“Persahabatan sering berakhir dengan cinta. Tetapi cinta kadang berakhir bukan karena persahabatan.” BJ. Habibie.
Namaku Ayudia, sore ini aku duduk pada sebuah kursi goyang kayu di teras rumahku.
Tak pernah bosan aku memandangi hijaunya hamparan daerah persawahan yang terbentang luas di hadapanku.
Dipangkuanku kini sudah ada sebuah album foto usang yang kutemukan saat merapikan isi lemariku.
Perlahan ku buka album foto itu, dan sebuah senyuman terbit di wajahku.
Masih jelas diingatanku, foto itu diambil tepat pada usiaku yang ke-25 tahun, bersamaan dengan aku yang menjadi pengantin wanita terbahagia kala itu.
Senyumku merekah sempurna kala itu. Masih teringat saat itu, aku tak pernah berhenti menoleh pada pria berambut putih yang berdiri di sisiku.
Saat itu banyak sekali pertanyaan bermunculan untukku, apa alasan seorang gadis tercantik di desa, kembang desa yang menjadi idaman para lelaki memilih menikah dengan. seorang pria seperti Dimas.
"Dimas? Apa yang salah dengan dirinya? Karena dia berambut putih? Memangnya Apa yang salah dengan hal itu?" pertanyaan ini terus muncul dalam benakku kala itu.
Karena cinta bukan hanya soal memberi, tapi juga menerima. Dan aku mencintainya, aku menerima segala lebih dan kurangnya.
Sambil melihat foto, pikiranku menerawang ke masa lalu, masa lalu yang indah, tak akan cukup waktu untuk mengingat setiap detik yang kulewati bersamanya.
Semuanya berawal di desa ini, saat itu usiaku 14 tahun.
Di sebuah sekolah menengah pertama di Desa S sedang terjadi kehebohan karena datangnya seorang murid laki-laki pindahan dari kota.
"Ayu ... ayo cepetan kita ke kantin," ajak Intan sahabatku.
"Sabar dong Tan, aku masih nyalin PR nih ... sedikit lagi selesai kok," ucapku.
Ya, begitulah aku dahulu. Kuakui aku bukanlah anak cerdas. PR yang harusnya dikerjakan di rumah menjadi PS sebab aku mengerjakannya di sekolah.
"Tapi kalau gak cepet, nanti si anak baru buruan pergi," serunya.
Melihat Intan begitu bersemangat, maka di pikiranku jika si anak baru ini mungkin saja anak laki-laki yang tampan dengan gaya selangit khas anak kota.
Namun saat tiba di kantin, bukan hanya aku tapi Intan dan beberapa teman yang lain juga terkejut, dari kejauhan nampak seorang anak laki-laki duduk seorang diri di sudut bangku kantin sekolah.
Anak laki-laki itu terlihat serius menikmati semangkuk mie ayam, seakan tak peduli dengan kerumunan siswa lain yang memperhatikannnya sembari menggunjingnya.
Ya, malang sekali ... para siswa terus berdatangan, semakin banyak berkumpul untuk menggunjing anak lelaki itu.
Aku tahu jika dia pasti merasa sangat sedih dan takut hanya saja dia menutupinya dengan berpura-pura tak peduli.
Dengan ragu, aku melangkah mendekati anak itu, Intan sudah mencegahku namun aku tak menghiraukannya.
Bukannya ingin sok baik atau sok menjadi pahlawan, aku hanya tak bisa melihat jika ada orang lain yang sedang di tindas.
"Hai, kursi ini kosong kan?" tanyaku saat tiba di dekatnya.
Anak laki-laki itu hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahku.
Aku duduk dan mengambil sebungkus kerupuk untuk ku makan.
"Aku Ayudia, nama kamu siapa? kenalan yuk,"
"Kamu di kelas berapa? Terus asal dari mana? Kamu juga tinggal di desa S atau tinggal di batas kota?" cecarku.
Namun si anak baru begitulah panggilan pertamaku padanya, tidak menjawabku.
Dari tempatku duduk bisa ku dengar banyak nada kecewa dari siswa laki-laki yang mengidolakanku. Bukannya narsis hanya saja aku memang terkenal sebagai kembang dari desa S.
"Ayu yang cantik ... jangan dekat-dekat dengan dia, nanti kamu tertular lagi," teriak salah seorang siswa.
"Ayu, kembali ih ... jangan-jangan dia bukan manusia."
"Ayu, kok mau sih bicara dengan anak baru itu, dia kan anak aneh."
"Ayu ada-ada aja deh, sok baik."
Dan masih banyak lagi hinaan dari siswa lain padanya. Aku jadi merasa bersalah, ku pikir jika semua ini karena aku yang memutuskan untuk berkenalan dengannya.
Saat mie ayam di mangkuknya habis, anak baru itu segera berdiri dan berlari meninggalkan kantin tanpa sepatah kata pun. Aku sendiri bahkan tak sempat menahannya.
Aku semakin kesal pada siswa siswi yang lain, sebab pada saat anak baru berlari sontak saja mereka menghindarinya layaknya ia adalah kuman penyakit yang harus di jauhi.
"Kalian ini semua kenapa sih? jahat banget sama orang lain," teriakku.
"Kalau kalian tidak ingin berteman dengannya, silakan itu hak kalian. Tapi tidak harus dengan menjatuhkan mentalnya, berkumpul dan menggunjing di depannya langsung."
"Memangnya dia kenapa sih? dia menderita penyakit menular? belum tentu juga kan?"
"Hanya karena dia berbeda, hanya karena rambutnya putih semua dan kalian tega merusak mentalnya, kalian jahat!" Pekikku.
Aku menyambar sebotol air mineral lalu berlari menyusul anak baru itu.
Aku sampai ngos-ngosan sebab berlari ke setiap sudut sekolah untuk mencarinya.
Beruntung aku menemukannya berada di sudut belakang sekolah. Dia sedang memuntahkan semua mie ayam yang baru saja ia lahap.
"Nih ... minum dulu," ucapku sembari mengatur napasku yang masih memburu.
Anak baru itu meraih botol air minum dan langsung meneguk airnya. "Terima kasih Ayu," ucapnya.
Aku cukup kaget saat dia tahu namaku, sontak aku meraih kembali botol minum dalam genggamannya dan meneguk habis sisa airnya.
"Yah habis. Maaf yah," Ujarku.
"Kenapa kau tak sama seperti siswa lain? kau tak takut atau jijik padaku?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Kenapa? karena rambutmu putih semua?"
"Jika aku ingin, aku juga bisa mewarnai rambutku menjadi warna putih dengan cat rambut," jawabku enteng.
"Tapi ini bukan karena cat rambut, ini memang penyakit," balasnya.
"Menular gak? Seberapa berbahaya? Mematikan gak penyakitnya?" tanyaku santai.
Dengan raut wajah bingung dia tetap menjawabku.
"Nama penyakitnya Vitiligo, penyebabnya karena aku penyakit autoimun, tidak menular, dan tidak mematikan."
"Hanya saja penyakit ini kecil kemungkinannya untuk sembuh, hanya bisa dirawat agar tidak semakin menyebar ke tempat lain," lanjutnya.
Aku mengangguk-angguk berpura-pura paham, padahal yang bisa aku mengerti jika penyakit itu tak menular dan aku aman berteman dengannya. Otakku yang cetek ini tidak mampu memproses informasi lainnya.
"Ya udah kalau gitu aman berarti. Nama kamu siapa? tadi kamu sudah tahu namaku," tanyaku.
"Dimas, aku Dimas Santoso," ucapnya.
Sejak hari itu aku dan Dimas berteman. Sedikit demi sedikit siswa siswi lain mulai tahu mengenai penyakit yang di derita Dimas.
Namun kata Dimas dia tak peduli, dia hanya butuh aku sebagai sahabatnya, orang yang pertama kali mau berteman tulus dengannya.
Sejak SMP hingga SMA, tiada hari kulalui tanpa ada Dimas. Kami sudah bagaikan anak kembar yang kemanapun dan melakukan apapun berdua.
Orang tuaku pun menerima Dimas dengan baik, sama sepertiku.
Bahkan saat hendak mengenyam bangku perkuliahan, jika bukan karena Dimas yang berjanji pada kedua orang tuaku untuk menjagaku selama tinggal di kota, maka mungkin saja aku tak akan pernah bisa merasakan bangku perkuliahan.
Tanpa kami sadari, kami mulai saling ketergantungan satu sama yang lainnya. Hingga aku mulai menyadari jika aku mencintainya.
Perlahan aku mulai menunjukkan tanda-tanda jika aku menganggapnya lebih dari seorang sahabat, hingga suatu hari kuberanikan diriku menyatakan perasaanku.
"Dim, aku mencintaimu. Menyayangimu melebihi rasa sayang sebagai sahabat. Ini adalah rasa cinta dari wanita pada pria," ucapku.
"Maaf Ayu, tapi lebih baik jika kita terus bersahabat. Jangan merusak masa depanmu dengan mencintaiku, kamu bisa mendapatkan pria yang lebih baik," tolaknya.
Setelah pernyataan cintaku, sikap Dimas mulai berubah
Aku pun yang kesal dengan sengaja menjalin kasih dengan banyak pria lain dan terus memamerkan kemesraan di hadapan Dimas.
Namun Dimas ... pria itu selalu saja berhasil menemukan hal buruk dari kekasihku hingga akhirnya aku harus memutuskan mereka.
Tepat di hari kelulusan, aku memberanikan diri untuk kembali menyatakan cintaku pada Dimas
"Dim ... jujur aku masih sangat mencintaimu. Tempatmu di hatiku tak pernah terganti, sejak dulu hingga sekarang aku masih sangat mencintaimu," ucapku diiringi isakan.
"Ayu ... kamu itu sangat cantik, wanita sempurna. Tak sepantasnya kamu mendapatkan pria sepertiku. Lihat rambutku, apa kamu mau nantinya punya anak yang rambutnya putih semua? apa kamu tega jika anakmu nanti akan dirundung seperti aku dulu? dipermalukan dan di jauhi oleh orang lain?" tanyanya.
"Aku tak ingin menjalin hubungan sebab aku tak berniat menikah dan memiliki anak. Aku tak ingin mewariskan kutukan sialan ini pada keturunanku, aku akan memutuskan kutukan ini hanya sampai di diriku." lanjutnya.
"Dasar Egois ... dasar kamu pengecut Dimas!" hardikku.
"Aku membencimu. Jangan temui aku lagi," ucapku.
Sejak saat itu aku benar-benar tak menemui Dimas lagi. Pria bodoh itu juga tak menemui atau menghubungiku lagi.
Aku memilih kembali ke desa S meninggalkan Dimas yang memilih menetap di kota.
Tiga bulan di desa aku terus bersedih, hingga kedua orang tuaku yang khawatir memutuskan untuk menjodohkanmu dengan anak seorang juragan beras di desa.
Aku tak kuasa menolak jika itu sudah menjadi keputusan orang tuaku. Namun cinta di hatiku masih berharap jika Dimas lah yang akan menjadi pendampingku.
Dengan sisa-sisa harapan dan juga harga diri yang ku punya, aku kembali mengemis cinta dari Dimas lewat sebuah pesan singkat.
"Dimas, besok malam seorang pria akan datang melamarku. Di lubuk hati terdalamku, aku masih berharap kamu lah yang menjadi pendamping hidupku. Aku akan menunggu hingga detik terakhir sebelum aku mengikat janji dengan pria lain."
Begitulah pesan yang kukirim untuknya. Aku tertawa menyadari jika aku tampak seperti budak cinta yang mengemis cinta pada seorang pria.
Tak ada balasan dari Dimas, tak ada kabar apapun, hingga saat pria calon tunanganku tiba di rumah, masih tak ada tanda-tanda dari Dimas.
Air mataku berlinang tatkala sang pria sudah mulai menyampaikan niatnya. Aku masih berharap jika yang mengucapkan kata-kata romantis itu adalah Dimas.
"Berhenti!"
"Kumohon hentikan pertunangan ini," teriakan dari seorang pria menghentikan kegiatan yang sedang berlangsung.
Aku menoleh dan mendapati seorang pria berambut putih sedang mengatur napasnya yang memburu.
"Dimas? Kau datang? Kau benar-benar datang?" tanyaku tak percaya.
Dimas mengangguk. "Maafkan aku Ayu ... maafkan aku Pak, Bu telah mengecewakan kalian."
"Kini aku sadari jika aku tak bisa hidup tanpa Ayu," ucapnya.
"Aku minta maaf Ayu telah menyia-nyiakan perasaanmu selama ini."
Dimas lalu berlutut di hadapanku, membuka sebuah kotak beludru yang berisi cincin. "Maukah kamu menerima cintaku,menerimaku sebagai suamimu dengan segala kekuranganku, mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku, maukah kamu menjadi istriku?"
"Ya... tentu saja aku mau," balasku.
Tiga tahun setelah lamaran penuh drama, aku dan Dimas menikah. Menggelar pesta pernikahan sederhana di kota dan di desa.
Hari itu adalah hari di mana aku merasa menjadi wanita tercantik, terberuntung, dan terbahagia di dunia ini.
Mendapatkan pria penyayang seperti Dimas, adalah anugerah untukku.
Kami dikaruniai 2 orang putra dan seorang putri yang semuanya berambut hitam.
Tuhan mendengar doa Dimas, setiap kali aku mengandung maka selama itu pula Dimas tak pernah meninggalkan ibadah di sepertiga malam untuk memohon pada Yang Maha Kuasa agar anak kami nantinya tidak menderita penyakit seperti dirinya.
Dua puluh enam tahun aku dan Dimas menjalani bahtera rumah tangga. Pasang surut telah kami lalui, hingga setahun yang lalu Dimas dipanggil lebih dulu oleh Sang Khalik.
Aku menghela napas panjang sekali lagi, mengingat Dimas membuat air mataku luruh.
Kursi goyang yang kududuki sekarang ini, merupakan kursi kesayangan Dimas.
Tak kusangka jika cinta telah menyatukan kami. Berawal dari sahabat, karena cinta akhirnya kami menjadi sahabat sehidup semati.
"Dimas, sayangku ... kini rambutku juga mulai memutih. Meski begitu rasa cinta dan sayangku untukmu masih tetap sama seperti dulu."
"Jika di dunia yang hanya sebuah tempat persinggahan ini, persahabatan kita berakhir dengan cinta, lalu cinta kita terpisah oleh ajal yang menjemputmu lebih dulu."
"Maka di sisa waktuku, dalam setiap sujudku aku berdoa pada Yang Maha Kuasa, semoga cinta dan iman bisa menyatukan kita kembali di surganya kelak untuk selama-lamanya."
💕 END 💕