Salah satu gambar bangunan jatuh dan terinjak kakiku. Bumi seperti bergetar dan saya terseret ke dalam bangunan megah yang belum pernah aku kenal. bangunan itu terus bergetar. Kudengar ada yang memanggilku, kak tolong kami, Tampak sekumpulan anak seragam biru putih berlarian.
“Tolong kak, tolong kami…….”. Semua anak-anak itu berlari ke arahku, aku yang masih dalam keadaan bingung, makin dibuat bingung oleh kedatangan anak-anak dengan pakaian yang aneh.
“Hahhh… siapa kalian? dan dimana aku ini”. ucapku dengan nada kebingungan sambil menggaruk-garuk kepala dan mengusap wajah.
“kakak sekarang berada di istana koya-koya”. Ucap salah satu anak kepadaku
“Hahhh!!!”, akupun terkejut dan makin bingung dengan keadaan ku sekarang. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian sebelumnya,ketika aku memasuki lorong yang di dindingnya terdapat lukisan, salah satunya jatuh tepat di bawah kakiku. Dari situ aku berfikir bahwa sebenarnya aku terseret masuk ke dalam lukisan yang jatuh menimpa kaki ku.
“Mungkin kakak merupakan orang yang diramalkan untuk membantu kami”, ucap salah satu anak kepadaku.
“Hah, ramalan?, ramalan apa?”. Lagi dan lagi aku dibuat bungung dengan perkataan mereka.
“Ada sebuah ramalan yang mengatakan bahwa akan ada seorang anak laki-laki yang entah berasal dari mana akan datang dan membantu negeri ini untuk melawan Morbus raja dari segala monster”.
“Kalian kira orang yang ada di ramalan itu aku?, begini yaa adik-adik sekalian,kakak memang bukan dari negeri ini tapi kakak hanyalah anak-anak seperti kalian, kakak yakin umur kakak sama kalian tidak beda jauh cuman kakak lebih tinggi aja dari pada kalian, coba kalian pikir baik-baik,apakah mungkin orang kayak aku bisa ngalahin Morbus yang katanya raja monster”. Ucapku dengan nada yang sedikit kesal.
“Ini kak ambil”. Salah satu dari anak-anak itu memberiku sebuah belati yang pegangannya di taburi emas dan berlian merah. Aku pun terpesona ketika melihat kecantikan belati itu.
“Ini adalah belati yang diberi oleh penyihir kerajaan, sang peramal mengatakan belati ini hanya akan berfungsi ketika berada di tangan orang yang ada di ramalan, ini saatnya kakak membuktikan apakah betul kakak adalah orang yang dimaksud”.
“Oke aku akan mengambilnya, tapi bagaimana setelah belati itu berada di tangan ku dan tidak terjadi apa-apan?, apa yang akan terjadi kepadaku?”.
“Mungkin kakak akan kembali ke tempat dimana kakak berasal, tapi kami yakin, kakak lah yang dimaksud dalam ramalan”. Setelah mendengar perkataan anak-anak itu aku memberanikan diri untuk mengambil belatinya. Setelah belati berada di tanganku, aku melihat belatinya mengeluarkan cahaya yang sangat terang hingga membuat mata kami silau.
“Ternyata benar kakak adalah orang yang diramalkan”. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu mengalir di dalam tubuhku, rasanya seperti menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
“Sudahh kak ayokk”. Aku diseret hingga tiba di depan pintu, saat ku buka pintunya aku melihat Morbus yang memiliki 3 tanduk di kepalanya,mata yang merah, gigi yang tajam dan kuku yang besar. Tingginya sekitar 3 meter lebih dan di tangan kirinya dia memegang sebilah kapan dan di tangan kanannya nya aku melihat seorang wanita yang sedang di cekik olehnya yang ternyata dia adalah ratu dari kerajaan ini.
“Bundaaaaaa!!!”.
“Itu ibu kalian?”
“Iya kakk… tolong selamatkan ibu kamii”
“Baiklah aku akan mencoba menyelamatkan ibu kalian, kalian tunggu disini
“Oyyy Morbus!!!... lepaskan dia, ucapku dengan suara yang keras, Morbus langsung menoleh ke arahku dengan tatapan tajam. anehnya aku tidak merasakan takut sedikitpun.
“Argghh, kau siapa kau anak muda?, beraninya kau berteriak kepadaku”.
“Bertanyanya nanti saja, sekarang lepaskan dulu dia!!!”.
“Hahahahaha kau sangat lucu anak mudaa hahahahaha!!!!”.
“Apa yang kau tertawakan!!!”. Aku lansung berlari ke arah Morbus, karna postur badan Morbus yang besar aku hanya bisa mendarat kan pukulan di kaki nya.
“Arrggg, pukulan apa ini”. Morbus berteriak kesakitan, sang ratu pun terlepas dari genggaman Morbus. Sontak aku langsung menangkap sang ratu dan membawanya ke anak-anak.
“Oiiiii mau kemana kau, kembali ke sini!!!”. Morbus berteriak ke padaku ku rasa di sangat marah setelah kejadian tadi.
“Bundaaaa…”
“Bunda kalian hanya pingsan , sebentar lagi dia akan sadar, kalian bawa sang ratu ke tempat yang aman, aku akan kembali berurusan dengan Morbus. Aku langsung kembali berlari ke arah Morbus dan berniat melancarkan serangan kepadanya. Akan tetapi Morbus yang menyadari bahwa aku akan menyerangnya, lantas ia langsung menghempaskan kapaknya ke arah ku. Aku berhasil menghindari serangan Morbus. Melihat keadaan Morbus yang sedikit membungkuk, sontak aku langsung melancarkan pukulan tepat di perutnya, lalu aku menaiki kaki nya dan melancarkan serangan kedua tepat di kepala Morbus. Lantas Morbus langsung terjatuh dan seakan tidak berdaya.
“Argghh, sakit sekali, aku tidak pernah merasakan sesakit ini sepanjang hidupku”. Melihat keadaan Mobus yang sudah tidak berdaya, sontak aku langsung mengambil belati ku dan menancapkannya tepat di perut Morbus. Morbus berteriak kesakitan, suara teriakannya sangat keras hingga membuat gedung-gedung bergetar.
“Arrgghhh tidakkkkkk….”. Badan Morbus mengeluarkan cahaya dan langsung menjadi abu. Aku yang melihat kejadian itu langsung tersenyum bahagia seakan masih tidak percaya apa yang telah aku lakukan, seketika mataku menjadi buram dan rasanya badanku terasa sangat lelah. Akupun langsung tidak sadarkan diri.
Selang beberapa waktu tidak sadarkan diri, aku terbangun di sebuah ruangan yang kukira itu adalah kamarku.
“Eghh…eghh dimana aku”
“Hahhh kakak sudah sadar, kakak sekarang ada di kamar tamu”
“Ohhh, aku kira ini kamarku”
“Ohh iya kak, aku belum tau nama kakak, kalau boleh tau sihh hehe”
“Hmmm nama aku Cahya”.
“Kalo nama aku Mino kak hehe”.
“Yaudah ayo kak, bunda sudah menanti kakak di tenpat perjamuan”
“Hahh maksudnya?”
“Perjamuan makan kak”.
“Wahhh kebetulan nii aku laperr hhah”
“Yaudaa kak ayokk siap-siap”
“Iyaa-iyaa tunggu yaaa…”. Aku di pandu menuju ruang perjamuan dan aku kaget, ternyata suasana di rauang sangat lah ramai. Aku diberi sambutan dengan bunga-bungan yang bertaburan dari atas dan sorakan ramai dari orang-orang. Aku sangat senang sekali melihat pemandangan ini
“Kemarilah dan nikmati hidangan yang telah kami sediakan”. Ucap sang ratu.
“Melihat makanan membentang sepanjang meja aku langsung menyantapnya dengan sangat lahap. Setelah aku selesai makan, sang ratu menggilku.
“Kemarilah engkau wahai anak muda”. Aku langsung menghampiri sang ratu. Sang ratu memberiku gelar sebagai kesatria
“Dengan ini aku nyatakan engkau sebagai kesatria penyelamat negeri ini”. Sontak pernyataan sang ratu membuat seluruh orang yang ada di ruangan berteriak bahagia.
“Sekarang apa yang kau inginkan wahai kesatria?, aku akan mengabulkan semua keinginanmu”.
“Aku ingin pulang ke tempat asalku”. Perkataanku sontak membuat suasana ruangan yang awalnya ramai menjadi hening tanpa suara.
“Kenapa kakak tidak tinggal di sini aja, kenapa kakak harus pergi?, apa kakak tidak senang berada di sini?”.
“Maaf yaa Mino, aku juga memiliki keluarga yang sangat amat aku sayang, aku tidak bisa meninggalkan mereka, kamu harus mengerti yaa”.
“Baiklah jika itu permintaanmu , aku sebagai pemimpin kerajaan ini sangat menghargai keputusanmu itu, ini belatimu kamu bisa gunakan itu untuk kembali ke tempat asalmu”. Sebelum aku pergi, aku mengucapkan salam perpisahan kepada semua orang. aku tidak bisa menahan tangisanku saat Mino memekluku sangat erat seakan-akan melarangku untuk pergi. aku memejamkan tanganku dan menggenggam belati sambil berkata bahwa aku ingin kembali ke tempat asalku. dan wollaa aku seperti merasaakan terseret keluar dari dalam lukisan, saat aku membuka mataku aku sudah ada di ruangan belakang lobi
“Cahya kamu dari mana aja, ayoo kita pulang wawancaranya sudah selesai”. Terdengar suara dari teman- temanku. Ketika aku melihat mereka aku pun semakin yakin kalau aku sudah kembali. Belati yang sebelumnya berada di genggamanku tiba-tiba lenyap entah kemana, sepertinya semua benda yang berasal dari dalam lukisan itu tidak bisa di bawa sampai ke dunia nyata. Di perjalanan pulang aku terus memikirkan kejadian yang aku alami di dalam lukisan itu, tiba-tiba saat aku meraba saku celanaku seperti terdapaat sebuah benda. Dan saat aku menariknya keluar ternyataaa….