"Pergi kalian dari rumah ini!" Tegas pak Slamet yang ternyata sudah kembali dari sawah.
"Idiiih, dikira aku senang tinggal di sini? Baru punya gubug reot saja sombongnya setengah mati," cibir Puspita, tidak tahu malu. Berbeda dengan istri mudanya yang sewot, Haidar justru tahu kesalahannya maka dengan tenang Haidar menyusun barang-barangnya ke dalam kardus termasuk juga pakaian Puspita, Gayatri dan bayinya yang diberi nama Bagas.
"Haidar, kenapa barang Gayatri dan Bagas kamu masukin kardus juga?" Tanya bu Elok.
"Gayatri masih istriku, bu. Kemanapun aku pergi dia akan ikut denganku."
"Hanya kamu dan istri mudamu saja yang boleh pergi, Gayatri tidak usah. Walaupun hidup pas-pasan kami masih sanggup mengongkosi mereka," sengit bu Elok.
"Benar, segera kamu talak Gayatri dan pergi dari rumah ini!" Imbuh pak Slamet.
Haidar memandang Gayatri yang sedang tersedu, "Kamu mau kita bercerai apa mau ikut mas, dik?" Tanya Haidar lembut. Gara-gara pernikahan dadakan malam itu, selain menumbuhkan benih di rahim Gayatri juga ternyata menghidupkan benih cinta di hati Gayatri. Saking cintanya, bahkan Gayatri menerima saja madunya, mengingat sekarang mereka sudah punya anak yang diharapkan bisa mempererat cinta antara dia dan Haidar. Gayatri tidak mau bercerai.
"Maaf bu, pak. Jika mas Haidar tidak boleh lagi tinggal di sini, maka aku dan anakku juga akan ikut pergi," putus Gayatri membuat hati kedua orangtuanya kecewa.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, nduk. Pintu rumah ini selalu terbuka kapan pun kamu ingin pulang, tapi ingat jangan kembali bersama laki-laki sontoloyo ini," geram pak Slamet.
***
Menyesuaikan dengan tabungan Gayatri selama bekerja di kebun teh, akhirnya keluarga kecil itu menempati rumah bedakan yang letaknya tidak jauh dari kota.
"Puspita, karena kita sekarang tinggal serumah, maka aku mohon kita saling tolong menolong mencukupi biaya rumah tangga kita," pinta Gayatri yang legowo atas poligami suaminya.
"Aiiish, kenapa harus begitu? Asal mbak tahu, sebelum menikah dengan mas Haidar aku ini SPG kosmetik di mall, namun mas Haidar memintaku berhenti karena tidak ingin kecantikan dan kemolekan tubuhku dilihat banyak orang, maka sudah seharusnya mbak dan mas Haidar yang bertanggungjawab atas hidupku. Sudah, kalian saja yang cari uang, biar aku yang mengurus Bagas," aju Puspita.
Untung masih punya sedikit uang, Gayatri mencoba peruntungan memutar uangnya dengan cara berjualan nasi rames di halaman rumah bedakan mereka. Banyak yang menggemari masakan Gayatri sehingga dagangan Gayatri selalu laris manis, kurang dari 1 bulan, sudah balik modal.
"Alhamdulillah ... ada rejeki buat sehari-hari," gumam Gayatri. Kondisi yang serba tercukupi dari hasil jualan nasi rames, membuat Haidar malas-malasan bekerja, dia lebih banyak tinggal di rumah, menemani Puspita yang menjadi semakin manja sejak hamil muda.
"Jeng, perempuan muda itu siapa, sih?" Tanya tetangga Gayatri sambil melihat ke arah dalam rumah.
"Adik ipar, bu," bohong Gayatri.
"Oh, tapi kok kolokan gitu. Sukanya ngelendot aja sama suami Jeng, tidak pantas," ujar tetangga itu lagi.
"Anu bu, adik kami itu sedang hamil, ngidamnya nempel-nempel sama mas-nya," bela Gayatri.
Namun tetangga julid tentu tidak terima alasan sesederhana itu, "Lha suaminya mana tho, kok manjanya sama suamimu?"
"Eng ..." Gayatri bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Mbaaaak, lapaaarrr ..." teriak Puspita dari dalam rumah.
"Tuh adik iparnya bukannya membantu jeng Gayatri malah ngerepotin gitu."
"Gak apa-apa, bu," sahut Gayatri sambil menyiapkan 2 piring nasi beserta lauk pauknya untuk Haidar dan Puspita.
"Gak apa-apa gimana, jeng? Masa ada adik ipar malah bikin mas-nya gak bisa kerja lantaran ingin diladeni terus?" Ucapan itu hanya ditanggapi senyuman getir oleh Gayatri. 'Karena aku yang memilih tetap dimadu, makanya aku harus menerima apapun konsekuennya,' batin Gayatri.
Tiba-tiba Puspita berlari keluar rumah, "Hoek ... hoek," ia memuntahkan makanan yang baru ia telan. "Mbak bisa masak gak sih? Asin banget gitu, sengaja mau bikin aku tekanan darah tinggi, ya?" Omel Puspita tanpa memandang para pembeli yang menatapnya heran.
"Sayang, tidak boleh ngomong begitu," ucap Haidar dengan nada lembut sambil memijat pelan tekuk istri mudanya.
"Ssttt, dengar suami Gayatri bilang 'sayang' trus lihat perlakuannya, apa pantas seorang kakak bersikap begitu terhadap adiknya?" Bisik para pembeli yang masih terdengar oleh Gayatri.
"Jangan-jangan istri muda, pak Haidar bahkan tidak pernah semesra itu terhadap jeng Gayatri," timpal pembeli lain.
"Mas, bisa ajak Puspita masuk ke dalam saja?" Pinta Gayatri yang terganggu melihat perlakuan terang-terangan suami pada madunya itu.
"Kenapa mbak ngatur-ngatur? Risih lihat mas Haidar lebih sayang sama aku?" Sewot Puspita.
"Bukan ... kamu begitu bisa-bisa menghilangkan selera makan pelangganku," jawab Gayatri pelan.
"Halah, sana mbak urusi saja pelanggan mbak yang julid itu!" Ujar Puspita seraya memeluk suaminya.
"Apa lihat-lihat? Gak boleh aku mesra-mesraan dengan suamiku sendiri?" Dengan muka judesnya Puspita berkata begitu ke pada para pelanggan warung Gayatri.
"Apa suami? Jadi kamu ini ... istri pak Haidar juga?" Tanya ibu yang sedang menunggu pesanannya.
"Lho iya, ada masalah?"
"Jeng Gayatri bilang, sampeyan adiknya pak Haidar?"
"Ooh, begitu ya, mbak? Jadi mbak tidak mengakui aku sebagai madumu? Kalian dengar ya ... benar aku ini adik, karena aku adalah istri muda mas Haidar," umum Puspita dengan suara lantang.
"Benar begitu Jeng?" Tanya seorang pelanggan pada Gayatri. Gayatri hanya mampu membalas dengan anggukan lesu.
"Kalau begitu kalian silakan pergi dari sini. Desa kami menentang keras suami yang berpoligami, karena hanya akan memberi contoh buruk bagi warga sini." Tegas ibu itu.
"Benar, secepatnya kalian harus pergi dari sini!" Usir para pelanggan beserta tetangga sekitar rumah Gayatri.
***
Dengan bimbang Gayatri memberesi barangnya dan Bagas, ia bertekad untuk berpisah saja dari Haidar.
"Apa kamu sudah memikirkan di mana nanti kita tinggal, dik?" Tanya Haidar pelan sambil mengusap pelan punggung Gayatri.
"Aku akan kembali ke rumah bapak."
"Tapi gimana dengan mas dan Puspita? Bapakmu kan menolak kehadiran kami."
"Mas pikirkan aja sendiri, besok pagi aku dan Bagas berangkat ke rumah bapak."
"Hm ... dik, jangan egois begitu. Kamu harus ngerti, membawa kami kembali ke sana yang ada cuma pertengkaran. Kamu senang lihat mas dimarah-marahi ayah dan ibumu, hm?"
"Siapa bilang aku ke sana sama mas dan Puspita?"
"Lalu?"
"Talak aku mas, ceraikan aku, biar aku bisa kembali ke rumah orangtuaku," ungkap Gayatri sambil menahan air matanya.
"Yah ... kamu sungguh ingin bercerai dari mas?"
Gayatri mengangguk
"Kamu tidak pikirkan bagaimana harus membesarkan Bagas seorang diri?"
"Tidak apa-apa, aku akan berusaha bekerja, cari uang untuk membiayai hidup kami," tegas Gayatri.
"Dik ... apa sungguh tidak ada cinta yang tulus di hatimu untuk mas?"
Air mata Gayatri tumpah mendengar pertanyaan suaminya. Segera saja Haidar merengkuh Gayatri ke dalam pelukannya
"Sayang, gimana nasib mas tanpa kamu?" Rayu Haidar. "Kamu lihat sendiri, Puspita tidak bisa diandalkan mengurusku bahkan kebutuhan batinku pun ... sejak dia hamil muda, aku malah tiap hari minta jatah sama kamu. Kalau kamu tidak mau lagi sama mas, emang kamu mau mas berzinah dengan wanita lain?"
Gayatri menggeleng, kini tangisnya mereda berkat belaian nakal Haidar. Perempuan yang tadinya minta diceraikan itu, kini malah dibuat merintih keenakan oleh suaminya. Hati Gayatri luluh terbujuk mulut manis Haidar.
.
.
Tungguin part 3 yaaaa. Jangan lupa tinggalkan jejak 🙏🙏🙏