Ziya Asyifa sedang memperbaiki penampilannya didepan cermin dikamar asramanya kini, ini merupakan hari pertamanya di sekolah menengah atas.
"Ziya ayok cepetan, yang lain dah pada kumpul tuh di lapangan upacara!", seru Erli teman sekamarnya Ziya. Ziya mengiyakan lalu bergegas memakai sepatu tak lupa membawa tas yang berisi satu buku dan satu pena saja, karna ini baru hari pertama masuk sekolah. Yang mana merupakan hari pertama masa orientasi siswa.
Setelah masuk barisan upacara, teman-teman barunya saling menyalami untuk berkenalan satu sama lain.
"Siapa nih yang mau maju jadi perwakilan barisan kita untuk memimpin maju, buat lapor ke komandan upacara?" tanya salah satu teman barisan Ziya, Ziya tampak tidak terlalu peduli dengan itu. Baginya sama saja siapapun yg mewakili barisan mereka.
"Ziya kamu aja ya, yang maju. Yang lain ga pada mau." pinta salah satu teman baru yang bernama kira. karna satu barisan mereka hanya siswa perempuan semua.
"okey, ga masalah kok." Ziya mengiyakan, lagian ini hanya perwakilan barisan aja kan? pikir Ziya, dalam hatinya.
"eh eh liat deh yg jadi komandan upacaranya, cakep banget ga sih kyaaaaa.." bisik-bisik histeris salah satu siswi,
"eh udah gitu badannya atletis banget lagi, dia atlit bukan ya?.." yang lain pun ikut menimpali,
"iya deh kayaknya, aku terpesona deh ini omg he is handsome boy," yang bernama lida terlihat paling heboh,
"Dia siapa sih namanya?" yang lain ikutan kepo,
"katanya namanya kak Arafat, dia ketua OSIS lho. terus dia juga atlet volly ibukota yang paling cakep, dia idola para cewek-cewek banget tau," sambung yang lain memberikan informasi antusias.
"udah weh udah jangan malah ngegosip, upacaranya mau dimulai tuh." Ziya menghentikan acara gosip yang tidak pada tempatnya itu. Teman-temanya segera sadar setelah ditegur Ziya.
Ziya terlihat cuek tidak peduli sebenarnya, dengan apa yang diobrolkan teman-teman barunya itu. Dia hanya ingin fokus memperhatikan jalannya upacara.
Hingga tiba saatnya, tiap-tiap barisan memberikan laporan sambil memperkenalkan diri kepada komandan upacara yang dibicarakan teman-teman Ziya dibelakang tadi. Ziya beserta perwakilan barisan yang lain maju untuk memberikan laporan,
"Lapor komandan, saya Ziya asyifa melaporkan barisan upacara yg saya wakilkan dengan beranggotakan 25 orang siap mengikuti upacara." Ziya melapor, sang komandan upacara tersenyum simpul sambil mengangguk.
Singkat kata upacara selesai dilaksanakan, para siswa baru diarahkan menuju satu gedung yang ruangannya yang cukup besar dan muat untuk ratusan orang.
Ditengah perjalanan, ketika Ziya bersama Erli beriringan tiba-tiba kakak kelas yang menjadi komandan upacara tadi menghampiri Ziya.
"Ziya ya, boleh bicara sebentar?" pintanya, Ziya hanya mengangguk mengiyakan lalu mengikuti kakak kelasnya kedepan koridor.
"Ada apa ya kak?" Ziya bertanya, pasalnya dia belum mengenal sosok yang ada dihadapan nya kini.
"Hai kenalin, namaku Arafat Habsy. Kemarin aku lihat kamu pas pertama kali datang ke asrama, pakai kerudung merah kan?" tanya pria itu, Ziya mengangguk membenarkan.
"Lho kakak ada lihat aku pas datang kah?" Ziya balik bertanya,
"iyalah, siapa yang ga lihat pas kamu keluar dari mobil kemaren terus pake kerudung merah paling manis gitu, bukan hanya para pengisi asrama laki-laki yang melihatmu, aku lihat para pengisi asrama perempuan juga melihatmu kok." jawab Arafat lugas.
"Ziya, mau ga kamu jadi pacar aku?" ungkap Arafat tiba-tiba yang membuat Ziya melotot saking kagetnya. Bagaimana tidak, mereka baru aja kenalan barusan. Dan cowok ini sudah menembak dia sekarang, Ziya menganggap ini pasti hanya sebuah lelucon atau kalau gak dia dijadikan barang taruhan oleh kakak kelasnya ini yang kata teman-temannya begitu populer itu.
"Kak ini.. kita aja baru kenalan barusan, masa kakak dah ngajak aku pacaran aja? jangan becanda kak, kakak disini cowok populer lho kelihatannya. Banyak gadis lain yg lebih cantik dari aku, dan lagi aku siswi baru disini. Nanti gimana dengan para penggemar kakak kalau tahu ini?" Ziya bertanya kurang yakin.
"Ziya, aku udah suka sama kamu sejak pertama lihat kamu kemaren. Kamu tipe aku banget, terus aku juga lihat kemarin mata para penghuni asrama cowok terlihat jelas mengagumi kamu. Aku takut keduluan sama yang lain." jelas Arafat mengungkapkan apa yang ia rasa dan lihat kemarin.
Ziya sungguh bingung, "kak kayaknya udah harus kumpul deh dikelas yang tadi kakak suruh, nanti kalau aku telat, kena hukuman lagi. Aku duluan ya." Ziya mengalihkan pembicaraan.
Arafat tersadar, hampir lupa kalau dia seharusnya memimpin pembukaan masa orientasi siswa pagi ini. Arafat mengangguk, tapi sambil berjalan dia meminta Ziya mempertimbangkan untuk menerimanya menjadi pacarnya.
Ziya lebih dulu berlari untuk menyusul Erli masuk kedalam ruangan acara MOS, Arafat kemudian menyusul.
Setelah hari itu, Arafat tak pantang menyerah untuk membuktikan kalau dia tak main-main dengan perasaannya. Tidak seperti yang Ziya pikirkan selama ini, Arafat tidak seburuk itu.
Tetapi Ziya tetap menunjukan sikap cueknya, sbenarnya hatinya juga tidak sekeras itu hingga tak ingin menoleh dan mempertimbangkan untuk coba menerima Arafat, hanya saja dia menjaga agar hatinya tak mudah terbawa perasaan. Tidak bermaksud untuk menggantung terlalu lama, tapi Ziya ingin melihat apakah Arafat serius dengan perasaanya atau hanya sekedar main-main.
Lambat laun Arafat mampu membuat hati Ziya luluh dengan kegigihannya. Meski begitu Arafat tak memaksa Ziya untuk segera menerimanya, mereka menikmati pendekatan ini. Hingga satu bulan kemudian Ziya akhirnya memutuskan untuk menjadikan Arafat pacarnya.
Banyak hati yang patah hati setelah mengetahui kedekatan mereka berdua, apalagi belakangan beredar kalau Arafat idola para siswi berpacaran dengan Ziya gadis impian para siswa sekolah.
sekian. selesai.
Terimakasih bagi yang udah mampir🤗,, kalau suka tinggalin jejak dengan klik love & komen ya.. 😉✨