“Aku sangat yakin, tuan Murat yang terhormat pasti akan datang sebentar lagi karena mengetahui putra kesayangan sudah ku sekap”Ucap Aishe sembari tersenyum sinis kemudian menatap Firat yang sedang di ikat.
“Sorry Firat, aku harus membuat mu menjadi umpan” Aishe memegang dagu Firat agar matanya melihat kearahnya
“Terlalu banyak perbuatan ayahmu yang merugikan kerajaan ku, dan puncaknya ayahmu membunuh ayah dan ibuku! dia harus membayar untuk itu, aku memang mencintaimu Firat dan aku berjanji tidak akan melukaimu”ucap Aishe lalu memalingkan wajahnya dari Firat yang terus menatapnya.
“Lepaskan penutup mulutnya, sepertinya cintaku ini ingin berbicara”
“Apa yang kau inginkan dariku Aishe!” geram Firat
“Aku tidak berniat memanfaatkan mu Firat, sebenarnya aku dan keluargaku terlalu tulus untuk keluarga penghianat sepertimu”
“Apa yang kamu katakan Aishe!?” tanya Firat
“Kau akan ku beritahu setelah peperangan ini selesai Firat, sebelum itu aku meminta izin kepadamu untuk membalas kematian kedua orang tua ku” ucap Aishe dengan tenang.
“Tidak Aishe, jangan!” cegah Firat, terlepas apapun alasan ayahnya Firat tetap seorang putra yang tidak ingin kehilangan ayahnya, sudah cukup dia kehilangan ibunya sejak lama.
“Tidak perduli kau mengizinkan atau pun tidak, aku akan tetap menghabisinya! kelak kau akan menjadi seorang raja dan mungkin itu akan terjadi sebentar lagi Firat jadi bersiaplah dari sekarang, aku berharap kau tidak akan menjadi seperti raja Murat yang serakah!”
Belum sempat Firat bertanya atau menjawab, tiba tiba salah satu prajurit Aishe mendekat dan mengatakan bahwa Murat sudah mendekati perbatasan.
“Kau bawa Firat ke tempat yang sudah ku siapkan, jaga dia baik baik jangan sampai lengah... aku tidak ingin sampai melukai orang yang tidak bersalah!aku akan segera mencegat mereka diperbatasan!” ucap Aishe menunggangi kuda dengan membawa pedang kesayangan nya menuju perbatasan.
Firat pun hanya diam memandangi kepergian Aishe, diapun hanya pasrah di giring oleh para pengawal nya (Aishe) . Firat kenal betul bagaimana kepribadian Aishe, dia tidak akan marah jika tidak ada yang mengusik dan kali ini ayahnya benar - benar telah melakukan kesalahan. Tadi bukan Firat membenarkan perilaku ayahnya, dia hanya menjalankan tugas sebagai anak yang mencoba mendamaikan kedua belah pihak dan mengamankan ayahnya jika bisa. Aishe pun sangat memahami Firat, dan tahu maksud Firat berkata jangan tadi.
“Firat kau mendengar ku kan?”tanya Aishe
“Hm aku mendengar mu, bersiaplah dan jaga dirimu”pesan Firat.
Kini Firat dibawa kesebuah ruangan, dimana dia dipasangkan sebuah headset yang terhubung dengan Aishe. Kemudian Firat dapat mendengar banyak suara langkah kuda mendekat, dan terdengar suara ayahnya di seberang sana.
“Lepaskan Putraku nona Aishe! dia tidak tahu apa apa kenapa kau memanfaatkan nya” geram Murat, dia begitu marah ketika putra kesayangan nya itu jatuh ke perangkap putri Aishe yang terkenal cerdik.
“Tidak semudah itu tuan Murat! kau harus membayar nyawa kedua orang tuaku dengan harga yang mahal, masih untung aku tidak berpikir untuk membuat mu merasakan rasa sakit yang kurasa kan dengan menyakiti putra kesayangan mu” ucap Aishe dengan tenang dan tersenyum sinis.
“Baiklah, mari kita berperang jika aku yang menang kau harus melepaskan putra-”
“Jika kau kalah? apa kau akan mengembalikan seluruh harta dan wilayah orang tuaku yang kau renggut?”ucap Aishe langsung memotong.
“Itu sudah menjadi milikku sekarang, aku sudah bersusah payah mendapatkan nya! enak saja kau ingin menjadikannya taruhan. Kau jangan macam macam dengan ku putri Aishe, kau masih anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa karena aku tidak ingin menghabisi mu seperti aku menghabisi kedua orang tua mu” Ucap Murat tersenyum samar, dia tidak akan melepaskan hal itu karena dia mendapatkan nya dengan cara yang sulit termasuk hal terkeji sekalipun yaitu memaksa ayah dan ibu Aishe menandatangani surat perjanjian peralihan kepemilikan dengan cara yang licik lalu membunuh nya.
“Kau tidak akan membunuh ku karena akulah yang akan membunuhmu!”
“Kau mengancamku nona kecil yang malang? ” remeh Murat.
“Aku tidak mengancammu, karena itulah yang akan ku lakukan! aku tidak takut padamu pengecut” ejek Aishe, memancing kemarahan Murat karena dia tahu harga diri Murat sangat lah tinggi.
“Kau bilang aku pengecut!” geram Murat, membuat Aishe menarik senyum kecilnya.
“Jika kau memang berani, ayo kita tanding 1 lawan 1!”
“Dan tidak akan ada prajurit yang turun tangan untuk membantu? tanya Aishe, Murat yang di sebrang sana pun tersenyum mendengar pertanyaan ini. Aishe menepati pendiriannya untuk tidak menyakiti orang yang tidak bersalah, karena dirinya tidak mengetahui prajurit mana saja yang terlibat jadi dia tidak akan mengorbankan prajurit lain yang tidak bersalah.
“Setuju!”
Mereka pun berdiri di wilayah masih masing di perbatasan dengan berhadapan, kemudian turun dari kuda mereka masing-masing.
Dentingan pedang pun mulai terdengar begitu kerasa dan menyayat. Dengan kelihaian dan kecerdikan yang Aishe punya dia dapat menjatuhkan Murat beserta pedangnya, kini Murat pun di bawah kekuasaan Aishe.
“Aku tidak ingin menjadi pembunuh seperti mu, meskipun aku sangat ingin! serahkan hak kedua orang tuaku dengan baik maka aku akan melepaskan putramu”
Namun Murat tetaplah Raja yang serakah, ketika mendengar permintaan Aishe tentu saja Murat menolak keras. Ketika berbicara Aishe lengah, Murat memanfaatkan hal ini untuk mengambil pedang nya dan menebaskan nya kepada Aishe hingga membuat Aishe mundur sedikit dengan memegang lengannya yang terluka.
Melihat Tuan putri mereka terluka pun, prajurit Aishe menahan murka. Tetapi murka mereka meledak ketika melihat prajurit Murat mendekat ke arah keduanya seperti ingin menerkam Aishe bersama sama, pertarungan antar prajurit pun tak terelakkan.
“Seperti yang kau bilang! tidak semudah itu” ucap Murat kembali berdiri.
“Dasar tidak tahu diri! Dikasih hidup malah menyakiti”geram Aishe.
Pertarungan diantara keduanya pun kembali terjadi, dan antar prajurit pun semakin memanas. Aishe kini tidak ragu lagi untuk memainkan pedangnya, hingga pedangnya mengenai leher Murat.
Murat pun tumbang, Aishe mengangkat lengannya dan meminta para prajurit berhenti bertarung.
“Orang yang tidak layak menjadi pemimpin kalian sudah tidan ada, kalian tidak perlu menjadi bidak catur nya pria keji ini sekarang”ucap Aishe kemudian berlalu dari tempat tersebut kemudian menuju ke tempat Firat berada.
“Maafkan aku Firat” ucap Aishe.
“Tidak apa apa Aishe, ayahku harus menebus kesalahan nya dan mungkin inilah jalannya” jawab Firat lapang dada.
“Aku berjanji akan menjaga perdamaian kedua kerajaan setelah kejadian ini, serahkan ini kepadaku”ucap Firat, Aishe pun mengangguk.
Beberapa hari kemudian,
Kini Firat menjadi raja menggantikan ayahnya, dan Aishe menjadi ratu di Kerajaan nya sampai adik kecilnya nya Miran siap mengemban tugas kerajaan. Kedua kerajaan beserta rakyat nya pun hidup berdampingan dengan damai, saat ini berita perbincangan tentang Aishe dan Firat sedang ramai dikalangan masyarakat.
Berita tentang Putri Aishe yang berhasil memenangkan perang di perbatasan, Firat sang raja baru yang bijaksana, hubungan relationship antara Aishe dan Firat, dan banyak berita lainnya.
END.