Namaku Fafa, anak kelas 2 SMA yang biasa-biasa saja. Nilai pas-pasan, tidak punya bakat, dan bahkan tidak ikut organisasi apapun.
Aku tinggal sendirian di area perumahan, namun terkadang paman menjengukku. Orang tuaku bercerai 3 tahun silam, dan sampai sekarang mereka tidak menemuiku. Mereka hanya mengirimiku sejumlah uang untuk kebutuhan hidup, hahaha sungguh menyedihkan.
Seringkali aku berpikir untuk mati saja, atau bahkan tak dilahirkan sama sekali.
Malam ini, aku bergegas ke kamar untuk tidur. Semua terasa melelahkan, dan terasa hampa. Setelah melamun cukup lama, mataku terpejam, dan aku mulai terlelap.
Tiba-tiba saat aku terbangun, aku berada di dekat air terjun yang sangat deras. Di sekelilingku, terdapat pepohonan hijau yang menjulang tinggi. Sudah jelas ini bukan daerah rumahku.
Jadi, sekarang aku dimana?
"Halo!" Terdengar suara pria dari arah belakang.
"Siapa itu?" Aku berbalik untuk melihat pemilik suara yang menyapaku.
Di hadapanku,terlihatlah seorang pemuda yang perawakannya aneh. Kulitnya berwarna kuning langsat, mata berwarna merah terang, dan rambutnya berwarna putih. Satu lagi, ia memiliki telinga rubah(?) dan ekor.
Dia sedang cosplay, ya?
"P-permisi, ini dimana?" Suaraku terbata-bata, karena aku jarang berinteraksi dengan orang-orang.
"Ini Negeri Emerland. Kamu dari negeri sebelah, ya?" tanyanya sembari menghampiriku. Emerland? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"Apa kamu bodoh? Sudah jelas dia tersesat." Seekor ular besar muncul dari dalam air terjun.
Aku terpaku melihat ular besar yang tingginya kira-kira mencapai 2 meter. Tubuhku bergetar hebat, dan kedua kakiku terasa lemas.
"U-Ularnya bisa berbicara." Wajahku pucat pasi melihat semua keanehan ini. Apa aku akan mati disini? Di tempat yang sama sekali tak ku kenal ini?
"Hahaha, tenang saja. Zark tidak makan manusia," ucap pemuda di sampingku sembari tertawa kecil karena melihatku yang ketakutan,"namaku Riel. Siapa namamu?"
"Aku Fafa. Kamu suka cosplay, ya?" tanyaku, aku harap semua ini hanya acara buatan manusia.
"Cosplay? Apa itu?" Wajah Riel terlihat kebingungan, sepertinya ia benar-benar tidak mengerti.
"Erm, itu seperti memakai kostum untuk meniru karakter dalam komik." Aku berusaha menjelaskan semampuku, dan sepertinya itu sia-sia.
"Kostum? Pakaianku memang seperti ini." Riel menatapku heran.
Aku masih tidak percaya,dan harus melakukan sesuatu untuk membuktikan itu.Aku menarik kedua telinga Riel,dan ternyata ia kesakitan.
"Hei!! Sedang apa kau?!!" Riel menarik tanganku dari telinganya,nampaknya ia marah.
"Telinganya t-tidak lepas." Aku sangat terkejut dengan semua kegilaan ini.
Ular besar berbicara? Manusia bertelinga rubah? Ada apa dengan dunia ini?!!
"Tentu saja, aku manusia setengah serigala. Mana mungkin telingaku bisa lepas," gerutu Riel.
"Serigala? Kukira rubah." Usai aku mengucapkan kalimat itu,wajah Riel menjadi masam.
"Hahahaha rubah!!" Ular besar itu tertawa sangat keras hingga wajah Riel menjadi sangat muram.
"Zark, pergi kau!" Riel berteriak marah, dan samar-samar terdengar suara geraman darinya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Selamat tinggal rubah." Zark menyeringai, lalu kembali masuk ke bagian dalam air terjun.
Kepalaku berdengung, sangat sakit sekali hingga rasanya ingin pingsan. Pandanganku menjadi kabur, semua terasa berputar. Suara Riel yang mengoceh kepadaku menjadi sangat samar, seketika semuanya menjadi gelap.
"Kring!!!" Terdengar suara alarm yang membuat mataku terbuka lebar.
Kepalaku masih pusing, dan aku berusaha duduk sembari melihat sekitar. Saat aku sadar, aku berada di kamarku. Kejadian tadi hanyalah mimpi? Namun mengapa semuanya benar-benar terasa nyata?
Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Aku harus segera bersiap-siap. Aku segera beranjak dari zona nyamanku, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Aku kembali menjalani rutinitasku yang membosankan. Seperti biasa, aku mengasingkan diri dari orang-orang di sekolah. Aku hanya berinteraksi secukupnya saja, karena aku adalah seorang introvert.
Sepulang sekolah, aku segera mandi. Kulihat, jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Syukurlah besok Hari Minggu, jadi aku bisa tidur seharian.
Setelah makan malam selesai, aku segera menuju kamar untuk tidur. Dan sedikit berharap semoga mimpi semalam bisa berlanjut, sungguh konyol.
Dan ternyata, aku benar-benar kembali ke Emerland. Aku kembali berada di sebelah air terjun, dan sepertinya kali ini Riel menungguku.
"Rupanya kau datang lagi, Fafa. Tidak sopan meninggalkan orang yang sedang bicara." Riel berjalan menghampiriku.
"Maaf." Aku menunduk, dan sudah bersiap-siap untuk diomeli Riel.
"Sudahlah, ayo kita berkeliling kota! Aku akan menjadi pemandumu." Riel menarik tanganku, dan kami berdua berjalan keluar dari hutan.
Sesuai kata Riel, ternyata ada kota di luar hutan. Riel mengajakku berkeliling, kota ini hampir mirip seperti kota di duniaku. Hanya saja, para penduduk disini bukan manusia. Ada yang mirip kelinci, kurcaci, kuda berbicara, gajah terbang, dan masih banyak makhluk aneh lainnya.
Waktu yang kujalani bersama Riel terasa sangat menyenangkan. Ia mengajakku ke berbagai tempat, dan mencicipi beberapa makanan disana. Sayangnya, sekarang aku tidak bisa mengecap dengan baik.
Kepalaku kembali berdengung saat kami membeli permen kapas warna-warni, kenapa harus sekarang? Aku masih ingin disini bersama Riel.
"Riel, kepalaku berdenyut lagi." Tubuhku menjadi lemas, dan Riel langsung menopangnya.
"Apa sudah waktunya kamu kembali ke duniamu?" Raut wajah Riel terlihat khawatir.
"Tidak, aku akan segera kembali. Tunggulah aku di tempat biasa." Riel mengangguk, dan kesadaranku mulai hilang.
Aku kembali tersadar di kamarku. Dengan kepala yang masih berdengung, aku beranjak dari tempat tidurku, dan membuka laci meja rias. Tanganku menggenggam botol kecil berisikan beberapa obat tidur, aku tidak menyangka akan menggunakan ini lagi setelah sekian lama terbebas dari insomnia.
Kuraih segelas air di sampingku, dan meminum beberapa tablet obat sekaligus. Dengan ini, aku bisa bersama Riel dalam jangka waktu yang lama.
Saat aku terbangun, aku kembali ke Emerland. Tepat di sebelah air terjun, dengan Riel yang menyambutku senang.
"Riel, kali ini aku tidak perlu kembali lagi." Aku memeluk Riel.
Aku percaya, aku bisa bahagia dengan adanya Riel di sisiku.