Masa muda? Masa untuk bersenang-senang? Mencoba beberapa hal baru? Mencari bakat dan minat? Atau masa berpetualang tentang cinta?
Menurut beberapa orang mungkin masa muda adalah seperti itu. Namun berbeda dengan ku,
masa muda ku adalah masa terpuruk hidupku.
Mimpi dan keinginanku, aku pendam jauh di lubuk hati, tuntutan orang tua yang menginginkan ku untuk menjadi anak yang sukses menurut pemikiran mereka.
Bukankah sukses itu memiliki banyak cara sendiri? Berbeda orang beda pula cara Tuhan memberikan kesuksesan bagi setiap hambanya.
Kehidupan strict parents membuatku haus akan kebebasan. Selalu berusaha berbohong demi bisa menikmati udara segar diluar.
Pikiranku penuh dan juga jenuh setiap hari dihadapkan dengan buku yang tak main-main tebalnya. Belajar belajar belajar itulah pekerjaanku setiap harinya.
Hubungan keluarga ku memang terlihat begitu harmonis, namun tidak tahu saja didalamnya penuh dengan tekanan, jangankan orang lain, orang dalam pun tak ada satupun yang mengerti diriku.
Bukan karena tidak pernah mencoba memberi tahu mereka, namun setiap kali aku memberi tahu bagaimana keadaan mentalku, mereka semua seolah meremehkan hal itu. Ibadahnya dikencengin, jangan main hp terus, kurang khusu ibadahnya, itulah yang selalu mereka ucapkan kepadaku.
Aku selalu merasa bahwa masalahku ini tidak seberapa dibandingkan masalah yang orang lain hadapi, aku sadar setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Namun pikiran itu selalu terhalau dengan kalimat, 'Hidup kamu mah enak, semua sudah tersedia, sedangkan aku..' Bukannya membantu menenangkan hati yang gundah, namun malah menambah rasa kurang bersyukurku.
Hingga pada akhirnya, setelah acara kelulusanku, aku memberanikan diri untuk kabur dari rumah, rumah ini bukan rumah impianku, aku mencoba mencari kebahagiaan ku diluar sana. Tak bisa dipungkiri rasa rindu kepada keluarga tetap saja hinggap di hatiku.
1bulan hidup di kota besar, memberiku sedikit kebahagiaan, aku bisa merasakan definisi masa muda yang sesungguhnya, aku bisa mengeksplore beberapa hal yang tidak bisa aku temui di dalam rumah.
Satu pelajaran yang aku dapatkan, seburuk apapun keluarga mu, akan tetap menjadi keluarga.