"Bukan inginku terlahir dari rahimnya!" Elena terisak pilu.
Kata-kata penyesalan itu selalu saja hadir di hatinya. Elena merasa begitu hancur dengan kenyataan yang sedang dihadapinya saat ini.
Sudah lama gadis itu ingin menghindari kenyataan, ingin lari dari semuanya. Ingin pergi meninggalkan rumahnya, pergi ke sebuah tempat yang jauh. Sebuah tempat yang tidak akan diketahui oleh seorang pun di rumah ini.
Elena sudah lelah sekali mendengar umpatan dan celaan yang terus dilontarkan oleh keluarga besar papanya. Elena dan mamanya, si wanita jalang itu, terus saja menjadi bahan cemoohan mereka.
"Edo, kamu tidak bisa mewariskan apapun kepada anak haram itu!" Teriak Bibi Wilda.
"Kamu lupa, kami bisa saja mengusir kau dan putrimu dari rumah ini!" Bentak Om Agus.
"Huhhh... Mana mungkin dia ingat! Dia memang tidak tahu diuntung." Ujar Bibi Wilda kesal.
Edo duduk bersandar di sofa, di samping istrinya, Melati. Melati adalah istri sah Edo. Pernikahan Edo dan Melati menghasilkan tiga orang putra yang tampan. Ketiga putra Edo tersebut duduk berhadapan dengan papa dan mamanya.
Edo pernah melakukan dosa besar di masa mudanya. Dia pernah terlibat hubungan gelap dengan seorang aktris muda yang terkenal kecantikannya di kota itu. Bunga, aktris yang kontroversial tersebut sering diterpa rumor yang tidak sedap.
Banyak isu yang beredar bahwa Bunga juga sering menjajakan dirinya kepada laki-laki hidung belang yang bersedia membayar dengan tarif tertentu.
Namun Edo yang keras kepala, tidak pernah mau peduli dengan nasehat orang-orang di sekitarnya. Dia terus saja mengikuti hawa nafsunya hingga akhirnya dia terjebak dalam kenyataan yang membuat hidupnya sial seumur hidup.
Hubungan terlarang Edo dan Bunga menghasilkan seorang putri yang kecantikannya melebihi kecantikan mamanya. Ya, dialah Elena, anak hasil hubungan di luar nikah.
Sekian lama Edo berusaha menutupi aibnya. Namun pada suatu hari, Melati, istri sah Edo berhasil mengetahui segala rahasia kelam Edo. Wanita itu begitu kecewa.
Melati juga sudah pernah menggugat cerai Edo. Namun keluarga besar Edo tidak mendukung perceraian tersebut. Mereka sangat menyayangi Melati yang pada saat itu sedang mengandung anak pertama hasil perkawinannya dengan Edo.
Om Agus sebagai kakak laki-laki tertua Edo begitu murka. Dia kemudian mencari Bunga dan bermaksud memperkarakan kasus tersebut ke jalur hukum. Sayangnya pada saat itu, Bunga sedang dirawat intensif di sebuah rumah sakit swasta di kota. Dia divonis mengidap penyakit HIV dan tidak berapa lama kemudian, Bunga dikabarkan meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya itu.
Edo dengan terpaksa membawa Elena kecil ke rumahnya. Meskipun tinggal di rumah yang mewah bersama ayah kandungnya, Elena tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah yang sesungguhnya. Elena tumbuh dalam pengasuhan asisten rumah tangga yang ditugaskan khusus untuk merawatnya.
Seiring bertambahnya usia, Elena tumbuh menjadi gadis cantik yang pemurung. Tatapan sinis dari ibu tirinya seringkali menghujam jantungnya. Elena selalu mendapat hinaan dan cemoohan karena dosa yang dilakukan oleh Edo dan Bunga di masa lalu.
Elena acap kali menyesali menggapa dia dilahirkan ke dunia. Dia bahkan membenci wanita yang telah melahirkannya. Terkadang rasa frustrasi yang hadir membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya.
Beruntung Elena memiliki teman baik di kampus yang selalu mendukungnya. Bayu, seorang pemuda sederhana, selalu menyemangati dirinya. Elena berteman dengan Bayu sejak mereka masih duduk di bangku SMA.
"Elena, kamu ga sendirian. Yang kuat ya. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan hubungi aku..." Pesan Bayu selalu terngiang-ngiang di telinga Elena.
"Kau! Anak haram! Ingat, kau tidak punya hak sedikitpun dari warisan ini. Paham!?" Bibi Wilda membentak Elena.
Elena tersadar dari lamunannya tentang Bayu. Kini semua mata tertuju pada Elena. Elena betul-betul terpojok. Elena berusaha terlihat tenang, meskipun sesungguhnya hatinya menjerit sejak tadi.
"Iya, bibi... Om... Dan semuanya. Aku mengerti, aku tidak berhak menerima apapun dari warisan papa..." Ucap Elena lirih.
Ketiga putra Edo saling lirik dan tersenyum sinis. Edo duduk santai dengan ekspresi wajah datar.
"Papa... Terima kasih sudah membawaku ke sini, membesarkan aku. Om Agus... Bibi Wilda... Dan semuanya... Terima kasih." Ucap Elena.
"Aku berhutang budi pada kalian semua. Aku mungkin tidak pernah akan mampu membalas semua kebaikan kalian." Wajah Elena yang cantik terlihat sendu.
"Papa... Izinkan aku pergi sekarang... Demi kebahagiaan kalian semua. Demi ketenangan keluarga ini..." Sambung Elena dengan mata berkaca-kaca.
Melati menatap sinis putri tirinya. Tatapan penuh kebencian terlihat nyata di matanya. Sementara Edo terlihat sedikit shock mendengar kata-kata putrinya.
"Bagus! Itu keputusan yang bagus!" Seru Om Agus.
"Huhhh... Ternyata putrimu lebih berotak dari dirimu, Edo!" Tukas Bibi Wilda sinis.
Elena meninggalkan ruang keluarga dan bergegas menuju kamarnya. Dia mengeluarkan dua buah koper besar yang berisikan pakaian dan buku-buku dari kamarnya. Dia telah mempersiapkan semuanya.
Semua yang hadir di ruang keluarga menoleh ke arah Elena. Elena menarik kedua koper besar itu satu per satu tanpa ada seorang pun yang berinisiatif membantunya. Elena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
"Permisi, papa dan semuanya..." Elena berkata dengan suara lirih.
Semua terdiam. Mereka menunggu reaksi Edo. Namun Edo seolah tidak peduli. Walaupun sebenarnya ada setitik rasa sedih, namun ego Edo lebih berkuasa.
Sebuah mobil Avanza berhenti di pekarangan rumah mewah Edo. Driver membantu Elena menaikkan koper-kopernya ke bagasi mobil.
"Kamu mau kemana?" Tanya Edo akhirnya.
"Aku akan tinggal di Surabaya, pa..." Ucap Elena saat membuka pintu mobil.
Edo terdiam. Ada rasa sedih di hatinya, namun keputusan Elena untuk pergi memang lebih baik.
Mobil Avanza berwarna hitam itu melaju meninggalkan pekarangan rumah Edo.
"Ke bandara ya pak..." Ujar Helena.
"Siap, mbak." Sahut sang driver.
Setitik air mata Elena muncul di sudut matanya. Elena mengedip-ngedipkan matanya agar air mata tidak tumpah semakin banyak.
"Aku ke Surabaya..." Elena mengetikkan sebuah kalimat di wa dan mengirimkan ke Bayu.
"Lho? Kuliahmu gimana?" Balas Bayu.
"Aku ikut interview kerja di sana. Sementara ini kuliah online." Balas Elena.
"Oh iya ya... Hahaha... OK. Good luck, friend!" Balas Bayu lagi.
"Thanks..." Balas Elena.
***TAMAT***