"Ayo bawa masuk ... aku akan membantu membalut lukanya," bisik Elena pada 2 orang prajurit yang baru saja kembali dari perbatasan.
Elena bukanlah seorang tenaga medis kerajaan, dia yang dalam kesehariannya adalah seorang putri yang selalu tampak anggun dan lemah lembut , wajahnya cantik, kulitnya seputih susu, dengan bola mata sebening kristal.
Elena, satu-satunya putri kerajaan Abony.
Putri kesayangan Raja Kala dan Ratu Orlin.
Bagi sang penguasa kerajaan, Elena adalah sebuah pigura kaca yang sangat mudah retak. Hal itu karena kesehatan sang putri yang buruk. Itulah sebabnya Raja dan Ratu sangat mengawasi setiap kegiatan Elena.
🔖🔖🔖🔖🔖
Seminggu terakhir, daerah perbatasan kerajaan Abony terus diserang oleh kerajaan Haidee.
Dari yang Elena dengar, diduga ada seseorang yang mengadu domba diantara 2 kerajaan terbesar pada masa itu.
"Tidak, aku tak akan pernah mengutus putriku untuk bernegosiasi dengan kerajaan Haidee," ujar Raja Kala dengan penuh amarah.
Bagaimana tidak, baru saja ia mendapatkan kabar dari panglima perangnya jika sang putri yang sangat ia jaga diminta untuk datang ke perbatasan dan bertemu dengan panglima perang yang sudah menewaskan ratusan prajuritnya.
"Tapi ... hanya ini satu-satunya cara, Yang Mulia."
Panglima perang yang bernama Achiles, yang tak lain adalah sepupu Raja Kala, tetap bersikeras agar Putri Elena memenuhi keinginan kerajaan Haidee.
"Tidak!" tegas Raja Kala.
"Elena tak akan kubiarkan melewati benteng ini meski hanya sejengkal," lanjutnya.
Meski harus kehilangan tahta bahkan nyawanya sekali pun, tak akan ia biarkan sang putri keluar dari benteng kerajaannya.
🔖🔖🔖🔖🔖
Malam hari, dengan mengendap-ngendap Elena menuju ke ruang kerja Panglima Achiles.
"Pa-pa-paman," serunya setengah berbisik.
"Elena?"
"Ya, ini aku paman," ucap Elena sembari melepas kain yang menutupi kepalanya.
"Ada apa kau menemuiku? jika ayahmu tahu, leherku akan menjadi taruhannya," ucap Achiles.
"Paman, maafkan aku ... tapi aku mendengar semua pembicaraanmu bersama ayah," ucap Elena ragu.
Kening Achiles mengernyit. "Lantas?"
"Aku- aku- aku akan melakukannya, Paman."
"Melakukan apa?" tanya Achiles memancing jawaban Elena.
"Aku akan pergi menemui panglima perang kerajaan Haidee. Aku akan melakukannya jika memang hanya itu satu-satunya cara untuk menghentikan peperangan," ujar Elena meyakinkan Achiles.
"Lalu ayahmu?"
Elena terlihat berpikir sejenak. "Aku melakukan ini demi rakyatku dan juga karena aku sangat menyayangi ayah, Beliau pasti akan mengerti."
Achiles bungkam, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
"Besok malam, akan ada pemberangkatan prajurit lagi ke perbatasan. Kau pasti cukup pintar untuk bisa menyusup ke dalam barisan para prajurit."
Achiles tak lupa memberikan baju zirah untuk membantu penyamaran Elena.
Elena mengangguk tanda ia mengerti rencana yang telah disusun oleh pamannya.
Senyuman menyeringai Achiles mengiringi langkah Elena yang perlahan menjauh.
🔖🔖🔖🔖🔖
Keesokan harinya, sejak pagi Elena terus bermanja pada Ayah dan Ibunya.
Elena menghabiskan banyak waktunya untuk bercengkrama dengan orang tuanya.
'Bisa saja ini adalah kebersamaan kami yang terakhir,' batin Elena membuatnya sedih.
"Ayah, ibu, terlepas dari aku yang seorang putri, aku beruntung terlahir menjadi putri kalian. Seandainya di kehidupan berikutnya aku diizinkan memilih, maka aku akan tetap memilih menjadi putri kalian."
Malam harinya, Elena sedang menyiapkan beberapa barang kebutuhannya saat Ratu Orlin tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Apa maksud semua ini Elena?"
"A-aku ... A-aku ..."
Tanpa Elena jelaskan, ibunya sudah tentu tahu apa yang tengah di lakukan putrinya.
Sontak Ratu Orlin melepaskan kalung berliontin berlian yang ia pakai.
"Kalung ini pemberian dari mendiang ibuku saat aku hendak menikah dengan ayahmu. Sekarang akan kuberikan padamu agar kamu mengingatku dalam setiap langkahmu, wahai putriku." ujar Ratu Orlin.
"Terima kasih Yang Mulia, terima kasih ibu ..."
🔖🔖🔖🔖🔖
Elena berhasil lolos memasuki rombongan prajurit. setibanya di perbatasan bersama Achiles, ia menemui perwakilan dari dari kerajaan Haidee.
"Adolf ... ini aku berhasil membawa Elena untukmu," ucap Achiles.
"Kala, Raja bodoh itu akan semakin mudah di kalahkan jika ia sedang terguncang," sambung Achiles.
"Pa-pa-paman, apa maksudmu?"
"Ku rasa aku tak perlu berpura-pura baik lagi," ujar Achiles disertai tawanya.
Kening Elena mengernyit, "Jangan bilang jika pengkhianat itu adalah dirimu, Paman?"
Bungkamnya Achiles menjadi jawaban yang sulit Elena percayai.
Fakta jika pamannya sendiri adalah pengkhianat yang sesungguhnya.
Belum cukup keterkejutannya, kini Elena kembali dibuat tercengang saat pria yang ia duga adalah panglima perang kerajaan Haidee berbalik dan menatapnya dengan raut wajah tak percaya.
"Paman Damaresh, kamu kah itu? apa kamu masih mengingatku?"
"Lena?" balas pria yang dipanggil Damaresh oleh Elena.
"Jadi kamu sang putri yang akan jadikan tawanan oleh Achiles?" tanya Adolf.
"Tawanan?" ulang Elena tak percaya jika semua ini adalah rencana Achiles, paman yang ia percayai.
Tidak hanya Adolf dan Elena dibuat terkejut.
Achiles pun sama terkejutnya, tak ia sangka jika Elena bisa mengenal Adolf.
Usahanya mengadu domba kedua kerajaan terancam gagal. Bahkan kini rencananya menyingkirkan Elena yang selangkah lagi akan berhasil juga kemungkinan besar akan berakhir sia-sia.
Adolf Damaresh, seorang panglima perang termuda dari kerajaan Haidee.
Setahun yang lalu, Adolf sempat mengalami kecelakaan saat sedang berburu di hutan. Beruntung ia diselamatkan oleh seorang gadis yang tak lain adalah Elena.
Saat Adolf menawarkan satu kantong penuh emas sebagai ucapan terima kasih, Elena menolak dan meminta Adolf untuk mengajarkannya cara menggunakan pedang sebagai balasan dari bantuannya.
Semenjak saat itu Adolf dan Elena berlatih bersama di hutan, hingga Adolf mendapat tugas dari kerajaan dan kegiatan latihan keduanya harus diakhiri.
Lalu, takdir kembali mempertemukan keduanya dengan cara yang tidak biasa.
Pada akhirnya, Adolf membantu Elena menangkap Achiles yang selama ini sudah mengadu domba kedua kerajaan.
Dengan gagah berani, Adolf mengantarkan Elena kembali ke kerajaan Abony juga menjelaskan semua yang telah terjadi pada Raja Kala.
Peperangan pun akhirnya berakhir. Kerajaan Abony dan Haidee akhirnya berdamai setelah kesalah pahaman menemukan jawabannya.
Kini kedua kerajaan bahkan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan.
Putri Elena telah membuktikan jika untuk meraih sebuah kemenangan, tidak selalu harus dengan sebuah pembalasan. Tidak juga dengan saling menjatuhkan atau saling melukai.
Putri Elena, meski bukan seorang ahli bela diri atau seorang ahli pedang, namun ketulusan hati membuat dirinya memiliki kehebatan yang tak bisa dikira.
Cukup dengan melakukan hal-hal baik setiap saat, menolong sesama, dan selalu percaya pada kemampuan yang ada dalam diri.
Terkadang ketulusan, kebaikan, dan pengorbanan di masa lampau yang akan membawamu pada kemenangan yang sebenarnya, yaitu sebuah perdamaian.
💕💕 END💕💕