Seorang gadis menikmati sejuknya angin di antara bunga daisy yang tumbuh cantik.
Kebiasaannya setiap pagi. Wajahnya cantik, hidung kecil, mata lebar yang bersinar, bibir semerah buah cherry. Rambut bergelombang indah hitam, menambah daya tariknya.
Gadis tercantik di kota itu. Kota kecil di pinggiran kota Roma. Lira Marvela.
Banyak lelaki yang datang melamar, Gadis itu tidak tertarik. Hingga seorang lelaki datang. Dengan paksa membawa Lira ke kediamannya.
Lelaki berkuasa yang bergelar duke di kawasannya. Keluarganya yang hanya orang biasa tak bisa berbuat apapun saat Lira diseret paksa menuju kediaman duke Robet Benardio.
Robet terkenal dengan ketampanannya dan sifat angkuh tapi banyak wanita yang ingin menjadi istrinya, sang casanova, harga dirinya seperti dilukai saat Lira menolak lamarannya.
Dan itu membawa legenda tentang penyihir pengantin berambut putih di kota Boho City.
*
*
*
Sebenarnya santer terdengar gosip. Keluarga Lira adalah keluarga penyihir. Penyihir jahat, Beatrix Rowena.
Gadis-gadis yang tak suka pada Lira dengan enaknya menyebar gosip bohong tentang Lira yang seorang penyihir. Penduduk yang termakan kebohongan itu, menjadi takut berdekatan dengan Lira.
Lira yang dipaksa menikah dengan Duke Robet, dengan mengancam akan melukai keluarganya membuat Lira setuju dengan pernikahan ini. Kesedihan mendalam mengerogoti Lira.
"Kamu akan segera menjadi istriku" Angkuh Duke Robet yang sedang menautkan kancing di pergelangan tangan. Hari ini, hari pernikahan Mereka.
Lira hanya menatap nanar calon suaminya lewat cermin didepannya. Melawan atau menjerit, Lira tak kuasa. Ia pasrah menerima.
Duke Robet meninggalkan kamar Lira. Air matanya mulai berjatuhan. Ia tak menginginkan ini. Ia ingin pernikahan dengan cinta. Bukan seperti ini. Kesedihan dalam hatinya membuat sesak.
Mukanya pucat walau terpoles cantik. Badannya terasa limbung. Tanganya memijat kepalanya yang terasa pusing.
Lalu Lira pingsan di meja riasnya.
Sesaat kemudian matanya terbuka. Ia mengangkat kepalanya, melihat dirinya di cermin. Ia tersenyum miring, melepaskan sangul rambutnya. Rambut panjangnya jatuh indah kemudian dari ujung kepala rambutnya berubah menjadi putih secara cepat.
Ia mengambil sisir. Lalu menyisirnya perlahan. Rambut Lira berubah warna menjadi putih. Putih bergelombang indah. Wajahnya pun menjadi lebih cantik. Ia membuat kepangan indah dengan mengambil beberapa bunga di vas meja riasnya lalu mengaitkan pada kepangannya. Lalu ia mengenakan veilnya.
Lira mematut dirinya lagi dicermin. "Kamu istirahat dulu sayang biar aku yang menuntaskannya" Lira dengan rambut putih itu menaikan sudut bibirnya, tersenyum miring.
*
*
*
Maid yang ditugaskan Robet untuk menjemput Lira berlari dengan kencang dengan berteriak "tidaak... jangan..." wajahnya pias, ketakutan.
Beberapa maid lain yang mencoba menenangkannya pun kewalahan.
Bawahan Robet, Andruw Erasmus. Mendatanginya. Mencoba mengetahui kehebohan apa yang telah terjadi. Ia melihat maid itu. Matanya melebar, bola matanya terlihat cemas, ia selalu menatap sekitarnya, tak fokus.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah" Andruw menghela nafas,
"Yang lain lanjutkan pekerjaan kalian, cepat!" Ia pun berlalu. Masalah, selalu saja datang disaat mendekati acara.
"Emma kenapa?" bisikan maid bergosip.
"Entah tadi harusnya ia menjemput penyihir itu" salah satu maid menimpali.
"Siapa? Lira? Dia penyihir?" bisik maid yang lainnya ikut bergosip. Andruw berhenti di dekat pot bunga besar, mencoba menguping.
"Kau tak tahu beritanya? Dia keturunan penyihir kejam, makanya keluarganya mengasingkan diri di pinggir kerajaan."
"Aku bingung kenapa tuan Robet membawanya kemari, ia pasti akan sial" lanjut maid itu bergosip.
"Ih mengerikan, aku tak ingin bertemu dengannya, bagaimana ini?" sambung maid yang lain.
Andruw yang mendengar pun merasa harus melapor pada tuannya. Ia berjalan tergesah ke ruangan Robet.
"Andruw bagaimana persiapannya? Tak sabar, aku ingin cepat memiliki wanita itu" Robet mematut dirinya di cermin. Ia mengenakan tuxedo putih yang pas dengan dirinya. Ia sangat puas.
"Em... ada masalah Tuan" Andruw agak bingung menerangkannya karena dirinya pun belum melihat langsung seperti apa kejadiannya.
"Masalah apa?" Wajah Robet mengeras. Ia tak mau pernikahannya kacau.
"Maid bergosip bahwa nona Lira adalah penyihir Tuan, dan maid yang akan menjemputnya berlari ketakutan dan gila" takut-takut Andruw melihat reaksi tuannya. Ia terkejut melihat reaksi tuannya. Tertawa keras.
"Gosip apa itu? Kau percaya? Gosip murahan, agar aku tak menikahinya. Wanita itu sendiri pasti yang menyebarkan gosip itu, agar tak jadi ku peristri, dasar licik" Robet menyeringai keangkuhannya semakin terlihat jelas.
"Aku tak akan melepaskanmu, teruskan saja seperti semula Andruw" Robet menepuk-nepuk lengannya.
Andruw hanya mengangguk ragu.
*
*
*
Robet telah menunggu di altar. Ia tampak gagah, angkuh dan sombong dengan tuxedo putih.
Cukup lama ia menunggu Lira. Ia menatap Andruw. Memerintahkan dengan matanya untuk menjemput Lira. Andru dengan ragu mengangguk. Lalu berjalan keluar dengan terburu. Tapi sebelum mencapai pintu.
BRAK!
Pintu gereja terbuka menampilkan Wanita anggun dengan gaun juga rambutnya yang putih bergelombang membuat semua orang takjub.
"Maaf terlambat." Ia berjalan. Menatap lurus pada Robet.
"Siapa kau?" Tanya Andruw mendekati wanita itu.
"Nona... nona Lira..." Andruw tercengang. Wanita dihadapannya ini berbeda dengan yang ia lihat selama ini pemalu, lemah lembut. Lira yang ia lihat sekarang pandangannya tajam, anggun, cantik, berani.
Lira berjalan ditengah altar menyungging senyumannya dengan bibir merahnya. Robet melihat ia berbeda pun tak peduli, membalas senyum miring Lira.
Andruw bergegas menuju para pemusik dan memerintahkan mereka segera memainkan musiknya.
Musik mengalun lembut. Robet sangat senang sekarang. Wanita yang akan menjadi istrinya sangat cantik, ia tak salah telah mengancam juga memaksa wanita itu.
Mereka yang berada didalam tak tahu. Lira telah membunuh semua orang yang berada diluar gereja. Iya benar, Lira memang keturunan Beatrix Rowena.
Sekarang yang ada dihadapan mereka adalah Beatrix Rowena. Ia berjalan dengan senyuman manis dengan bibir terpoles berani. Menggoda dan tajam.
Semakin dekat kemudian dengan cepat ia menghunuskan pisau tajamnya pada Robet.
"Kau harus menerima pembalasan ini!" Robet terhuyung ke belakang tak menyangka Lira menusuknya. Ia tertawa. Tawanya mengisi penjuru gereja. Para tamu, semua yang ada disana panik berlarian menuju pintu.
Lira menghentakan tangannya keatas, dengan kekuatannya menutup rapat semua jalan menuju luar gereja.
"KALIAN SEMUA MENERIMA PEMBALASANKU, BIADAP!"
"BERANINYA KAU BUNUH KELUARGAKU!" Teriakkan Lira suaranya berubah, bas lelaki. Robet menyuruh kaki tangannya membakar rumah Lira dengan semua penghuninya, setelah Lira dibawa paksa oleh Robet.
"Dan kau Benardio, aku kutuk keturunanmu, tak akan ada dari keturunanmu memiliki seorang anak lelaki"
Lira tertawa kencang, tubuhnya menghilang bersama suara tawa yang ikut menghilang.
Dan menyalakan kobaran api, orang-orang berteriak meminta tolong. Menggedor. Membuka paksa namun tak sedikitpun pintu maupun jendela itu rusak.
Kobaran itu menjalar dengan cepat, menghanguskan segalanya. Hingga yang tersisa hanya puing bercampur abu manusia.
Dan hingga kini tak ada yang tahu itu cerita nyata atau hanya legenda. Bahkan sosok Lira pun tak diketahui keberadaannya. Banyak rumor beredar. Bahwa ia ikut mati terbakar.
***
jangan lupa klik ❤, baca juga cerpen lain punya otor ya, ato novelnya, makasih