Stevan Arkatama, pengusaha properti yang terbilang sukses di usia mudanya.
Stevan, pria yang terkenal dengan julukan pria setia dan menjunjung tinggi kehormatan seorang wanita, dalam sekejap harus menyandang gelar seorang pria br#ngsek yang meninggalkan tunangannya demi seorang wanita bernama Chloe.
Chloe Adam, seorang wanita yatim piatu, putri dari pasangan mendiang Adam dan Challie.
Wanita dengan kecantikan paras dan kemolekan tubuhnya yang patut mendapatkan acungan jempol.
Wanita berbakat, dengan karier yang luar biasa cemerlang di bidang desain interior.
Wanita yang selalu ceria. Jika kau ingin menikmati keindahan di pagi hari, maka lihatlah wajah cantik Chloe saat bangun tidur.
Dua hari sebelum pernikahan Stevan dan Chloe, disebuah apartemen sedang terjadi perdebatan sengit antar sepasang kekasih.
"Aku hanya meminta kamu berbesar hati sayang, ku mohon. Aku hanya akan mencintaimu, selamanya hanya akan mencintaimu," ucap Stevan.
Stevan sedang meyakinkan seorang wanita yang berstatus tunangannya untuk menerima pernikahan dirinya dengan wanita lain yang akan berlangsung 2 hari lagi.
Br#ngsek bukan?
"Kau gila Stev ... mana mungkin aku bisa merelakanmu menikah dengan wanita lain!"
"Kau tak hanya menghancurkan hatiku, kau juga mempermalukan aku. Sekarang apa yang harus kukatakan pada keluargaku, hah?!"
Wanita yang sedang berteriak membentak Stevan adalah Fanisa Aludra. Tunangan Stevan sejak 9 bulan yang lalu. Wanita yang menjadi kekasihnya selama 5 tahun terakhir.
"Aku ... biarkan aku yang akan membicarakan semua ini pada keluargamu," ucap Stevan dengan yakin.
Ya, Stevan sangat yakin jika keluarga Fanisa akan mengerti. Apa lagi jika saat membicarakannya ia membawa serta cek dengan nominal yang membuat mata sepasang paruh baya itu menjadi silau.
Fanisa yang tadinya berteriak histeris, kini duduk bersimpuh dengan lemah. Menangisi takdir yang selalu saja merenggut kebahagiaannya.
Stevan, pria berhati lembut yang tak bisa melihat wanita bersedih apa lagi jika wanita itu menitikkan air matanya.
Segera Stevan membawa Fanisa dalam rengkuhannya. Mendekap erat tubuh Fanisa yang bergetar hebat, membelai lembut surai hitamnya yang tergerai.
Menerima segala cinta, kasih, dan perhatian Stevan saat ini, menimbulkan seringai di wajah cantik Fanisa.
Stevan mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen, semua barang-barang hancur berantakan akibat amarah Fanisa yang meledak-ledak.
Inilah yang Stevan khawatirkan, Fanisa kembali lepas kendali dan berakhir akan melukai dirinya sendiri. Itulah sebabnya ia merahasiakan rencana pernikahan yang telah keluarganya siapkan sejak 6 bulan yang lalu.
🔖🔖🔖🔖🔖
"Dari mana kau Stevan?" tanya Gianna, ibunya.
"Aku banyak pekerjaan di perusahaan, Bu."
"Bohong!" tuduh Gianna.
"Ibu tahu, kau pasti menemui wanita gila itu lagi, kan?"
Stevan mendengus, ia tak terima jika Fanisa disebut sebagai wanita gila oleh Ibunya.
"Dasar anak bodoh!"
"Semuanya bukan salahmu, dan kau malah terikat dengan tanggung jawab padanya," ujar Gianna.
🔖🔖🔖🔖🔖
Hari pernikahan Stevan dengan Chloe sebentar lagi akan digelar.
Sumpah setia, sehidup semati dalam beberapa jam kedepan akan terucap dari bibir keduanya.
Stevan memandangi wajah cantik Chloe yang sudah dirias dari pantulan cermin.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Stevan dengan lembut.
Chloe tersenyum. "Apa kau benar-benar mencintaiku Stev?"
"Te-tentu saja," jawab Stevan terbata-bata, "Mengapa kau bertanya hal aneh seperti itu?"
"Karena aku bahagia Stev ..." jawabnya.
"Kau tahu Stev ... kau bagai malaikat yang dikirim ayah dan ibu untukku. Kau hadir di saat aku benar-benar membutuhkan tempat untuk bersandar saat Ibu dan ayahku pergi untuk selamanya," ujar Chloe.
Wanita cantik dengan gaun pengantin yang melekat ditubuhnya berjalan mendekati Stevan. Dengan lembut ia kalungkan kedua lengannya di leher pria yang sebentar lagi menjadi suaminya.
Perlahan dan begitu lembut ia berusaha mengecup bibir Stevan. Namun kembali kekecewaan yang ia dapatkan.
Enam bulan lalu pria itu tiba-tiba saja muncul di hidup Chloe yang berada diujung tanduk. Stevan meyakinkan Chloe untuk bertahan hidup di dunia ini karena masih ada dirinya yang bersedia mendampingi Chloe di sisa hidupnya.
Meski tak percaya, cinta tulus untuk Stevan perlahan tumbuh di hati Chloe dibarengi kekecewaan yang perlahan muncul.
Sama seperti saat ini, Stevan kembali mengecewakan Chloe, membuat wanita itu ragu atas cinta yang hanya terucap dari bibir Stevan.
"Sudah ... jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku bukannya menolak ciumanmu, aku hanya khawatir jika riasanmu luntur," ucap Stevan saat menyadari raut wajah kecewa Chloe.
Hanya kalimat sederhana dari Stevan bisa membuat Chloe kembali tersenyum. Sesederhana itulah Chloe jika ia mencintai seseorang, baginya cinta itu memberi.
🔖🔖🔖🔖🔖
Pernikahan Stevan dan Chloe sudah memasuki usia 6 bulan.
Selama 6 bulan, Chloe harus bersabar menerima kenyataan jika dia belum bisa menjadi istri yang seutuhnya.
Terkadang Chloe bertanya-tanya, apa yang kurang dari dirinya hingga Stevan selalu saja menghindar ketika Chloe ingin meminta haknya sebagai seorang istri.
Bermacam-macam pikiran buruk muncul di benaknya.
Mulai dari jika suaminya memiliki wanita lain hingga jika suaminya memiliki penyimpangan seksual.
Semua pertanyaan Chloe terjawab setelah sebuah telepon dari seorang wanita ia terima. Wanita di seberang telepon meminta Chloe menemuinya.
Sebuah kenyataan pahit Ia ketahui jika ternyata dugaannya benar. Suaminya memiliki wanita lain, dan wanita cantik di hadapannya ini adalah orangnya.
"Kumohon, lepaskan Stevan. Tinggalkan dia, pergilah dari kehidupan Stevan, biarkan aku dan dia bersatu, biarkan kamu bahagia," ucap Fanisa.
Chloe yang merasa dirinya mulai serakah karena cinta, tak ingin dengan mudahnya menyerah sebelum ia benar-benar berjuang.
Chloe bertekad untuk merebut hati Stevan dengan cinta dan ketulusannya.
"Maaf Nona Fanisa, tapi aku tak akan percaya dengan ucapanmu. Aku akan membuktikannya sendiri. Jika memang aku gagal setelah berusaha mendapatkan hati Stevan, maka aku akan pergi. Aku janji," ucap Chloe dengan tenang, berbeda dengan Fanisa yang penuh dengan emosi.
🔖🔖🔖🔖
Seminggu berlalu setelah pertemuannya dengan Fanisa. Chloe hendak bertanya langsung pada suaminya, namun hal itu tidak bisa ia lakukan sebab Stevan yang tak pernah pulang ke rumah.
Hingga hari yang dia tunggu-tunggu tiba, Stevan akhirnya pulang ke rumah. Namun pria itu bersikap berbeda, tak ada sapaan lembut atau senyum manis yang ia beri untuk Chloe.
Yang ada adalah tatapan penuh kebencian pada wanita yang tanpa ia sadari sudah ia sakiti selama masa pernikahan mereka.
"Stevan, apa kau ada masalah? ceritalah padaku, mungkin aku bisa membantu," ucap Chloe dengan lembut.
"Jangan bersikap sok baik di hadapanku, dasar pembunuh!" ucap Stevan.
"Siapa yang pembunuh? Aku? Aku sungguh tak mengerti Stev," tanya Chloe.
"Ucapan kejam apa yang kau katakan pada Fanisa hingga wanita malang itu memilih mengakhiri hidupnya?"
Chloe tertegun. Ia mematung, tak menyangka jika Fanisa telah bunuf diri.
"A-aku tak mengatakan apapun, aku hanya berusaha membela diriku sebagai seorang istri," jawab Chloe dengan ragu.
"Tapi pembelaanmu itu telah membunuhnya," hardik Stevan.
Dan sejak hari itu, di mata Stevan Chloe adalah seorang pembunuh. Pria itu tak bisa menerima kenyataan jika Fanisa akhirnya memilih jalan yang salah dengan mengakhiri hidupnya.
Perasaan kehilangan, rasa bersalah, juga rasa sayangnya pada Fanisa membuat mata dan telinganya buta. Ia menolak menerima alasan Chloe, yang berujung ia akhirnya menumpahkan segala kesalahan pada sang istri.
🔖🔖🔖🔖🔖
Tiga bulan Chloe tetap bertahan dalam rumah tangganya yang kini berubah bagai neraka.
Batin Chloe teramat sakit, hancur berkeping-keping, meski raganya tak terluka.
Diamnya Stevan, tatapan tajam penuh kebencian dari Stevan mampu menyayat hati sang istri.
Chloe merasa kini ia bagai berdiri di ujung jurang pernikahannya. Chloe masih meyakini jika suaminya bisa berubah, dan kata cinta bisa kembali terucap dari bibir Stevan lagi untuknya.
Sampai sebuah fakta terkuak. Begitu menyakitkan saat fakta ini ia ketahui langsung dari Stevan. Stevan yang kala itu sedang emosi, akhirnya membeberkan semua fakta yang selama ini ia tutupi
Fakta di balik kematian kedua orang tua Chloe, yang selama ini ia tahu penyebabnya adalah kecelakaan.
Chloe akhirnya tahu, jika suaminya terlibat dalam kecelakaan tersebut. Suaminya adalah pengendara mobil lain yang menjadi penyebab mobil yang ditumpangi Chloe bersama kedua orang tuanya masuk ke jurang. Kecelakaan yang berhasil merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Begitu menyakitkan saat semua kenyataan terungkap. Jika boleh, ingin rasanya Chloe menolak kebenaran dan kembali menghindari kenyataan ini.
Namun rasa sesalnya teramat besar.
Seandainya saja Chloe bisa merelakan kepergian kedua orang tuanya, menerima kenyataan jika itu semua adalah takdir Ilahi, mungkin saja saat itu Stevan tak perlu terlalu merasa bersalah dan tidak akan pernah terjadi pernikahan.
Seandainya saja Chloe bisa menerima kenyataan jika suaminya mencintai wanita lain dan ia bisa lebih merelakannya maka mungkin saja Fanisa masih hidup hingga saat ini.
"Aku bersalah. Aku tak bisa menerima kenyataan hingga akhirnya aku melukai orang lain," gumam Chloe.
Malam itu, malam setelah Chloe mengetahui segalanya, dengan tangan bergetar di dalam sebuah kamar yang terkunci, Chloe mulai merangkai kata demi kata yang ia tujukan pada suaminya.
Untuk Stevan, suami yang aku cintai.
Aku menyerah.
Aku memilih untuk pergi selama-lamanya dari hidup ini.
Tapi ketahuilah jika semua ini bukan karena salahmu, dan jangan pernah menyalahkan dirimu.
Keputusanku ini semuanya karena aku yang tak sanggup menerima kenyataan jika selama ini aku sudah menyusahkan, menyakiti, dan membebani banyak orang.
Stevan, sayangku ...
Jangan lagi menyalahkan dirimu atas apa yang sudah menjadi ketetapan takdir,
Aku tahu kamu berbeda dariku, aku tahu kamu jauh lebih kuat untuk bertahan dibanding aku yang lemah ini.
Belajarlah untuk menerima kenyataan.
Kumohon , berbahagialah ... sama sepertiku, aku bahagia bisa meninggalkan dunia ini.
Istri yang akan selalu mencintaimu, Chloe.
Setelah menuliskan surat itu, hanya dengan sekali sayatan di pergelangan tangannya ... Chloe mengakhiri segala penderitaannya di dunia ini.
🔖🔖🔖🔖🔖
Hingga saat langkah kaki terakhir pelayat yang mengantar Chloe ke peristirahatan terakhirnya, Stevan masih betah duduk bersimpuh di atas gundukan tanah yang masih basah.
Dengan tangan yang menggenggam erat selembar kertas Steven bergumam, "Chloe, sesalku tak bisa kubendung, menyesakkan dada hingga bernapas pun terasa sulit bagiku."
"Jika bisa, biarkan aku pergi bersamamu. Biarkan aku jadi pengecut yang terus menerus menghindari kenyataan hingga akhir hayatku."
"Aku menyesal, aku kehilang dua tujuan hidupku," Stevan.
💕💕 END 💕💕