Salah satu bentuk kasih adalah tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ungkapan itu terdengar manis namun tetap saja pahit bila di hadapkan pada kenyataan 'harus' memaafkan kesalahan ayahnya yang sungguh tidak termaafkan oleh Gilang.
***
Gilang tersenyum getir saat mengingat kejadian 8,5 tahun lalu. Saat itu, hanya karena Hastama, ayahnya Gilang pernah bertugas di Turki selama 2 tahun dan sempat berhubungan dengan gadis Turki ... Gendhis, mamanya anti dengan segala sesuatu terkait Turki, bahkan menentang niat Gilang yang ingin kuliah kedokteran di negara indah yang berada di Benua Asia dan Benua Eropa sekaligus itu.
Selain populer dengan keelokannya negara Turki juga sangat terkenal akan teknologi canggih dalam ilmu kedokteran dan pendanaan untuk penelitian medis, hal itu yang membuat Gilang tertarik menempuh pendidikannya di Turki.
Selama 6 tahun menempuh pendidikan plus 2 tahun mengikuti pelatihan wajib untuk mendapatkan lisensi, tidak sekalipun papa dan mamanya menengok bahkan saat Gilang wisuda, ia hanya di dampingi Hazel Aymelek, kekasihnya yang merupakan adik tingkatnya di fakultas Kedokteran. Sebenarnya Gilang sempat berniat akan tinggal di Turki saja, agar tidak terpisah dari Hazel namun orangtuanya, terutama mamanya lagi-lagi menentang. Terpaksa Gilang pulang ke Indonesia meninggalkan hati dan separuh hidupnya di Turki.
***
"Lang, ternyata aku hamil." Lapor Hazel Aymelek, yang merupakan gadis keturunan campuran Indo-Turki itu padanya.
"Alhamdulillah. Sayang, aku akan segera ke situ untuk menikahimu."
"Tapi aku tidak mau."
"Hah? Kenapa kamu tidak mau kunikahi?"
"A-aku mau menikah di Indonesia saja, namun sebelumnya bantu aku mencari keberadaan papaku. Mamaku sudah meninggal, setidaknya aku ingin papaku hadir dan merestui pernikahan kita nanti."
"Baiklah, tapi apa kandunganmu tidak apa-apa jika naik pesawat dalam waktu yang lama, sayang?"
"Jangan lupa aku ini calon dokter, aku akan mempersiapkan segala sesuatunya agar kami mendarat dengan selamat di negaramu."
"Kami? Kamu dan ..."
"Aku dan anak kita, Lang."
"Oh, hehe ... baiklah, aku menunggu kedatangan kalian, sayang."
***
Satu minggu kemudian, Hazel Aymelek benar-benar mendarat dengan selamat di pelukan Gilang.
"Kamu tinggal di apartemenku saja ya, nanti kalau kamu sudah tidak jet lag lagi aku akan membawamu bertemu orangtuaku."
"Secepat itu, Lang? Aku takut mereka tidak menerimaku, bukankah kamu pernah bilang kalau ..."
"Ah, sudahlah. Kehamilanmu akan jadi tiket emas menuju kebahagiaan kita, sayang," Potong Gilang.
"Hm, baiklah. Aku sudah mengirimkan foto papaku untuk detektif yang kau bilang itu, apa ada kabar mengenai keberadaan papa kandungku?"
"Belum. Detektif yang kusewa itu kesulitan mencari identitas orang hanya bermodalkan clue nama dan selembar foto yang buram. Tidak ada petunjuk ayahmu tinggal di mana, kerjaannya apa, suku apa. Kamu tahu kan, Indonesia ini luas dan terdiri dari banyak pulau."
"Oh, aku juga tidak tahu, tapi kata mama papaku itu kaya dan terpandang di sini. Papa membelikan rumah, mobil dan mencukupi kebutuhan kami. Bahkan saat mama sakit hingga meninggal papa yang mengurus semuanya lewat orang kepercayaannya."
"Berarti orang kepercayaan itu dulu yang harus kamu temui, sayang."
"Aku tidak tahu, keberadaannya sama misteriusnya dengan papa, dan mamaku bilang, hanya 1 Hastama yang tau kenapa dia memberiku nama Hazel Aymelek ... ya, nanti tinggal kita tanyai saja orang yang bernama Hastama itu."
"Huh ... di Indonesia ini, orang yang bernama Hastama banyak, termasuk papaku juga bernama Hastama. Apa kita menemui orang bernama Hastama lalu menanyakan apakah kenal Bechara dan Hazel Aymelek, satu persatu? Kamu keburu melahirkan sebelum menikah dan kita gak bakal dapat siapa ayah kandungmu, sayang. Oh iya, apa kamu mau menanyakan pada papaku apakah kenal Bechara atau tidak?" Gilang mengatakan kalimat terakhir sambil bercanda.
Hazel terkikik, "Boleh juga, tidak terbayang betapa uniknya punya ayah dan mertua sama-sama bernama Hastama."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Aku mau kembali ke rumah sakit, aku pulang sebelum jam 5 sore," pamit Gilang, melabuhkan kecupan di kening Hazel.
Senyum Gilang mengembang, kedatangan Hazel Aymelek ke Indonesia menambah skor bahagianya melonjak ke level sempurna. Sama seperti keputusannya kuliah dulu, kali ini ia akan memutuskan tetap menikahi Hazel Aymelek meski mungkin mama akan menentang. Tapi Gilang tidak peduli, toh ia punya papa yang juga pernah terpikat gadis Turki dulu, dan sekarang ... ibarat buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Gilang juga jatuh cinta pada gadis Turki. Selera ayah - anak gak jauh-jauh amat ternyata.
***
Hastama terperangah saat melihat Gilang datang membawa seorang gadis. "Siapa yang kamu bawa itu, Lang?" Tanya Hastama dengan mata yang menatap lekat bola mata berwarna hazel itu.
"Calon istri," jawab Gilang santai.
"Apa? Cantik sekali, ketemu di mana, Lang?" Timpal Gendhis antusias.
"Turki, dia adik tingkatku."
"Apa?" Sambut Gendhis dengan suara nyaring.
"Please ma, cool dong. Aku membawa kabar baik untuk kalian. Tidak peduli apakah kalian setuju atau tidak, kami akan segera menikah karena ... Hazel Aymelek sedang mengandung benihku."
"Apa?" Kali ini Hastama berujar dengan suara nyaring. Bukan terkejut karena mendengar gadis itu sudah hamil duluan tapi perihal nama yang dimiliki gadis itu.
"Astaga kalian ini kenapa sih, kasihan kekasihku melihat reaksi kalian yang seperti ini."
"Duduk dulu," perintah Hastama.
Gilang dan Hazel menempati sofa yang berseberangan dengan Hastama dan Gendhis.
"Nak ... apa benar kamu sedang hamil?" Tanya Hastama pelan-pelan, tampak sekali kalau beliau sedang mengelola emosinya.
"I-iya pak. Usia kandunganku memasuki 3 bulan."
"Berarti, kamu mulai hamil saat Gilang kembali ke Indonesia?"
"I-iya, pak."
"Hm ... sayangnya, kalian tidak bisa menikah," ujar Hastama seolah setuju dengan istrinya yang langsung tidak respek dengan Hazel saat tahu gadis itu berasal dari Turki.
"Aku sudah bilang, kami segera menikah dengan atau tanpa restu kalian," tegas Gilang.
"Gilang ini bukan perkara restu tapi kalian sungguh tidak boleh menikah."
"Aku tidak peduli, pa!"
"Hah, baiklah ... sekarang aku tanya, Hazel Aymelek apakah ibumu bernama Bechara?" Tanya Hastama.
Dheg! Gilang dan Hazel saling bertatapan heran.
"Iya, pak. Mama saya adalah Bechara."
"Oooh, jadi kamu ini anak pelakor itu!" Ucap Gendhis dengan nada gusar.
"Pa, jangan bilang kalau ..." Gilang menggantung ucapannya, berharap isi pikirannya berbeda hal yang akan didengarnya.
"Maaf. Maafkan kesalahan papa, ma ... Gilang, aku dan Bechara dulu menikah secara siri dan ... Hazel Aymelek, adalah buah pernikahan kami. Hazel adalah putriku, darah daging yang kuazani dan kuberikan nama yang cantik, nama yang bermakna si malaikat bulan dengan manik mata indah berwarna hazel," tutur Hastama.
"Sialan kamu, pa. Kamu menodai pernikahan kita dan benar dugaanku kalau kamu punya anak dengan wanita Turki itu. Huh, namanya bangkai mau disembunyikan serapi apa pun tetap ketahuan juga," emosi Gendhis meletup-letup.
Hazel melepaskan genggaman tangan Gilang, ia bangkit berdiri, "Maaf semuanya. Papa, bolehkah aku memelukmu?" Pinta Hazel pada Hastama.
"Tentu nak," Hastama mengabaikan mata melotot istrinya dan merengkuh Hazel ke pelukannya.
"Aku merindukanmu selama 23 tahun pa, selama itu aku ingin memelukmu seperti ini. Dulu ibu selalu menceritakan papa adalah pria yang sangat mencintai kami, namun saat usiaku baru 2 bulan papa harus pergi, kembali ke pelukan orang-orang yang juga papa cintai. Namun begitu, pa ... aku mau berterima kasih, papa sangat bertanggung jawab atas hidup mama dan aku," ujar Hazel membuat Gilang dan mamanya terharu.
***
"Kamu mau ke mana?" Tanya Ben saat melihat Gilang berkemas."
"Turki."
"Kamu pikir dengan pergi ke Turki bisa menyelesaikan masalahmu? Hah, tidak usah kemana-mana, hanya membiarkan masalah itu berlarut-larut tanpa penyelesaian juga termasuk menghindari kenyataan, Lang."
"What ever-lah, memangnya aku membiarkan masalah berlarut-larut apa? Urusan papa dan mama, biar mereka selesaikan sendiri. Aku masih berduka, perlu waktu buat self healing. Ben, kamu tahu aku ini susah jatuh cinta tapi sekalinya jatuh cinta malah pada gadis yang satu nasab denganku dan haram kunikahi ... lalu setelah kenyataan terungkap, wanita penguasa hati yang kucintai itu pergi bersama calon anak kami untuk selama-lamanya," cakap Gilang dengan mata berair, ia menatap langit-langit kamarnya, mengenang kejadian malam itu. Usai memeluk Hastama, ayah kandungnya dan meminta maaf, Hazel pergi keluar rumah, berlari kencang tanpa tahu arah dan tanpa sempat dicegah oleh Gilang. Hingga sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghentikan langkah dan nafas Hazel dalam satu ketika.
"Katakan saja aku ingin menghindari kenyataan, tapi bagaimana pun, semua ini sulit kuterima, Ben," sahut Gilang pada sahabatnya.