Felix sengaja mengambil cuti untuk menemui istrinya, Fiona yang sedang menjalani tugas belajar di Jerman.
"Kita makan dulu trus langsung piknik ya, beb ..." Fiona mengungkapkan rencananya saat menjemput Felix di bandara.
"Besok-besok aja pikniknya, kan aku masih 10 hari lagi balik. Kita santai aja, ngadem di apartemen kamu sambil melepas rindu," tanggap Felix sambil menaik-naikkan kedua alisnya.
"Ish, melepas rindu itu pasti ... tapi aku lagi suntuk, babe. Banyak tugas, aku butuh refreshing, pengen lihat pemandangan yang segar-segar gitu."
"Eh ... apa aku kurang segar untukmu, istriku?" Kelakar Felix.
"Emangnya kamu pemandangan? Udah ah, keburu lewat senjanya," Sahut Fiona sambil memutar kemudi, mengarah kendali menuju lokasi yang direncanakannya.
Menyaksikan matahari terbenam, menjadi saksi bagaimana cahaya telah berani mengubah air yang semula berwarna hijau kecoklatan menjadi kuning kemerahan, sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran Felix. Menurutnya, pergantian hari sebenarnya biasa aja dimana-mana juga, yang bikin istimewa adalah dengan siapa kita melewatinya, iya kan?
Fiona lalu membuka keranjang yang dibawanya, mengeluarkan selembar alas plastik lalu menggelarnya di tepi Königssee, danau cantik yang berada di bagian tengah Taman Nasional Berchtesgaden, Jerman. Setelah melihat banyak orang yang telah duluan tiba di situ, ada yang hanya sekedar duduk, foto-foto, memancing, dan ada juga yang melukis ... barulah Felix menyadari kalau danau yang dikelilingi tebing-tebing tinggi, termasuk Puncak Watzmann ini, sangat menarik dan memiliki kualitas pemandangan yang mempesona.
Felix melirik pada Fiona yang sedang mengeluarkan isi keranjang, yang berupa minuman, snack, buah-buahan hingga makanan berat berupa rendang yang sengaja dibawa Felix sebagai oleh-oleh dari Indonesia. Sama seperti orang-orang yang datang ke situ untuk menikmati senja di tepi danau, Felix dan Fiona pun menikmati hangatnya sinar matahari terbenam menerpa wajah mereka.
"Kamu pasti tidak percaya kalau keindahan matahari terbenam mampu membangkitkan kerinduan seseorang, ibarat rumah yang membuat pemiliknya selalu rindu untuk pulang ... sama seperti tujuanku ke sini agar bisa 'pulang' ke pelukanmu," Felix menarik pelan dagu Fiona, agar bibir mereka saling bertemu dan bertaut.
Hold me close and hold me fast
The magic spell you cast
This is la vie en rose
When you kiss me heaven sighs
And though I close my eyes
I see la vie en rose ... .
Mereka duduk berdempetan, Fiona sengaja menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya seraya menyaksikan pergantian hari sambil bergenggaman, sayup-sayup terdengar suara seorang pria tua yang duduk tidak jauh dari Felix dan Fiona, menyanyikan lagu lawas romantis 'La vie en rose' dengan nada suara yang lirih dan mata yang tidak lepas dari lembayung senja. Felix ikut bersenandung. "Hei, aku bawa gitar di bagasi, ambillah," pinta Fiona, Felix yang mengerti maksud istrinya langsung berjalan ke mobil.
Tidak lama Felix kembali membawa gitar, tersenyum lebar menatap lelaki tua yang tampak merana itu. "Tuan, bolehkah ulangi lagi lagu tadi dari awal?" Pintanya dalam bahasa setempat.
Sambil mengusap airmatanya dengan saputangan, lelaki itu mengangguk. Jemari Felix mulai memetik, memainkan chordnya, membuat Fiona sedikit terkejut saat tahu Felix tidak hanya bisa bersenandung dan mengiringi lagu itu dengan baik tapi juga hapal liriknya.
... Give your heart and soul to me
And life will always be
La vie en rose ... .
"Ish, tahu juga lagu itu, babe?" Ujar Fiona
"Legend gitu, masa gak tahu?"
"Jangan-jangan buat modal ngerayu cewek ..." tebak Fiona.
"Astagaaa, kamu baru saja memberikanku ide briliant sayang ..." sahut Felix yang langsung dibalas cubitan gemas di lengannya dari Fiona.
"Kalian pasangan yang manis sekali. Semoga kalian berbahagia selalu dan mengalami la vie en rose, hidup dalam warna yang cerah!" ucap pria itu tersenyum menepuk pundak Felix lalu hendak berjalan meninggalkan mereka.
"Terima kasih, tuan. Eh, sebentar ... maukah tuan makan bersama kami?" Undang Felix pada lelaki tua itu. Lelaki itu menyambut baik, dan ikut bergabung dengan Felix dan Fiona.
"Re-rendang?" Tanya pria itu sambil melihat ke salah satu menu yang disediakan Fiona.
"Iya, tuan ... suamiku jauh-jauh dari Indonesia kemari, membawakan ini sebagai oleh-oleh. Tuan mau?"
"Em ... sedikit saja." Belum lagi habis sepotong daging dikunyah, lelaki tua itu berhenti. Lalu kembali mengusap matanya dengan sapu tangan.
"Senja di danau ini dan kalian berdua, membuatku semakin merindukannya," ujar lelaki itu.
"Ma-maafkan kami, kami tid-"
"Tidak, tidak apa-apa ... aku saja yang terbawa perasaan. Istriku Hanum, juga berasal dari Indonesia ... dia senang membuatkan rendang sapi jika sedang kangen pulang kampung."
"Oh, sekarang di mana istri, tuan?" Felix mencoba berbincang.
"Kami merayakan ulang tahun pernikahan yang ke 2 di tempat ini, 30 tahun lalu. Kami duduk persis di tempat kita sekarang. Saat itu Hanum yang sedang hamil 7 bulan, tergelincir dan mengalami pendarahan. Hanum ... Hanum pergi bersama putra pertama kami." Lelaki itu kembali tersedu.
Tidak tahu harus berkata apa, Felix dan Fiona hanya bisa bertatapan prihatin.
"Makanya aku selalu ke sini tiap anniversary untuk ... ah sudahlah. Terima kasih atas jamuannya ya, selamat berbahagia." Ujar lelaki itu, beberapa langkah berjalan ia berbalik sebentar, tersenyum sekali lagi dan melambaikan tangannya sebelum melanjutkan langkahnya.
"Benar kan aku bilang, keindahan matahari terbenam mampu membangkitkan kerinduan seseorang, ibarat rumah yang membuat pemiliknya selalu rindu untuk pulang," ucap Felix saat pria itu sudah jauh.
"Ah ... mau matahari terbenamkah, terbitkah ... bagiku, yang penting kita menghabiskan waktu bersama. Dari pada harus menanggung rindu pada seseorang sudah tidak mungkin kita temui lagi, kaya bapak tadi itu. Kasihan sekali," sahut Fiona.