Langit jingga bertabur gumpalan putih nan indah bergantung di cakrawala, menunggu kedatangan malam merah mencekam biru membeku gelap dan bisu.
“Mengapa dikau tak duduk dan menikmati pemandangan ini bersamaku?” Aku hanya menggeleng.
“Sahaya sudah merasa bahagia hanya dengan berdiri dibelakang mas”
“Apakah terasa tidak nyaman hidup bersamaku?”
“TIdak, saya sangat bahagia, mas”
Kupeluk lalu kubenamkan wajahku dilehernya, menikmati aroma yang menggelitik indra, membius dan membawaku kembali pada masa indah yang begitu membekas. Kurasakan gengaman hangat membalas perlakuanku, sebuah tangan yang begitu kasar namun membawa rasa aman disetiap sentuhannya.
“Mas mungkin tidak sadar, tapi diri ini begitu cinta hingga rela memberikan segalanya hanya untuk mas”
“Saya sangat menyesal”
Dadaku terpukul hanya dengan beberapa kata.
“Apa yang membuat mas menyesal?” Suasana menghening, membuat diriku semakin membeku dalam kebingungan. Lidahku keluh tak dapat bersuara.
“Seandainya aku meminang bukan membeli mungk-“
“Sudah mas, saya bahagia tidak perduli perkataan orang kita punya mempunyai buah kasih yang harus dijaga dan diayomi, jadi masa lalu tidaklah lagi menjadi penting,” Aku semakin mengeratkan pelukanku padanya ingin menyampaikan segala rasa yang tidak dapat diungkap dengan kata.
“Meski aku seorang mantan kaigun (tentara jepang)?”
“Saya sangat menyayangi mas yang sekarang”
“Yang dulu?” Dan lagi, ia membuatku pikiranku kembali terbang kemana-mana. Lalu ia berdiri dan memegang kedua tanganku tapi aku tak kuasa menatap kearah wajahnya.
“Ini sudah 12 tahun, dan kau masih begitu elok, bahkan sikapmu masih mempesona sedari dulu”
“Ahh, mas,” keluhku yang hanya dibalas senyum gagah darinya, kemudian dikecupnya keningku.
Terasa hangat membuatku tidak ingin pergi dari detik-detik yang berharga ini.
“Saya harus pergi, waktu makan sudah datang”
“Baik, jagalah diri mas,” aku hanya dapat mengamati suamiku yang berjalan pergi bersama tenggelamnya sang mentari. Dengan rasa cemas aku melepas kepergiannya.
Aku dulunya hanya seorang anak keturunan pribumi yang bekerja pada seorang tuan tanah. Suatu hari aku bertemu seorang tentara jepang yang sedang melakukan inspeksi pada tempatku bekerja, dan aku tak pernah menyangka tepat keesokan harinya ia membeliku sebagai seorang budak.
Aku benar-benar membenci kedua orang yang menjualku hanya demi beberapa gulden, dan akhirnya aku harus dengan berat menelan bulat-bulat kenyataan pahit yang harus kuterima saat itu.
Kupikir aku hanya akan berakhir sebagai Jugun Ianfu layaknya beberapa kawanku. Tapi tidak, tuanku mencintai dan begitu baik padaku, ia mengajariku membaca, menulis, berbicara jepang dan berbagai hal yang benar-benar merubah kodratku yang semula hanya seorang pribumi.
Seusai jepang menyerah ia keluar dari militer dan menetap bersamaku, dan ditahun itu pula kami akhirnya menikah dan memiliki seorang anak meski akhirnya aku harus menerima sebuah persyaratan darinya.
.
Keadaan begitu gelap hanya cahaya bulan dan sebuah lilin menerangi kamarku, aku terbangun mendengar suara-suara langkah kaki mendekat kearah pintu. Keadaan seakan membeku ketika sebuah bayangan muncul akibat cahaya bulan yang masuk melalui sela-sela ventilasi dan jendela.
Timbul wajah yang tidak kelihatan bentuknya memunculkan sosoknya dari balik pintu mengintip kedalam ruanganku.
“Nak, mengapa kau terjaga?”
“…”
“Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau sudah cukup besar untuk tidur sendiri”
“Ibu, saya ketakutan”
Ia berlari kecil lalu masuk kedalam selimut dan memelukku. Ia sedikit terisak, nafasnya tidak beraturan, badannya bergetar kuat, dan tangannya mencengkram tubuhku seakan tidak ingin ia lepas.
“Ibu, bukankah ayah terlalu menakutkan”
“Tidak kok”
“Diruang bawa-“
“Bukankah kau dilarang untuk kesana, berapa kali harus ibu bilang!”
“Maaf bu, tapi aya-“
“Sudah, ayahmu itu orang paling baik”
“…”
“Jangan sekali-kali kau menjelek-jelekkan ayahmu”
Perasaan aneh kembali merasuki diriku, seakan dihujam ingatan-ingatan yang datang entah darimana badanku mengejang seakan disengat listrik.
“A-da apa bu?” ucapnya parau, sepertinya aku telah membuatnya semakin ketakutan. Tapi meskipun ia anakku harusnya ia sadar betapa baik ayahnya dan bukannya mengatakan hal yang tidak-tidak.
“Tidak nak, lekaslah tidur hari sudah malam”
Aku terdiam sejenak dan teringat kejadian kemarin.
.
Malam itu bulan tidak bersinar, terhalang karena sang hujan datang begitu lebat. Keadaan tidak begitu gelap karena ada lilin dan kilatan sang petir yang datang menerangi ruanganku.
Aku yang sedang duduk termenung menunggu suamiku datang, tak kunjung tenang, terganggu disetiap detik oleh sebuah rasa yang begitu menyayat tubuh.
Sebuah bentuk rasa cemas yang sangat tidak mengenakkan hati, lalu dikejutkan suara ketukan pintu yang digedor begitu keras.
Dengan segera aku pun membuka pintu dan kudapati anakku yang bergetar dengan segera memeluk lututku.
“Kau takut petir?”
“Ti-tidak bu, tapi bukan itu”
“Lantas, hal apakah yang membuatmu ketakutan,” ucapku perlahan berusaha menenangkan sambil megusap-usap kepalanya.
“Ada sesuatu dilantai ba-wah bu” Kekhawatiranku kembali datang, pikiranku seakan berlari-lari entah kemana memikirkan hal-hal terkait sesuatu yang ada dibawah.
Apa yang harus kuperbuat?
“Nak, apapun yang terjadi jangan turun kebawah”
“Ibu, jangan tingalkan saya sendirian”
“DIAM” ucapku pelan namun dengan nada yang begitu kasar.
“I-bu,” tangisnya pecah tapi ada hal yang lebih penting, aku harus segera turun kebawah.
Akhirnya akupun memaksa melepaskan kakiku dari pelukan anakku, ia terlempar agak jauh. Dengan cepat aku memacu lariku berlari menuju tangga, meski rasanya tubuh ini begitu berat kakiku masih dapat berlari.
Kupijak tangga satu persatu turun secara cepat namun dengan berhati-hati. Kulihat bayangan yang begitu besar muncul diruang tengah.
“Mas, kaukah itu?”
“Tidak, jangan mendekat”
Apakah mataku sudah salah?
Kemanakah sosok tampan, harum nan baik hati itu?
Mataku membulat, kulihat sosok berkulit putih pucat berkerut, kepala yang botak tidak ditumbuhi rambut, beserta gigi dan cakar panjang yang terlihat begitu tajam.
Aku berjalan mendekat secara perlahan,
“Aku sudah gagal”
“Tidak mengapa mas, dan tolong lihat kearahku”
“Tidak jangan liha-“
Tapi baru beberapa saat terdengar terbanting jatuh tebanting-banting ditangga. Mataku membulat mendapati anakku yang terbentur keras kedinding. badanku membeku tapi bukan karena anakku.
Kulihat mata sesuatu itu memerah dan berkata: “Bunuh aku, sebelum semua semakin parah,” Ucapannya membuatku ketakutan wajah yang mengerikan itu melirik kearah anakku.
“Jaga janjimu, dan selamatkan dia”
“Tidak, kita berdua masih bisa bersama”
“lupakan aku, Abaya”
Malam itu berakhir dengan sebuah tikaman kasar yang kulayangkan pada monster perusak kebahagiannku, tapi entah mengapa aku hanya dapat tersenyum sambil membawanya ke tujuan yang tepat. Malam yang begitu mencekam sekaligus menyayat hati.
.
“Ibu, mengapa kau menangis?”
“Tidak nak, ibu hanya teringat kejadian dulu”
“Kejadian apakah yang menganggu batinmu, ibu?”
“Jika saja ayahmu mau menerima mayatmu yang sudah ibu siapkan untuknya, bukankah ia tak harus mati dan terkurung bersamamu di ruang bawah”
Tapi tunggu, siapakah sosok yang bersamaku saat ini?
Author's note : Sebenernya gk mau bahas ini, tapi kurasa gk bakal ada yg paham cerita sebenarnya. comment klo tau cerita aslinya. aku tertarik ngeliat seberapa perhatian dan pinternya pembaca disini.