Gegap gempita tepuk tangan memecahh ketegangan di malam terakhir lomba kecantikan di Kerajaan Anceloti berlangsung.
Bagaimana tidak, para hadirin sungguh takjub dengan perubahan wujud sang pangeran yang sebelumnya bak seorang putri yang cantik.
Sorak sorai itu kembalj hening saat Pangeran melamar putri Regina Allison penuh percaya diri dan kesungguhan dari sorot mata sang putra mahkota.
"Maaf... Jika ini sebagai malam penetapan kita sebagai bestie. Aku terima. Tetapi jika ini sebuah lamaran untuk menjadikanku permaisurimu. Sekali lagi... Maaf. Aku tidak bisa menerimanya, walaupun ini merupakan penghargaan terbesar untukku." Ucap Regina dengan lugas, sembari membungkuk menghadap pangeran. Juga menghadap para raja yang hadir tak terkecuali ayahandanya sendiri.
Putri Regina Allison segera pamit, undur diri, meninggalkan pangeran Carlo yang hanya bisa terkagum takjub dengan keberanian putri itu menolaknya.
Hah...!!!
Bahkan selama ini ia yang sering menolak para putri yang akan di jodohkan. Tetapi, tidak dengan malam ini. Ia bahkan di tolak di depan khalayak ramai. Sungguh memalukan.
Bukan hanya pihak Kerajaan Anceloti yang malu, acara sayembar yang mereka laksanakan tak membuahkan hasil. Sebab telah nyata, lamaran pangeran Carlo Eldescobia tidak di terima.
Raja Allison Mangesha selaku ayahanda dari Putri Regina Allison, lebih malu. Sangat malu atas perbuatan sang putri. Bagaimana tidak? Di saat semua putri pesaing menginginkan posisi Regina, ia justru melepas kesempatan begitu saja.
"Apa kamu sudah tidak waras...!!" Bentak baginda raja saat mereka telah tiba di istana mereka. Hampir pagi, sebab tanpa menikmati jamuan makan malam di istana Anceloti, mereka sudah pamit untuk kembali ke kerajaan mereka dengan alasan, permaisuri tidak enak badan.
Regina tak memjawab. Merasa tak memiliki alasan tepat atas keputusannya di atas panggung tadi.
Padahal yang sesungguhnya Putri Regina merasa malu karena sudah berbicara tanpa basa-basi pada Pangeran Carlo selama mereka dikarantina.
Tak ada yang tersembunyi di mata Pangeran pada saat mereka bersama kurang lebih 30 hari lamanya di kerajaan Ancelotti.
Tidak mudah bagi Regina mengubah rasa sayangnya terhadap sahabat yang ia ketahui adalah seorang putri Elsa, yang ternyata adalah seorang pangeran, hal itu baginya adalah sebuah lelucon dan sesuatu hal yang tidak masuk akal.
Sejak itu ayahanda raja menghukum putri Regina. Dengan mengurungnya di kamar sampai ia sendiri mengakui kesalahannya dan bersedia memperbaiki hubungannya dengan panheran Carlo. Agar pernikahan tetap terlaksana.
Regina putri tunggal juga bungsu. Kerajaan itu memiliki dua putra mahkota yang setiap hari di latih kekuatan fisik untuk berperang, bermain pedang, memanah apalagi bela diri Itu kegiatan mereka sehari-hari. Berbeda dengan putri Regina yang sering di lati layaknya tugas perempuan. Memasak, menjahit dan segala pekerjaan para wanita pada umumnya.
Tetapi putri Regina memiliki jiwa yang tidak feminim dia lebih sering mencuri-curi kesempatan untuk berlatih perang seperti kedua kakaknya, tanpa sepengetahuan baginda raja dan ratu.
Selama putri Regina di kurung, permaisuri pun tak di ijinkan untuk untuk menjenguk. Hanya dayang pengasuhnya sejak bayi yang boleh mengantar makanan untuk sang putri.
Permaisuri hanya memantau, jika makanan yang di antar ke kamar anandanya kosong. Artinya sang putru baik baik saja, dan tidak melakukan aksi mogok makan.
Dua purnama berlalu, Raja pun merindukan melihat kehadiran Putri mereka. Sehingga dia memutuskan untuk mengalah, belajar untuk mengerti bahwa memaksa adalah hal yang tidak baik.
Maka Raja memerintahkan pada dayang-dayang untuk membuka kamar Putri dan membiarkan dia keluar. Permaisuri di dampingi dayang-dayang menuju kamar Putri Regina.
Namun apa yang mereka lihat?
kamar itu kosong, dan berdebu. Itu artinya cukup lama ruangan itu tak berpenghuni.
Dayang pengasuh segera di panggil, untuk di mintai keterangan.
Maka dari pengakuan itu, terungkaplah jika putri Regina hanya sempat 3 hari, terkurung di dalam kamarnya. Putri Regina telah melarikan diri.
Raja terperangah, tak mengira jika putrinya senekad itu. Ingin menghukum dayang asuh pun tak berguna.
Sebab hanya membuang waktu. Karena yang terpenting sekarang adalah, mereka harus mencari keberadaan putri, dalam keadaan hidup atau mati.
Seluruh pasukan yang tersisa di kerahlan untuk mencari keberadaan sang putri. Raja ingin mengutus dua putra mahkotanya untuk mencari keberadaan adik mereka tersebut. Tetapi tak mungkin. Sebab batas wilayah kerajaan mereka kini tengah di kepung musuh, untuk merebutkan daerah perbatasan.
Datang kabar dari para pengawal, jika putra keduanya, tengah dalam perjalanan menuju istana. Dengan keadaan luka parah. Putra sulung yang masih tersisa di medan perang, pun hanya bermodal taktik dan persembunyian agar tak tekena amukan musuh.
Raja ambruk, usianya yang telah lapuk di makan usia tak sanggup menerima kenyataan akan keadaan putra keduanya, yang hampir sekarat di tandu pulang ke istana.
Satu purnama berlalu kembali, istana Mangesha masih dalam suasana suram, sedih tak berujung. Sebab, belum ada mendapat berita baik dari medan laga.
Hingga pada suatu hari, tampak dari kejauhan tampak ratusan pasukan berkuda berbondong menuju istana Mengesha. Di pimpin oleh pangeran Carlo Eldescobio. Menunggang kuda dengan gagahnya, bersama seorang putri yang lemas di belakangnya.
Raja terperangah heran. Mengapa ada sebuah tandu di belakang pasukan tersebut. Rupanya di dalam tandu itu, ada Reino Alroy Allison. Yang berwajah pucat, terkena panah beracun dari pihak musuh.
"Panglima... Apa yang terjadi dengan putra dan putriku?" tanya Raja tak sabar.
"Ampun baginda raja. Pangeran Reino terkena panah beracun. Namun, sudah di berikan penawarnya oleh, tabib kerajaan yang di bawa oleh Pangeran Carlo." Pandangan mata baginda raja tertuju pada pangeran Carlo.
"Ampun beribu ampun atas kelancangan hamba, paduka raja. Sebelum hamba menjelaskan. Ijinkan tuan putri di beri minum. Di perjalanan kami kehabisan persediaan air. Sehingga tuan putri lemas."
"Dayang...." Perintah Raja Allison Mangesha. Tanpa perintah lanjutan dari sang raja, para dayang sudah mengerti akan maksud perintah baginda raja.
Putri Regina segera di papah masuk untuk segera di tangani.
"Ampun atas kelancangan hamba paduka raja. Ijinkan hamba menyampakan selamat untuk putri yang berhasil memenangkan perang di daerah perbatasan." Ungkap pangeran Carlo setelah semua pasukan telah di ijinkan duduk juga di suguhi beraneka kudapan.
"A...aapa yang pangeran maksudkan?" Raja tiba tiba gagu. Tak mengerti dengan maksud yang pangeran Carlo sampaikan.
"Awalnya hamba hanya sedang berburu, Namum di tengah pemburuan justru bertemu dengan tuan putri yang gagah berani. Di sanalah kami saling bertukar pengalaman strategi berperang. Dan putri baginda adalah putri yang cerdas, tangguh dan cantik. Kali ini hamba ingjn mengulangi lamaran hamba untuk menjadikan tuan putri Regina Allison menjadi permaisuri hamba." Lagi lagi pangeran Carlo melamar sang putri.
Tamat