi ribut di tempat umum . Aku akhir nya diam , ku tahan semua . Aku kan cuma ingin ngobrol , setiap jalan dengan mu selalu membosankan , batinku .
Setelah itu aku pun mulai mundur teratur , fixed ini mah tidak akan cocok dengan ku , pikir ku . Beberapa bulan setelah itu , kami masih sempat bertemu beberapa kali di kota S . Dimana aku sedang di rumah kakak ku dan ia sedang ke rumah orangtua nya .
Aku sudah hapal betul , ketika ia tidak ada teman untuk jalan atau tidak acara di akhir minggu maka ia akan menghubungi ku . Selain itu ia tidak akan menghubungi ku , aku pun mulai membalas nya .
Aku juga tidak mengangkat telpon nya , tidak membalas pesan nya . Ku biarkan selama satu minggu baru aku balas pesan nya .
Ya Tuhan ,aku harus bagaimana ini .. kenapa sulit sekali melupakan nya , harus kah aku menghubungi nya duluan .. Mungkinkah aku bersama nya ?batin ku , ku peluk erat guling ku yang sudah basah dengan airmata .
Keesokan hari nya ponselku berdering , ku lihat di layar terpampang sebuah nama . Aku ragu , harus kah ku angkat ? Ohh ini kan hari Rabu , pasti ia mau meminta ku ketemuan di hari sabtu minggu karena tidak ada teman yang bisa dia ajak jalan, batin ku . Akhir nya ku diamkan saja sampai berhenti sendiri dering ponsel ku .
Ku tatap ponsel ku .. Goodbye mas Sandi , semoga kamu menemukan wanita yang bisa kamu banggakan , ucap ku dalam hati dengan sedih .
Ku masukkan ke dalam tas ,kemudian aku pun pergi ke kantor .
Yang pasti aku akan mengubur dalam - dalam perasaan dan harapan ku , kini .
☆☆☆☆☆☆☆
Sementara itu di tempat Sandi ,
Duuhh kemana sih Cinta .. kenapa tidak pernah lagi mengangkat telpon ku , pesan ku pun ga di balas . Ku lempar begitu saja ponsel ku , kemudian aku pun bersiap ke kantor .
Hari berganti malam , suasana sepi bukan hanya di sekitar rumah ku , tapi juga hati ku . Aku kangen kamu, apa kamu ga kangen ma aku , Cin , ucap ku dalam hati .
Ku nyalakan sebatang rokok , ku hisap lalu ku hembuskan perlahan , ku pandangi ikan – ikan yang berenang di aquarium ku . Seandai nya aku masih bisa ketemu kamu , jalan bareng kamu lagi ,Cin .. Hati ku ga akan se hampa ini .
Terbayang wajah ceria nya , senyum nya , suara nya .. aahh Cin , kenapa ? apa salah ku .. Aku pun mematikan rokok , dan masuk ke kamar .
Dari sekian banyak wanita yang pernah singgah , hanya kamu yang bisa memahami ku dari hal terkecil .
Maafkan aku, Cin .. Aku tidak tahu harus kemana mencari mu . Hanya kamu yang bisa bikin aku nyaman , hanya kamu yang bisa bikin hati ini berbunga – bunga .. Tidak ada yang seindah Cinta , ucap ku dalam hati .
Teringat kembali saat aku akan di pindah tugas ke kota tempat Cinta berada . Aku mengenal Cinta dari sahabat ku , yang kebetulan memang tugasnya satu kota dengan keluarga ku . Terakhir aku bertemu Cinta , aku meminta nomer ponsel nya . Sejak itu kita sering chattingan .
Kini aku pun meminta ia untuk menjemput ku dan mencarikan ku hotel . Lalu hari pertama ku kerja di tempat baru pun , Cinta yang mengantar dan menjemput ku.
Dia sangat perhatian , Cinta tahu apa yang ku suka . Dan ia selalu menyediakan nya tanpa ku minta. Seperti cemilan saat aku dan diri nya pergi keluar kota, untuk mengantar ku pulang , lalu ia dengan sukarela menginap di rumah kakak nya, yang notabene juga sahabat ku.
Kadang kita jalan bersama di sana .
Awal - awal kedinasan ku , aku sering menemukan makanan sudah tercantol di gagang pintu . Terkadang satu ekor ayam bakar dengan nasi dan lalapan nya . Sehingga aku tidak perlu repot - repot untuk keluar cari makanan . Terkadang kue - kue , seperti bolu dan lainnya .
Aku sangat senang dengan perhatian dan kepedulian yang di berikan oleh Cinta. Aku merasa di sayangi dan di cintai .
Aku tahu semua itu yang ngirim pasti Cinta , karena biasa nya Cinta akan memfoto makanan yang tergantung itu dan mengirimkan nya ke ponsel ku , tanpa tambahan kalimat apa pun.
Namun kini, itu semua sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi kehangatan dan perhatian dari Cinta .. Entah karena dia sangat sibuk atau apa .
Ku tatap fotonya di layar ponsel ku hingga tanpa terasa mata ku pun mulai terasa berat dan akhir nya aku terlelap .
The End.