Kala itu hari dimana kerja mengharuskan kami lembur. Pulang setengah delapan malam. Istirahat hanya setengah jam di waktu Maghrib.
"Woy, makan ga lu?" Tanya seorang teman pria aku beri nama Elang. Kebetulan memang pabrik tidak memberikan jatah makan ke dua kali karena yang lembur hanya dua line.
Lalu seorang pria yang kerjanya di depanku persis, diam-diam memperhatikan sesekali menarik ujung bibirnya dengan tangan yang terus mengurut bahan sepatu boot. Panggil saja dia Yoda. Bibirnya menyahut teman pria disebelahnya yang bernama Yanto. Tapi matanya curi-curi pandang kepadaku.
"Ga lah Lang, males makan, nanti aja di rumah. Gue nitip es jeruk asli ya!" Pintaku kala itu.
"Lah emang es jeruk boongan kaya gimana?" Tanya dia seolah-olah bego dengan tangan yang terus bergerak karena bekerja tapi mata sesekali meraih mataku.
Astaga pembawaan humornya sangat melekat. Hanya dia bertanya begitu dengan wajah sok bingungnya sudah bisa membuatku ngakak seketika.
"Es jeruk yang di foto copy itu maksudnya kali," sahut si Yanto.
Mereka ini trio kampret. Yanto, Yoda, dan Elang. Jika mereka sudah berkolaborasi, sudah melebihi panggung stand up comedy. Aku selalu di buat kram bagian perut karena tertawa terus. Kebetulan juga aku bekerja di kelilingi oleh teman pria. Ada yang sudah beristri banyak juga yang masih jomblo.
"Eh gimana caranya ngefoto copy es jeruk pe'a?" Yoda akhirnya menyahut yang sedari tadi hanya senyam senyum tak jelas.
"Ntar yang ada belum juga di teken itu mesin foto copy, es jeruk udah tumpah ke mesin," sambungnya lagi.
"Nah pas tumpah lu teken, jadi deh foto copy es jeruk," kali ini jawaban ngelantur dari Yanto.
Pembawaan mereka mirip sekali dengan personil Warkop. Hanya ini versi muda dan gantengnya.
Apa sih mereka ini kenapa malah membahas yang tidak jelas. Walau begitu aku senang dengan jawaban ngelantur mereka. Hehehe.
"Emang lu mau keluar sama siapa Lang?" Tanyaku menghentikan obrolan unfaedah antara Yoda dan Yanto.
"Tuh sama Yoda sama Yanto juga," ia menunjuk dengan bibir di monyongkan. Dia ini paling ganteng loh. Paling keren juga. Cuma paling sengklek. Sukanya nyanyi dangdut atau India. Suaranya oke lah. Ada cengkok-cengkok sengkleknya juga😂😂😂
"Oh ya udah gue mau es jeruk asli aja kalo gitu," masih dengan permintaan awalku.
"Ini es jeruk asli itu kek mana?" Si Yanto meminta pendapat.
"Ck, itu jeruk di peras kasih es. Itu jeruk aseli. Jangan yang bubuk sa-set-an, itu yang palsu nanti bikin radang!" Tuan puteri sedang memberi titahnya. Hahaha.
Ya karena aku perempuan diantara yang lain, kadang aku merasa di sayang aja. Mereka lebih bisa menghargaiku. Dan tentunya tidak banyak bergosip yang hanya menumpuk dosa. Mereka memperbanyak candaan yang membuatku terus tertawa. Sampai rasa lelah karena kerja pun sirna.
"Ya ampun Yod... Yod... itu sasetan lagi ngatain gue apa emang lagi nunjukin barang bukti sih," si Yanto sambil memukul lengan Yoda.
"Woy sa (intonasi dipelankan) setan (intonasi dikeraskan)!! ga usah make mukul kali!" Ia mengelus lengannya yang mungkin terasa perih. Karena si Yanto dengan sengaja mendaratkan tangannya sedikit keras.
"Ya udah, lu ijin dulu sono sama yang mo bawa motor, gue kan cuma nebeng," si Elang menjawab dengan melirik si Yoda.
Oh jadi Yoda bersama Elang satu motor dan si Yanto sendirian.
Ehem
Aku berdehem, memandang pria di depanku dengan sok manis, mengatur nada suara semerdu dan seindah mungkin.
"Mas Yoda ... beliin ya," aku mengedip-kedipkan mataku berulang kali dengan cepat. Yang aku ajak bicara hanya tersenyum kikuk.
"Lu kelilipan gunting?" Si Yanto rese emang. Ga ngerti apa ini mode merayu biar mau beliin.
"Kalo sempet ya," jawaban adem, seadem teras mushola pabrik kala turun hujan.
.
.
.
Jam masuk kerja kemudian, aku sepintas melihat Yanto berjalan dengan merangkul pundak teman dari line lain sambil tertawa.
Aku celingukan mencari Elang dan Yoda. Padahal ga terlalu berharap juga sih buat dibeliin, tau ini waktu istirahatnya hanya sebentar. Sampai mesin berjalan mereka belum muncul. Akhirnya aku mengerjakan pekerjaan Elang juga.
Tiba-tiba kantung plastik hitam yang berembun mendarat di depanku yang saat itu aku tengah fokus dan menunduk.
"Nih, es jeruk a-se-li, bukan yang sa-set-an!" Aku tertawa mendengarnya, setiap kata penuh dengan penekanan bertanda ia kesal, si Elang datang dengan kondisi yang terburu-buru. Tak lama Yoda juga muncul di depanku. Mereka sibuk lagi dengan pekerjaannya.
Pas ada waktu longgar aku menuangkan es jeruk itu ke gelas tupperwere hijau kesayanganku. Aku menyicipinya, sruuuttt... uh seger ...
"Nih minum, biar adem ga marah-marah aja!" Aku suapi si Elang dengan gelas yang sama denganku tadi. Ada dua sedotan.
Ia menurut lalu meminumnya.
"Lu tau ga?" Tanyanya kemudian.
"Enggaklah, cerita aja belum suruh tau darimana?" Jawabku secepat paketan ekspress.
"Gara-gara nyariin lu es jeruk a-se-li ini, tulang ayam gue masih nyangkut di tenggorokan!"
Lah aku ngakak, pantesan dia minumnya semangat banget.
"Lah kenapa?" Tanyaku.
"Untung ga sepiring-piringnya, Lang!" Sahut si Yanto.
Sedangkan si Yoda hanya menahan senyum.
Sebelum menjawab lagi, si Elang malah melirik Yoda sebal, "Apa lu ketawa-ketawa!" Ujarnya untuk Yoda.
"Gue kan makan dia juga makan, nah dia makan cepet banget ga di kunyah kali langsung di telen tuh orang. Gue ngikutin tuh. Sampe rasanya leher gue sakit makanan belum turun udah gue jejelin lagi. Yang terakhir gue mau abisin ayam gue, baju gue udah ditarik. Katanya buruan nanti ga dapet es jeruk aslinya!" Jelas si Elang. Aku melirik Yoda dengan seulas senyum yang tak pernah pudar jika sudah bersama mereka, si Yoda berpaling.
"Dibela-belain bangetkan lu, demi elu, demi es jeruk aseli, mpe temen makan tulang belum turun main tarik-tarik aja!" Masih bersungut-sungut si Elang.
"Wedeh ... es jeruk aseli aja dibela-belain segitunya gimana ama yang pesen ya Lang," sahut Yanto. Yang tadi memang beda tempat makannya.
Ehh apa maksud kata yang tersirat itu. Aku melihat Yoda seperti sedang menetralkan dirinya yang mungkin salah tingkah. Aku pun tiba-tiba menjadi resah.
Sekian😂😂