Masa SMA adalah masa yang indah. Banyak yang mengatakan pada masa itu kau akan menemukan jati dirimu sendiri, dan kau...juga akan menemukan apa itu namanya cinta.
Ya...cinta. Kedengaran abstrak sih bagiku, tapi tanpa diinginkan atau disadari itu pula yang membuat mu bahagia.
.
.
.
Katanya...
SMA Cendana
"Tuk." Sebuah sentilan halus mendarat di jidat ku.
"Pagi Aurora." Seperti biasanya suara berat yang begitu aku kenal, langsung menyapa bagaikan sinar mentari pagi.
"Eh Fahreza ?."
"Yups ini aku."
Perkenalkan nama dia adalah Fahreza Ananda, cowok yang lumayan tampan tapi sangat baik untuk ku. Dia adalah teman semasa kecil ku, salah seorang dari banyaknya teman yang selalu ada untukku.
Dulu aku pernah berfikir pasti bagus jika punya pacar dikemudian hari yang modelannya seperti Fahreza. Aku akui ketika punya berfikiran ini, aku mulai mengagumi Fahreza.
Sampai rasa kagum itu semangkin berkembang, lalu membentuk rasa cinta. Disinilah otakku sedikit kurang bekerja. Selama 3 tahun di SMA aku tidak menyadari bahwa rasa yang ada didalam hatiku Ini merupakan cinta yang sangat besar dan tulus.
Namun... disaat aku mulai menyadarinya, serta Fahreza pun sudah mengutarakannya, sebuah mobil truk malah menghantam tubuhku ditengah malam. Sebelum aku masuk universitas A.
.
.
.
"Brak !."
"UKHHH, sakit...sakit sekali."
"Mataku, kenapa terlihat gelap semua?, kenapa ini ?."
Dimalam setelah mobil tersebut menabrakku, aku sempat merasakan apa yang terjadi setelahnya. Bagaikan cerita novel, dengan fantasi bahwa arwah akan kembali lagi, aku bagaikan tokoh arwah didalamnya.
.
.
.
"Kenapa semuanya terasa gelap, apakah dunia sudah hancur ?. Atau...aku yang sudah tidak bisa merasakan cahayanya lagi?."
Bagaikan didunia lain aku sama sekali tidak mengenal tempat dimana aku berada sekarang, aku memandang sekeliling, terlihat begitu gelap dan mencekam. Aku bergidik seketika, ketakutan akan kegelapan yang mengelilingi ku.
Aku berteriak, memanggil semua nama yang aku ingat. Namun tak ada satupun yang menjawab. Semangkin aku terpuruk aku merasa kegelapan semangkin mendekap ku kedalam nya.
"Taku...aku takut. Tolong siapa saja aku mohon."
Sudah lelah suara ini menjerit, sudah lelah mata ini menangis, sudah lelah tubuh ini bergetar, tapi tidak ada sama sekali perubahan dan pertolongan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berlari.
Aku berlari sekuat tenaga tanpa memikirkan kemana arahku, berlari dengan cepat seakan dapat meninggalkan kegelapan. Tapi lagi lagi kegelapan berhasil mendekap ku.
Aku pun menjadi putus asa. "Bruk !."
Ku ambrukkan tubuh yang tak nyata ini lagi ketanah, kubiarkan semuanya menyentuh ku. Namun hati ini tetap tidak bisa pasrah begitu saja, aku tanpa disadari terus memanggil namanya.
"Fahreza."
"Fahreza." Walau dengan suara hati aku terus berusaha memanggilnya, dengan harapan ia akan mengulurkan tangannya.
Ternyata hal itu benar, setelah sekian lama aku memanggil namanya, sebuah cahaya pun berganti mengalahkan sang kegelapan.
"Apa kau takut?."
"Si...siapa disana." Dengan raja takut luar biasa aku bertanya kepada suara misterius.
"Jangan khawatir, aku adalah pengabul impian setiap arwah yang memiliki mimpi. Jadi, apa kau punya mimpi ?."
"Arwah ?, Jadi aku sudah mati ?."
"Yah jadi menurut mu ?."
Seketika aku terpaku, dengan perlahan aku melihat ketangan dan kaki, ternyata benar aku sudah tembus pandang menjadi arwah.
"Hiks, hiks, aku sudah mati, hiks bagaimana ini, padahal aku masih memiliki keinginan lain, hiks,hiks."
"Mangkanya itu, aku datang kesini." Suara misterius itu kembali berbicara.
"Jadi kalau aku meminta sesuatu kau akan mengabulkannya ?."
"Iya."
"Berapa permintaan yang bisa kau kabulkan?."
"Satu permintaan."
"Hah ?!. Hanya satu ?."
"Hei dasar manusia serakah, satu itu sudah lebih dari cukup tau." Suara misterius tadi sedikit meninggi akibat kesal.
"Hmm." Aku berfikir sebentar.
"Yasudah ini permintaan ku, kembalikan aku ke dunia manusia."
"Oke."
"Benarkah."
"Tapi dengan waktu dan ketentuan berbeda. Bagaimana kau tetap mau ?."
Karena mendengar aku akan kembali ke dunia manusia, aku langsung menyetujui apa yang suara misterius itu katakan, bahkan sebenarnya aku tidak tau apa ketentuan yang ia maksud.
"Kau yakin ?."
"Iya !."
"Tapi setelah nya kau tidak bisa membuat permintaan lagi."
"Tidak masalah, didunia manusia ada satu orang yang harus aku temui, dan orang itu juga harus aku pastikan berakhir dengan hidup bahagia."
"Hufff, yasudahlah tekad mu sangat bulat, maka aku akan mengabulkannya."
"Tapi ingat waktumu hanya sebulan di sana, jadi pergunakan hal itu dengan baik!."
Disaat itu aku seperti diselimuti oleh selimut hangat, dan aku merasakan elusan halus dari Fahreza dikepala ku.
Namun setelah aku membuka mata, wujudku malah berganti, aku terlihat begitu tembus pandang, hingga tidak ada satu pun manusia yang mampu melihat ku. Padahal aku berfikir wujudku akan sama seperti semula.
Kesal aku rasa awalnya, tapi ini lebih baik daripada aku tidak melihatnya sama sekali.
"Hmmm aku kemana dulu ya."
Seperti asing, aku merasa apa yang harus aku kerjakan tidak selancar biasanya, aku merasa sedikit kik-kuk dengan nuansa dunia yang sekarang.
Ditambah, saat aku sudah memutuskan untuk pergi menuju makam ku, ada sebuah bola yang menghantam kepalaku dengan keras.
Tapi bodohnya, aku malah berlindung ketakutan, sedangkan sang bola sudah meluncur bebas dari tubuhku.
"Dek."
Asal kalian tau, aku ini sangat takut dengan hantu, tapi orang yang takut hantu itu malah menjadi hantu berkeliaran.
Aku tertawa garing memikirkan hal tadi, hingga kaki ku terpaku melihat seorang pria sedang menatap ke kuburan ku.
"Hai Fahreza."
Menyapanya seperti biasa, melihatnya dengan perawakan yang sama, serta tetap melihatnya dibawah langit yang sama, membuat aku sangat bahagia.
"Ck !."
Sekarang aku tidak boleh lupa, walau semua sama, dia tidak bisa merasakan kehadiran ku.
"Bodoh !, Kenapa kau tidak pernah menurut sih ?!. Aku kan sudah bilang agar kau periksa jantung ke dokter, tapi kenapa kau tidak lakukan ?!."
"Seandainya kau melakukan itu, seandainya aku mengajakmu pergi ke rumah sakit, apakah ada yang berubah ?."
Hatiku bergetar melihatnya, cairan bening yang tidak pernah ia keluarkan kini terlihat membanjiri pipinya. Seketika aku ikut menitihkan air mata, rasa asing di dada sungguh menyesakkan aku.
Ingin aku memeluknya dengan erat, lalu berkata atas apa yang aku ketahui selama ini. Namun aku adalah hantu, aku tidak bisa menyentuhnya sama sekali.
Dari samping aku berkata tanpa perduli kau mendengar nya.
"Jangan begitu, ini bukan salahmu. Aku sudah tau sakit ini sejak lama, karena itu aku tidak mau mengeceknya, aku takut waktuku didunia ini tidak lama lagi, jadi tolong jangan berperilaku menyalahkan dirimu."
Pasti tidak ada yang berubah, kalimatku hanya sia-sia. Tapi disinilah tekadku membulat aku akan membawanya ke senyuman dulu.
11 hari kemudian.
"Prang !!."
"Reza !."
"Ck dimana anak itu, jika aku menemukan mu aku tidak akan membiarkan kau lari dari pelajaran ekonomi."
Tanpa terasa sebelas hari telah berlalu. Hal yang awalnya tidak bisa aku lihat kini malah bisa aku saksikan seperti sinetron didalam televisi. Semua kenyataan hadir di mataku Tetang bagaimana sebenarnya Fahreza di perlakukan didalam rumah nya.
Hampir seperti broken home. Fahreza benar-benar tidak pernah bahagia didalam kediaman ini.
Taman belakang rumah...
Kulihat Fahreza yang tengah duduk memejamkan mata, angin yang berhembus seakan mengusir helai rambut yang ada di kepala Fahreza.
Aku menyentuh kepalanya, walau tanganku tidak menyentuhnya, aku tetap merasakan perasaan menggelitik dihati.
Aku tidak menyadari bahwa kebahagiaan ku dapat mengendalikan angin, karena aku merasa sangat bahagia angin disekitar ku menjadi sangat kuat hingga Fahreza membuka matanya.
"Anginnya kuat sekali." Ucapnya yang membuat ku tersadar hingga angin berhenti berhembus.
Pada waktu bersamaan pula, angin yang aku datangkan berhasil membawa seekor kucing.
"Meong~." Suara kucing imut menarik perhatian Fahreza.
"Kucing ?."
Aku tau Fahreza sangat menyukai kucing, karena itu walau sedikit aku dapat melihat wajah senang dari senyumannya.
Tapi...baru saja Fahreza bahagia sedikit.
"Ternyata kau disini!."
"Dek !."
"Ibu ?!. Maaf ya meong aku harus pergi."
Untuk kesekian kalinya Fahreza harus lari ketakutan, menghindari wanita yang tak lain ibunya. Aku tidak tau apa yang akan dilakukan sang ibu jika ia tertangkap, tapi sedari tadi Fahreza lari dengan sangat ketakutan.
Aku cemas karena tempat Fahreza berlari adalah tempat ramai, tapi sang ibu yang tidak berperikemanusiaan terus mengejar sang ank tanpa henti. Aku lihat Fahreza sama sekali tidak melihat langkahnya, sampai ia di suatu titik.
"Tinnnn !, Tinnnn !."
"Dek !."
"Brak." Titik dimana arwahnya harus berpisah dengan raganya.
"Ap....pa itu Aurora ?."
"Dia bisa melihatku ?." Aku bingung seketika.
"Hahhh ... Aku...rindu. Aku sangat...rindu."
Mendengar ucapannya secara refleks aku mendekat.
"Ad...a...yang....ma...u...ku...bi... bilang. Sela...gi sempat."
"Yah, apa itu ? Aku mendengarnya."
"Dari...dulu sampai... sekarang...aku suka...ka...."
Kalimat terakhir yang sungguh indah ya. Aku tidak pernah membayangkan akan menerima ucapan cinta dalam bentuk arwah begini. Tapi aku bahagia hingga menitihkan air mata, ditambah senyum terakhirnya yang begitu mempesona.
"Terimakasih, terimakasih, terimakasih banyak."
.
.
.
"Brak!."
"Astaga!. Maaf nona !."
"Oh tidak masalah."
"Biar aku bantu ya."
"Oke."
"Nah sudah beres. Ohya btw perkenalkan namaku Fahreza, nama kamu siapa ?."
"Nama aku..."
~Tamat~