"Bulan malam ini sungguh indah", gumam Rania, ia duduk di kursi di teras depan kamarnya. Sudah beberapa bulan ia lewati semenjak kecelakaan itu terjadi. Rania kehilangan tangan kanannya. Tanpa ia sadari, tangan kirinya mengelus tangan kanannya, setitik air mata mengalir di pipinya.
#Flashback on
Rania baru saja mengantarkan pesanan kue brownis ke salah seorang pelanggan Ibunya, dari jauh segerombolan anak sekolah berlari-lari sambil bersenda gurau, secara tidak sengaja mereka menabrak Rania, sehingga Rania terjatuh dengan posisi tangan kanannya berada di jalan raya, pada saat itu sebuah mobil melintas dan melindas tangannya. Rania tidak sadarkan diri, ketika ia terbangun, ia sudah berada di sebuah rumah sakit.
Ibunya berada di sisinya, melihat Rania sudah sadarkan diri, ibu Rania tersenyum dengan air mata yang masih berlinang di pipinya. Seketika Rania teringat dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Ia lalu melihat tangan kanannya yang sudah di perban, alangkah terkejutnya ia, tangannya sudah tidak utuh lagi, Rania menangis pilu, Ibu Rania terus menangis. Karena tidak kuat menerima kenyataan itu Rania pingsan.
Selama seminggu Rania di rumah sakit, ibunya selalu memberikan semangat untuk Rania.
"Ibu, bagaimana dengan usaha toko kue kita Bu?", Rania bertanya sambil memandang sendu wajah ibunya.
"Sudah seminggu Ibu disini menemani Rania, nanti bagaimana dengan biaya rumah sakit?", tanya Rania lagi.
"Tidak usah khawatir Nia, sudah ada yang menanggung semua biaya rumah sakit ini, besok kita sudah bisa pulang, Nia jangan banyak pikiran ya, nak", jawab ibu sambil mengelus kepala Rania.
"Tapi Bu, dengan keadaan Nia yang begini, siapa yang akan membantu Ibu untuk membuat kue?, tapi Nia janji Bu, Nia akan berusaha membiasakan diri menggunakan tangan kiri untuk membantu Ibu", ucap Nia sambil tersenyum.
"Tidak usah dipikirkan, yang penting Nia sembuh dulu ya", jawab Ibu lagi.
Nia sudah ditinggalkan ayahnya sejak berumur 10 tahun, ayahnya menikah lagi dengan sekretaris pribadinya. Setelah bercerai dengan ibunya, ayahnya tidak pernah lagi menemuinya.
Keesokan harinya, Rania pulang, pada saat perjalanan pulang hp Rania berbunyi, dengan bantuan ibunya ia lalu melihat tiga buah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan pertama berisi salam kenal, pesan kedua menanyakan kabar, sedangkan pesan ketiga menanyakan kapan Rania akan keluar dari rumah sakit.
"Ibu, kepada siapa Ibu memberikan nomor Rania?", tanya Rania setibanya di rumah.
Sambil menghela nafas ibunya menjawab," ketika di rumah sakit seorang pemuda menemui Ibu, ia menanyakan nomor hp mu, pemuda itu adalah orang yang secara tidak sengaja menabrak dirimu waktu itu, ia jugalah yang telah membayar biaya rumah sakit".
"Nia tidak mau dikasihani Bu", jawab Nia, ada rasa perih dihatinya.
#Flashback of
Rania memandang layar hpnya, barangkali sudah ada ratusan pesan yang sudah masuk ke inbox nya. Karena banyaknya, ia tiap hari harus menghapus sebagian pesan yang tidak terhitung jumlahnya agar penyimpanan hp nya tidak penuh.
Pesan itu selain berasal dari pelanggan ibunya juga dari pemuda yang secara tidak sengaja menabraknya.
Tiap hari, pemuda selalu mengirimkan pesan dari mulai cerita dia bangun pagi, kegiatannya hari itu, menanyakan Rania sudah makan atau belum, pokoknya ada saja yang dibicarakannya, dan anehnya lagi semua itu ditambahi dengan emoticon love.
Rania sesungguhnya tidak nyaman dengan lambang cinta itu, ia sejujurnya tidak ingin menyalahartikannya Rania lalu meminta pemuda itu untuk tidak menambahkan lambang cinta itu. Tapi dengan santainya pemuda itu menolak permintaan Rania.
Ada satu hal yang janggal disini, semenjak pertama kali pemuda itu mengirimkan pesan kepadanya, pemuda itu tidak pernah memberi tahukan namanya kepada Rania, dan Rania juga tidak ingin mengetahuinya. Pesan itu tidak berhenti mengalir. Lama kelamaan Rania bosan, ia lalu mematikan hpnya, untuk menerima pesanan kue ia memakai nomor ibunya.
Seminggu berlalu, karena toko kuenya sudah dikenal banyak orang, untuk mengirimkan pesanan kue, Rania menggunakan jasa kurir. Pada saat Rania sedang menunggu kurir itu datang, terdengar suara yang memanggil namanya.
"Rania!, mengapa kamu mematikan hp mu?", teriak seorang pemuda yang tinggal diseberang rumahnya, pemuda itu bernama Bimo, pekerjaannya adalah penjahit pakaian, ia berumur lebih tua lima tahun dari Rania.
Rania bengong sejenak," lho kan Nia sudah bilang Mas, kalau mau pesan kue kan bisa langsung ke Ibu, jalan dari sana ke sini kok malas sih, Mas, kalau rumah Mas Bimo di pasar, iyalah" jawab Rania sambil cemberut.
"Mas sudah ngirim pesan banyak loh ke hp mu, menyesal nanti kalau enggak di baca", jawab Bimo sambil tersenyum penuh arti.
"Pesan?", Rania terdiam sejenak.
"Tanda cinta itu sungguhan buat kamu Nia", teriak Bimo lagi sambil menahan tawa.
"Apa?", Rania kemudian menyadari sesuatu, ia lalu masuk ke dalam rumah dan menghidupkan hp nya. Banyak sekali pesan yang masuk, salah satunya adalah sebuah pesan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Aku mencintaimu Rania", dan kali ini ada sebuah nama yang tertulis dibawah pernyataan itu, nama itu adalah Bimo.
Rania seketika tidak sadarkan diri. Terdengar teriakan Ibunya Rania, Bimo yang mendengarkan hal itu segera masuk ke rumah Rania.
"Kamu sih Bimo, coba kalau kamu jujur ke Rania dari awal, kan ga akan begini jadinya", seru Ibunya Rania dengan wajah kesal.
"Maafkan Bimo, Bu, nanti kalau Rania sudah siuman, akan Bimo jelaskan secara perlahan", jawab Bimo sambil mengangkat tubuh Rania dan membaringkannya di kursi panjang diruang tamu.
Tak berapa lama Rania sadarkan diri, ia bingung melihat wajah Ibu dan Mas Bimo yang memandanginya dengan raut wajah khawatir. Setelah dilihatnya kondisi Rania sudah kembali normal barulah Bimo menjelaskan semuanya, sementara ibu pergi keluar menunggu kurir yang sebentar lagi datang. Di dalam rumah, setelah mendengarkan penjelasan Bimo, Rania dengan nada marah berteriak," Mas Bimo keterlaluan!".
Kurir yang baru saja datang kaget mendengar teriakan itu. Begitu juga dengan Ibunya Rania.
Sekedar informasi, yang tidak sengaja menabrak Rania adalah mobil seorang kakek tua yang bernama Pak Rajasa, beliau pada saat itu akan berobat ke rumah sakit ditemani anaknya bernama Maia. Merekalah yang membawa Rania ke rumah sakit serta menghubungi Ibunya Rania. Seluruh biaya rumah sakit juga ditanggung sepenuhnya oleh mereka.
TAMAT