Hai kaka semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan cerpen Star yang satu ini... Atas like dan komentarnya Star sangat mengucapkan terima kasih ya... 🙏😊
Dahulu kala disebuah sungai yang airnya sangat jernih, hiduplah sesosok makhluk yang tiap malamnya akan kepermukaan air dengan wujud seorang gadis dengan bentuk air yang tembus pandang.
Ia hanya menangis setiap malam tiba. Tidak tau harus berbuat apa, hingga suatu malam ada seorang pria yang baru saja selesai memancing di sungai.
"Sepertinya sudah sangat larut ini, aku harus segera pulang. Meskipun hasil tengkapanku tidak banyak, tetap saja aku harus kembali juga." ucapnya.
Tiba - tiba sang angin berhembus dengan kencang, membuat matanya kelilipan karna terkena debu yang dibawa angin.
Tanpa sadar tangannya malah melepaskan ember yang berisi ikan hingga masuk kembali kedalam sungai.
"Ya ampun... Pakai acara nyemplung segala lagi," resahnya lalu langsung mengambil kembali ember tersebut.
"Ya... Ikannya malah pada kabur," ucapnya sedih lalu ia terpaksa pulang dengan membawa ember kosong yang hanya berisi air.
Sesampainya dirumah, ia lagi - lagi hanya merutuki kebodohannya sendiri karna rasa pegal ditangan sebelahnya akibat mengangkat ember yang berisi air sungai.
"Hadeh... kau itu bodoh banget sih! masak air sungai kau bawak pulang! harusnya ikannya aja dong! mana ikannya udah pada lepas lagi," keluhnya.
"Krukkk... Krukkk... Krukk..." suara perut keroncongan malah membuatnya jadi memegang perutnya sendiri.
"Bagaimana mana ini? aku gak tau harus makan apa!" ucapnya sedih.
"Krukkk... Krukkk... Krukkk..." suara perutnya lagi - lagi mulai berbunyi semakin keras.
"Oh iya! aku kan punya sepotong roti yang baru kubeli kemarin," senangnya lalu mulai membuka lemari makanannya yang sudah penuh dengan sarang laba - laba akibat lama tak di isi - isi.
"Ya ampun... Ternyata roti ini sudah kedaluwarsa satu hati yang lalu, tapi gak papa deh! dari pada aku lapar." ucapnya berusaha untuk bersyukur sambil terus tersenyum lalu menikmati roti yang sedikit lembek itu.
Tanpa sadar ternyata sejak tadi ada yang memperhatikannya dari dalam ember.
Sesosok gadis air yang hanya memunculkan bagian kepalanya saja.
Usai menyantap roti tersebut ia pun meminum segelas air dari dalam guci.
"Hmmm... Air sungai ini mau aku apa kan ya? buang aja kali ya?" pikirnya.
"Apa dia ingin membuangku? ku mohon jangan," batinnya merasa cemas.
"Tapi kalau aku buang sayang juga air sebersih ini berat - berat kubawa pulang malah aku buang begitu saja," pikirnya lagi.
"Iya! kamu benar sekali," ucap gadis itu merasa senang tapi dengan suara pelan hingga pria itu tidak dapat mendengarkannya.
"Aha! lebih baik aku masukkan kedalam bak mandiku saja," ucapnya senang lalu mulai mengambil ember tersebut untuk dia bawa kedalam kemarin mandi.
"Byurrr..."
Suara tumpahan air mulai terdengar cukup keras.
Setelah itu ia memilih kembali ke kamar usai menyikat giginya dan membasuh wajah dan kakinya sebelum tidur.
"Syukurlah... Aku tidak jadi dibuang olehnya," ucap gadis tersebut sambil menghembuskan nafas lega.
Keesokan harinya, ia bangun lebih awal untuk memancing di sungai. Sebelum pergi, seperti biasa ia akan membawa ember kesayangannya satu - satunya.
Tak terasa akhirnya ia sudah sampai di sungai, tapi lagi - lagi tangannya merasa pegal.
"Lha! kenapa ni ember ada airnya lagi? bukannya aku semalam sudah menumpahkannya," herannya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
Karna tak mau pikir panjang dan hanya menyita waktunya, pria itu memilih untuk terus memancing.
Tanpa pria itu sadari kini air tersebut mulai merambat keatas sebesar rerantingan pohon lalu masuk kedalam sungai.
Sigadis yang sudah bebas mulai membantu pria tersebut dengan sihirnya.
"Wahai ikan - ikan besar yang menghuni sungai ini! cepatlah makan umpan pria ini jika kalian ingin mendapatkan ketentraman karna telah membantunya," ucapnya.
Lalu tak berapa lama kemudian ikan - ikan besar pun mulai berdatangan dan tanpa ampun melahap umpan yang pria itu berikan.
Pria itu sangat terkejut karna sekali menarik mata pancing, ia langsung mendapatkan tiga ekor ikan berukuran raksasa.
Tubuhnya sampai berkeringat deras saat selesai menarik tiga ikan itu ke atas hingga pancingannya saja hampir patah dibuatnya.
Kejadian itu terus terjadi hingga tempat untuk menampung ikannya sangat penuh.
"Syukurlah... Hari ini aku mendapatkan banyak rezeki," senangnya lalu membawa ikan - ikan tersebut kepasar.
"Aneh! padahal ember ini sudah berisi banyak ikan, tapi kenapa masih terasa ringan saja? padahal saat aku hanya membawa air saja itu sangat berat," herannya lalu lebih memilih mengacuhkannya saja.
Dipasar, para pembeli sangat banyak yang berebutan untuk membeli ikannya. Dan lagi - lagi ia dibuat terkejut, karna segitu banyaknya pembeli tapi cukup hingga masih tersisa satu ekor lagi untuk dibawa pulang. padahal hasil tangkapannya tidak sebanyak itu juga.
Sesampainya di rumah ia hanya mematung saat melihat jumlah uang yang ada ditangannya sampai puluhan juta, seumur hidupnya uang seratus pun tak pernah ada dalam genggamannya.
Ia hanya mampu menangis terharu sambil duduk dimeja makan.
Tangannya saja sudah bergetar hebat, bibirnya tak berhenti memuji kekuasaan sang pencipta.
Setelah menenangkan dirinya ia memilih untuk memasak ikan yang tersisa, sebelum itu ia lebih dulu membersihkannya sampai suci.
Saat ia hendak mengambil wajan untuk memasak tiba - tiba terdengarlah sebuah suara yang memanggil namanya.
"Sargawa! Sargawa! Sargawa!" ucap suara tersebut.
Pria itu hanya terus mencari dimana asal suara, saat telah menemukannya ia malah merasa ragu.
"Apakah mungkin air dalam ember ini yang berbicara," pikirnya merasa ragu.
Tiba - tiba makhluk air berwujud gadis itu bangkit kepermukaan, hingga membuat pria itu terkejut karna hanya melihat bentuknya saja yang seperti seorang gadis yang berbusana tanpa adanya warna bak sebuah kaca.
"Coba katakan, hai putri Amaria! aku mencintaimu. Lalu tolong kamu cium punggung tanganku sambil bertekuk lutut," pintanya.
"Tapi untuk apa?" tanyanya bingung karna masih tak dapat mencerna apa yang ada dihadapannya.
"Sudah lakukan saja apa yang aku perintahkan," ucapnya yang hanya dituruti dengan responan anggukan pertanda iya.
Ia kini melekukan kakinya dan dengan serius mulai menarik satu tangan kanan gadis itu sambil berkata "Hai Amaria! aku mencintaimu, maukah kau menikah denganku?"
Gadis itu sangat terkejut saat mendengar kalimat terakhir pria itu.
"Kau! kanapa kau malah menambah kalimat yang ku suruh ucapkan? kau malah merusak penawarnya," ucapnya sedih lalu kembali masuk kedalam air.
"Kamu kenapa? sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku dulunya adalah seorang putri yang sangat cantik sebelum wajahku menjadi sangat buruk karna ulah pangeran sungai yang hendak merebut tahta yang harusnya aku pimpin," ucapnya sambil mengarahkan kepalanya.
"Lalu?" tanya masih bingung.
"Pengeran berengsek itu menipuku dan berkata bahwa ia sangat cinta kepadaku, hingga memberikan berjuta perhatian yang membuatku luluh tapi sayangnya itu hanya tipuannya yang hendak membawaku jauh dari wilayah Kerajaan." ceritanya.
"Apa kamu tidak bisa kembali?" tanyanya.
"Tidak! karna aku tidak bisa keluar dari sana. Tapi ketika aku melihatmu aku jadi punya harapan karna aku bisa memasuki embermu yang tak dapat menarikku kembali kedalam penjara tanpa dinding itu," keluhnya.
"Bisanya setiap kali aku ingin kabur aku pasti akan kembali ketempat semula," beritahunya.
"Sudah... Kamu jangan sedih lagi ya... Meskipun aku tak dapat melihat wajahmu tapi aku tau kalau kamu masih tetap gadis yang cantik karna kamu seorang perempuan. Dan perempuan itu cantik dengan gaya mereka masing - masing tak mesti dari paras," ucapnya mencoba menenangkan.
"Apa kau serius dengan kata - katamu? Kau tidak berniat menipuku kan?" tanyanya.
"Aku serius tuan putri," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Dan aku sangat mencintaimu tulus apa adanya," ucapnya lalu langsung mencium kening gadis tersebut tanpa ia sadari meskipun hanya berasa seperti mencium air.
Tiba - tiba saja air tersebut bercahaya dan naik keatas, membentuk tubuh seorang gadis yang akhirnya air tersebut jatuh mengalir kembali lalu terlihatlah seorang gadis cantik berambut putih panjang memakai gaun berwarna biru.
"Ka ka kamu," ucapnya terkejut lalu langsung berniat pergi dari hadapan gadis tersebut tapi keinginannya dicegah oleh sang gadis yang berhasil menahan satu tangannya.
"Tolong jangan pergi, aku mencintaimu juga," ucapnya.
"Deg!"
Jantung pria tersebut mulai berdetak hebat.
"Mari duduk dan kira bicarakan baik - baik," ajak gadis tersebut dan ia hanya menurut.
"Kau tau? malam itu saat angin bertiup dengan sangat kencang hingga embermu masuk kedalam sungai aku mencoba menyelinap kedalam sana. Dan saat kau hendak kesungai aku juga masuk kembali kedalam sana dan membantumu mendapatkan ikan yang banyak dan menggandakannya saat dipasar hingga kau bisa mendapatkan uang yang banyak," beritahunya.
"Ya ampun... Terima kasih banyak," ucapnya merasa tak enak.
"Aku sampai bingung ingin membalas kebaikanmu dengan apa," sambungnya lagi.
"Kalau kamu mau bisakah kamu menjadi saksi atas kebusukan sang pengeran yang sudah menjadi pemimpin disungai itu?" tanyanya.
"Tentu saja! dengan senang hati tuan putri," jawabnya hingga membuat gadis itu tersenyum senang.
"Ya sudah lebih baik malam ini kita makan saja dulu ya! aku yang akan masakkan. ku harap kau menyukainya," ucapnya sambil menunduk karna tak kuasa menatap wajah cantik gadis tersebut.
"Aku sangat merasa senang dengan tawaranmu itu, terima kasih." ucapnya yang langsung dijawab "sama - sama," oleh pria tersebut.
Ketika hari sudah menjelang pagi, mereka pergi kembali kesungai tersebut.
Usai membaca mantra air sungai pun terbelah menjadi dua bagian hingga memudahkan mereka untuk masuk kedalam.
Terlihatlah seorang pengeran tepatnya kini sudah menjadi seorang raja sedang duduk diatas singgasana dengan banyaknya gadis cantik yang terus memanjakannya dengan berbagai macam makanan.
"Hei kamu! turun dari tahtaku," ucapnya yang sontak saja membuat semua pengawal tunduk kepadanya dan tak ada lagi yang menghiraukan perintah pangeran.
"Eh! calon permaisuriku, kemana saja kamu sayang? mari masuk, aku akan mengantarkanmu ke kamarmu." ucapnya bersikap tak terjadi apa pun.
"Hentikan omong kosongmu! dan cepat pergi dari tempat ini," usirnya merasa geram.
"Bukannya kamu sangat mencintaiku, wahai Amaria!" ucapnya sambil menyisir rambut putih gadis itu dengan jari tangannya.
"Singkirkan tangan kotormu dari rambut indahku," geramnya.
"Oh! mentang - mentang wajahmu sudah cantik kembali kau berani menduakanku? dan memilih pria miskin ini yang akan menjadi tempat pengganti seorang raja!," hinanya hingga membuat emosi gadis itu mencuat begitu saja.
"Plak!"
Sebuah tamparan mendarat dengan sempurna dipipi pria tampan tersebut.
"Kau! beraninya kau wanita sialan menampar pipiku," geramnya lalu hendak membalas perlakuan gadis itu tapi yang kena tampar malah pria yang dibilang miskin olehnya.
"Jangan sakiti permaisuriku," ucapnya yang entah mendapat keberanian dari mana, tak peduli gadis itu akan marah atau tidak padanya setelah ia mengatakan kalimat itu meskipun gadis itu sempat berkata bahwa ia juga mencintainya.
"Heh! jangan mimpi kamu," geramnya lalu memasukkan tangannya menembus perut sang pria yang mulai muntah darah lalu tergeletak dilantai.
Gadis itu kini terlihat sangat berapi, diangkatnya air yang ada disisi sungai lalu dihanyutkannya pria itu entah kemana.
Awalnya ia sempat meminta ampun kepadanya karna tak bisa bernapas karna cengkraman gelombang air yang begitu kuat, tapi karna api kemarahan gadis itu begitu besar ia jadi tak memiliki rasa kasian.
"Sargawa! maafkan aku ya karna tak dapat mencegahnya menyakitimu," ucapnya di iringi isak tangis, ia sebenarnya juga tak menyangka jika tebakannya atas nama pria itu benar.
Tanpa pikir panjang, ia memberikan pria itu pil kehidupan yang hanya tinggal satu - satunya untuknya agar tak mudah mati saat ada bahaya besar.
"Tuan putri! bukannya itu-" belum selesai para tabib yang datang untuk menyembuhkan berkata malah dipotong olehnya.
"Aku tidak peduli! dia calon raja! aku sebagai calon ratu harus menyelamatkan rajaku sendiri dengan cepat," ucapnya yang tak ingin di halangi lagi.
Tak berapa lama kemudian, pil yang telah masuk kedalam mulut pria tersebut bercahaya dan cahayanya membuat lubang luka di perut pria itu mengecil lalu menghilang dalam sekejap.
Gadis itu langsung memeluk pria yang sangat ia cintai dengan erat dan pria itu juga balas memeluknya tak kalah erat.
Tangis kebahagiaan mulai terdengar hingga membuat yang lain ikut menumpahkan air mata haru termasuk tabib yang awalnya mencegah keinginan gadis itu.
Tak lama setelah itu acara pernikahan akan segera dimulai, awalnya pria tersebut menolak untuk menjadi pendamping sang gadis dengan alasan miskin.
Tapi sang gadis hanya menggelengkan kepalanya kesana kemari sambil berkata "aku mencintaimu apa adanya. Ketulusan dan ketabahan hatimu yang sangat kuat dalam menjalani arus kehidupan yang begitu menyiksa membuat hatiku jadi mudah terbuka untukku, ditambah lagi kamu telah menyadarkan ku bahwa semua perempuan itu cantik dengan gayanya sendiri."
Pria tersebut akhirnya sangat berterima kasih dan kini ia hanya memandang penuh kekaguman pada seorang gadis cantik berambut putih dengan gaun putih indah berenda biru sedang berdiri dihadapannya dengan senyuman yang begitu menggoda pandangan siapa saja yang melihatnya.
"Aku mencintaimu," ucapnya sambil memegang bunga pernikahan mereka yang indah.
"Aku juga," jawabnya lalu mereka pun berciuman.
Tepuk tangan yang meriah turut menghiasi acara tersebut.
🍃 The And 🍃