Kalau istilah ‘ asam garam ‘ adalah hal yang wajar dalam kisah perjuangan hidup. Maka istilah ‘ pahit manis ‘ adalah yang terwajar dalam konteks percintaan dan drama…
HATSUKOI ( FIRST LOVE ) oleh Henhenychu
Angin memang berhembus pelan saat ini. Akan tetapi rasa dingin yang kian menusuk tulang bersamaan turunnya senja saat ini adalah hal yang sudah biasa dirasakan orang – orang ketika musim gugur telah datang.
Aku tengah duduk di sofa sambil sesekali memandang keluar jendela. Memandang daun – daun yang jatuh berguguran di halaman samping rumah. Padahal belum lama aku menyapunya tadi. Aku hanya bisa menghela nafas membayangkan apa yang akan kulihat esok paginya saat kubuka pintu rumahku ini.
Kuambil sebuah buku dari rakku yang ada di belakang sofa. Aku hanya mengambilnya secara acak. Toh, aku hanya ingin membacanya ulang. Aku sudah membaca semua koleksi buku yang kupunya. Ini hanya kulakukan untuk mengisi hari liburku saja. Aku sudah cukup bosan berkutat dengan ponselku sejak tadi. Lagipula baterainya juga sudah menipis.
Saat sebelum aku membuka tiap halaman demi halamannya nanti tanganku mendadak saja terhenti ketika membaca judul di covernya. Aku hanya mengulas senyum.
Ah,ternyata koleksi lama, pikirku. Sebuah buku berisikan kisah percintaan yang cukup klasik. Ini koleksiku saat aku masih sekolah dulu. Hal yang lumrah untuk gadis seumuranku dulu. Dan kebetulan yang kupegang saat ini adalah buku yang bercerita tentang hal yang sering disebut dengan first love.
Aku masih bisa mengingat sedikit alur ceritanya. Kisah yang manis. Aku mulai membukanya dan di chapter pertama aku hanya bisa tersenyum membaca tiap paragrafnya. Sebuah pertemuan terjadi karena hal yang disebut kebetulan. Dan seketika saja ada yang terlintas dalam benakku saat ini.
Seperti apa yang sedang kalian duga sekarang ini. Ya, aku juga memiliki pengalaman yang hampir sama. Yaitu sebuah pertemuan yang terjadi karena hal yang kalian sebut sebagai kebetulan. Aku mungkin akan terlihat sedikit memaksa. Tapi aku hanya ingin berbagi sedikit pengalamanku dulu.
===o0o===
Fuuuh, kutiupi kedua telapak tanganku sesekali. Meskipun saat ini sudah memasukki awal musim semi. Akan tetapi rasa dingin dari musim sebelumnya masih sedikit tersisa.
Aku memandang kuncup bunga berwarna pink lembut mulai menghiasi tiap pinggiran jalanan ini. Sebentar lagi di seluruh kota akan dihiasi bunga mungil berwarna pink ini dan ketika angin mulai meniup tiap – tiap kelopaknya yang berguguran akan membuat suasana di semua tempat seakan – akan terbungkus oleh asap merah muda. Aku tersenyum kecil hanya dengan membayangkan hal itu. Hmm, kupikir itu bisa menjadi bahan tulisanku selanjutnya.
Ya, aku adalah penulis cerita lepas. Yang hanya menulis apa yang terlintas di pikiranku dan mempostingnya di halaman blogku. Aaah, pasti tema percintaan di awal masuk tahun pelajaran baru akan jadi booming saat ini. Karena itulah aku terdampar di sepanjang jalan ini. Aku sedang mengisi liburanku sebelum aku masuk sekolah.
Aku sedang mencari refrensi untuk ceritaku selanjutnya. Semuanya sudah kuatur sebaik mungkin. Di dalam tas yang kubawa saat ini sudah ada semua yang kubutuhkan, tak terkecuali sebuah buku dan peralatan tulis.
Aku mulai menapaki jalan yang akan menuntunku ke tempat dimana aku bisa duduk dengan tenang dan mengamati semua hal di sekitarku. Sebuah taman cukup besar di mana terdapat banyak tempat duduk di sisi jalannya. Aku memilih tempat yang masih kosong.
Cukup beruntung, karena hari libur pastinya tempat ini akan begitu banyak orang. Dan begitu banyak pasangan tentu saja. Aku sedikit merasa dongkol. Dan aneh. Karena diriku yang sudah cukup lama berkutat dengan dunia fiksi yang kebanyakan bertema romansa tapi untukku sendiri belum pernah merasakannya.
Kadangkalanya aku merasa iri dengan karakter yang kutulis sendiri. Aku hanya bisa menggambarkan perasaanku sebatas yang kurasakan saat membaca novel dan light novel yang pernah kubeli. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya juga sih. Selama aku bisa menikmati tidak masalah, bukan?
Tapi seandainya saja muncul pria di depanku dan mengajakku bicara seperti salah satu scene dalam novel pasti seru. Tapi sayangnya itu hal yang mustahil. Lagi – lagi aku menghela nafas. Kali ini sambil kusandarkan punggungku dan memejamkan mataku. Mengusir pemikiran yang bodoh barusan dan memikirkan ide – ide ceritaku.
“Permisi. Boleh saya duduk sebentar di samping Anda?”
Nah, sepertinya khayalanku mulai mengacau ke indra pendengaranku sampai- sampai terdengar suara pria di dekatku. Yah suara… dasar pemikiran bodoh itu bisa – bisa—tunggu! Langsung saja kubuka mataku dan…
“ Ah sepertinya Anda sedang istirahat. Maaf karena sudah mengganggu.” Orang itu bicara sambil tersenyum sungkan ke arahku.
Aku hanya bisa melongo melihat hal itu. Setelah itu dia bilang untuk mencoba mencari tempat lain saat melihat reaksi diamku. Kugelengkan kepalaku cepat agar menyadari situasi yang bodoh ini.
“Tunggu sebentar! … maaf, silahkan… Lagipula mungkin semua tempat sudah penuh melihat kondisi seperti ini. “ kataku sambil tertawa sungkan.
Aku menggeser tubuhku berbagi sedikit ruang untuknya. Dia hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Aku hanya membalasnya dengan tawa pelan. Setelah itu kami berdua diam saja. Mau bagaimana lagi? Mau ngajak ngobrol nanti dikira sok kenal.
Untuk mengurangi rasa canggung akhirnya kubuka tas yang kupangku sedari tadi dan mengeluarkan buku dan pena ku. Aku mulai menulis kata demi kata untuk membentuk awal paragraf ceritaku sambil sesekali melihat lalu lalang di depanku. Sesekali juga kukerutkan keningku saat aku mulai kesulitan di bagian selanjutnya. Haaah, percuma. Buntu.
“ Penulis? “ tanyanya tiba – tiba. Aku mnengangguk.
Apa mungkin dia terganggu karena aku sering menghela nafas? Mau bagaimana lagi? Sulit sekali meandapatkan kalimat – kalimat yang bisa menyampaikan sebuah perasaan pada orang lain.
“ Wah, hebat. Padahal di saat liburan seperti ini tapi tetap saja menulis.”
Aku tertegun, “ Ti..tidak… aku hanya mengisi kekosongan saja kok.” Balasku malu.
“ Hm, tapi tetap saja. Masuk penerbitan mana?”
Kugaruk tengkukku yang tidak gatal, “ Ehehehe… sebenarnya tidak masuk manapun” jelasku malu.
“ Aku hanya menulis karena hobi dan hanya ku posting di halaman blog. Itu saja. “ jelasku lagi.
Dia hanya mengangguk – angguk paham.
Kemudian kulanjutkan lagi menulisku. “ Sayang sekali. “ cetusnya.
Aku langsung menoleh.
“ Kenapa tidak dicoba? Dulu aku juga cuma sekedar hobi dalam fotografi. Lalu pernah disarankan oleh temanku untuk mencoba melamar di berbagai tempat. Dan tentu saja semuanya tidak langsung berjalan lancar. Aku juga pernah gagal, ditolak, bahkan diremehkan. Tekanan itu ada tidak hanya saja muncul dari luar. Tapi dari keluargaku juga. Tapi setelah semua yang sudah terjadi aku merasa sangat bersyukur. Meskipun bukan perusahaan besar. Tapi sesekali aku bisa melancong ke seluruh tempat. Bahkan pernah sekali keluar negeri. “ tuturnya panjang lebar sambil tertawa pelan.
Aku tertegun. Ada yang aneh. Ada yang membuat darahku mendadak ke ubun – ubun. Bukan, ini bukan perasaan marah, terisinggung atau apa. Apa ini? Melihatku yang diam dan hanya menatapnya saja membuatnya meminta maaf karena merasa menyombongkan diri.
Aku menunduk sejenak lalu kutatap lagi dia, “ Tidak. Tidak sama sekali. Itu hebat. Terimakasih. ” ucapku sambil tersenyum.
Dan kudengar dia hanya terbatuk canggung. Saat kuperhatikan ternyata wajahnya memerah. Baru aku sadari dia memiliki bentuk wajah agak bundar. Pipinya yang sedikit penuh. Cukup jarang dimiliki pria pada umumnya. Rambut yang tidak pendek, juga tidak panjang tapi cukup rapi. Ekspresi wajahnya yang terlihat lembut dan kalem. Kalau kugambarkan sedikit mungkin seperti pengisi suara favoritku, Suzuki Tatsuhisa.
Hari beranjak siang. Aku harus pulang. Saat aku membereskan peralatanku dia terus menatapku. Setidaknya aku pulang dengan tidak sia – sia. Hasil potretannya cukup memberiku ide. Apa? Apa aku belum bilang? Dia tadi sebenarnya sedang bekerja dan memotret tempat – tempat untuk edisi majalah tempat dia bekerja. Dan tentu saja dia membawa kameranya.
Aku berpamitan padanya. Setelah itu aku berjalan pulang. Baru saja beberapa langkah aku mendengarnya memanggilku dengan panggilan ‘ hei’.
Aku menoleh untuk memastikan panggilan itu ditujukkannya padaku. “ Kalau boleh tahu namamu? ” tanyanya dengan wajah memerah.
Lagi – lagi denyutan aneh muncul saat melihat ekspresinya itu. Sepertinya kalau aku tidak segera menjawabnya mungkin dia bisa mati karena malu.
Aku tersenyum lebar, “Namaku Shirokawa Kazue.”
Dia terlihat sedikit kaget dan tidak lama kemudian dia tertawa kecil sambil melambaikan tangannya,
“Kalau namaku adalah Tomoya. Tetap semangat ya…” ucapnya.
Rasa panas menjalar ke wajahku saat itu juga. Aku mengangguk cepat dan segera berbalik menyembunyikan senyuman yang tidak bisa kuhilangkan di sepanjang perjalananku.
Tepat di hari itu. Di awal bulan April. Di taman yang biasa aku kunjungi. Aku, seorang gadis berumur 16 tahun. Seorang penulis fiksi romansa amatiran, Shirokawa Kazue. Telah mengalami musim semi dalam kehidupannya.
===o0o===
Pada akhirnya kututup novel yang baru kubaca tadi. Aku jadi terbawa masa lalu. Kurebahkan tubuhku di sofa. Apa kalian bertanya bagaimana kelanjutan ceritanya? Sudah kubilang ‘kan kalau rasa pahit dan manis itu sudah biasa terjadi dalam hal seperti itu?
===o0o===
Tentu saja aku juga bisa benar – benar merasakan apa yang dianggap manis itu. Hubunganku dengan Tomoya berjalan sebagaimana mestinya.
Tanpa kami sadari setiap hari Sabtu di tempat itu kami selalu bertemu. Dan sudah seperti kebiasaan. Kadang dia kusuruh menilai tulisanku atau aku meminta saran untuk selanjutnya. Kadang dia juga menceritakan sedikit tentang apa yang dikerjakan atau yang ditemuinya.
Kami semakin akrab seiring berjalannya waktu. Dan aku juga semakin yakin kalau yang kurasakan ini adalah hal yang disebut ‘ suka ‘.
Tapi aku tidak pernah berniat mengatakannya atau apa. Aku tidak mau semuanya berubah menjadi buruk. Iya kalau diterima, kalau tidak? ‘Lebih baik kita berteman saja dan kembali seperti dulu.’ Itu lah yang kukutip dari berbagai novel juga manga. Tapi jangan harap itu terjadi di dunia nyata.
“ Aku akan ikut meliput ke Thailand.” Celetuknya saat kami bertemu untuk sekian kalinya.
Kuhentikan kegiatan menulisku. Kutatap dia dan disusulnya menatap kearahku. Dia menyentuh kepalaku pelan sambil tersenyum.
“ Ingin kubawakan apa? “ Aku tertegun dengan sikapnya.
Dengan pelan kusingkirkan tangannya dan kemudian tergambar ekspresi terkejut di wajah kalemnya itu. “ Bawakan saja gambar – gambar yang bagus. Mungkin akan kucoba membuat dengan latar luar negeri. “ jawabku sambil kuteruskan menulis.
Bisa gawat kalau dia menyadari perubahan air mukaku saat ini.
Dia terkekeh pelan, “ Itu mudah. Akan kubawakan lebih dari yang kau inginkan.” Ucapnya dengan nada mengejekku.
Sial, rutukku.
“ Aku berangkat lusa. Tidak mengantarku? “ tanyanya lagi.
Sial. Dia sengaja melakukannya.
Dan setelah hari itu aku tidak bertemu dengannya beberapa minggu. Hingga pada akhirnya…
'Minggu depan pulang', tulisnya pada e-mailnya..
'Akan kuberikan kejutan yang tidak pernah kau duga', balasnya lagi.
Kucibir dia. Apa memangnya? Saat kutanya dia hanya bilang rahasia. Pengen kutonjok mukanya kalau tidak ingat umurnya lebih tua dariku. Dia akan berangkat.
Itu yang dituliskan di e-mailnya beberapa jam yang lalu. Kami saling berkirim pesan seperti sepasang kekasih, mungkin? Jujur saja ada perasaanku yang ingin lebih dari hubungan teman dekat.
Tapi rasa takut itu menghalangiku, ini mungkin dampak dari keseringanku membaca ataupun membuat cerita. Saat aku mendengarkan band favoritku di radio lewat ponselku dan kebetulan sedang memainkan lagu yang kusuka.
Namun entah dan bagaimana bisa alunan musik itu mendadak terdengar seperti genderang yang ditabuh dengan keras hingga membuat dada ku juga seperti ditabuh.
Aku melompat turun dari ranjang dan berlari ke ruang tengah secepat mungkin. Kunyalakan televisiku. Kuambil remote dan kucari – cari chanel yang sekiranya bisa memberi kejelasan dari apa yang kurasakan.
Mulai terasa panas. Benar – benar terasa panas seluruh tubuhku. Bukan hanya tubuhku yang berkeringat. Tapi pelupukku menghangat dan pandanganku mulai kabur terhalang cairan yang keluar dari mataku.
'Breaking News. Pesawat jatuh sore ini. Berangkat Bangkok dengan tujuan Narita, Tokyo.'
Hei, coba katakan sesuatu. Apa karena ini? Yang membuat acara radio kesukaanku menjadi aneh. Jadi ini yang membuat suhu disini jadi lebih terasa panas sampai lututku terasa lemas? Jadi karena ini? Ayo, katakan. Jawablah…
‘Akan kuberikan kejutan yang tidak pernah kau duga.’
Hebat, itu yang ingin kukatakan. Ya, aku memang tidak bisa menduganya. Bahkan aku sampai terduduk lemas di sofa. Rasanya sulit bernafas meskipun begitu banyak oksigen yang ada dalam ruangan ini.
Kututupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku menangis sekencang – kencangnya. Beruntung tidak ada orang di rumah. Aku menggumamkan namamu berkali – kali. Berharap kau mengirim e-mail dan mengatakan penerbanganmu di tunda saat ini. Kalau kau saat ini masih ada di Thailand. Bukan berada dalam pesawat dan bersama penumpang malang yang tengah di kabarkan acara televisi itu.
Di hari itu. Tepat saat senja meskipun matahari masih bersinar dengan teriknya. Aku, Shirokawa Kazue, gadis 16 tahun tengah meratapi musim seminya yang terengut di udara.
Musim seminya, Tomoya…
===o0o===
Diluar mulai gelap. Sambil kuseka airmata ini aku terbangun dan menyalakan tiap lampu di rumah ini. Sudah berapa tahun telah berlalu. Mengingatnya saja seperti baru kemarin.
Menarik, bukan? Klasik seperti cerita pada umumnya, ‘kan? Mungkin ada cerita seperti ini. Tetapi kebanyakan hanyalah cerita romansa yang manis, pahit kemudian berakhir manis lagi. Dan inilah cerita yang kutulis dengan awal yang manis dan yang berakhir pahit. Benar – benar selesai dengan rasa begitu pahit.
TAMAT