Alfareza Brigit Aharon laki-laki berusia 17 tahun itu terlihat duduk dikursi bus sembari mendegarkan musik dari earphone miliknya. Rambutnya hitam legam yang sengaja dibiarkan berantakan,bibirnya terlihat bergerak mengikuti lirik lagu tanpa suara. Seragam sekolah yang tidak rapi menggambarkan kesan buruk untuk seorang pelajar.
Sampai sekolah Arin langsung memasuki kelas "Selamat pagi!" Salamnya.
"Tumben datengnya cepet?" Tanya Robi teman sebangkunya.
"Aku datang telar salah,datang cepat salah..ngajak berantem!?" Sarkas Aron lantas menjitak kepala Robi.
"Yahkan gak seperti biasanya Ron. Kamu itu kalau kesekolah kalau gak pas jam pelajaran yah jam istirahat" Tambah Dandi
"Ck! Cogan bebas" jawab Aron cuek yang membuat Robi gemas dan langsung memukul Aron menggunakan buku paket tebal
"Mampus!" Umpat Dandi
🍃🍃🍃🍃🍃
Pelajaran dimulai namun Aron asik tidur membuat guru mata pelajaran menghela nafas lelah. Siapa sih yang tidak kenal dengan seorang Alfareza Brigit Aharon. Siswa kelas XI.IA.5 yang kelakuannya membuat semua orang mengelus dada. Datang telat pulang cepat. Bolos adalah hobinya,dan hukuman adalah makanan sehari-harinya.
"Aharon! Aron! ALFAREZA!!" Teriak pak Ardi yang sudah sangat terganggu dengan suara dengkuran Aron
PLAK!
"Ya Tuhan!!" Aron terperanjat dari tidurnya
"Kamu ini sebenarnya kalau malam ngapain sih!? Pasti disekolah itu tidur!" Geram pak Ardi
"Pak saya punya insomnia jadi..WADAW!" Pekik Aron tiba-tiba saat pak Ardi menjewer telinganya lentas menyerernya keluar dari kelas.
"Dasar pembuat onar!"
Setelah itu Aron terus mengadu kesakitan sepanjang jalan. Setelah sampai dirumah kaca yang terletak di belakang sekolah sekolah,barulah Aron bisa bernafas lega saat jeweran ditelinganya lepas.
"Bersihkan rumah kaca ini dan jangan kembali sebelum selesai!" Final pak Ardi.
Aron menatap pasrah ke arah rumah kaca yang amat sangat kotor itu. Bahkan debu dimeja begitu tebal. Akhirnya dengan malas Aron mulai membersihkan. Ditengah kesibukannya membersihkan tiba-tiba datang seorang siswi perempuan dengan tergesa-gesa.
"Apa yang kamu lakukan!?" Tanya siswi itu setengah berteriak membuat Aron terkejud. Aron sekilas melirik name-tag milik perempuan itu yang bertukiskan Achazia Viona F. Merasa tak mendapat respon Acha langsung menerobos masuk kedalam rumah kaca.
Acha dengan perasaan khawatir mulai mencari-cari disekitar meja tanaman kaktus,Aron mulai gelisah saat melihat Acha mengacak-acak barang yang sudah dirapikannya.
"Weh! Kenapa diberantakin!?" Tegur Aron
"Dimana kaktus itu!?" Sentak Acha menatap tajam Aron
"Kaktus apa? Kamu pikir kaktus disini cuman satu!?" Sewot Aron
"Is! Kaktus yang dipot kuning!" Rasa-rasanya Aron pernah melihat kaktus kecil dalam pot kuning lonjong...ah iya tadi Aron membuangnya dikarenakan kaktus itu sudah mati.
"Ah yang itu..."
"Dimana!?" Potong Acha cepat
"Sudah ku buang" Jawab Aron dengan polosnya
"Apa?!!" Pekik Acha membuat Aron kembali terkejud
"Kenapa!?" Aron
"Dibuang!?" Acha
"Gak tau!" Aron
"Eh?!" Acha
Aron mengacak-acak rambutnya frustasi sambil mengerang kesal.
"Ok! Gini yah..aku gak tau masalah kamu sama kaktus itu. Tapi kaktus itu udah mati" Jelas Aron pada akhirnya
"Kaktus itu gak mati,bentuknya memang begitu..." Ucap Acha putus asa
"Yah mana aku tau. Aku cuman disuruh bersih-bersih" Aron mengangkat bahunya Acuh.
Acha hanya bisa menghela nafas pasrah,sepertinya takdir nilainya yang remedial memang tidak bisa diperbaiki. Acha mendelik tak suka pada Aron dan mengumpati laki-laki itu sebelum pergi.
🍃🍃🍃🍃🍃
Diruang guru Acha hanya bisa menunduk saat bu Mila guru seninya itu sedari tadi memarahinya.
"Bu kasih saya satu kesempatan lagi" Pinta Acha
"Saya sudah bilang hari ini terakhir dan tidak ada tolenrasi" Tegas Bu Mila.
Tak lama seorang guru datang sembari menyeret 2 orang siswa yang wajahnya sudah babak belur.
"Kalian berdua benar-benar yah! Selalu seperti ini!" Bentak pak Ardi
"Kamu Aron,bapak suruh kamu bersihkan rumah kaca kenapa malah bisa ada di rooftop?! Berkelahi lagi!" Pak Ardi meminit pelipisnya pusing.
Acha masih memperhatikan keributan itu hingga ia sadar kalau siswa yang dipanggil Aron itu adalah laki-laki yang membuang kaktusnya.
"Aron tu pak,dateng-dateng ngajak ribut. Emang berandalan dia pak!" Bayu mendorong tubuh Arin karena merasa kesal lantaran Aron mengganggunya saat sedang istirahat di rofftop.
"Bayu sudah. Kamu boleh keluar" Lerai pak Ardi karena sudah tahu siapa tersangka utamanya.
" iss dasar berandalan!" Umpat Bayu sebelum keluar dari ruangan guru.
Sementara Aron hanya diam tanpak ekspresi dan melihat ke arah lain.
"Sekarang apalagi? Kemarin masuk rumah sakit karena kasus yang sama dan orang yang sama juga. Kamu ini benar-benar bikin saya setres!" Keluh pak Arsi yang sangat pusing dengan kelakuan Aron. Bahkan kalau diperhatikan Aron masuk BK 4x dalam seminggu dan rasanya mustahil dalam seminggu Aron tidak membuat onar.
"Halo pak?" Sapa pak Ardi untuk seseorang diseberang sana.
"Iya pak. Aron berbuat masalah lagi" pak Ardi terus berbicara lewat telefon yang Aron yakini itu adalah Ayahnya.
Tanpa Acha sadari Aron melihat ke arahnya buru-buru saja Acha meninggalkan ruang guru.
"Bisa gitu yah mukanya bonyok-bonyok begitu". Gumam Acha
🍃🍃🍃🍃🍃
Dirumah Aron
PLAK! PLAK!
Dua tamparan telak mengenai pipi Aron,namun Aroh hanya diam tanpa ekspresi bahkan meringis pun tidak.
"Lagi! Lagi! Dan lagi!" Bentak sang Ayah murka. Kerjaan masih menumpuk dan sekarang anaknya berbuat masalah LAGI!
"Papah juga sama. Lagi dan lagi hanya reaksi itu yang papah kasi" Jawab Aron masih dengan nada datar
"Kamu?!. Masuk kamar sekarang!" Setelah itu Aron berjalan masuk ke kamarnya
Aron memijit pelipisnya bahkan dengan kelakukan yang dia buat belum membuat kedua orang tuanya sadar bahwa yang dia inginkan hanyalah perhatian dan kasih sayang mereka.
"Apa aku harus mati dulu baru mereka sadar" Tak terasa air mata Aron menetes,dia mengingat keluarga hangatnya yang dulu kini hilang entah kemana.
🍃🍃🍃🍃🍃
Kamar Acha
Acha merenungkan nilainya yang mutlak remedi. Apa yang harus Acha katakan kepada sang ibu? Pasti ibunya akan memarahinya dengan rentetan kata-kata yang akan membuat telinganya sakit
"Gara-gara cowok itu sih,Aron? Ah iya Aron namanya". Gumam Acha,namun Acha merasa ganjal mengingat wajah Aron yang bonyok itu.
"Ih kok aku malah mikirin dia sih!" Heran Acha
🍃🍃🍃🍃🍃
Ke-esokan harinya disekolah Acha baru akan menuju kantin namun ditengah perjalanan Acha melihat segerombolan siswa yang entah sedang menonton apa. Betapa terkejutnya Acha saat melihat Aron kini dihajar habis-habisan.
"Eh! Stop stop!" Acah segera melerai Aron dan Bayu? Saat melihat Aron yang sudah tak bisa melawan lagi.
"Dasar orang sinting! Gak kapok kamu gangguin aku lagi?!" Sarkas Bayu dan mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"Iya! Aku belum kapok. Kenapa? Udah capek? Halah cupu"
Aron masih saja sempat-sempatnya mengejek Bayu padahal dirinya sudah hampir sekarat.
Acha segera membekap mulut Aron sebelum laki-laki itu kembali memancing amarah pawannya.
"Udah yah gak usah didengerin. Dia emang sinting" Kata Acha agar Bayu tidak terpancing oleh celotehan Aron.
"Argh! Berandalan sialan!" Umpat Bayu dan berlalu entah kemana.
Acha segera membawa Aron ke UKS kondisi laki-laki ini sungguh mengenaskan.
Keadaan UKS begitu sepu setidaknya Acha tak perlu takut akan mengganggu orang. Acha mengambil cairan pembersih luka dan mulai membersihkan luka-luka diwajah Aron. Tak perlu dijelaskan lagi,wajah Aron benar-benar seperti kain kanvas yang penuh dengan coret-coretan.
"Sebenarnya kamu itu kenapa sih? Kemarin aku lihat kamu diruang guru bonyok juga. Sekarang bonyok lagi?" Dengan gemas Acha menekan luka Aron membuat sang epubyw mengerang kesakitan.
"Ikhlas gak sih ngobatinnya?!" Kesal Aron menjauhkan wajahnya.
"Iiya ikhlas...siniin muka kamu" Aron kembaki mendekatkan wajahnya
"Weh! Kamu mau tau rahasia gak?" Tanya Aron
"Rahasia apa?" Acha penasaran sekaligus heran
"Kamu tau orang itu?" Acha menengok ke arah yang ditunjuk Aron. Sebuah poster yang menampilkan seorang laki-laki dan perempuan dewasa tengah tersenyum bahagia.
"Iya aku tahu. Mereka orang penting dan mereka itu salah satu pendonasi terbesar di beberapa RS dan juga sekolah ini" Tutur Acha panjang lebar.
"Tapi mirisnya aku adalah anak dari kedua orang itu". Wajah Aron mendadak berubah sendu dan Acha menangkap jelas perasaan laki-laki ini. Hanya dengan melihat matanya.
Acha mengubah posisi duduknya menjadi sejajar dengan Aron.
"Kedengarannya memang aneh...tapi kamu bisa cerita kok. Siapa tau dengan kamu cerita kamu akan merasa lebih baik" Kata Acha dengan sedikit ragu.
Pasalnya mereka baru bertemu kemarin dan mereka juga tidak terlalu dekat. Acha takut kalau Aron akan tersinggung merasa urusan pribadinya diganggu.
Tapi semua pikiran negatif Acha hilang seketika saat Aron mulai menceritakan semuanya. Mulai dari keluarganya yang dulu hangat dan bahagia hingga perlahan berubah menjadi keluarga berantakan yang setiap harinya di isi dengan pertengkaran. Tiada haru tanpa pertengkarab kedua orangtuanya. Bahkan Aron pun sudah tak dipedulikan lagi,Aron benar-benar hancur dengan keadaab keluarganya sekarang. Seperti saat Aron masuk Rumah Sakit. Bukannya merawat Aron mereka justru saling sibuk menyalahkan satu sama lain atas apa yang menimpa Aron.
Hati Acha terasa nyeri mendengar cerita Aron. Acha bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya Aron hanya kekurangan kasih sayang orangtua.
"Sebenarnya aku gak mah hidup begini. Di cap buruk dimata orang. Tapi aku gak tau lagi harus apa,dirumah aku merasa tertekan dan diluar aku tak punya siapa-siapa. Dan yang bisa kulakukan hanya membuat keributan saja" Aron tersenyum kecut mengingat kelakuannya yang memang seperti beradalan dijalan.
"Berharap orang tuaku mengerti kondisiku dan paham apa mauku. Tapi apa? Justru orang tuaku hanya memperparah kondisiku tanpa mau tau apa yang terjadi padaku" Tambah Aron yang bahkan kini suaranya sudah terdebgar serak dan Acha tahu Aron sedang menangis.
Entah apa yang merasukinya Acha merasa bahwa dirinya perlu membantu Aron da dia pasti akan membantu Aron.
"Hey! Kenalin namaku Achazia Viona Falenzy. Bisa dipanggil Acha" Ucap Acha tiba-tiba membuat Aron mau tak mau harus berhenti menangis dan menatap aneh Acha.
"Apaansih? Gak jelas banget" Tutur Aron
"Ih kan kita belum kenalan reami" Koreksi Acha,yang akhirnya membuat Aron menjabat rangan Acha.
"Aku Alfareza Brigit Aharon" Jawab Aron
"Oke! Hari ini Aron da Acha jadi teman,sekarang gak sendiri lagi. Jadi jangan sungkan ke aku,sekarang kita adalah teman" Acha mengakhiri kalimatnya dengan senyuman manis membuat Aron juga ikut tersenyum.
Begitulah hari pertama pertemanan keduanya dimulai.
🌾🌾🌾
Tak terasa pertemanan keduanya sudah masuk 1 tahun. Itu tandanya sekarang mereka duduk dibangku kelas 3 SMA. Pengaruh Acha kepada Aron tertanya membawa hal pisitif,buktinya Aron bisa masuk 5 besar. Tentu saja hal itu membuat para penghuni sekolah heboh bahkan gurupun dibuat menga-nga melihat perubahan nilai Aron. Teman-teman Aron sangat mendukung perubahan Aron. Dandi dan Robi pun kini sedang memeluk Aron dengan bahagia.
"Dan! Rob! Lepasin weh! Gak busa napas nih!" Teriak Aron susah payah karena terlalu sesak
"Ron! Sumpah kita terharu banget lihat kamu masuk 5 besar,inj sesuatu banget!" Kata Robi mendramatis.
"Kamu fikir syahrini! Sesuatu?" Ketus Dandi jengkel
Sementara Acha gadis itu hanya tersenyum senang melihat Aron tertanya memiliki teman-teman yang hangat disekitarnya.
Sejujurnya Acha ingin sekali jika Aron menunjukkan hal baik ini kepada orang tuanya,tapi Aron tidak mau karena Aron tahu kalau orangtuanya tidak akan beraksi apa-apa. Namun Axha tetap kekeh kalau Aron haru menunjukkan kepada orang tuanya bahwa dirinya kini layak untuk diperhatikan dan mendapat pujian. Akhirnya setelah beberapa lama berdebat akhirnya Aron memilih mengalah dan mengikuti saran Acha.
🌾🌾🌾
Tepatnya tanggal 15 september Aron dan Acha berencana berkunjung ke rumah Aron sekalian menunjukkan hasil belajar Aron selama ini. Namun sangat disayangkan sepertinya niat baik kedua remaja ini tidak berjalan lancar. Ditengah perjalanan Bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan beruntun. Karena benturan keras dikepalanya Aron kehilangan banyak darah sedangkan Acha tak kalah seriusnya dengan Aron. Hanya saja Acha belum kehilangan kesadarannya, dihampirinya Aron yang tergeletak dilorong Bus dalam keadaan bersimbah darah. Bahkan laki-laki itu masih memeluk raport sekolahnya. Acha menangis kencang mengingat betapa antusiasnya Aron ingin memperlihatkan nilainya kepada orang tuanya.
"Ya Tuhan...hamba mu memohon kepa-Mu. Selamatkanlah dia. Dia laki-laki sekaligus anak yang baik" Doa Acha mendalam dari lubuk hatinya.
Pusing mulai melanda Acha dan hal terakhir yang diingatnya dia memeluk tubuh Aron sebelum semuanya gelap.
🌾🌾🌾🌾
Bunyi khas monitor detak jantung menghiasi sebuah kamar remaja laki-laki yang sedang termaring lemah. Bibirnya pucat dengan mata yang masih setia tertutup walau sudah lewat 2 bulan lamanya. Disamping remaja itu seorang perempuan parub baya berwajah keibuan tengah menatap seding sang anak.
"Aron maafin bunda sayang,tolong bangun yah" Beliau adalah bunda Aron disampingnya sang suami masih setia memeluk dan menguatkan istrinya.
Yah. Remaja laki-laki itu adalah Aron. Setelah mendengar kabar kecelakaan sang anak kedua orang tua Aron bagai terhantam beton sang Bunda langsung lemas bagai tak bertulang begitupun Ayah aron yang bahkan tak bia mengeluarkan suara.
Tak lama sosok Acha muncul dari balik pintu bersama sang Ibu dengan mata yang sembab Acha menghampiri orang tua Aron.
"Acha?" Panggil Bunda Aron.
Selama hampir 2 bulan lamanya Aron koma selama itu pula Acha tak hentinya menjenguk temannya itu walau dirinya masih dalam masa perwatan. Acha masih dengan perasaan sedihnya mulai mendekati Aron,matanya menatap lekat-lekat wajah pucat laki-laki itu.
"Ron? Bangun dong...kamu curang tau gak?!" Perlahan Air mata Acha jatuh dan akhirnya gadi itu kembali menangis. Sudah 2 bulan lebih namun Aron tak kunjung memberikan tanda -tanda bahwa dia akan sadar. Ibu Acha merangkul dari samping ikut menangis melihat putri kecilnya begitu mengasihani Aron
"Aron..Ayah minta maaf nak. Ayah menyesal. Jadi tolong bangun nak" Ayah Aron berlutut disamping sang anak dengan perasaan yang begitu hancur.
Ayah dan Bunda Aron benar-benar dilanda rasa bersalah yang luar biasa mengingat betapa buruknya mereka sebagai orang tua.
Tak lama bunyi monitor mulai tak karuan membuat semua yang ada diruangan itu panik. Ayah Aron menekanbel darurat seperti orang kesetanan dan tak lama datanglah dokter dan beberapa perawat dengan tergesa-gesa masuk kedalam ruangan Aron.
Bagai dihantam beton yang beratnya berton-ton hati Acha remuk tak tersisa menyaksikan monitor detak jantung Aron mengeluarkan bunyi yang memekakkan telinga. Garis lurus panjang terpampang nyata disana. Bunda Aron tak kuasa menahan tangis tatkala dokter yang menangani Aron menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. Bunda Aron histeris dalam pelukan suaminya menyaksikan anak semata wayangnya kini telah tiada. Ayah Aron tak kalah hancurnya,belum sempat dia menebus kesalahannya kini Aron telah pergi untuk selamanya.
Acha dengan langkah gontai kembali mendekati tubuh Aron yang kini semakin pucat.
"Bangun Aron! Bangun!" Teriak Acha histeris
"Kamu janji sama aku,kamu bakalan buktiin ke orang tua kamu kan?!" Dengan berlinang air mata Acha mengguncang lengan Aron
"Acha sudah nak. Ikhlaskan Aron" Ibu Acha juga ikut menangis. Selama dia menemani Acha dirumah sakit dia selalu mendengar cerita putirnya dengan Aron membuatnya ikut merasakan betapa eratnya pertemanan diantara mereka. Ibu Acha juga selalu menemani orang tua Aron mengobrol ketika dia berkunjung ke ruangan Aron. Hingga saat melihat orang tua Aron yang kini kehilangan sang anak untuk selama-lamanya membuat hatinya ikut merasakan kesedihan mendalam. Apalagi saat mendengat jeritan putrinya yang memohon Aron untuk bangun semakin membuat ibu Acha pedih.
"Lihat! Mereka disini sekarang! Ayo Aron! Kasih lihat ke mereka!!"
"Ibu!! Aron kenapa gak bangun?!!! Dia gak bangun ibu!!!" Acha menangis sejadi-jadinya dipelukan sang Ibu. Namun sayang Aron tak akan pernah bisa bangun kembali.
ALFAREZA BRIGIT AHARON namanya. Seorang anak serta teman yang selalu membekas dihati kami.
Selamat jalan nak,selamat jalan teman semoga Tuhan selalu menyertaimu
🌾🌾🌾🌾
"19 Desember hari kepergian mu. Sahabat sekaligus cinta pertamaku. Musim dingin ini akan selalu mengingatkan ku padamu Aron"- Achazia Viona Falenzy