Hati Asha begitu sesak dan sakit tak kala melihat ada pakaian dalam perempuan teronggok begitu saja di lantai ruangan depan rumah tunangannya, Galang.
Saat itu tahun 2010,
Asha datang ke rumah kontrakan Galang, di sebuah perumahan sederhana di Jakarta. Hatinya semakin was-was dan jantungnya juga berdetak tak karuan. Ia sekilas sempat melihat di jendela saat akan masuk, ada seorang perempuan berambut pirang berkelebat masuk ke dalam kamar depan. Entah salah lihat atau memang benar.
"Pintunya ko tidak dikunci sih,"Ucap Asha pada dirinya sendiri. Ia lantas masuk ke dalam rumah kontrakan Galang.
Banyak makanan ringan, minuman, dan pakaian dalam wanita teronggok begitu saja di lantai ruangan depan. Tepatnya di ruangan tamu.
Perasaan Asha semakin tak menentu.
"Ada minuman? Sejak kapan Mas Galang suka minum?"
Asha menberanikan dirinya untuk melangkah lebih dalam, kamar Galang terbuka lebar dan tubuh Asha mematung seketika tak kala melihat Galang tidur dengan seorang perempuan yang sedang duduk di sebelahnya.
"Kamu siapa?"Tanya Asha pada perempuan itu.
"Aku pacarnya Mas Galang,"Jawabnya angkuh
"Pacar?"Tubuh dan lutut Asha terasa lemas seakan sudah tidak bisa lagi menopang tubuhnya.
"Iya pacar. Kamu siapa?"
"Aku tunangannya Mas Galang!"Kata Asha mencoba menahan emosinya
Dilihatnya Galang masih tidur, entah tidur atau pura-pura tidur. Tubuhnya menelungkup dengan pakaian utuh. Sementara cewek tadi hanya mengenakan kaos Galang,,terlihat dari ukurannya yang besar. Bukan cuma itu, kaos itu dibelikan Asha beberapa waktu lalu.
Asha tak berani untuk maju selangkah lagi ke dalam kamar, hatinya menciut. Melihat tunangannya dengan perempuan lain saja sudah membuat darahnya mendidih.
"Kapan kalian jadian?"Tanya Asha pada perempuan itu
"Sebulan yang lalu,"Jawabnya ketus masih dengan posisi duduk di sebelah Galang.
"Kami sudah berhubungan 4 tahun,"Jawab Asha tak mau kalah. Asha dan Galang menjalin hubungan sejak tahun 2006. Saat Asha menjadi mahasiswi baru di kampus dan usianya dengan Galang terpaut dua tahun. Kala itu Galang sudah menginjak semester 4.
Perempuan itu hanya diam saja mendengar jawaban Asha.
"Bangunkan dia!"Titah Asha menunjuk Galang
Perempuan itu menepuk-nepuk bahu Galang
"Mas, Mas.. Bangun Mas!"
Galang menggeliatkan tubuhnya, dilihatnya Asha sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Galang nampak kaget. Ia langsung beringsut dari tempat tidur, menghampiri Asha.
Wajar jika tunangannya kaget, sudah ke gap bareng selingkuhannya dan juga ketahuan bohong. Tadi malam Galang meneleponnya, dia ijin akan pergi ke luar kota untuk masalah pekerjaan. Asha memberinya ijin.
Sekitar jam 3 dini hari, Asha tiba-tiba terbangun. Ia teringat pada Galang. Diraihnya ponselnya di atas nakas. Ia menekan panggilan ke nomor ponsel Galang. Tapi tak ada jawaban. Mungkin Galang memang sedang terlelap tidur. Tak biasanya hatinya gusar, tak enak hati dan tak karuan.
Mungkin itulah jawabannya kenapa tiba-tiba Asha teringat pada Galang, ternyata tunangannya itu sedang memadu kasih dengan perempuan lain.
Asha menatap Galang sendu, mencoba meminta jawaban dari apa yang dilihatnya barusan.
"Dia nginap di sini, Mas?"Tanya Asha dengan suara parau. Mereka berdua pindah ke ruang tamu.
"Nggak Sha, dia datang tadi pagi-pagi,"Jawab Galang bohong. Wajahnya tampak berantakan
"Lalu itu punya siapa, Mas?"Tunjuknya pada pakaian dalam berenda berwarna merah.
Galang tak bisa mengelak lagi, dia akhirnya mengakui jika perempuan itu adalah pacarnya juga.
"Aku akan jelasin nanti ya, kamu jangan bikin masalah di sini. Gak enak sama tetangga lain,"
"Aku bikin masalah? Bukannya kalian yang sudah bikin masalah. Tega kamu ya, Mas. Udah selingkuhin aku demi perempuan seperti dia,"Tunjuk Asha kepalang emosi menunjuk pada Lisa yang menghampiri Galang.
"Kamu gak malu apa jadi selingkuhan? Kamu ini perempuan pasti punya perasaan bukan?"Erang Asha, hampir saja Asha mengangkat tangannya untuk menampar Lisa
Dari arah luar rumah, Dayu sahabat dekat Asha berteriak menghentikan keributan yang terjadi
"Sha, jangan!"Larang Dayu membuat Asha menurunkan kembali tangannya
"Maaf ya, Mas Galang. Aku di sini hanya sebagai penengah, Asha sahabat dekatku dan Mas Galang juga temanku. Aku gak mau terjadi ribut-ribut di sini, lebih baik kalian bicarakan baik-baik. Saling tenangin diri dulu,"Dayu berada di tengah keduanya
"Iya, makasih Yu,"
"Sha, kamu mau tetep di sini atau mau ikut aku?"Tatapan Dayu beralih pada Asha
"Ikut kamu lah, ngapain aku di sini."Jawab Asha sambil pergi terlebih dahulu ke luar. Diikuti Galang, Dayu dan Lisa.
"Kamu mending pulang dulu ya!"Titah Galang pada Lisa. Perkataan Galang barusan masih bisa di dengar oleh Asha.
Asha berdecih sebal
Untuk meluapkan kekesalannya Asha kembali menghampiri Lisa
"Heh, kamu ngaca di kaca gede ini. Lihat penampilan kamu itu seperti percun."
Lisa terperangah mendengar ucapan Asha barusan, sedangkan Galang hanya diam tidak berbuat apa-apa.
***
Tiga hari berlalu semenjak kejadian itu, Asha dan Galang sepakat untuk bertemu membicarakan kelanjutan hubungan mereka. Tak disangka Galang malah membawa serta Lisa bersamanya.
"Jadi kamu mau gimanain hubungan kita?"Asha mengawali pembicaraan mereka sore hari itu di sebuah taman kota
"Mas, aku mau bicara,"Kata Lisa.
"Menurutku ini gak fair, Mas,"Imbuh Lisa lagi
"Jadi kamu maunya gimana?"Tanya Asha menekankan
"Aku mau kalian putus!"
Asha tersenyum kecut mendengar permintaan Lisa
"Tanya cowoknya mau gak putus?"Ujar Asha. Asha yakin Galang tidak akan berani memutuskannya
"Mas, kamu mau putus sama dia?"
Sesuai dugaan Asha, Galang menolak putus bahkan meminta waktu pada Asha untuk mengakhiri hubungannya dengan Lisa.
Asha menerima keputusan Galang, ia juga tak menduga jika ia saat ini sedang menjalani hubungan cinta segitiga. Apa yang sedang dijalaninya ini tidak sesuai dengan keinginannya.
Di balik senyumnya, di balik tabahnya. Asha menangis sakit menahan perih hatinya. Berharap mendapat kebahagiaan tapi justru luka yang ia dapat.
Hubungan percintaan yang dibangunnya dengan Galang harus diwarnai pengkhianatan. Asha menyesali dirinya. Kepercayaan yang dia berikan, di sia-siakan begitu saja. Mahkota kehormatannya ia berikan begitu saja berdalih kasih sayang.
Dua insan yang saling memuja dan memadu kasih asmara tak pernah bisa berpikir logis. Itulah yang Asha rasakan sekarang.
Asha seolah sudah tidak bisa lagi menangis. Air matanya seakan kering. Ia sudah kebal terhadap perlakuan-perlakuan Galang padanya. Allah telah menjawab do'a-do'anya sekarang.
Selama lima tahun menjalin asmara, entah sudah berapa kali Asha dikhianati. Asha hanya bisa pasrah dan berharap semuanya hanya berita bohong.
Asha ingat betul saat menginjak dua tahun setengah hubungan mereka. Tepatnya tahun 2008, ia mendapat kabar tak mengenakan jika Galang kepergok tidur bareng mahasiswi anak Bahasa Indonesia di bascamp kampus oleh satpam. Alhasil beritanya cepat menyebar. Dan dengan mudahnya Asha memaafkannya begitu saja.
"Sha, kamu maafin gitu aja si Galang? Dia udah tidur bareng sama si Deta loh,"Ucap Deris, teman satu kelas Asha semasa kuliahnya. Karena Deris tahu betul saat malam kejadian. Deris malah ikut waktu penggerebekan terjadi.
"Biarin lah Der, aku kan gak lihat. Nanti setelah mata kepalaku melihat sendiri. Baru aku percaya."Dengan congkaknya waktu itu Asha bicara. Walau ia juga harus menahan malu.
Siapa yang tidak mengenal Galang dan Asha semasa kuliah dulu. Galang terkenal karena dia seorang aktivis kampus sekaligus Dewan Kehormatan di BEM Fakultas dan Asha, dia adalah anggota legislasi untuk BEM Universitas.
Sekarang Asha harus berpikir dengan logika, bukan lagi memakai hati dan perasaannya. Hubungannya dengan Galang hanya diwarnai perselingkuhan tiada akhir. Dayu sampai harus bersitegang saat menasehati Asha saat itu.
"Kalau kamu cuma mikirin keperawanan kamu saja, kamu gak akan bahagia, Sha. Aku kasih kamu saran, aku tahu gimana perasaan kamu. Kamu hanya ingin menikah dengan orang yang sudah mengambil keperawanan kamu kan? Tapi ayolah kamu harus bangkit, Sha. Mau sampai kapan Galang terus-terusan sakitin kamu dengan perselingkuhannya. Dia itu cowo fackboy tahu gak sih?"Kesal Dayu menjadi-jadi.
Ya, Asha selama ini mempertahankan hubungannya dengan Galang karena keperawananya saja. Tidak ada lagi rasa cinta atau rasa lain di hatinya selain itu.
***
Asha hampir saja kehilangan Galang perlahan-lahan. Waktu Galang sering dihabiskannya dengan Lisa. Sedangkan Asha, dia sendiri menikmati rasa sedih yang tak berkesudahan.
Hingga tahun 2011, bulan Januari. Sikap Galang berubah drastis 360°. Selama satu bulan penuh Galang mendiamkan Asha, tidak pernah memberikannya kabar, menelepon atau menemuinya saja tidak. Semua panggilan Asha, pesan chatnya atau ketika Asha mendatanginya pun Galang tidak pernah ada di rumah kontrakannya. Saat itu sulit bagi Asha untuk mencari Galang. Teman-temannya hanya bilang jika Galang tengah sibuk dengan pekerjaannya sebagai anggota dari sebuah partai. Sedangkan Asha setelah lulus kuliah telah bekerja sebagai staff di perusahaan swasta terkenal.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,”
Asha ingat betul salah satu ayat dalam al qur'an tersebut. Dalam satu bulan itu, Asha lebih banyak mendekatkan dirinya, memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Berdo'a agar semua masalahnya cepat selesai. Terutama Asha mempersiapkan mentalnya jika memang Galang memilih mengakhiri hubungan mereka.
Keesokan harinya, Asha dengan penuh keberanian bertekad mendatangi Galang di rumah kontrakannya. Kebetulan teman-temannya yang juga temannya Galang sedang berada di sana.
"Mas Galangnya ada, Ji?"Tanya Asha pada Aji yang sedang sibuk menyusun sebuah draft laporan
"Eh, Asha. Ada Sha, di kamar,"Kata Aji. Tak lama Galang datang menghampirinya
Seketika jantung Asha berpacu cepat, sudah satu bulan ini mereka tidak bertemu.
"Mas, aku mau bicara,"Pinta Asha sedikit memelas
"Oh, yuk di belakang!"Asha mengikuti langkah besar Galang ke belakang rumah. Di sana ada bangku kecil untuk sekedar bersantai.
Mereka berdua lama terdiam, hingga Asha sendiri yang harus memulainya.
"Jadi gimana hubungan kita, Mas? Kenapa kamu mendiamkan aku cukup lama?"Pertanyaan itu sudah Asha persiapkan sebelum berangkat
"Aku sibuk dengan pekerjaanku, Sha,"
"Lalu kalau sibuk kenapa gak pernah nelpon atau membalas pesanku?"
Galang tidak menjawabnya, entah tidak punya alasan untuk berbohong lagi.
"Jadi gimana, Mas?"
"Aku sudah pikirin ini jauh-jauh, Sha. Hubungan kita tidak akan pernah berhasil sampai kapanpun. Bukan karena Lisa atau orang lain. Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita,"Ucap Galang pelan namun pasti
Bagai disambar petir, Asha terkejut bukan main. Air matanya berhasil lolos begitu saja.
"Nggak Mas, aku gak mau putus. Kita udah ngelakuin semuanya, Mas. Mana bisa kamu mutusin gitu aja. Kita ini udah tunangan,"Isak Asha berderai air mata
"Masalah tunanangan, aku akan bicara sama orang tuamu kalau aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita,"
"Lalu kamu berhubungan denganku apa karena nafsu semata? Kamu udah ngambil keperawanan aku, Mas?"Erang Asha semakin menjadi
Asha sudah tidak bisa duduk, ia berdiri menghadap pada Galang.
"Mas, jawab aku!"
"Kita ngelakuinnya juga karena suka sama suka, jadi tidak ada yang merasa dirugikan dalam hal ini"
"Apa?"Asha mengiba
"Ya sudah, nikahi aku! Lalu kita bercerai,"Kata Asha membelakakan mata Galang
"Kamu mau nikah terus cerai? Kamu kira pernikahan itu main-main?"Sentak Galang kali ini.
Maksud Asha tak lain karena masalah keperawanannya saja. Ia lebih rela disebut seorang janda dari pada gadis tapi bukan perawan.
Galang masih tetap pada pendiriannya. Sedangkan Asha harus merelakan hubungannya kandas begitu saja.
***
Seminggu sejak mereka putus, tersiar kabar jika Galang telah bertunangan dengan seorang perempuan yang dikenalnya lewat facebook.
Asha tak mengetahuinya sedikitpun, facebooknya saja sudah diblokir Galang. Teman-temannya pun tidak ada yang memberitahunya. Begitupun dengan Dayu, dia memilih bungkam untuk menjaga perasaan Asha.
Sebulan sejak mereka putus, Asha mendapat kabar jika Galang telah menikah. Tak ada air matanya yang memgalir, ia hanga tersenyum kecut dengan permainan sandiwara Galang, apik. Seminggu sebelumnya, Galang datang ke kontrakan Asha, dia meminta maaf jika selama ini telah menyakiti hati Asha. Padahal tak lain jika Galang akan menikahi perempuan lain.
Asha menerimanya dengan lapang dada. Tak akan ada lagi nama Galang di hatinya atau hari-harinya.
Teman-teman dekat Asha begitu bangga terhadap bangkitnya Asha dari keterpurukan. Asha bisa menjalani hari-harinya dengan bahagia, bahkan setelah beberapa bulan pernikahan Galang. Asha sudah terlihat jalan bareng dengan pria lain.
Ada sesuatu yang dirasakan Asha, keyakinannya tak mampu dibendung. Ketika ada pria lain yang mengajaknya serius, Asha perlahan mundur begitu saja. Asha takut jika masalah yang satu itu dipermasalahkan nanti.
"Sha, kamu harus tahu. Zaman sekarang banyak yang sudah gak virgin. Tapi mereka mampu mendapatkan kebahagiaan. Kamu harus yakin jika akan ada orang yang benar-benar tulus menerima kamu,"Ucapan Dayu seolah menjadi moodboster bagi Asha saat itu.
Asha kembali menjalani harinya seperti air mengalir. Tak dapat disangka, Galang kembali menghubunginya setelah masa pernikahan mereka menginjak tiga bulan.
Galang berkeluh kesah jika pernikahannya tidak sesuai impiannya. Istrinya tidak bisa sepenuhnya menjalankan kewajibannya sebagai istri. Galang juga bercerita jika istrinya tidak bisa memasak. Tidak seperti Asha.
Hampir saja Asha terbuai kembali jika bukan Dayu yang menyadarkannya.
"Sha, bisa kita ketemu?"
Dayu menggelengkan kepalanya saat suara Galang terdengar dari loudspeker ponsel Asha.
"Maaf, Mas. Tapi aku lagi gak enak badan sekarang,"Tolak Asha mentah-mentah
"Kamu lagi sakit? Ya udah aku tengokin kamu ya ke kontrakan. Tunggu aku ya, Sha!"
Asha tidak tahu lagi harus menghadapi Galang bagaimana, karena setengah jam dari waktu itu Galang benar-benar muncul dihadapannya.
Tidak ada yang berubah pada diri Galang, hanya terlihat lebih rapi saja semenjak menikah.
Banyak orang yang mencibir Galang termasuk kakaknya sendiri. Alangkah bodohnya Galang, melepaskan perempuan cantik seperti Asha yang sudah menemaninya dari nol. Dari orang yang tidak punya apa-apa kemudian bisa meraih kesuksesan berlimpah.
Saat pertama berpacaran dengan Asha dulu, Galang hanya punya sepeda motor legenda butut, dari tahun ke tahun meningkat berganti jadi sepeda motir matic keluaran terbaru pada zamannya. Dengan kegigihan Galang bekerja sambilan saat kuliah menjadi wartawan di media cetak bahkan dia harus mengantar sendiri koran-koran itu dari pintu ke pintu. Berdua dengan Asha melewati hari-hari susahnya dulu. Nahas hubungannya harus berakhir tak kala Galang sukses dalam karir, harta, tahta, wanita membuatnya berubah sedemikian rupa.
***
Asha mennutup pintu kamarnya hingga menimbulkan suara debuman.
Alih-alih air matanya keluar bersama sakit hati yang kembali dirasakannya.
"Sha,"
"Jangan menangis lagi, pilihanmu sudah tepat ko. Wajar jika kamu sakit hati, Galang sudah bagian dari dirimu. Kamu sudah berani mengambil keputusan untuk menjauhinya karena memang harus seperti itu. Dia sudah menjadi suami orang lain. Ingat itu, Sha!"
Asha mengangguk pelan tanda setuju dengan ucapan Dayu.
"Aku cuma kesel aja, Yu. Dia ko kurusan, dia kaya oranh keteken gitu. Dia cerita kalau dia gak bahagia dengan pernikahannya, Yu,"Asha kembali menceritakan ucapan Galang saat bertemu dengannya barusan.
"Itu resiko dia, bukan urusanmu! Gimana kalau dia cuma alasan, akal-akalan nyeritain tentang istrinya hanya untuk mengambil simpatimu saja. Kamu harusnya bersyukur bukan kamu yang dinikahinya,"Entah harus bagaimana lagi Dayu membuat Asha mengerti.
"Maksudmu apa?"
"Kamu mau jika dia nikah sama kamu, terus dia hubungi mantan pacarnya?"
Asha langsung terdiam membenarkan ucapan Dayu. Sadar sesadar-sadarnya.
***
Tahun 2016,
Lima tahun setelah ditinggal nikah Galang dan setelah Asha beberapa kali gagal menjalin hubungan dengan pria lain. Akhirnya Asha bertemu dengan seorang pria yang tidak diduga-duga oleh dirinya, bahkan terlintas dalam pikirannya pun juga tidak.
Asha berkenalan dengan pria bernama Abimana, dia adalah pimpinan Asha di tempatnya bekerja. Abimana seorang pria cuek bisa tertarik pada perempuan cantik itu. Saat teman-teman kantor Asha mencari muka di hadapannya. Asha justru bersikap tak acuh dan cenderung pendiam.
Tak ada kriteria khusus untuk jadi suami Asha. Ia hanya ingin suami baik, bertanggung jawab menjadi imam dunia akhiratnya.
Asha menerima itikad baik Abimana untuk mengajakanya berta'aruf. Karena memang Asha menginginkan jalan ta'aruf untuk saling mengenal. Asha tidak ingin kembali terjerumus dalam lembah dosa. Awalnya Asha sangsi, siapalah Abimana bagi dirinya. Hidup mereka bagaikan langit dan bumi. Asha minder bagaimana bisa seorang Abimana bisa jatuh cinta pada dirinya.
Asha hanya tidak ingin gagal lagi, maka Abimana harus tahu rahasia terbesar dirinya. Sebelum jauh melangkah dan akhirnya kecewa.
"Bapak berhak membatalkan rencana ta'aruf Bapak jika keberatan dengan apa yang saya utarakan barusan,"Ucap Asha dengan menundukan kepalanya
Abimana menghela nafasnya pelan, lantas ia mengulas senyum dibibirnya
"Sha, setiap orang punya masa lalu. Aku menerima kamu apa adanya dengan kelebihan dan kekuranganmu. Masa lalumu adalah milikmu dan masa depan adalah milik kita berdua,"Asha terharu mendengar balasan Abimana padanya. Semudah itu Abimana menerima dirinya yang kotor dan berdosa.
Hingga ta'aruf berjalan dua bulan, Abimana berencana menyegerakan pernikahan mereka.
Sebelum khitbah di laksanakan, Abimana bertanya pada Asha. Kenapa meminta surat Ar-Rahman sebagai maharnya. Dengan lugas Asha menjawab
"Bapak tahu kan masa lalu saya. Saya tidak mau di hargai dengan apapun,baik cincin,uang atau materi apapun sebagai mahar tapi saya akan sangat bahagia kalau dibeli dengan surah Ar-Rahman. Ada banyak arti terdapat dalam kandungan surat itu,"
"Subhanallah, saya tidak salah pilih untuk menjadikanmu istri, Sha,"
Abimana berhasil mengucapkan ijab qabul dengan mas kawin surat Ar-Rahman. Suatu kebahagian tiada tara dan tak terduga bagi Asha dalam sejarah hidupnya dapat menikah dengan pria shaleh seperti Abimana.
Satu bulan kemudian, Asha mendapatkan kebahagiaanya lagi dengan berita kehamilannya. Dokter mengabarkan jika Asha mengandung janin kembar. 9 bulan kemudian lahirlah bayi mungil cantik dan tampan, bernama Rakkana Abimana Putra dan Rainna Abimana Putri.
"Terima kasih sudah menghadirkan mereka ke dalam hidup hamba, Ya Allah."Asha mengulas senyum saat keluarga kecil mereka berbahagia bersama.
-TAMAT-