Menyatu tapi terpisah, terpisah tapi menyatu. Dekat tapi jauh, jauh tapi dekat.
Hari ini merupakan hari bahagia sekaligus hari menyedihkan. kini aku telah lulus sekolah dan akan melanjutkan kuliah. Bahagia bukan? tentu saja bahagia. Akan tetapi kekasihku memutuskan kuliah di luar negeri karena beasiswanya diterima. Bahagia? jelas bahagia tetapi perasaan sedih bercampur takut akan kehilangan tentunya ada.
"Kamu hati-hati ya disana. Jangan mengecewakan orang-orang yang menyayangimu dan mendukungmu." Ucap ku pada Putra
"Iya putri. Tunggu aku kembali. dan jangan lupa saling memberi pesan ya?" ucapnya padaku.
"Aku menunggumu, iya kita harus saling mengirim pesan." Jawabku.
Putrapun berangkat ke Amerika. Sedangkan aku menunggunya di Indonesia. Sedih campur haru pun muncul, akan tetapi aku harus kuat dan menunggunya kembali.
Seminggu kemudian aku sudah masuk kuliah. Aku mendapatkan begitu banyak teman, baik laki-laki maupun perempuan. Aku menunggu kabar dari Putra, tak lama kemudian surat dari Putra datang.
"Putri aku disini sudah mulai kuliah, apakah kamu juga sama? Aku mendapat banyak teman dari berbagai negara. Aku berharap kamu juga mendapat teman banyak disana. Aku rindu denganmu."
Ya seperti itulah surat dari Putra untukku. Kemudian aku juga menuliskan jawaban untuknya.
"Putra aku juga mendapatkan teman yang banyak dari berbagai daerah. Wah sangat menyenangkan teman kita sama-sama banyak. Aku juga merindukanmu. Cepatlah selesai agar kita cepat bertemu." isi surat ku.
Kami mengirim surat seminggu sekali karena jaraknya jauh jadi harus menunggu. Namun tak mengapa aku akan terus menunggunya.
Satu tahun telah berlalu, kami masih saling mengirim surat dan mengirim foto kami bersama teman-teman. Dia sangat tampan sekarang, mungkin banyak yang suka padanya.
"Putri kamu semakin cantik. Pasti banyak yang menyukaimu. Aku jadi takut nih dan semakin tidak sabar untuk bertemu denganmu" Isi surat Putra
"Putra, kamu juga semakin tampan, pasti kamu juga banyak yang suka. Aku jadi sedih. Biarpun banyak yang suka padaku akan tetapi aku akan tetap memilihmu dan menunggumu pulang. Jangan kecewakan aku ya. Aku juga tak sabar bertemu denganmu." Jawab suratku untuknya.
Dua tahun kemudian. Kami pun masih setia untuk saling mengirim surat. Putra memberiku hadiah boneka Couple yang lucu. Kemudian aku memberinya Jam tangan Couple untuk kami pakai.
"Putri jam darimu, selalu aku pakai. Terimakasih ya. Boneka yang bernamakan dirimu juga tersimpan rapi. Saat bertemu nanti kita saling membawa boneka dan jamnya ya." Isi surat Putra.
"Putra boneka darimu sangat lucu aku suka. Aku menyimpannya dengan sangat hati-hati. Baiklah kita saling membawa satu hadiah yang kita berikan. Tapi berjanjilah untuk selalu setia padaku. aku juga akan setia padamu." Isi surat ku untuknya
Tiga tahun kemudian. Kami pun masih saling mengirim surat dan bahkan dia memberiku baju Couple yang sangat bagus. Kemudian aku memberinya Jas ala korea yang cocok untuk pasangan pria dan wanita.
"Jas nya sangat bagus dan cocok untukku. Nanti saat kita bertemu di Bandara kita harus pake baju kita ya. Oya ingat ya aku akan pulang di tanggal jadian kita dulu. masih ingat kan?" isi surat Putra
"Baju yang kamu kasih juga sangat cocok denganku. Baiklah aku akan mengingatnya. Ya tentu saja aku masih ingat. Aku tunggu kepulanganmu." Jawab suratku
Pada tahun keempat, putra tak mengirimku surat. aku cemas, khawatir dan takut. Ada apa dengannya. Ini hari kelulusan ku mungkin Putra juga sama. tetapi mengapa dia tidak memberiku kabar? Atau dia sengaja untuk memberiku kejutan? Aku menunggu tanggal jadian kita tiba. Hari ini adalah hari jadian kita aku pagi-pagi sudah berada di Bandara yang sama dengan keberangkatannya. Namun sudah sehari penuh aku tidak menemukan sosoknya. Aku kembali ke rumah dan selalu menunggunya.
Pada tahun kelima putra pun tak memberiku surat. Aku khawatir sebenarnya dia kenapa. Pikiran burukpun mulai bermunculan di kepalaku. Apakah dia sudah memiliki kekasih yang baru? Atau dia mengalami kecelakaan? akan tetapi kalau putra kecelakaan orang tuanya pasti tau. Tetapi orang tua putra pun tak tahu. Bahkan putra mengirim surat untuk kedua orangtuanya. Aku tetap berfikir positif padanya dan ketika tanggal jadian tiba aku selalu menunggunya. Akan tetapi lagi-lagi aku tak menemukannya di Bandara.
Pada tahun keenam Putra masih belum juga mengirimku surat. Bahkan sudah ada puluhan lelaki yang mau melamarku dan menikahiku. Namun semuanya aku tolak demi Putra, aku yakin dia akan kembali. Meski hati ini mulai ragu untuk menunggunya. Seperti tahun-tahun sebelumnya aku selalu menunggunya di Bandara saat tanggal jadian kita tiba dan berharap bisa bertemu dengannya. Akan tetapi hasilnya sama seperti tahun sebelumnya. Aku menangis di Bandara, sampai kapan aku harus menunggunya. Bahkan jaman sudah semakin modern tetapi aku tidak memiliki nomor ponselnya. Sebegitu bodoh kah diriku. Namun aku tetap sabar menunggunya.
Di tahun ketujuh ini, aku pun tak tahu bagaimana perasaanku pada putra sekarang. Mungkin mulai memudar seiring bertambahnya tahun namun dia tak kunjung datang. Aku memutuskan ini adalah kesempatan terakhir untuk Putra. Kalau Putra tak muncul juga aku akan menyerah dan mencoba untuk mencintai pria lain. Hari ini tanggal 12 bulan Desember tahun 2019 Ya itu adalah tanggal jadian kita. Aku berangkat ke Bandara dan berharap dia kembali. Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 tetapi aku belum menemukannya. Aku sedih, bahkan sangat sedih mengetahui bahwa Putra tak akan pernah kembali. Aku pun bergegas pergi menuju taman bermain yang bernama Dufan di Jakarta. Aku menangis disana dan membayangkan masa-masa kita pacaran dulu. Kita sangat ingin pergi berlibur ke Dufan akan tetapi kita berpisah untuk mengejar gelar sarjana. Aku masih tidak percaya, kenapa putra begitu jahat padaku.
"Putri." Ucap seseorang dibelakangku
Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang jatuh menjelaskan semua yang aku alami, ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di depanku.
"Putri maaf telah membuatmu menunggu begitu lama. Aku ingin memberimu kejutan sekaligus ingin tahu seberapa besar cinta kita." Ucap putra berjalan mendekatiku dan memelukku
"Kamu jahat kamu jahat." Ucapku pada Putra yang dibalas dengan kecupan di ujung dahi disertai pelukan hangat Putra.
The End