"Ini waktunya bergembira atas kemenangan bukan waktunya mengkhawatirkan bagaimana berita ini tersebar di Istana!" membalas ucapan dan membuat Sheila bungkam mendengar hal tersebut.
'Hal ini bukan hal yang sepele', batinnya ingin berteriak sekencangnya pada panglima utama Connrad Delial yang sebenarnya ia tau untuk menenangkan namun tidak berhasil karena ekspresi wajahnya malah semakin rumit.
"tuan Putri dan Panglima Connrad, ada surat dari istana mohon segera ke tenda besar!" seru salah satu komandan pasukan. Mereka berjalan beriringan.
Wajah tuannya yang semakin kalut membuatnya semakin bingung apa yang salah dengan kata-katanya dan maju untuk bertanya.
"maaf jika kata-kata saya lancang tuan Putri, apa yang membuat anda terus berdiam diri setelah saya mengatakan kata-kata barusan?" tanyanya setengah berbisik.
Putri Sheila berhenti sejenak dan mulai berbicara, "komandan bisa beri waktu anda, mohon tunda dulu surat itu dibuka, ada yang perlu aku bicarakan dengan Panglima berdua", wajahnya terlihat bingung dan melihat pada Panglima kemudian mengangguk.
"terimakasih", ia membalas."Mari panglima ikut denganku".
"mungkin tuan Connrad belum mengetahuinya, ada aturan penting tidak tertulis mengapa seorang Putri dilarang pergi berperang dan ketika Putri ini kembali tidak akan ada lagi istana untuk menyambutnya.
"gelar kebangsawanannya tidak akan diakui lagi, jadi lebih baik panglima pulang tanpaku. Orang-orang disini juga tidak akan tau akan berita ini kecuali surat dari istana sudah menuliskannya", itu kata-kata terakhir sebelum sang Putri terdiam dalam keheningan panjang.
"lantas mengapa anda datang kesini?" mencengkram pundak Sheila dan matanya dipenuhi kesedihan. "lagi pula kedatangan anda kesini membawa kemenangan bukan sebagai beban!" nada suaranya naik namun tak masih tak mampu meredakan kesedihan.
"kenapa anda bilang?" suaranya parau. Matanya menyorot tajam dan memegang tangan Panglima yang besar. "siapa yang tega membiarkan rakyatnya tewas sia-sia!! Perbatasan Tebing Suci ini begitu berharga sampai Panglima Connrad sendiri yang menangani. Kesalahan kecil akan membunuh semua pasukan Panglima!!"
Semua orang mencari arah suara teriakan namun tertutup badan besar panglima.
Tangan besarnya terulur merangkul pundak yang membawa beban yang berat dan mendengarkan tangisannya memecah keheningan. "kamu tau aku engga punya pilihan kan Lial?"
"ya aku tau itu Ela. Namun setidaknya beri aku waktu untuk bisa membantumu", ucapnya pelan.
"..."
Butuh beberapa menit tambahan lagi sebelum putri berusah payah menegarkan diri untuk siap mendengarkan berita dari istana melalui sebuah surat. Kabar baiknya akan ada sambutan meriah menunggu kedatangan para pahlawan dan kabara buruknya tuan Putri tidak diizinkan kembali ke kerajaan karena melanggar peraturan.
Semua orang dalam tenda besar terdiam dan menatap kesal dari isi surat ini.
"aku tak bisa menyalahkan keadaan, lupakan aku Lial", lalu mengambil belati dari pinggangnya.
"tunggu tuan Putri!!" namun terlambat. Nasi telah menjadi bubur. Semua bersedih akan keputusan yang tidak berperasaan ini sambil membawa rambut sang gadis saat pulang menuju istana.
*****
"Hari ini jadi hari perayaan terbesar hingga pelosok kerajaan. Perayaan ke 20 tahun untuk kemenangan direbutnya perbatasan Tebing Suci dan pastinya semua orang tau legenda itu, sayang. Seorang putri yang merebut kemenangan di medan perang. Kisahnya terus di ceritakan hingga generasi sekarang."
"tapi kata bunda waktu itu seorang putri ga boleh pakai senjata tapi bisa ikut perang?" tanya si putra Sulung. Ibunya merespon dengan senyum pada antusias anaknya.
"itu berkat Putri Sheila de Biville atau Sheila yang membuat sejarah. Gelar kebangsawanannya dan nama keluarga kerajaannya di hapus dari namanya setelah ia pergi menuju area peperangan.
"Sheila lebih perhatian dengan keadaan sekitar yang penuh dengan tindakan kekerasan, mungkin juga alasan lainnya karena ia satu-satunya putri yang lahir dari seorang selir raja. Perlakuan raja yang memanjakannya membuat Ratu iri hati dan sering memperlakukan Sheila dengan buruk.
"dan itu jadi alasan lain ia ingin bisa melindungi diri dari kekerasan sehingga sering berlatih senjata secara diam-diam sejak kecil bersama sang kakak yang tak lain merupakan putra kedua sang Ratu."Si ibu berhenti karena si Sulung mengacungkan telunjuknya.
"jadi dari kecil Sheila udah belajar pedang bun? Keren!" matanya berbinar.
"engga cuma itu, Sheila juga belajar taktik berperang yang sering ia lakukan bersama kakak dan pelatih berpedang tuan Conrad Theodore Moore jadi semakin kuat. Engga hanya fisik tapi dia juga cerdas". Cerita terus berlanjut dan semakin Ralf tertegun dengan penuturan sang bunda.
"sampai suatu hari ia berdiskusi dengan pelatihnya tentang strategi yang menjadi pembicaraan karena pasukan akan segera pergi dalam beberapa hari lagi."
"ke perbatasan Tebing Suci?" tanyanya.
"iya betul sayang", membelai kepalanya. "diskusi ini membuat Putri Sheila nekat untuk ikut dalam rombongan menyamar menjadi prajurit meski dilarang putra Mahkota, kakak keduanya"
"perempuan ko pake baju laki-laki, aneh banget Bunda!" dahinya berkerut. "kan kalau nyamar juga kan beda laki-laki sama perempuan. Sheila ini aneh banget sih Bunda!"
"iya memang aneh", Bunda membenarkan. "tapi yang ada di pikiran Sheila waktu itu cuma membawa pulang semua pasukan dengan selamat dan bisa pulang ke rumahnya sayang. Pasukan yang pergi itu masih rakyat kerajaan". Di respon dengan anggukan.
"lagi pula penyamaran Sheila gagal sejak awal tapi tetap bisa ikut ke perbatasan itu karena kemampuannya tidak diragukan, ia berbeda dengan perempuan seumurnya yang kebanyakan kurang mengerti tentang hal-hal militer dan paling membuat terkejut para pasukan akhirnya mengakui kemampuannya dalam mengendalikan kuda, teknik berpedang, juga ia terpilih menjadi salah satu yang masuk pembuat strategi bersama para jendral dan panglima perang.
"memang taktik apa yang Sheila lakukan?"
"sederhana namun cerdas, meminta bantuan para semut loh"
"gimana caranya bunda!?? ko bisa? gimana bunda!!? Nanti malah semutnya yang mati keinjek!"
"oke tenang, ini bagian favorit bunda juga. Area tebing ternyata kawasan sarang semut api terluas, hal pertama yang dilakukan membuat para semut keluar dari sarang dengan cara menyiramkan air ke permukaan tanah sebanyak-banyaknya tentu saja ini melibatkan semua pasukan bergotong royong membawa barel berisi air dari lembah.
"air yang banyak tersebut akan di tumpahkan pada area yang sudah di tentukan dan itu akan menggiring semut naik ke permukaan atau terbawa air dan kesanalah musuh digiring dan tentu saja masih banyak ide-ide lain yang ada dalam otak cerdik Sheila tapi taktik itu yang digunakan waktu itu."
"tapi Bunda bilang Sheila engga boleh pulang ke istana terus kemana dia pergi?" tanya Ralf namun kali ini terdengar sedih.
"Pahlawan Sheila punya rumah baru, sayang."
*****
"aku tak bisa menyalahkan keadaan, lupakan aku Lial", lalu mengambil belati dari pinggangnya.
"tunggu tuan Putri!!" namun terlambat. Sheila telah memotong rambutnya yang panjang sebagai mahkota seorang putri, salah satu lambang kebangsawanannya.
"berikan ini pada raja dan katakan Putri sudah tidak ada", lirihnya sambil berkaca-kaca.
"dan bilang pada ibuku, kini aku bebas dan-"
"biarkan hidupmu bergantung padaku dan menjadi teman sehidup sematiku Sheila. Maukah kamu jadi istriku?" Panglima menggenggam erat tangannya dan anggukan haru Sheila, membuat sorak sorai seluruh pasukan di kamp perbatasan.
End
*****