Sekali lagi, ibarat menambal perahu yang bocor, Gayatri menambal kembali luka hatinya dengan harapan lama; Haidar hanya mencintainya dan menjadikannya wanita satu-satunya. Tapi, bagaimana mungkin? Sang madu sedang hamil muda, entah sengaja atau tidak ... Puspita jadi super lengket dengan Haidar. Gayatri bisa apa?
"Wah ini keren ... rumah ini jauh lebih nyaman dari pada gubug reot Slamet yang sombong itu dan rumah bedakan yang kita tempati sebelumnya," komentar Puspita tanpa memikirkan perasaan Gayatri, saat mereka menempati rumah kontrakan yang baru di kawasan perkotaan.
"Ya, rezeki Bagas dan bayi yang kau kandung ini, sayang," balas Haidar. Gayatri tidak tahu, Haidar dapat uang dari mana, hanya ngojek tapi mampu membayar kontrak rumah di kawasan perkotaan untuk 2 tahun ke depan. Haidar hanya bilang 'dapat rezeki nomplok' saat memberikan uang masing-masing 2 juta untuk Gayatri dan Puspita.
Gayatri memakai uangnya untuk membeli kebutuhan dapur dan menyisih sebgian untuk ditabung, sementara Puspita menghabiskan 2 juta-nya untuk membeli baju dan kosmetik.
"Sisihkan uangmu untuk biaya melahirkan nanti, Puspita," saran Gayatri.
"Ah, itu masih lama ... masih 4 bulan lagi, mas Haidar pasti akan berusaha lebih keras lagi untuk itu. Hah, seandainya kamu bersedia bercerai tentu aku akan mendapat uang lebih banyak lagi," sungut Puspita.
"Bukan aku tidak bersedia bercerai, tapi mas Haidar yang tidak mau."
"Kenyataannya? Kamu masih berstatus istri tua, kan?" Puspita tidak mau kalah.
"Hm ..." Gayatri meloloskan nafasnya. Haidar janji akan membagikan nafkah lahir dan batin seimbang untuk mereka berdua, bahkan di rumah yang baru ini, Gayatri tidak lagi harus tidur sedipan bertiga seperti di rumah ayahnya dulu, atau seperti di rumah bedakan kemaren, mereka tidur di satu kamar tapi dengan 2 kasur berbeda yang hanya dibatasi gorden.
***
POV Gayatri.
Ya Allah ... kuakui taraf ikhlasku memang berada di level terendah, meski aku bisa tersenyum saat melihat suamiku bersama sang madu, masih mau mengurus keperluan mereka dengan lapang dada ... tapi berbeda saat hanya melihat sendiri bagaimana panasnya lelaki pertama dan satu-satunya di hidupku itu menggauli istri mudanya dibalik sekat. 'Mas, apa aku tidak cukup baik melayanimu di tempat tidur, sehingga kamu harus menikah lagi?
Ya, aku tahu ... yang bodoh itu aku, kenapa mau melihat adegan itu, bahkan memilih pura-pura pulas tertidur saat suamiku memeriksaku sebelum beraksi dengan Puspita. Tidak jarang, aku yang sudah tertidur, jadi terbangun karena suara ajaib hasil penyatuan mereka. Suara yang membuatku sakit sekaligus bergairah dalam waktu bersamaan, dan suamiku yang tahu gerakanku akan memenuhi keinginanku setelah urusannya selesai dengan istri muda, meski kami harus sama-sama menahan suara, karena istri muda mas Haidar di kasur sebelah tidak suka mendengar erangan kami. Belum lagi dia selalu memburu suamiku agar jangan lama-lama bermain denganku.
Di rumah 3 kamar ini aku jauh merasa lega, 1 kamar untukku, 1 kamar lagi untuk Puspita dan anakku Bagas yang sudah berusia 2 tahun mulai dilatih ayahnya tidur sendiri di kamarnya.
"Bagaimana pun, suami-istri harus punya privasi," ujar mas Haidar sambil memgedipkan sebelah matanya padaku, saat meminta tukang memasang peredam suara di masing-masing kamar tidur.
"Lho, kamar Bagas kok di pasang juga,mas? Nanti kita gak dengar kalau malam-malam dia nangis," protesku.
"Bagas baru tahap belajar tidur sendiri, jadi pintunya ya jangan ditutup rapat, dik."
"Oh ... mas, kenapa harus repot-repot keluar uang buat masang ginian, sementara ini juga bukan rumah kita," ujarku.
"Sudah, jangan dipikirin, dik. Besok mas akan minta tukangnya bikin kanopi dan teras agar tempatmu berjualan lebih nyaman dan leluasa."
"Terima kasih mas-ku." Aku refleks memeluk Haidar, mengindahkan sepasang mata yang mendelik.
"Ehm, mas ... sementara mbak Gayatri dibikinin tempat jualan, kita jadi kan bulan madu ke Bali? Eh bukan bulan madu lagi, kalau sudah isi sih baby moon, ya ..." ucapan Puspita membuatku segera melerai pelukan.
"Oh iya dik, mas baru dapat rezeki lagi. 15 juta, yang 5 juta untukmu dan 5 juta untuk Puspita. Yang bagianmu untuk membenahi tempat kamu jualan di depan dan membeli beberapa keperluan untukmu berdagang, itu merupakan bentuk dukunganku padamu. Yang bagian Puspita untuk liburan, sesuai keinginannya ... nah karena dia pergi denganku, sisa yang 5 juta lagi untuk peganganku saat pergi dengannya."
Gayatri mendengus.
"Jangan cemberut gitu, kamu tidak boleh iri, dik. Aku sudah membagi jatah kalian berdua dengan adil. Nanti kalau Puspita lahiran, giliran kita yang berlibur, ok?" Bujuk Haidar.
"Ah mas, seadil-adilnya menurut caramu tidak pernah cukup adil menurutku, karena sejak awal hati dan pikiranmu lebih condong ke istri muda. Kamu memanjakannya sementara aku yang bekerja, aku memperhatikanmu, meladeni semua kebutuhanmu tapi tetap dia yang dapat limpahan kasih sayangmu, adilnya di mana mas? Kalau uang bisa dijumlahan, barang bisa ditimbang ... tapi kadar cinta? Dengan apa kita mengetahui bobotnya?"
"Jangan berpikiran negatif," ucap mas Haidar, kala aku ungkapkan ketidakadilannya.
"Lalu yang berpikiran positif itu gimana, mas? Seperti Puspita yang bangun tidur segala sesuatunya beres, sudah kusiapkan tapi tetap saja semua yang kulakukan salah di matanya? Mas, bagaimana jika aku dan Puspita bertukar tempat satu hari saja, besok bangun tidur dia yang mengurus rumah, ngepel, nyuci, ngurus anak sambil masak untuk bahan jualan, menunggui warung hingga siang hari lalu berberes, istirahat sebentar kemudian malam hari belanja untuk keperluan besok. Dan aku leyeh-leyeh aja di kamar sambil nonton tv, nunggu makanan matang trus kalau tidak enak, rumah masih berantakan atau pakaianku tidak sempat dicuci, aku tinggal marah-marah saja!"
"Ssttt ... dik, kamu lupa kunci pernikahan poligami yang harmonis adalah ikhlas?" Haidar menanggapi keluhanku dengan suara setenang surga, dengan lembut Haidar membelai rambut yang tergerai di punggungku.
"Mas, bicara soal ikhlas ... harusnya mas tanyakan keikhlasanku sebelum mas menikahinya dulu, bukannya memintaku ikhlas setelah aku tidak punya pilihan selain menerima. Mas, kamu bisa dikatakan adil hanya jika mas bisa memilih aku saja atau dia saja."
"Maksudmu gimana, dik?"
"Ceraikan aku atau ceraikan dia mas," ujarku sengit.
"Astaga, dik ... ini keputusan yang sulit."
"Lalu apa mas pikir aku tidak sulit akibat keputusan mas menikah lagi?"
"Huh ... dasar cerewet, pantas saja suamimu lebih sayang denganku," kata Puspita sengaja memanasiku.