Sesuai makna namanya yang berasal dari bahasa Sansekerta, Gayatri diharapkan menjadi seorang perempuan yang tumbuh cantik seperti permaisuri dan memiliki suara indah, namun Gayatri hanyalah anak dari kalangan sederhana, ayahnya petani dan ibunya jualan sarapan di depan rumah, sementara dia punya sepasang adik kembar.
Sesungguhnya Gayatri tergolong anak yang pintar, namun orangtuanya hanya mampu menyekolahkan hingga tingkat SMP saja, sebab kedua adik kembarnya juga butuh sekolah. Gayatri mengalah, sambil membantu ibunya jualan sarapan, ia menerima tawaran tetangganya, pak Jaya, untuk jadi penyanyi dangdut. Pekerjaan halal yang kemudian sangat membantu perekonomian keluarganya, diam-diam Gayatri menyisihkan sedikit uang hasil menyanyi agar bisa masuk SMA. Namun harapan tinggal mimpi, sebab sampai tua cita-cita Gayatri tidak pernah terwujud.
Belum lagi 1 tahun Gayatri menekuni profesi sebagai penyanyi dangdut, 'musibah' itu terjadi. Saat pulang bernyanyi di hajatan kampung sebelah, mobil pick-up yang ditumpangi Gayatri dan grup orkes dangdutnya pecah ban. Gayatri yang tidak ingin kemalaman di jalan, ia memutuskan menumpang ojek. Tukang ojek itu bernama Haidar, sebelumnya mereka memang saling mengenal sebab Gayatri sering memakai jasanya saat ada job nyanyi.
Jder! Jdeeer! Kilat bersahutan dan hujan langsung turun dengan lebat beserta angin kencang.
"Kita berteduh dulu, mbak," Haidar memarkirkan motornya di depan pos ronda, dan keduanya segera berlari menuju pos ronda agar hujan tidak membuat mereka kuyup. Asyik bertukar cerita, Gayatri dan Haidar tidak sadar kalau hujan sudah reda.
Tek ... tek ... tek ... . Suara bambu dipukul terdengar ramai, dari jauh Gayatri melihat beberapa orang berjalan membawa obor.
"Mas ... ada acara apa itu?" Tanya Gayatri.
"Entah, tapi sepertinya mereka akan melewati pos ronda, nanti kita tanyakan saja."
"Hei kalian ke sini kalian, mau berbuat mesum, ya?" Tuduh seseorang. Ternyata rombongan itu singgah tepat di depan pos ronda.
"Maaf pak, kami hanya numpang berteduh," sahut Haidar.
"Alaaah alasan saja, hujan sudah berhenti dari tadi kenapa tidak pulang. Huh, pacaran kok di pos ronda?" Timpal yang lain.
"Kita angkut saja mereka ke kantor desa, sebelum desa kita terkena kutukan akibat perbuatan mereka yang tidak senonoh," ujar yang lain yang langsung disetujui teman-temannya.
"Kami tidak melakukan apapun," kilah Haidar.
"Maling ayam yang ketangkap basah juga bisa bilang gitu meski barang bukti ada ditangannya," omel salah satu anggota rombongan pengamanan desa. Segera saja Haidar dan Gayatri diarak menuju kantor desa setempat.
Malam itu, tanpa mendengar alasan dan bukti yang kuat, pihak desa memanggil pak Slamet, ayah Gayatri untuk menikahkan anaknya secara darurat.
"Kenapa bisa begini, nduk?" Tanya pak Slamet. Tidak mampu menjawab, Gayatri hanya bisa terisak meratapi statusnya menjadi istri dadakan.
Sejak resmi menjadi suami Gayatri, Haidar langsung ikut pulang ke rumah mertuanya.
"Apakah kalian memang ada hubungan?" Tanya pak Slamet hati-hati.
"Ya, tidak!" Sahut keduanya berbarengan membuat ayah Gayatri bingung.
"Mana yang benar ini?"
"Mas Haidar ini adalah ojek langganku yang sering mengantar jemputku saat manggung," terang Gayatri.
"Baiklah kalau begitu, pernikahan kalian tadi terjadi semata karena desakan warga, kan?"
Kali ini keduanya menjawab kompak dengan anggukan.
"Nak Haidar, saya percaya kalau kamu dan anak saya tidak melakukan hal yang terkutuk itu dan karena nak Haidar tidak ada hubungan spesial maka ... saya ikhlas jika pada saat ini, Gayatri kamu talak," ucap pak Slamet.
"Apa pak, talak? Tidak pak, sesungguhnya saya memang senang sama Gayatri."
"Hah, baiklah kalau begitu, silakan saling mengenali terlebih dahulu. Oh iya, maaf nak ... rumah kami sempit, kami tidak punya kamar tamu ... jika nak Haidar berkenan, tidur di ruang tamu saja ya, maaf."
"Kenapa pak? Apa Gayatri tidak punya kamar?" Tanya Haidar.
"Em ... ada, nak Haidar mau ...?"
"Iya, pak. Kami sudah menikah 2 jam lalu, Gayatri syah menjadi istriku, maka sudah sepantasnya saya mendapat hak saya sebagai suami."
"Ka-kamu ..." ayah Gayatri urung mengungkapkan kecurigaannya.
Sejak saat itu Haidar menumpang tinggal di rumah mertuanya, kerjaannya hanya luntang lantung jika sedang tidak dapat penumpang. Sedangkan Gayatri semenjak menikah, dilarang Haidar manggung lagi dengan alasan tidak mau suara merdu dan kecantikan istrinya dinikmati orang lain. Berulang kali Gayatri merayu suaminya agar mau bekerja di sawah bersama bapak, tapi selalu ditolak. Bukannya meringankan beban, memiliki suami seperti Haidar yang malas malah menambah pikiran saja.
***
"Suamimu kemana akhir-akhir ini jarang pulang, nduk?" Tanya Elok, ibunya Gayatri.
"Ada kerjaan, bu."
"Oh, syukurlah ... akhirnya suamimu sadar juga akan tanggung jawabnya. Kandunganmu semakin besar, perlu menabung untuk biaya persalinan," harap bu Elok sambil mengelus perut Gayatri.
Semenjak Gayatri hamil, Haidar sering pulang malam dengan alasan ngojek dan sepulangnya pasti memberikan uang untuk Gayatri, memang tidak banyak apalagi jika dibanding dengan hasil Gayatri manggung, namun berapapun yang diberikan suaminya, Gayatri selalu bersyukur dan menyisihkan untuk tabungannya.
Saat kehamilan Gayatri memasuki usia 8 bulan, tetangga mereka pak Jaya, memohon agar Gayatti mau mengisi acara di resepsi pernikahan putranya. Merasa tidak enak dengan pak Jaya, Gayatri terpaksa menerima tawaran itu meski Haidar tidak membolehkan, pertimbangan lain Gayatri adalah honor manggung sejumlah 2 juta sudah dibayar duluan oleh pak Jaya.
"Aku sudah melarangmu manggung lagi, kenapa kamu tidak patuh sama suamimu, hah?" Hardik Haidar.
"Tidak enak sama pak Jaya, mas. Beliau tetangga kita dan juga sangat berjasa terhadapku," alasan Gayatri.
"Halaaah, memang berjasa atau jangan-jangan kamu ada main sama tua bangka itu?" Tuduh Haidar.
"Tidak ada mas, aku mendapat bayaran sesuai pekerjaan yang kulakukan."
"Aisssh, kalau begitu ... bagi sini uangnya!" Haidar merampas uang dari tangan Gayatri dan hanya menyisakan beberapa lembar uang biru saja untuk Gayatri dan sejak saat itu Haidar sama sekali tidak pernah pulang ke rumah mertuanya lagi. Ada yang bilang Haidar asyik berjudi, ada pula yang bilang Haidar sudah menikah lagi, entah benar atau tidak, Gayatri tidak peduli.
Ketika Gayatri melahirkan pun, Haidar tidak mendampingi istrinya, hanya pak Slamet yang mengazani cucu pertamanya itu.
***
Selang 2 bulan melahirkan putra pertamanya, Gayatri memutuskan bekerja sebagai buruh pemetik daun teh. Walaupun tidak seberapa, tapi cukup untuk menutupi keperluan sehari-hari. Di saat dia sudah tidak mengharapkan Haidar kembali, tiba-tiba Haidar pulang membawa seorang perempuan.
"Siapa yang kau bawa ini, mas?" Tanya Gayatri
"Adikku," jawab Haidar singkat.
"Adik? Kenapa aku baru tahu kalau mas punya adik perempuan?"
"Ya, sekarang kamu sudah tahu."
Adik perempuan bernama Puspita itu berlagak bagaikan nyonya di rumah sederhana keluarga pak Slamet, dengan alasan tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah, keberadaannya di situ justru menambah beban keluarga, sebab segala keperluannya diurus oleh Gayatri dan yang mengherankan adalah Puspita juga tidur bersama dengan mereka, membuat dipan yang sempit jadi terasa semakin sesak. Padahal Gayatri sudah meminta agar Puspita sekamar dengan adik perempuannya, namun Puspita menolak.
Suatu ketika, saat Gayatri pulang bekerja lebih awal dari biasanya, ia mendapati Haidar tengah asyik bercinta dengan Puspita di kamar mereka.
"Astaghfirullah ... apa yang kalian lakukan?" Lengking Gayatri menghentikan aktivitas mesra dua insan beda jenis itu.
"Mas Haidar, berhubungan dengan adik adalah dosa besar!"
"Haha, kata siapa? Baiklah, terpaksa aku katakan kalau Puspita adalah adik ketemu gedhe," jawab Haidar santai.
"Maksud mas, apa?"
"Ck, masa tidak mengerti? Puspita adalah istri keduaku, madumu."
"Apaaaa?" Pekik Gayatri mengundang bu Elok yang sedang berjualan sarapan di depan rumah, masuk ke dalam.
"Ada apa berteriak, nduk? Lihat anakmu jadi terkejut," tegur bu Elok sambil menggendong bayi merah yang menangis.
"Lihat, bu ... ternyata kita tertipu, Puspita adalah istri kedua mas Haidar," ungkap Gayatri sambil menunjuk sejoli yang belum berpakaian itu.
"Hah, matamu saja yang buta tidak melihat perlakuan suamimu padanya tidak selayaknya seperti kakak pada adiknya. Mereka memang selalu mengurung diri di kamar saat kau pergi bekerja," ujar bu Elok sambil menatap sinis pada menantu dan istri mudanya itu.
"Ya Allah ..." isak Gayatri. "Sudahlah hanya bekerja sebagai tukang ojek yang penghasilannya tidak menentu, mas malah berpoligami. Mas, keperluanku dan Faraz saja tidak mampu kau penuhi, sekarang malah bawa istri baru."
"Pergi kalian dari rumah ini!" Tegas pak Slamet yang ternyata sudah kembali dari sawah.
.
.
Tunggu kelanjutannya yaaaa😍