Hai semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka - Kaka sekalian suka ya dengan cerpen Star... Atas like dan komennya Star sangat berterima kasih ya Kaka... 🙏😊
Tanggal pembuatan : 19 - 05 - 2022
Malam semakin larut, semua insan sudah pergi ke alam mimpinya yang fana.
Tak ada yang bersuara sama sekali karna mereka udah asyik dengan perjalanan mereka masing - masing.
Seorang gadis berambut ungu sepinggang hanya menatap ponselnya malas karna sejak tadi benda pipih itu tidak berhenti bersuara.
Tapi yang membuatnya aneh adalah, yang menebaknya sama - sama memiliki nama Gordan.
Eits... Bukan gordeng ya...
"Apa mungkin pria yang bersekolah ditempat itu rata - rata memiliki nama yang sama? yang benar saja." herannya merasa tak habis pikir.
Karna tak mau terlalu memikirkan masalah yang menurutnya hanya akan membuat kepalanya pusing, gadis itu memilih untuk bangkit dan tidur setelah menyikat giginya.
Keesokan harinya, ia mulai bangkit dari tidurnya dan dilihatnya jarum jam yang sontak saja membuatnya jadi membuka mata lebar saking terkejutnya.
"Ya ampun... Kalau begini aku bisa telat," cemasnya lalu kami bangkit untuk mandi dan bersiap - siap berangkat sekolah.
Diperjalanan, ia masih menunggu di halte bis. Tapi setelah lima belas menit menunggu kendaraan itu tak kunjung datang.
"Aduh... Bagaimana ini... Setengah jam lagi gerbang sekolah pasti udah pada tutup," cemasnya sambil terus melihat kearah jam tangannya dengan gigi atas yang terus menggigit bibir bawah.
Tiba - tiba sebuah moge berhenti dihadapannya.
Moge itu dikendarai oleh seorang pria yang sedang mengenakan helm berwarna hitam.
"Hei kamu!" ucap pria tersebut sambil menunjuk kearahnya.
"Iya," ucapnya sambil membalikkan tubuhnya keasal suara dan tanpa sengaja mata mereka bertemu pandang hingga menimbulkan getaran antara satu dengan yang lainnya.
"Kamu mau kesekolah kan?" tanya pria itu.
"Iya," jawabnya yang lagi - lagi hanya singkat, padat dan jelas.
"Irit banget ngomongnya mbak," guraunya.
"Suka - suka," responnya acuh tak acuh lalu mulai melipat tangannya dibawah dada.
"Kalau emang mau, ayo bareng aku aja." tawarnya.
"Kalau begitu berapa aku harus membayarmu? jika ratusan aku gak punya uang sebanyak itu hanya karna kau memakai Moge yang super dzuper keren," ucapnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
Pria itu hanya tertawa saat menanggapi ucapan gadis yang ada dihadapannya.
"Kamu ini ada - ada saja! kita ini kan teman satu kelas," ucapnya sambil membuka helm hitamnya dan itu sukses membuat gadis itu terdiam sesaat karna ikut tersihir dengan ketampanannya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? apa karna sedang mengagumi wajah tampanku ya," ucapnya dengan PDnya dan itu sontak saja membuat gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kan benar dugaanku," senangnya hingga membuat pipi gadis tersebut jadi sedikit merona.
"Mana ada," elaknya mencoba membela diri.
"Buktinya udah terlihat itu lho..." ucapnya lagi sambil menunjuk kearah pipi gadis tersebut.
"Sudahlah! abaikan! kan wajar kali aku liat wajahmu hanya untuk sekedar mengingat - ingat saja kalau kamu itu benar tidak teman sekelasku," alasannya.
"Ya udah terserah kamu, ayo naik." suruhnya lalu kembali memakai helmnya.
Gadis itu hanya patuh karna ia juga tak mungkin terus menunggu lama disini dengan waktu yang membuatnya merasa begitu gelisah sejak tadi.
"Sudah?" tanyanya.
"Iya udah kok," responnya sambil tersenyum.
"Tumben kamu orangnya suka senyum, bisanya jutek banget deh." ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Sebagai hadiah aja... Karna kamu udah baik sama aku... Udahlah lupakan! cuma senyuman ini kok," ucapnya sambil menabrak kan kedua alisnya berulang kali.
"Oh... Gitu... Tapi senyumanmu itu sangat berarti bagiku," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Alah! mulai dah gombalan receh," responnya sambil menatap malas kearahnya dari kaca spion.
Tak berapa lama kemudian motornya pun mulai melaju untuk membelah jalanan dengan kecepatan sedang.
"Oh iya! ngomong - ngomong kamu tau gak namaku siapa?" tanyanya dengan pandangan yang masih tetap fokus pada jalanan.
"Mau tau atau gak tau juga gak terlalu penting kok," responnya yang membuat mood pria itu jadi menurun.
"Gitu banget sih ngomongnya..." sedihnya.
"Ya udah! siapa namamu wahai pria baik?" tanyanya terpaksa.
"Hehe! namaku adalah Gordan!" ucapnya sambil melihat kearah kaca spion yang juga sedang dilihat oleh gadis itu.
"Oh," responnya dingin.
"Ya," sambungnya merasa geram saking tak habis pikir dengan sikap gadis tersebut.
"Kalau namamu sendiri siapa?" tanya yang sebenarnya sudah tau tapi berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Bukannya ketika aku masuk ke kelas itu aku sudah memperkenalkan diriku? lalu kenapa kamu masih bertanya," ucapnya yang membuat pria itu hanya menghembuskan nafas kasar.
"Lupa," jawabnya ikut bersikap dingin.
"Kenapa bisa lupa?" tanya lagi.
"Entah!" responnya.
"Aneh," ucap gadis itu.
"Emang iya," responnya acuh tak acuh.
"Oh iya! semalam kayaknya ada yang kirim pesan banyak - banyak ke aku, rata - rata namanya juga sama denganmu! apakah disekolah itu banyak yang memiliki nama yang sama sepertimu?" tanyanya bingung ketika mengingat kembali.
"Tidak!" jawabnya.
"Lalu?" tanyanya.
"Itu dari aku tau... Aku menyuruh beberapa pengawal ku untuk menembak mu sambil mewakili namaku," beritahunya.
"Segitunya kamu," kejutnya.
"Ya wajarlah... Meskipun ujung - ujungnya gak dapat responan aku," resahnya yang langsung membuat gadis itu sadar.
"Syukurlah... Aku sangat senang! aku malah sempat berpikir kalau itu dari banyak pria, ternyata cuma satu." senangnya.
"Itu karna sebelum kedatanganmu ke kelas, aku sudah lebih dulu mengumumkan dirimu pada semua siswa dan siswi saat dikantin kemarinnya kalau kamu itu adalah pacarku." ucapnya.
"Enak aja!" dengusnya sambil memalingkan wajah kearah lain.
"Kamu serius gak suka sama aku?" tanyanya serius.
"Enggak... Kayaknya aku udah suka juga sih sama kamu... Tapi... Lebih baik kita jalani aja dulu ya... Tanpa pacaran," pintanya.
"Oke! tak masalah," responnya menghargai keinginan gadis itu.
Tak terasa kini mereka sudah sampai dengan waktu yang masih awal lima menit lagi.
Setelah memarkirkan motornya mereka pun berjalan beriringan menuju kelas.
Para lelaki hanya mampu memendam saja perasaan mereka dibandingkan harus terkena masalah oleh anak pemilik sekolah elit tersebut.
Semenjak hari itu, mereka pun jadi tampak akrab dan sering bermain bersama saat pulang sekolah tiba.
Sebuah pesan yang mampu membuatnya jadi memiliki topik untuk dapat bergaul dengan orang lain dan mungkin saja jika pria tadi adalah jodohnya dimasa depan.
🍃 The End 🍃