Kita masih disini…
Masih menghirup udara yang sama di ruangan ini.
Entah sampai kapan kita mampu bertahan.
Tapi kita harus tetap berjuang.
Saat ini mungkin tak akan pernah kembali,
Maka nikmatilah saat ini.
Saat esok hari menjelang, maka biarkan hari ini menjadi kenangan.
Entah sudah berapa banyak puisi yang ditulis oleh Rose Clade. Sambil menunggu Ain Barreto sadar dari keadaan komanya. Kekasihnya yang sudah hampir dua minggu terbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU rumah sakit. Hasil pemeriksaan menyimpulkan bahwa Ain Barreto kanker otak dan sudah mencapai stadium akhir, tapi Rose Clade tetap percaya bahwa mujizat Tuhan dapat terjadi kapan saja, bahkan disaat manusia merasa tidak mungkin, sangat mudah bagi Tuhan untuk membuatnya menjadi mungkin.
“Aku percaya Tuhan akan memberi semua yang terbaik untuk kita. Cepat sembuh ya, supaya kita bisa mengulangi semua kejadian indah yang pernah kita lalui bersama. Aku rindu saat kita pergi kuliah dan ibadah bareng, dan juga saat-saat kita jalan bersama”. Ucap Rose Clade sambil mengelus lembut kepala Ain Barreto.
Untuk malam ini, Rose Clade memang meminta izin untuk dapat menjaga Ain Barreto hingga esok pagi. Entah mengapa malam ini, dia begitu ingin mengenang semua masa-masa yang mereka lewati bersama. Rose Clade mengalihkan pandangannya ke dinding yang ada di hadapannya dan terlihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Kembali angannya melayang mengingat perkenalannya dengan lelaki yang terbaring lemah di hadapannya tersebut beberapa tahun yang lalu. Sudah hampir enam tahun mereka berkenalan, sejak pertama kali mereka duduk di bangku SMA. Sebagai dua orang siswa yang sama-sama berprestasi, tidak jarang mereka harus bersaing, baik di dalam kelas maupun ketika mereka berkompetisi di luar sekolah. Persaingan yang sportif membuat mereka menikmati persaingan itu dan malah membuat mereka semakin dekat. Mereka saling menikmati kedekatan itu, karena kedekatan itu membuat mereka saling memberikan dukungan satu sama lain. Rasa yang tidak bisa dicegah akhirnya menghampiri, rasa simpati dan kagum satu sama lain berubah menjadi rasa sayang dan saling membutuhkan. Mereka tidak berusaha menghindar karena mereka tidak bisa berbohong kalau mereka merasakan getaran yang sama. Hari-hari semakin indah, prestasi mereka sama-sama meningkat, begitupun juga rasa sayang itu, hingga saat ini mereka duduk di bangku kuliah. Namun semua itu mulai terusik beberapa bulan yang lalu, sejak Ain Barreto mulai berubah, seakan ada yang dia sembunyikan dari kekasihnya, Rose Clade.
Ain Barreto mulai menghindari Rose Clade. Biasanya setiap hari mereka selalu terlihat bersama di kampus, namun perlahan Ain Barreto mulai jarang terlihat di kampus. Saat Rose Clade mencoba menghubungi, selalu saja tak pernah ada respon dari Ain Barreto. Sampai akhirnya, Rose Clade mengetahui bahwa Ain Barreto sudah hampir sebulan dirawat di rumah sakit. Saat pertama kali Rose Clade menjenguknya, Ain Barreto masih bisa tersenyum dan berkata, “semua akan baik-baik saja, jadi tak perlu khawatir”. Tapi, saat ini jangankan untuk berkata hal seperti itu lagi, bahkan untuk membuka matanya, Ain Barreto seakan tak mampu.
Aku hanya meminta sedikit kebahagiaanmu, Tapi bahkan kesedihan pun tak kau bagi denganku
Sambil menuliskan dua penggal kalimat tersebut, tak sadar air mengalir dari sudut mata Rose Clade.
Terima kasih untuk perkenalan yang indah…
Terima kasih untuk jadi motivator terbaik dalam hidupku…
Terima kasih untuk semua bahagia dan tawa yang ada…
Terima kasih untuk semua cintamu…
Kembali mata Rose Clade tertuju pada jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit. Tapi tak sedikitpun ia merasa kantuk, dan tak sedikitpun ada keinginannya untuk berbaring. Dia tetap memandang wajah tampan pria di hadapannya sambil memegang buku yang berisi puisi-puisi yang ia tulis selama dua minggu dia berada di rumah sakit ini.
“Kalau kamu sadar nanti, aku akan berikan buku yang berisi puisi ini untuk kamu, agar kamu tahu betapa aku sangat berharap untuk kesembuhanmu. Dan berjanjilah, kalau lain kali kamu sakit tolong jangan pernah menghindar dari aku. Kapanpun kamu mau, telinga ini selalu siap untuk mendengar setiap keluhanmu, dan pundak ini selalu ada untuk tempatmu bersandar saat rasa sakit itu menyerangmu.” Rose Clade mulai mengajak Ain Barreto berbicara.
“Aku rindu dengan mata indahmu, suara merdumu, senyum manismu, dan nasihat-nasihatmu.. aku akan tetap menunggu sampai keajaiban itu datang dan terjadi padamu.”
“Kamu tahu nggak Ain … aku sangat senang saat ini, karena aku dapat berdua dengan kamu, mengenang semua yang aku lewati dengan kamu, menulis puisi-puisi untuk kamu. Tapi aku mulai lelah dengan semua ini, tolong segera bangun dari tidurmu sebelum rasa jenuh ini benar-benar menguasai pikiranku. Sebelum harapan ini memudar…” ucap Rose Clade.
Tak sadar sudah berapa lama dia menangis dan berapa banyak air mata yang tertumpah. Rasa lelah untuk penantian ini sudah hampir mencapai batasnya. Ingin menyerah, namun ia masih tetap percaya bahwa harapan itu masih ada.
Tiba-tiba Rose Clade merasa ada gerakan lembut dan pelan yang menyentuh pipinya. Ia tersentak dan segera menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Rasa kaget, bahagia dan haru tercampur menjadi satu ketika melihat mata indah itu terbuka secara perlahan. Si pemilik mata indah menatap Rose Clade dengan lembut.
“Ain..Ain… kamu udah sadar. Terima kasih Tuhan buat mujizat ini. Terima kasih untuk jawaban atas penantianku ini. Maaf untuk harapan yang mulai goyah”. Ucap Rose Clade seraya bersyukur atas kejadian ini.
Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Ain Barreto, mereka hanya saling bertatap mata. Rose Clade dapat melihat dari mata Ain Barreto begitu banyak kata yang ingin ia keluarkan, begitu banyak cerita yang ingin ia sampaikan. Tapi Rose Clade sadar bahwa ia tak dapat memaksa keadaan untuk kembali seperti dulu. Mereka memerlukan proses untuk mengembalikan semua keadaan seperti sedia kala.
Tapi rasa bahagia itu hanya sesaat saja, tiba-tiba keadaan berubah menjadi tegang. Terlihat mesin yang menyambungkan kabel ke bagian tubuh Ain Barreto memberikan sinyal bahwa orang yang menggunakannya dalam keadaan darurat. Rose Clade tak tahu harus bagaimana, ia berlari mencari dokter di luar ruangan, berteriak meminta pertolongan. Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Ain Barreto, namun apa yang terlihat adalah bahwa dokter dan suster yang ada di ruangan tersebut sudah mulai melepas semua alat bantu yang ada di seluruh bagian tubuh Ain Barreto.
“Kami sudah berusaha, tapi kehendak Tuhan
berkata lain. semoga semua keluarga tabah menerima ini”. Ucap dokter memberi keterangan pada Rose Clade.
Dunia seakan berhenti bagi Rose Clade. Harapannya kali ini benar-benar sudah musnah. Tak akan ada lagi harapan untuk kesembuhan Ain Barreto. Di sudut ruangan terlihat dokter melihat ke arah jam tangannya dan Rose Clade pun ikut melihat jam yang tergantung di dinding ruangan. Pukul dua belas tepat. Keluarga Barreto yang baru saja tiba juga segera berlari masuk ke dalam ruangan untuk melihat orang yang di kasihi untuk terakhir kalinya. Sementara Rose Clade terduduk di lantai ruangan rumah sakit, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah mimpi, mimpi buruk yang sebentar lagi akan sirna. Tapi ini bukanlah mimpi, namun adalah benar-benar kenyataan, kenyataan yang menyakitkan yang harus ia hadapi.
“Ainn… kenapa harus membuka mata itu, kalau kamu ingin menutupnya selamanya? Kenapa tak kamu biarkan saja mata itu tertutup malam ini, namun nafas itu tetap ada selamanya?” Rose Clade merintih dalam tangisannya.
“Aku ingin menulis puisi yang terakhir untuk kamu, setelah ini aku tak akan pernah menulis puisi-puisi lainnya selamanya.” Ucap Rose Clade sambil membuka buku yang berisi puisi-puisi yang ditulisnya, seraya menahan air yang ada di sudut matanya sehingga tak jadi tertumpah membasahi pipinya.
Penantianku terjawab…
Harapanku tercapai…
Aku menyayangimu, namun tak mampu memilikimu.
Aku mengharapkanmu, namun Tuhan berkehendak lain padamu.
Aku kecewa… Aku marah…
Namun apa guna jika itu mampu
membuatmu bahagia.
Aku tak rela…
Namun keadaan memaksa.
Setiap awal akan berakhir
Setiap pertemuan akan berujung perpisahan
Tapi tetaplah percaya, setiap kejadian akan memberi hikmah.
Selamat Jalan kekasih
Bahagiaku untukmu selamanya…
Itulah puisi terakhir yang di tulis Rose Clade, setelah menyelesaikan puisi tersebut, Rose Clade meninggalkan buku itu di bangku rumah sakit dan segera bergegas meninggalkan rumah sakit.
“Terima kasih untuk cinta itu, percayalah… saat engkau bahagia di alam sana, begitupun aku akan melanjutkan kehidupanku di alam ini dengan bahagia.” Ucap Rose Clade tersenyum menabahkan dirinya dan kemudian berjalan keluar rumah sakit.
_END_