Namaku Anna, aku dan Deven sudah menikah selama dua tahun. awalnya memang terasa sangat bahagia, Deven sangat baik kepadaku. Namun, semenjak kemunculan teman masa kecilnya, Deven berubah.
hari ini adalah ulang tahunku, aku menunggu Deven pulang dari kantor, aku sangat menantikan kado ulangtahun darinya.
"Selamat ulang tahun sayang" ucap Deven yang mengejutkan ku. Deven berjalan sambil membawa sebuah cake kecil dengan lilin berbentuk angka 22.
aku tersenyum, tapi senyum ku hilang saat ku lihat sesosok wanita yang tak asing berada di belakang Deven.
"Dia? kenapa dia kesini?" ucapku
"oh itu, ini hari ulang tahunmu, jadi aku rasa akan lebih bagus jika Fanny ikut merayakannya bersama kita"
"tapi dia orang asing Dev" ucapku sedikit tinggi.
mungkin perkataan ku menyinggung Fanny sehingga dia dengan sadar diri keluar dari rumahku.
"kata siapa dia orang asing, dia teman masa kecilku dan sudah ku anggap sebagai adik, kau tidak boleh berkata seperti itu" Dev berbalik memarahiku dan pergi mengejar Fanny.
sebenarnya bukan kali ini saja Fanny mengganggu kami, selama dua bulan ini dia selalu datang mengganggu aku dan Dev, ketika kami dinner atau pergi shopping, Fanny selalu ikut bersama kami.
aku ingin marah pada Dev, tapi aku takut pernikahan kami akan berantakan, aku juga sudah berjanji pada mendiang ibuku untuk mempertahankan pernikahan ku, jadi aku memutuskan untuk diam saat ini.
yah, Dev sudah pergi mengejar Fanny, tinggal aku sendirian di rumah, bahkan lilin ulang tahunku belum ku tiup, hari ini ulang tahun paling buruk sepanjang hidupku.
sementara di luar
"kak Dev, aku pulang saja, sepertinya kak Anna tidak menyukaiku huhu"
"Fanny tenang lah, jangan menangis, mungkin Anna tidak sengaja berbicara seperti itu, kau adalah adikku, kau bukan orang asing, ayo kembali"
"tapi aku takut kak Anna akan marah lagi padaku"
"tidak akan, aku akan melindungi mu"
"baiklah kalau begitu"
mereka akhirnya masuk kembali ke dalam rumah.
aku masih duduk di sofa, melihat Fanny menggandeng erat tangan Deven, hati ku merasa panas. aku ingin menangis, namun niat itu aku urungkan, aku beranjak dari tempat duduk ku dan masuk ke dalam kamarku, aku meninggalkan mereka berdua tanpa sepatah katapun.
aku menutup pintu kamarku, dan naik ke kasur ku, air mataku tak dapat ku bendung, bodoh, akhirnya aku menangis juga. bagaimana tidak, dihari paling spesial bagiku, suamiku malah lebih mementingkan orang asing dari pada aku istrinya. Aku menangis hingga tertidur.
tiba-tiba saat malam aku terbangun, tangan Dev memelukku, aku berbalik.
"dimana Fanny" tanyaku
"dia sudah pulang, maafkan aku ya, aku sudah membuatmu menangis, tapi Fanny hanya seorang remaja, hatinya masih rapuh, dan juga dia tidak pernah dibentak sebelumnya"
aku sedikit merasa bersalah karena memang benar nada bicara ku cukup tinggi tadi.
"untuk menebus kesalahanku, besok aku akan mengajakmu pergi ke mall, bagaimana" ucap Deven
"baiklah"
"terimakasih karena memaafkan ku, selamat ulang tahun sayang" Deven mengecup kening ku. Kami berdua akhirnya tertidur.
Keesokan harinya, kami pergi ke mall untuk merayakan ulang tahunku. Pertama-tama kami memutuskan untuk mengisi perut, kami masuk ke salah satu restoran.
Awalnya aku sangat bahagia, akhirnya kami punya waktu untuk berdua saja. Tapi tak lama setelah itu, Deven menerima telpon.
"Anna maafkan aku"
"Kenapa Dev, apa ada masalah?"
"Fanny sedang sakit, dia butuh bantuanku, aku harus pergi sekarang, ini kartu ku, kau bisa belanja apapun yang kau mau, tunggu aku, aku akan kembali" Dev pergi tergesa-gesa.
Fanny, Fanny dan Fanny lagi, orang itu selalu saja mengganggu ku dan Dev. Tapi aku mencoba untuk bersabar, andai kau tau Dev, waktu tidak bisa di beli dengan uang sebanyak apapun.
Karena kami sudah memesan makanan dan aku tidak enak untuk meng cancelnya, jadi aku memutuskan untuk makan, setelah itu aku pulang.
Aku mencoba menelfon Deven.
"Halo Deven, aku sudah pulang, kau tidak perlu menjemput ku di mall lagi"
"Syukurlah Anna, aku tidak perlu repot-repot menjemput mu, aku sedang di rumah sakit menjaga Fanny"
Deven menutup telponnya.
"Apakah aku merepotkan mu Dev" batin ku.
Mataku berkaca-kaca, aku memang cengeng, terserah lah kalian mau menanggap ku apa, ku harap kalian tak pernah merasakan sakit seperti ini. Sudahlah tak perlu berlarut-larut.
Malam harinya Dev pulang, aku menyambutnya.
"Dev, kau sudah pulang, aku membuatkan sup untuk mu, cepat makan sebelum dingin"
"Maafkan aku Anna, aku hanya pulang untuk mengganti pakaian, oh dan tolong masukkan sup nya kedalam tempat, aku akan membawakannya untuk Fanny, aku akan segera kembali ke rumah sakit, Fanny sendirian di sana"
"Lagi-lagi Fanny, sebenarnya siapa yang istrimu Dev, aku atau dia?"
"Anna!! Apa maksudmu, jangan kekanak-kanakan seperti ini, Fanny sedang sakit, orang tuanya tidak ada di sini, dia hanya memiliki aku sebagai keluarganya"
"Aku tau Dev, tapi ini sudah melewati batas kesabaran ku, kau selalu menghabiskan waktu dengannya, bahkan di hari ulang tahunku, aku mencoba untuk memahami mu, tapi kau tak pernah memahami perasaan ku, aku istrimu Dev" aku agak emosional saat itu.
"Aku tau kau istriku, tapi Fanny adalah adikku"
"Fanny, Fanny, Fanny lagi, cukup Dev, pergi lah urus adik mu itu, adik yang bahkan tidak ada hubungan darah dengan mu, kalau perlu kau bisa jadikan dia istrimu, aku akan urus surat perpisahan kita"
"ANNA CUKUP! hanya karena hal sepele ini kau ingin berpisah, kau sungguh keterlaluan" Deven membentak ku
"kau bilang hal sepele? Kau bilang aku keterlaluan? Apakah kau tak sadar atas perbuatan mu Dev? Kau lah yang keterlaluan Dev, mulai sekarang tak perlu perduli padaku lagi, aku membencimu Dev, aku benci padamu" aku berteriak karena emosi aku masuk ke kamar sambil menangis. Aku membanting pintu kamar karena kesal.
"Anna tunggu, buka pintunya" Deven menggedor pintu kamar, namun aku tak menghiraukannya
Aku tidak bisa mengendalikan emosiku saat itu, aku menangis terlalu banyak hingga kepala ku sakit, suara Dev yang mengetuk pintu juga semakin membuat kepala ku sakit.
"Pergilah Dev, jangan ganggu aku lagi, aku mohon, kau membuat kepalaku sakit, pergilah Dev, aku tidak mau mendengar suaramu" aku berteriak dari dalam kamar.
Aku sudah seperti orang gila, kepala ku terasa semakin sakit, aku bersender di kasur sambil menutup telinga ku. Deven mendobrak pintu dan berhasil membukanya.
Dia melihat ku dengan kondisi yang tidak baik-baik saja, dia memelukku erat.
"Anna tenanglah, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membentak mu"
"Pergi Dev, aku tidak ingin melihat mu lagi" aku mencoba memberontak seperti orang gila, tapi Dev semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak Anna, aku tidak akan meninggalkan mu, kau harus tenang, aku berjanji tidak akan berhubungan dengan Fanny lagi"
Mendengar ucapan Dev, aku perlahan mulai tenang
"Benarkah? Kau berjanji tidak akan memperdulikan wanita itu lagi?"
"Aku berjanji Anna, maafkan aku, selama ini aku salah, aku tidak memikirkan perasaanmu, aku bodoh sekali, maafkan aku Anna" Dev menggenggam tanganku, dia juga menghapus kontak Fanny dari ponselnya, namun aku sudah terlalu lelah memberontak, tenaga ku sudah habis, aku tiba-tiba tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun pagi hari, Dev tidak ada di sampingku, aku berfikir Dev yang meminta maaf tadi malam hanyalah halusinasi ku, aku kembali menangis.
Tiba-tiba Dev membuka pintu sambil membawakan sarapan untukku. Dia melihat aku yang menangis.
"Anna, kenapa kau menangis, apa ada yang sakit?" Dev langsung memegang tanganku dan memeriksa dahiku.
"Tubuh tidak panas, syukurlah tidak demam" ucapnya.
Aku kemudian memeluk Dev.
"Syukurlah ternyata kau tidak meninggalkan ku, berarti tadi malam bukan halusinasi ku saja"
Dev menepuk-nepuk punggungku.
"Aku tidak mungkin meninggalkan mu, aku sudah berjanji"
Dev tersenyum kepadaku.
"Sekarang makanlah, aku memasaknya untukmu" Dev menyuapi ku sarapan, aku senang karena Dev yang aku kenal akhirnya kembali.
Sebulan telah berlalu, hubungan kami kembali normal. Tidak ada lagi pengganggu di antara kami. Kehidupan berjalan sangat bahagia.
Tapi belakangan ini Dev mulai cuek, mungkin karena dia sering lembur dan pulang malam hari, tapi aku tak mau ambil resiko, aku memutuskan untuk memasang penyadap di ponselnya. Mulai sekarang, seluruh pesan dan panggilannya akan terhubung dan tersimpan di ponselku.
Awalnya aku merasa jika aku terlalu berlebihan, namun selang beberapa hari, banyak chat dari nomor tidak di kenal masuk ke ponsel Dev, aku yakin Dev menyembunyikan sesuatu.
Suatu hari Dev mengajakku pergi makan siang, aku menurutinya dan pergi bersamanya, ketika kami sedang asik makan bersama, seseorang menelpon Dev.
"Sayang, direktur menelpon ku, aku akan mengangkatnya sebentar"
"Oh baiklah"
Dev tampak mencurigakan, aku memasang earphone dan mendengarkan percakapannya.
______________________
"Kak Dev aku merindukanmu, sudah satu Minggu kau tidak menelpon ku, ayo kita bertemu"
"Fanny, sekarang aku sedang bersama Anna, kita bertemu besok saja ya"
"Tapi aku ingin bertemu dengan mu sekarang, dan juga kau tak perlu meminta ku untuk mengganti nomor ku hanya untuk membohongi kak Anna"
"Tapi jika tidak begitu, aku tidak bisa menghubungi mu"
"Kau kan bisa langsung datang menemui aku, oh iya, cincin yang kemarin kau belikan sangat bagus, teman-teman ku memuji ku hari ini"
"Baguslah jika begitu, aku akan mencari alasan agar bisa bertemu dengan mu, sampai nanti"
"Sampai nanti kak Dev, kau memang kakak ku yang terbaik"
"Iya Fanny, aku tutup dulu"
________________________
Kalian tahu? Aku sangat shock, aku kira selama ini Dev sudah berubah, ternyata dia hanya seorang pembohong, bahkan dia membelikan cincin untuk wanita itu, sedangkan dia tidak pernah membelikan apapun untuk aku, istrinya.
Aku tidak tahan lagi, aku memutuskan untuk pergi, aku memesan taksi online dengan ponselku, sialnya saat menunggu taksi ku datang, kepalaku terasa sakit dan aku pingsan.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, saat aku terbangun, aku berada di rumah sakit, samar-samar aku melihat seorang pria yang sepertinya tidak asing.
"Anna, kau sudah sadar" ucapnya sembari membantu ku bangun.
"Kau? Willy? Kak Willy?" Aku sangat terkejut, ternyata dia anak dari bibi yang mengurusku waktu kecil, dan kami tumbuh bersama.
"Syukurlah kau masih mengingat ku, gadis nakal"
Kak Willy tidak berubah sedikitpun, dia masih sama seperti dulu, tidak disangka setelah berpisah selama sepuluh tahun, akhirnya aku bertemu kembali dengannya.
(Note : Willy adalah anak baby sitter Anna Saat di kota z, mereka sudah akrab dari kecil, bahkan dari Anna bayi)
"Aku rasa banyak hal yang harus kau jelaskan padaku, termasuk ini" kak Willy menunjukkan secarik kertas.
"Kertas apa ini" aku merampasnya dan membaca kertas itu baik-baik.
"Apa? Aku hamil?"
"Ya, dan seperti yang tertulis di hasil pemeriksaan itu, usia kehamilan mu baru tiga Minggu"
"Tidak, bagaimana aku bisa balas dendam jika begini, aku tidak ingin anak ini kak..."
"Anna, kenapa kau berkata seperti itu?"
Aku menceritakan semuanya pada kak Willy. Aku terlalu emosional hingga menangis
"Laki-laki brengsek, tenanglah Anna, aku akan membantu mu balas dendam padanya, aku berjanji, tapi anak ini tidaklah bersalah"
"Kau yakin kak?"
"Aku yakin, hapus air matamu, tunjukkan bahwa kau adalah wanita yang kuat Anna "
"Terimakasih kak Willy "
Suster masuk membawakan beberapa makanan.
"Dokter Willy, ini makanan yang kau minta aku siapkan"
"Baiklah, terimakasih suster, kau boleh keluar"
"Baik dok"
"Tunggu, apa? Dokter Willy?"
"Ya, apa kau tidak lihat pakaian ku? Hem"
Aku terlalu senang hingga tak memperhatikan pakaiannya.
"Jadi kau adalah dokter sekarang, wah kak Willy hebat sekali"
"Tak perlu terlalu menyanjung, makan lah semua ini, makanan ini bisa menguatkan janinmu, aku akan meresepkan beberapa vitamin tambahan untukmu"
"Ah baiklah"
Setelah merasa lebih baik, aku memutuskan untuk pulang. Aku menyusun rencana untuk membongkar kebohongan Deven, aku mengumpulkan semua bukti perselingkuhannya dan juga mengurus surat perceraian. Satu Minggu lagi ulang tahun Dev, aku akan membongkar kebohongan Deven saat itu.
Satu Minggu berselang, Dev mengajakku makan untuk merayakan ulangtahunnya, seluruh keluarganya hadir, termasuk Fanny.
"Sebelum Dev meniup lilinnya, aku memiliki sebuah hadiah, silahkan menonton videonya" ucapku
Semua orang tertuju kelayar monitor, terdapat video yang berisikan rangkaian foto-foto aku dan Dev. Semua orang tersenyum hingga tiba dimana mata semua orang terbelalak.
Foto-foto yang tadinya berisi aku dan Dev, berubah menjadi foto-foto panas Dev dan Fanny, serta bukti chat dan video mereka berdua, serta panggilan telepon yang aku rekam.
"Anna apa-apaan ini, matikan monitornya"
"Kenapa? Kau takut? Atau malu? Bukankah seharusnya kau senang? Seluruh anggota keluarga mu akan mengenal calon istrimu"
"Apa yang kau katakan Anna? Kau adalah istri ku"
"Laki-laki brengsek"
"Plakk" aku menampar pipi Deven
"Aku sudah mengurus surat perceraian kita, setelah itu kau bisa menikahi Fanny, teman masa kecil mu yang kau sayangi itu"
"Tunggu kak Anna, ini bukan seperti yang kau pikirkan, aku dan kak Dev tidak ada apa-apa"
"Diam!!!"
"Plakk!!" Aku menampar pipi Fanny
"Anna apa yang kau lakukan, kau berani menampar Fanny"
"Kenapa aku tidak berani, jalang seperti dia memang seharusnya ditampar"
"ANNA!!" Dev mendorong ku hingga aku terjatuh
Sial, perutku tiba-tiba sakit. Aku mencoba untuk berdiri, tapi ini sangat sakit.
"Anna, apa kau baik-baik saja nak" ibu Dev menghampiri ku
"Ibu, aku baik-baik saja"
"Hei lihat ada darah di rok kak Anna" teriak Jeff adik laki-laki Deven.
"Astaga Anna, apa yang terjadi" ibu Dev histeris, sementara Dev masih setia melindungi jalangnya.
"Dev cepat bantu menantuku, dasar anak tak berguna, bisa-bisanya kau menyakiti istri sebaik Anna" teriak ibu Dev.
Penglihatan ku mulai buram, rasa sakitnya sangat menusuk aku mendengar suara ibu dan ayah Dev memanggil namaku, aku juga merasakan tubuhku di gendong oleh seseorang.
Aku akhirnya terbangun, ternyata aku sudah di rumah sakit saat itu. Kak Willy duduk di sampingku.
"Kak Willy, bagaimana bayiku? Jawab aku kak" aku bertanya penuh cemas
"Maafkan aku Anna, tapi....."
Aku merasa sedih, padahal sebelumnya aku tidak menginginkan anak itu, aku tiba-tiba saja menangis.
"Tidak apa-apa, aku sudah merelakannya"
Aku memalingkan wajahku, tiba-tiba Deven dan keluarganya masuk.
"Apa yang terjadi pada menantu ku dok" ucap ibu Dev.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, kami sudah berusaha, tapi bayi Nyonya Anna tidak bisa di selamatkan, nyonya Anna keguguran"
"Apa? Keguguran?" Ibu Dev tampak shock, sedang Dev tampak terkejut.
Deven berjalan mendekati ku, aku tetap memalingkan wajah ku padanya.
"Anna, maafkan aku, aku sungguh tidak tahu Ann"
Dev mencoba menyentuh tangan ku
"Pergi Dev, jangan sentuh aku, aku tidak mau bertemu dengan pembunuh bayiku, pergi"
"Anna aku bersalah, aku minta maaf"
"Sudah ratusan kali aku mendengar maafmu Dev, aku sudah bosan, sekarang tidak ada lagi yang bisa dimaafkan dari dirimu"
"Tolong beri aku satu kesempatan lagi Ann, aku akan memperbaiki kesalahan ku"
"Kesempatan mu sudah habis Dev, aku ingin kita berpisah, tanda tangani surat perceraian sekarang juga, di depan ayah, ibu serta keluarga mu"
"Tidak Anna, aku tidak ingin bercerai dengan mu"
"Cukup Dev, jangan buat aku semakin menderita, aku sudah cukup menderita selama ini, tolong Dev" aku tak kuasa membendung air mataku.
Ibu Dev menghampiri ku dan memelukku.
"Anna, ibu tau bagaimana perasaan mu, tapi apakah tidak ada jalan keluar lain selain perceraian?"
"Ibu, maafkan Anna, ibu sudah Anna anggap seperti ibu kandung Anna sendiri, tapi ini terlalu sakit Bu, Anna tidak kuat, Anna lelah dengan semua ini, tolong ibu ngertiin Anna ya"
"Anna, ibu juga sudah menganggap Anna sebagai putri ibu sendiri, kalau memang ini keputusan Anna, ibu akan menghargainya, tapi ibu mohon maafkan Dev ya"
"Sekali lagi Anna minta maaf Bu, untuk saat ini Anna belum bisa memaafkan Dev"
Dev akhirnya menandatangani surat perceraian, aku merasa lega dengan semua ini, ibu dan ayah Dev juga sangat baik kepadaku.
..........
Saat kondisi ku mulai membaik, aku memutuskan untuk ikut kak Willy yang bertugas di luar negeri. Aku cukup bahagia bersama dengan kak Willy.
Suatu sore di balkon apartemen, kak Willy ingin berbicara empat mata dengan ku.
"Kenapa kak? Apa ada yang salah?"
"Ann ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu"
"Apa itu kak?"
"Sebenarnya kau tidak keguguran, bayimu masih ada di rahimmu, hanya saja dia sedikit lemah, jika aku mengatakan kau baik-baik saja, mungkin kau dan Dev tidak bisa bercerai, aku takut kau akan semakin terluka"
"Apa? Benarkah? Kau serius kak? Bayiku masih ada?"
"Iya, maafkan aku berbohong tanpa seizin mu" aku merasa bahagia mendengar ucapan kak Willy, air mata ku jatuh begitu saja.
"Tidak apa-apa kak, justru bagus jika begini, aku dan bayiku tidak akan diganggu oleh siapapun lagi, terimakasih kak" aku tersenyum pada kak Willy
"Kau tidak marah padaku?"
"Kenapa harus marah? Kau membantuku menghadapi masalah ku, kau sangat luar biasa kak"
"Tapi walau bagaimanapun, Deven tetap ayah dari anak itu, kau tidak boleh menghapus ikatan darah antara mereka"
"Kau benar kak, kelak aku akan memberi tahu semuanya pada anak ini, aku tidak akan menyembunyikan apapun darinya "
"Baguslah jika begitu, sebaiknya kau istirahat, kondisimu baru saja pulih"
"Baiklah, terimakasih atas semua bantuan mu kak Willy"
"Sama-sama, senang membantumu Anna"
...................................
Empat tahun kemudian.
Aku dan kak Willy kembali ke kota x setelah sekian lama.
"Mami,, kita akan pergi ke mana"
"Sayang, kita akan menemui Oma dan opa, kau pasti senang bertemu dengan mereka"
"Lalu apakah papa Will akan ikut dengan kita?"
"Tentu saja aku ikut, aku tidak akan membiarkan mami berdua dengan anak nakal seperti mu"
"Jiel tidak nakal papa, jiel anak yang pintar heum"
"Hahaha putraku memang anak yang pintar, mami akan memarahi papa Will karena menindas jiel ku"
Aku dan kak Willy memutuskan untuk menikah, kak Willy bersedia menerima aku dan Naziel, dia memang pria yang baik, aku sangat mencintainya.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya aku tiba di rumah ibu Dev. Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di rumah ini.
Aku menekan bell, penjaga rumah kemudian mempersilahkan kami masuk. Saat ibu dan ayah turun dari tangga, mereka tampak tak percaya. Ibu Dev langsung menghampiri ku dan memelukku.
"Anna, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mu, aku merindukanmu Ann"
"Anna juga merindukan ibu"
Ibu kemudian menatap Ziel.
"Ibu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian"
"Baiklah kalau begitu ayo kita keatas"
Aku dan kak Willy menceritakan kejadian sebenarnya bahwa saat itu aku tidaklah keguguran, aku senang karena ibu dan ayah tidak marah padaku, mereka mengerti mengapa aku melakukan hal itu.
"Ziel,, ayo beri salam pada Oma dan Opa"
"Halo Oma,, halo Opa,,, nama aku najiel, panggil jiel aja hehehe"
(Namanya Naziel, karena umurnya masih balita, dia belum bisa melafalkan huruf dengan sempurna)
Ibu dan ayah tampak berkaca-kaca saat Ziel menyapa mereka.
"Boleh ibu menggendongnya Ann?"
"Tentu saja Bu, kau boleh menggendongnya"
Naziel tampak senang bermain dengan ayah dan ibu, begitu juga sebaliknya.
"Oh iya Bu, Deven bagaimana kabarnya"
"Setelah kau pergi, dia sedikit frustasi, dia terus menyalahkan dirinya atas keguguran mu"
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sekarang dia sudah baik-baik saja, dan juga sekarang dia sudah menikah"
"Dengan Fanny?"
"Tidak, wanita itu hanya memanfaatkannya saja, Deven menikah dengan psikiater yang membantunya melewati sakitnya"
"Baguslah jika begitu"
Tak lama setelah itu, Deven dan istrinya datang, aku memang sengaja meminta ibu untuk menelponnya.
Deven juga sudah tau hal yang sebenarnya dari telpon, ketika datang, dia langsung memeluk Ziel.
Deven tidak mengatakan apa-apa, dia hanya memeluk, mungkin dia masih merasa bersalah padaku.
aku memanggil Ziel dan memberi tahunya bahwa Deven adalah papinya, Ziel kembali ke pelukan Deven dan memanggilnya papi.
Deven menangis tersedu-sedu, dia menyesal, namun penyesalan tidaklah berguna sekarang. kami sudah memiliki hidup masing-masing.
aku, kak Willy dan Naziel akhirnya pamit. Aku berjanji akan membawa Naziel bermain dirumah neneknya setiap akhir pekan, aku sudah bahagia dengan keluarga kecil ku Sekarang.
TAMAT