Resita baru saja turun dari taksi yang menghantarkannya tepat didepan SMA Cakrawala. Resita Primudya namanya, gadis berperawakan tidak terlalu tinggi, dengan pipi cuby, matanya yang bulat dan rambutnya yang ia biarkan tergerai.
Gadis itu menghembuskan nafasnya, ini adalah hari pertama kepindahannya kesekolah ini. Sebelumnya gadis itu bersekolah di Bandung, karena orang tuanya pindah tugas, jadinya disinilah gadis itu berada. Menginjakkan kakinya di kota Jakarta.
Kakinya yang jenjang itu memilih melangkah memasuki kawasan sekolah. Sekolah swasta tersebut cukup terbilang luas dan asri. Resita berharap ini adalah awal yang baik. Sebenarnya berat rasanya gadis itu meninggalkan kota kelairannya dahulu, ia sudah sangat nyaman disana, teman-temannya juga banyak disana. Banyak kenangan yang harus ditinggalkan di kota Bandung, dan itu membuat Resita sedikit murung menjalani hari-harinya.
Saat Resita memasuki kawasan sekolah, banyak siswa-siswi yang mengalihkan pandangan mereka pada Resita. Mungkin saja, karena dirinya cukup asing dan tak pernah dilihat murid lain jadinya gadis itu berhasil menarik atensi mereka.
Resita gugup, ini hari pertamanya, dan temannya hanya ada satu disini. Tapi, sedari tadi Resita tak melihat temannya itu.
"Resita!" Teriak seorang gadis yang berlari sembari tersenyum riang menuju Resita.
Resita yang melihat itu tersenyum lega. "Akhirnya, kamu dateng. Aku takut kamu gak samperin aku tadinya." Resita langsung saja memeluk Naila, teman satu-satunya disekolah itu.
"Ya ampun, Res, sampe segitunya, ya." Naila terkekeh lembut membalas uluran pelukan Resita.
Resita melonggarkan pelukan mereka, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Hihi ... aku gugup. Semua memandangiku, tauk!" adunya.
"Sudah, jangan diperhatiin banget. Ayo, aku anter kamu keruang guru." ajak Naila yang diikuti Resita.
Lama mereka berjalan hingga tibalah disebuah pintu berwarna coklat yang bertuliskan 'Ruang Guru' tersebut.
Sebelum mereka masuk, suatu kebetulan wali kelas Resita menegur mereka. "Oh, ini murid baru itu ya?"
Resita dan Naila sontak membalikkan badan mereka, "Iya, bu, saya murid barunya." Sahut Resita.
"Yasudah Naila, kamu bisa kembali. Kalian akan berbaris dilapangan sebentar lagi. Kalau Resita biar dulu disini, ibu masih mau bicara dengannya."
Naila mengangguk lalu pergi.
Selang beberapa detik, Guru tersebut mengajak Resita memasuki ruang guru.
***
Tak berapa lama setelah bel berbunyi masuk kelas, Bu Sri, wali kelas Resita mengajak muridnya itu memasuki kelas.
"Ayo, kita kekelas XI IPS 3, nak. Itu ruangan kamu."
Kata bu Sri saat mereka tengah melewati koridor sekolah.
"Iya, buk." sahut Resita dengan mengekori guru itu dari belakang.
"Nah, ini dia. Kita sudah sampai." Mereka berhenti tepat didepan ruang kelas.
"Woi, woi! duduk! Bu Sri dateng!" ujar seorang sisawa dengan sedikit berteriak hingga murid-murid yang tadinya masih bermain dikelas mulai kembali ketempat masing-masing.
"Kita kedatangan murid baru. Ayo nak perkenalkan diri kamu."
Resita berjalan ragu didepan kelas. Gugup tengah dirasakannya. Semua pandangan murid memandanganya penuh keingin tahuan.
"Perkenalkan nama saya Resita, saya pinda—" belum sempat Resita melanjutkan omongannya. Seorang Pria dengan perawakan tinggi mengetuk pintu kelas.
"Permisi, Bu, saya kemari menghantarkan daftar nilai." ujar Pria itu dengan keras.
Resita mengerutkan keningnya saat beberapa teman perempuan dikelasnya menjerit tiba-tiba. Beberapa dari mereka ada yang kegirangan.
"Aaaaa, gila! Kak Aiden ganteng banget."
"Kak Aiden jadi pacar gue, yuk."
"Kak, i love u."
Untuk teriakan yang terakhir itu Resita bergidik ngeri. Mereka terlalu lebay menurutnya. Resita ikut memperhatikan cowok itu yang tengah berbincang sebentar dengan bu Sri. Sesaat kemudian, mata Resita dan Pria yang disebut Aiden itu bertubrukkan. Detik selanjutnya yang membuat Resita menegang, Aiden tersenyum padanya. Resita terbengong, senyum cowok itu sangat manis apalagi dengan lesungnya yang sangat dalam.
"Aaaaa, Kak Aiden senyum!"
Aiden berlalu pergi meninggalkan sorakan-sorakan memuja para fansnya.
"Sudah-sudah. Kalian ini genit sekali." Tegur buk Sri. "Resita kamu duduk saja ditempat yang kosong itu." Tunjuk bu Sri kearah kursi yang dipojokkan yang tengah kosong.
***
"RESITA! RESITA!"
Resita terlonjak kaget saat Naila berlari menujunya sembari berteriak.
"Kenapa, Nai? kamu sudah beliin nasi goreng aku?" tanya Resita heran. Ya, ini adalah jam pertama istirahat. Namun Resita memilih berada dikelas sembari mengerjakan catatan miliknya.
"Bukan itu. Gue terkejut, dan lo pasti ikutan terkjut! ayo, ikut gue." Naila menarik tangan Resita sembari berlarian.
"Astaga, Naila. Pelan-pelan, sakit."
"Tidak-tidak. Ayo, cepat."
Dengan penuh kebingungan Resita tetap mengikuti Naila ia sedikit kesusahan mengimbangi Naila yang berlari itu.
"Kita sampai."
Resita memperhatikan dengan heran lapangan basket itu, beberapa orang menatapnya sembari bersiul.
Selang beberapa saat, seorang cowok datang membawa sepucuk bunga padanya. Resita membelalakkan matanya tak percaya dan lebih tak percayanya lagi cowok itu adalah Aiden.
Naila sedikit menjauh dari Resita.
"Resita?"
Resita tergagap. "Iy-iya ...?"
Aiden kembali tersenyum manis dan itu membuat jantung Resita berdetak tak karuan. Serta, beberapa kaum hawa menjerit histeris mengagumi sosok Aiden yang sangat sempurna dimata mereka.
Aiden semakin mendekatkan dirinya pada Resita. Sementara Resita masih saja diam mematung, rasanya campur aduk. Gugup, malu, dan bingung.
Aiden menjulurkan bunga mawar kepadanya, Resita semakin melongo tak percaya saat dengan lugas Aiden berujar,
"Resita, nama yang indah seperti orangnya. Dan indah seperti mawar ini. Resita, lo mau gak jadi pacar gue?"
Rasanya Resita ingin pingsan saja.
Suara-suara mulai bersahutan menyorakki mereka.
"TERIMA!"
"TERIMA!"
"TERIMA!!"
Resita malah mengalihkan pandangannya pada Naila meminta persetujuan temannya itu. Naila tentu saja mengangguk cepat.
Resita meneguk ludahnya.
"Sejak kapan, kakak suka samaku?"
Aiden tersenyum tulus, "Sejak gue melihat tatapan bingung lucu lo di depan kelas tadi. Entah kenapa, jantung gue seolah berpacu cepat dan gue kepikiran terus sama lo sewaktu dikelas tadi."
Resita melongo tak percaya. Secepat itu Aiden menyukainya.
"Resita, gue ulang, ya?" Jedanya. "Resita Pramudya, gue udah suka dari awal ketemu lo. Lo mau jadi pacar pertama gue dan kalo lo bersedia sekaligus jadi pacar terakhir gue. Lo mau?"
Resita menunduk malu. "Iya, aku mau."
"YESS!!!" langsung saja Aiden memeluk Resita detik itu juga. Senyumnya mengembang begitu indah, ia merasa sangat bahagia.
"KALIAN BEBAS MAKAN DIKANTIN! BIAR GUE YANG TRAKTIR." Aiden berteriak pada siswa-siswi yang memperhatikan mereka sedari tadi.
Murid-murid juga turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Aiden melalui traktiran cowok itu.
"Terimakasih, Resita. Aku mencintai kamu."
***
TAMAT
#Aku di tembak primadona di hari pertama sekolah.