Senyuman itu mulai terpancar di bibir Vena saat memasuki SMP.
"Aku tidak sabar membuat cerita lucu hari ini," tawanya kecil.
Ia berjalan perlahan dengan senyuman indah di wajahnya. Tak lama setelahnya seseorang datang menemuinya.
"Vena, di panggil pa Arvi tuh di kantor," seru lelaki itu.
Vena tanpa kata berjalan dan datang di tempat ruang guru. Ia membuka pintu dan melihat 2 orang lelaki duduk bersama.
"Permisi pa, apakah bapa memanggil saya?" sapa Vena yang melirik ke arah lelaki yang memakai seragam putih abu-abu atau SMA.
"Kemari, duduklah kesini, bapa ingin berbicara dengan kalian berdua," ujar Pa Arvi.
"Baiklah pa," berjalan dan duduk di samping lelaki yang beda seragam dengannya.
Tinuniiitttt, tiiinnuuuunniiittt!!!
"Sebentar Bapa angakat telfon dulu, kalian bicara saja dulu berdua," seru Pa Arvi melangkah meninggalkan mereka berdua.
Mata lelaki itu mulai sinis kepada Vena dan mengubah posisi di atas Vena, suasana itu nampak membuat Vena hilang kendali dan langsung memeluk ransel yang di kenakannya.
"Mau apa kamu? Jangan mendekat atau aku akan berteriak!" serunya yang mengancam lelaki itu.
Lelaki itu hanya tersenyum dan mulai mendekati wajahnya secara perlahan, yang membuat Vena memejamkan mata dan menutupi mulutnya dengan ranselnya.
"Jangan-jangan, aku masih di bawah umur belum pantas lakukan itu," gumamnya yang mulai berfikir aneh.
Pa Arvi mulai masuk ruangan kembali.
"Maaf tadi Bapa ada telfon mendadak, bagaimana apakah kalian sudah berkenalan?" melirik ke arah keduanya dalam posisi yang sangat terlihat berbeda.
Lelaki itu tersenyum dan mulai melirik ke arah Pa Arvi, berlanjut dengan Vena yang membuka matanya berharap akan ada super hero yang datang menyelamatinya.
Lelaki itu pun bangun dan mulai duduk di tempat duduknya.
"Sepertinya kalian sudah akrab, ini urusan anak muda tapi jaga sikap kalian, ini masih di sekolah," tegasnya yang mulai bingung melihat kedekatan yang belum di bicarakan.
"Bukan bukan, aku ga kenal sama kaka ini. Tapi Maaf pa, maksud dan tujuan bapa panggil saya itu apa, dan lelaki ini itu siapa?" melirik dengan rasa takut yang menimpanya.
"Loh bukannya kalian ini calon suami istri, kedua orang tua kalian yang bilang sama bapa," ujar pa Arvi.
"Apa suami istri?" seru Vena.
Lelaki itu hanya diam dan mulai membaca buku.
Vena mulai berdiri "Mana mungkin pa, aku aja ga kenal sama dia, dan lagi aku masih SMP, umur ku masih muda, aku juga masih pengen sekolah," gerutunya yang mulai memarahi gurunya.
"Tapi orang tua kalian sudah setuju dan menjodohkan kalian berdua," seru Pa Arvi.
"Pokoknya aku ga mau, aku masih mau sekolah," berlari keluar dari ruangan dan menangis.
"Anak itu, padahal Bapa belum selesai berbicara, dan kamu Jimi, kamu sudah melihat langsung bukan bagaimana gadis itu, jangan ganggu dia, dia masih belia," ujar pa Arvi.
Jimi pun mencium tangan pa Arvi dan berjalan keluar. Ia melihat banyak gadis cantik di masa putih biru. Ia melihat Vena berlari menuju kelasnya dan mengikutinya.
Ia memandangi gadis kecil itu dan tersenyum "Vena," ia pun berjalan dan pulang.
Pertemuan itupun tidak ada pembahasan, hingga Vena lulus sekolah, ia di datangi seseorang menggunakan Motor Ninja berwarna hitam bercorak merah.
"Ikut aku," ujar si pengendara motor itu.
Vena melirik ke kanan dan kiri namun tidak ada siapapun "Kamu bicara sama aku?" tegasnya.
Mata lelaki itu nampak tak asing di mata Vena, dan ia mulai membuka helmnya dan turun dari motornya. Vena syok melihat lelaki tampan dan gagah tersebut.
"Pangeran dari mana ini, apa aku mimpi?" matanya yang mulai memandangi jelas lelaki tersebut dengan penuh perasaan.
"Apa kamu lupa sama calon suamimu ini?" tegasnya dengan nada yang lemah lembut.
Suara dan wajah tampannya membuat wanita dari kejauhan memandang iri melihat keduanya.
"Suami, apa suami!! Jadi kamu cowo berengsek yang waktu itu?" gumamnya yang kesal.
Lelaki itu hanya tersenyum yang membuat wanita di sekitarnya makin terpesona. Ia mulai mendekati wajahnya kepada Vena.
"Kamu mau calon suamimu di rebut wanita lain, atau kamu ikut aku, kita berdamai?" bisiknya di depan mata Vena sambil menatap wajah dan matanya yang masih imut di usianya.
"Aku masih kecil, dan lagi aku baru berumur 15 tahun, jadi jangan dekati aku kaka senior," gumamnya yang mulai ketakutan.
"Yah aku tahu, tapi tetap kamu adalah calon istriku walaupun kamu masih piyik iyah aku harus nunggu kamu 5 tahun lagi baru menetas tapi bukan masalah, itu adalah kemauan hati kita," senyumnya yang menantang Vena.
"Kamu bohong, ibuku saja tidak mengatakan apapun, bagaimana bisa kamu bilang di jodohkan, aku tidak akan percaya," berbalik badan, Jemi menggendongnya dan duduk di depan motornya.
Dengan tatapan yang mesra membuat hati keduanya berdetak kencang, membuat Vena diam dan memegang bahunya dengan tatapan yang malu di lihatnya.
"Aku akan naik tapi lebih baik di belakang saja," tatap Vena yang mulai malu-malu.
Jemi mulai meng-gas motornya dan membuat keduanya berpelukan, semua orang memandangi keduanya dengan sangat iri, berharap lelaki itu adalah kakanya Vena dan bisa mendekatinya.
Jemi tanpa memperdulikan siapapun ia langsung menyetir motornya tanpa melepas pelukan dari Vena. Seragam putih biru yang di kenakan Vena membuat semua orang berfikiran aneh kepada mereka berdua.
"Anak jaman sekarang ga ada etikanya," menggeleng-gelengkan kepalanya.
Keduanya nampak tidak memperdulikan perkataan semua orang dan tetap melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di tempat tujuan. Keduanya turun dari motor dan saling pandang dengan raut wajah yang malu-malu.
"Ini dimana? Beutifull a world," melirik sekeliling.
"Ini tempat yang paling bersejarah, aku harap kamu tidak akan melupakannya," tegasnya yang memandangi bunga-bunga di sekitarnya.
"Memangnya kamu mau kemana sampai harus aku ingat?" ujarnya yang merasa sedikit penasaran.
"Aku akan pulang, jadi kamu harus baik-baik saja tanpa aku," menggenggam tangannya.
"Hahahaha, kaka ini lucu, kaka datang mengaku menjadi calon suami aku, terus sekarang mau pergi, apakah begini cara lelaki memperlakukan gadis lugu seperti aku?" ujarnya yang secara terang-terangan.
"Kamu pintar, tapi kamu juga kadang bodoh, aku selalu suka kamu," ujarnya yang mulai merebahkan tubuhnya di tengah-tengah bunga.
"Baiklah, terserah kaka saja, asal jangan buat yang macam-macam," gumamnya yang mulai rebahan di sekeliling bunga.
Keduanya saling menggandeng tangan tanpa dirasa apapun, lelaki itu mulai bangun dan menatap wajahnya, keduanya saling menatap mata dan mulai menerima hati keduanya, hingga keduanya mulai merasa nyaman dan mengecup bibirnya.
Kecupan itu seakan memutar waktu dan Vena mulai membuka matanya, ia sudah berada di kamar.
"Apakah itu ciuman pertamaku? Rasanya aaakkhhhhh, ka Jimi," sambutnya dengan riang gembira.
Ia mulai berangkat sekolah di sekolah barunya di SMA yang dulu Jimi sekolah, hingga kelulusan tiba, tak ada berita keberadaan Jimi sang pangeran tampan pencuri hatinya.
Hingga semua berlarut hingga di usianya yang ke 19 tahun saat Jimi mengatakan akan menikahinya 5 tahun yang akan datang.
Vena masih menanti kehadiran pangeran yang selalu ia impikan, hingga kini usianya sudah memasuki umur 25 tahun, kejadian 10 tahun yang lalu itu membuat dirinya menyerah dan akhirnya memutuskan untuk menerima lelaki yang baru.
Ia akhirnya menikah setelah sekian lama menunggu calon suami idamannya yang tak kunjung datang.
Seminggu setelah pernikahan itu terjadi, ia mulai di datangi lelaki yang masih terlihat muda di usianya. Postur tubuhnya, motornya nampak tak asing dalam diri Vena.
"Mau cari siapa mas?" lirihnya yang memandang pria itu.
Lelaki itu berbalik badan dan menyapa dirinya.
"Haii gadis kecil," sapanya lembut dengan senyuman yang sama.
"Kamu, tidak mungkin, aku pasti mimpi, kenapa bisa, kamu kembali," tatapnya haru dengan perasaan rindu beserta amarah yang terbelenggu.
Lelaki itu mulai mendekati Vena.
"Kamu sekarang tumbuh dewasa, aku bahkan tidak bisa menemukanmu, tapi kamu bukan istriku lagi, selamat dengan keluarga barumu," tutur kata yang lembut dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.
"Kenapa kamu kembali, di saat aku sudah menikah, aku nunggu kamu seperti orang bodoh berharap kamu datang setiap aku merindukamu, tapi, huuuu uuuuu," tangisnya yang mulai meluap-luap.
Lelaki itupun memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Aku kesini hanya ingin memberikan ini, kamu boleh marah, namun tetap saja takkan merubah apapun juga, sayang," senyumnya yang mulai mengusap air mata Vena.
Mengambil kotak yang di berikan Jimi.
"Tapi bagaimana bisa kamu lupain aku selama 10 tahun, apa kamu sudah menikah? Aku memang bodoh menunggu seseorang yang tidak akan pernah ada dalam hidup aku, huuu huuuu uuuuu," menangis memukuli diri sendiri.
"Kamu tetap istri aku, aku tidak bisa lama bertemu denganmu, tapi mungkin kita akan berjumpa dalam kisah yang berbeda, aku pamit, ini bungga sebagai ucapan selamat tinggal, istriku, Vena Istriku, gadis kecilku," mencium keningnya dan meneteskan air mata bersama.
Jimi pun pamit dan pergi menggunakan motor yang sama.
Vena merasakan semua bukanlah mimpi, bukan juga kebetulan, ia merasa Jimi adalah manusia, namun kehadirannya tidak dapat di lacak di manapun ia berada.
"Kamu itu apa? Apa kah kamu alien, atau jelmaan, aku sangat merindukanmu, cinta pertamaku, huuu huuuuu uuuu," menangis sepanjang malam.
Ia membuka kotak itu dan mengerti, mengapa ia baru kembali menemuinya, ia melihat surat dan barang aneh yang tidak ada di bumi.
Sepanjang malam ia memandangi bulan, berharap Jimi akan kembali, namun semua hanyalah ilusi yang tidak akan pernah kembali.
Ia memandangi surat yang mengatakan siapa dirinya.
'Jimi, Suami Dari Bulan'
Saat usiaku 10 tahun, aku bertemu dengan gadis kecil lugu yang menyukai bunga, ia sangat cantik dan imut melihat wajahnya.
Aku bermain dengannya dan aku memberinya batu permata dari bulan, itu adalah simbol pernikahan, namun aku tidak berani mengatakan dan menyuruhnya memakai permata itu menjadi sebuah kalung, tak lama saat itu alarm ku berbunyi dan menyatakan untuk segera pergi, aku pergi menerobos portal waktu dua dunia.
Delapan tahun berlalu aku kembali dan menemukan kebradaan gadis kecil itu, ku pandangi wajahnya yang masih imut seperti dulu, ku pastikan permata itu ada padanya dan ia masih memakainya, dan aku mengetahui namanya adalah Vena.
Aku kembali ke duniaku, dan duniaku dalam masa perang antar keluargaku, aku memutuskan sembunyi dan kembali ke bumi dan menemukannya, namun hanya sehari itu aku bisa merasakan bibir kecil mungilnya begitu sangat manis, dan mesin waktu itu hancur tak bersisa.
Ku mulai merindukannya, ku berjanji akan kembali menemuinya 5 tahun yang akan datang, namun mesin itu hancur dan hanya setengah yang bisa aku perbaiki.
Setelah 5 tahun berlalu aku, tepatnya 10 tahun mendatang saat pertemuan terakhir dengannya, aku mendapat kabar, di sudut media aku melihatnya, ia begitu sangat cantik mengenakan gaun putih dengan bunga ke sukaannya.
Hari ini, untuk yang terakhir kalinya aku akan menemuinya, dan akan mengatakan siapa aku sebenarnya, istriku, jauh dari kata yang aku ucapkan, sungguh engkau adalah istriku, permata itu adalah janji suci ikatan kita, namun semua tidak ada guna lagi di dunia mu, simpanlah baik-baik permataku.
Suatu hari nanti akan ku jemput kau pergi menemui aku yang jauh berada di Bulan.
Surat yang selalu membuat hati Vena teriris dan sakit mengingat semua kejadian itu.
"Aku akan menunggumu Jimi, walau harus 50 tahun yang akan datang," serunya memandangi langit.
*Selesai*