Dia Oceana Daisy, seorang Gadis tidak beruntung yang selalu mendapat perlakuan tak enak di rumahnya, maupun di sekolahnya. Saat ini, Gadis itu sedang berjalan sembari pulang sembari membersihkan sisa cangkang telur di rambutnya.
"Tuhan, aku tau Kau ada. Tapi kenapa Kau memberiku hidup seperti ini? Aku juga ingin merasakan Manis, Tuhan. Aku tidak mau merasakan Pahitnya kopi selamanya." Ujar Oceana.
Ia berhenti sebentar, menatap langit yang hitam. Tanpa ia sadari, setitik air mata jatuh dari mata kanannya.
"Fyuh, aku tak mau pulang." Ujarnya. Ia pergi ke sebuah Taman dan duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu menutup matanya, menikmati semilir angin yang meniup pelan rambutnya....
10 menit kemudian.....
"Hei, bangunlah. Ini sudah hampir jam 7 malam!" Oceana membuka matanya dan membelalak kaget saat melihat seorang laki-laki dengan rambut Blonde berjongkok tepat di hadapannya.
"S-SIAPA KAU?! JANGAN DEKAT-DEKAT!!" Teriak Oceana. "Woah woah chilll, aku tadi berjalan-jalan di sekitar sini dan tak sengaja melihatmu, aku takut kau kenapa-kenapa jadi aku membangunkanmu." Jelas Laki-laki itu.
Oceana terdiam, ia bangkit dan menatap Laki-laki itu. "Apa kau ada masalah? Penampilanmu..."
"Tidak usah pura-pura peduli!" Potong Oceana sembari berlalu pergi.
"Hei, tunggu! Kalau kau mau melampiaskan emosi-mu, aku selalu ada di Taman ini saat Senja." Teriak laki-laki itu. Oceana menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Laki-laki itu.
Ia tak menjawab apa-apa dan segera pergi sebelum orang rumah menghabisinya.
"Huft.....tidak usah takut, Oceana. Hadapi saja seperti biasa." Gumam Oceana. Dengan langkah gemetar, ia membuka kenop pintu rumahnya dan.....
"ANAK SIAL! DARIMANA SAJA KAU SAMPAI SEMALAM INI BARU PULANG?!" Oceana menutup matanya dan siap untuk menerima segala pukulan.
Pukulan pertama ia dapat di bagian pipi, lalu berlangsung sampai ke seluruh tubuhnya.
DAK! Siksaan itu diakhiri dengan kepala Oceana yang dibenturkan ke dinding, lalu, kedua orang tua itu membiarkannya begitu saja.
Oceana bangun dengan sisa tenaga-nya. Ia berjalan ke kamarnya dengan langkah yang tertatih-tatih. Ia mengunci pintu kamarnya dan mengganti pakaiannya, lalu mengambil obat-obatan.
'Tidak apa-apa, ini akan berakhir. Bersabarlah.' Kata-kata itu yang selalu Oceana ucapkan dalam hatinya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang teramat sangat. Setelah itu, ia membuka laci-nya dan mengambil roti yang ia beli kemarin untuk makan malamnya.
"Terima kasih untuk berkat-Mu hari ini, Ya Tuhan." Gumam Oceana. Ia membuka rotinya, dan memakan roti yang sudah hampir basi itu. Gadis itu menahan air matanya sekuat mungkin, menggigit roti yang ia makan dengan kuat demi menahan air matanya yang hampir jatuh.
"Tidak apa-apa Ocean, kau kuat. Tuhan mencintai-mu!" Isak Gadis itu.
Ia meringkuk menahan perih dari pukulan yang ia terima tadi, lalu tiba-tiba, ia teringat akan laki-laki yang ia temui di Taman.
'Kalau kau ingin melampiaskan emosi-mu, aku ada di Taman ini saat Senja.'
"Baiklah....saat Senja..." Gumam Oceana.
Keesokan harinya.....
Oceana celingukan, mencari sosok laki-laki berambut Blonde itu.
"Mencariku?" Gadis itu melompat kaget saat laki-laki itu tiba-tiba muncul di belakangnya. Ia tersenyum dengan ramah, dan mengajak Oceana duduk di pohon rindang waktu itu.
"Ada apa, Tuan Putri?" Tanya laki-laki itu. Oceana terdiam sebentar, ia menghela nafasnya, dan mulai menceritakan semua keluh kesahnya. Oceana spontan menangis, berteriak-teriak kecil sembari menceritakan semuanya pada laki-laki itu.
"AKU JUGA MAU MENGINGINKAN HIDUP YANG NORMAL! AKU JUGA MAU PUNYA BANYAK TEMAN! AKU MAU DISAYANG OLEH ORANGTUAKU!" Teriak Oceana, ia berhenti bercerita dan menangis meraung-raung.
"Sudah?" Tanya laki-laki itu. Ia memeluk Oceana dan menepuk-nepuk bahu-nya. "Aku tidak akan bilang jangan menangis, tapi, karna kau Seorang Putri, kau tidak boleh menangis terlalu lama. Paham?" Ujar laki-laki itu dengan suara yang lembut.
Bukannya tenang, Oceana malah semakin menangis mendengar kata-katanya. "Aduh ini Putri atau Bayi sih? Hahaha! Menangislah sepuasmu, aku ada disini." Kata Laki-laki itu.
Setelah puas menangis, Oceana mengambil air minumnya yang ia bawa dari rumah lalu meneguk-nya hingga habis.
"Begini...aku tau perasaanmu, aku juga tau perihmu setiap kau disiksa, aku juga tau rasanya dikucilkan. Tapi, percayakah kau kalau semua akan berubah? Aku yakin, orangtua-mu akan lebih menyayangimu, aku juga yakin kalau kau akan mempunyai banyak teman, tapi belum saatnya." Kata Laki-laki itu.
"Entahlah, selama 17 tahun aku hidup dan tidak pernah mendapat kebahagiaan, aku jadi tak percaya lagi." Jawab Oceana.
Laki-laki itu tersenyum dan mengelus pelan rambut Oceana. "Kau percaya pada Tuhan kan? Tuhan itu tak pernah tidur, Dia tahu apa saja yang dialami olehmu. Dia akan terus memberikanmu Ujian ini sampai akhirnya kau bisa tersenyum dan berkata 'Tuhan, aku berhasil melewati Ujian-Mu'!"
Oceana terdiam, merenungi setiap perkataan Laki-laki itu. "Jadi Pengikut Yesus memanglah tidak mudah, kau harus bisa memikul Salib-mu sendiri. Ingatlah, Tuhan mati demi kita kan? Jadi, kita pun pasti bisa melewati semua Ujian ini." Sambungnya.
Tanpa Oceana sadari, ia mengangkat bibirnya ke atas, untuk pertama kalinya, ia bisa tersenyum walau bukan senyum lebar.
"Terima kasih.....siapa namamu?" Tanya Oceana.
"Ah...soal itu, bagaimana kalau kau yang memberiku nama?" Ujar Laki-laki itu. "Hah?? Apa??" Kata Oceana kebingungan.
"Iya, aku serius! Berilah aku nama panggilan." Katanya. Oceana mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu.
"Bagaimana kalau Alden?" Tanya Oceana. "Alden?" Ujar laki-laki tersebut.
"Iya! Alden artinya teman yang Bijaksana, sama sepertimu." Jawab Oceana. "Boleh juga! Baiklah, mulai sekarang namaku Alden!" Kata Alden dengan semangat.
Oceana ikut tersenyum, namun seketika wajahnya kembali murung. "Mau kuantar ke rumah?" Tanya Alden tiba-tiba.
"Jangan! Kalau orangtuaku tau aku diantar laki-laki, mereka malah akan semakin marah padaku." Kata Oceana.
"Aku tidak akan mengantar sampai ke rumahmu, tenang saja. Tapi aku akan mengawasi-mu dari jauh. Bagaimana?" Tawar Alden sembari mengulurkan tangannya. Oceana mengangguk dan membalas uluran tangan Alden.
Beberapa menit kemudian......
"Tenang saja, jangan takut. Ucapkan nama Tuhan sebelum masuk." Gumam Alden.
"Huft....iya. Terima kasih banyak...Alden. Kalau boleh, datanglah lagi besok." Kata Oceana.
"Aku selalu ada disana, sekarang pergilah. Tenangkan dirimu, dan ucapkan nama Tuhan." Kata Alden.
Oceana mengangguk, ia berjalan menuju rumahnya. 'Huft.....Dalam Nama Tuhan Yesus!' Batin Gadis itu dalam hati. Ia membuka kenop pintu rumahnya dengan hati yang berdebar kencang, dan.....
KRIET...!
Oceana terdiam. Ia kaget saat kedua orangtuanya menunggunya. "Sedang apa kau? Cepat masuk!" Ujar Ibu-nya. "I-iya!" Kata Oceana. Ia membuka sepatunya dan duduk berhadapan dengan orangtuanya.
"Ngapain kau? Makanlah itu, kami menyiapkan-nya untukmu." Kata Ayah-nya. Oceana kebingungan, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ibu-nya memasak sup miso untuknya? Padahal selama ini, ia hanya diberi makan nasi dan garam.
Setetes air mata jatuh dari mata Oceana, namun ia dengan cepat menghapusnya. "Terima kasih Ayah, Ibu!" Ujar Oceana girang. Ayah dan Ibu-nya bertatapan lalu bangkit berdiri, "Makanlah sampai habis." Ujar Ibu-nya, lalu keduanya pergi ke kamar mereka.
"Aku tidak percaya ini...! Aku tidak percaya!" Gumam Oceana, Gadis itu makan dengan sangat lahap sampai hampir tersedak. "Aku harus menceritakan ini pada Alden besok!!" Kata Oceana.
SKIP
"Ya ampun, rasanya malas sekali harus bertemu dengan pembantu bau ini!!" Ujar Kelly, si Ratu Wannabe di sekolah. Oceana menunduk, tak berani mengangkat wajahnya.
"Heh! Cepat cium kaki-ku seperti biasa!" Pinta Kelly. Oceana berjongkok, memegang kaki Kelly dan hendak mencium-nya, namun....
"Hentikan!" Tahan seorang laki-laki berkulit agak hitam. "Dasar bodoh! Untuk apa kau mau diperintah olehnya?!" Ujar Abdel Na, teman sekelas Oceana dan Kelly.
"Lho? Memangnya kenapa?? Dia kan budakku!" Bantah Kelly. "Coba saja kau yang diperlakukan seperti itu, tidak mau kan?! Jadi jangan melakukannya pada orang lain juga!" Marah Abdel sembari menarik tangan Oceana.
"Lain kali kau harus melawan! Mau sampai kapan kau diperbudak olehnya?!" Kesal Abdel. Oceana tidak menjawab apa-apa, ia hanya ikut kemana Abdel membawanya pergi.
"Kau suka susu coklat?" Tanya Abdel di kantin. "I-iya, suka." Jawab Oceana. "Nah, untukmu." Kata Abdel sembari memberi Oceana susu coklat. "Terima kasih." Kata Oceana.
"Hei Abdel! Wah siapa ini? Pacarmu?" Tanya seorang Gadis yang datang dengan dua orang laki-laki.
"Hei, bukan Kak. Dia teman sekelasku, Oceana. Dan Oceana, ini Kakak kelas yang paling dekat denganku, Tiara Anastasya, yang itu Robert Arthuro. Kalau yang di sebelahnya Cody Parker." Kata Abdel.
"S-salam kenal!" Ujar Oceana sembari membungkukkan badannya. "Hahahaha, dia manis sekali!" Ujar Tiara. "Jangan segan dengan kami ya, anggap saja kami seumuranmu. Dahhh, kami duluan!" Kata Tiara.
"Wah, Kakak itu keren." Gumam Oceana. "Oh? HEI TIARA, OCEANA BILANG KAU KEREN!" Teriak Abdel. Oceana membelalak dan memukul-mukul Abdel. "BODOH, JANGAN TERIAK JUGA DONG!!" Marah Oceana. Abdel tertawa terbahak-bahak.
"Maaf maaf, sudahlah, ayo ke kelas." Ajak Abdel.
********
"Hai, bagaimana harimu?" Tanya Alden yang sedari tadi menunggu. "Baik, sangat baik. Entah kenapa, kemarin orangtuaku bersikap biasa saja, mereka bahkan memasak sup miso untukku." Cerita Oceana.
"Wah, itu bagus! Mungkin, mereka sudah menyadari kesalahannya." Kata Alden.
"Semoga saja begitu, aku takut mereka hanya bersikap baik di hari itu saja." Ujar Oceana. "Hei, jangan overthinking. Percayalah, mereka pasti sudah menyadari kesalahan mereka." Kata Alden.
"Amin!" Seru Oceana. "Ah lupa, ini. Aku membelikanmu roti kesukaanku," Sambung Oceana sembari memberi Alden roti.
"Terima kasih, aku akan memakannya nanti." Jawab Alden. "Entah kenapa, semua berubah sejak aku bertemu denganmu. Aku juga tadi dibela saat dibully." Cerita Oceana.
"Aku senang kalau aku bisa mendatangkan keberuntungan. Dan kuharap, aku bisa terus melihat senyum-mu." Ujar Alden sembari mencubit pipi Oceana.
Oceana tersenyum lebar, ia dan Alden mengobrol tentang banyak hal sampai hampir lupa waktu. "Eh by the way, ayo pulang! Ini sudah jam 8!" Ajak Alden.
"Wah iya! Aku lupa waktu! Ayo ayo!!" Ujar Oceana. Kedua anak itu berlari di tengah dinginnya malam sembari tertawa-tawa.
"Alden, hari ini juga terima kasih banyak. Aku benar-benar beruntung bisa bertemu denganmu. Dadah!" Ujar Oceana sembari melambaikan tangannya.
Alden tersenyum dan membalas lambaian tangan Oceana. 'Baguslah....Dia sudah mulai berubah...' Batin Alden dalam hatinya.
Seperti biasa, Oceana mengucap nama Tuhan dalam hatinya dan membuka kenop pintu rumahnya. "Darimana saja kamu?? Kenapa baru pulang jam segini??" Ujar Ibu Oceana, namun kali ini, ia tidak marah-marah.
"M-m-maaf Bu! Oceana hanya bermain bersama teman!" Ujar Oceana yang sudah ketakutan. Ibu Oceana mendekatinya dan memeluknya dengan lembut.
"Cean, Ibu minta maaf karna selama ini selalu menyiksamu. Kemarin malam, seorang Pendeta datang ke rumah kami. Dia bilang kalau dia sering melihatmu yang selalu menangis sendirian karna siksaan dari kami. Lalu, Pendeta itu memberi Firman kepada kami dan mata kami langsung terbuka. Karna itu...karna itu, maafkan Ibu dan Ayah! Maaf!" Ujar Ibu Oceana panjang lebar.
Oceana terdiam, antara percaya dan tidak percaya. "Ini....Mimpi ya?" Gumam Oceana. "Apa? Tidak, ini nyata. Ibu dan Ayah benar-benar minta maaf. Mulai sekarang, kami janji kami akan memperhatikanmu!" Kata Ibu.
Oceana menangis tak percaya, ia memeluk Ibu-nya dengan kuat. Benar, ini bukan mimpi, ini kenyataan. Tuhan telah mendengar Doa-Doa-nya. Lalu, Ayah Oceana datang dan mengatakan hal yang sama pada Oceana.
'Tuhan.....Tuhan.....terima kasih! Terima kasih banyak untuk hadirnya Malaikat-Mu Tuhan! Terima kasih!!' Batin Oceana dalam hatinya.
Beberapa hari Oceana lewati dengan senyuman, ia menjadi dekat dengan Abdel dan Kakak-Kakak kelasnya. Ia bahkan sudah berani untuk melawan Kelly hingga Kelly tidak berani lagi memperbudaknya. Ia juga banyak menghabiskan waktu dengan Alden di saat Senja, dan kedua orangtuanya sudah memaklumi hal itu.
"Eh Cean, sore ini ikut yuk! Kami mau main ke City Land!" Ajak Tiara. "Ah maaf, Cean tidak bisa. Cean harus menemui teman." Jawab Oceana.
"Lagi? Kau tidak pernah bermain dengan kami sampai Sore lho." Ujar Abdel. "Hehehe, maafkan Cean. Cean pasti akan bermain dengan kalian kok kalau Cean sempat! Cean duluan!" Kata Cean sembari berlari.
"Aku penasaran, bagaimana kalau kita ikuti saja??" Ujar Cody. "Ehm....boleh juga, tapi apa dia tidak akan marah?" Kata Robert. "Aku yang akan menghadapinya kalau dia marah. Sekarang ayo ikuti dia!!" Ujar Tiara.
Di Taman.....
"Alden! Cean datang!" Teriak Oceana. Tak ada jawaban, Gadis itu pun memanggil Alden sekali lagi. "ALDEN, INI CEAN!" Teriak Cean.
"Siapa Alden? Pacarnya?" Bisik Tiara, ia dan yang lainnya sedang bersembunyi di semak-semak untuk mengawasi Oceana.
"Alden?? Alden! Alden dimana?!" Teriak Oceana, Gadis itu mulai panik. Ia mulai mengitari seluruh Taman namun tak menemukan Alden.
"ALDENNNN!!" Teriak Oceana sembari menangis. Saat Abdel dan yang lain ingin mendekatinya, mereka berhenti saat Oceana tersenyum lebar entah kepada siapa.
"Alden! Kau disana!" Teriak Oceana. "Dimana?? Dimana anaknya?? Apa Cean sedang berbicara dengan Hantu?!" Bisik Robert. "Sssttt diamlah!" Ujar Tiara.
"Alden! Cean....."
"Cean, kau sudah bisa mengatasi semuanya bukan?" Potong Alden. "Eh, maksudnya?" Tanya Oceana.
"Kau sudah bisa menjalani hidupmu dengan bahagia, dan ini saatnya....untukku pergi." Ujar Alden.
"APA?! ALDEN TIDAK BOLEH PERGI! ALDEN KAN SUDAH JANJI UNTUK TIDAK MENINGGALKAN OCEANA!" Teriak Oceana.
Tiara dan yang lain kebingungan, karna, mereka hanya melihat Oceana berbicara sendiri, hanya ada Oceana sendiri di Taman itu, mereka tidak melihat laki-laki yang dipanggil Alden itu.
"Oceana, kau harus segera sadar kalau aku ini tidaklah nyata. Aku hanya seorang teman bayangan yang diciptakan oleh pikiranmu sendiri." Kata Alden.
"APA-APAAN?! ALDEN ITU NYATA! AKAN KUKENALKAN KAU PADA TEMAN-TEMANKU! SINI!!" Oceana membulatkan matanya saat ia tak bisa menyentuh tangan Alden.
"A-apa?! Tidak....tidakkk!! TIDAK MUNGKIN!!" Teriak Oceana. Alden tersenyum, ia berjongkok di depan Oceana.
"Kau hebat, kau bisa menjalani hidup ini dengan kuat. Dan kuharap, senyum-mu itu tidak akan pernah pudar. Selamat tinggal, Oceana Daisy." Oceana berteriak saat Alden perlahan menghilang dari pandangannya.
"CEAN, BERHENTI!!!" Teriak Tiara dan yang lain. Adbel segera menarik Cean dari tepi jurang yang ada di Taman itu. "APA-APAAN KAU! KAU BISA MATI KALAU MELANGKAH SATU KALI LAGI!" Teriak Adbel.
"ALDEN! ALDEN! DIA PERGI! DIA ITU NYATA! KUMOHON PERCAYALAH PADAKUUUUU!!!! ALDEN ITU NYATAAAAAA!!!!" Teriak Oceana. Abdel dan yang lainnya menenangkan Oceana dan langsung membawanya pergi ke psikiater, lalu mereka segera menghubungi kedua orangtua Oceana.
"Maaf, anak perempuan Nyonya mengidap Skizofrenia Tak terinci, yang menyebabkan ia sering berhalusinasi." Jelas seorang Psikiater. Ibu Oceana kaget dan menangis melihat Anak-nya yang berteriak-teriak.
"KUMOHON! ALDEN ITU NYATA! ALDEN ITU NYATA!! ALDEN ITU NYA......ta...." Oceana langsung tertidur saat Sang Psikiater membiusnya.
"Tuan dan Nyonya harus sering membawanya kesini untuk diterapi, atau dampaknya akan semakin marah nanti." Jelas si Psikiater.
"Baiklah....terima kasih Dokter...." Ujar Ibu Oceana.
°°°°°°°°°°
"Ini.....dimana?" Ujar Oceana. Putih, semuanya Putih. Di sekelilingnya hanya ada warna Putih, bahkan, baju yang Oceana pakai juga warna Putih.
"Aku dimana??? Ibu?? Ayah????" Teriak Oceana.
"Cean." Oceana menoleh ke suara yang memanggilnya dan terkejut. "ALDEN!" Ia berlari ke arah Alden dan langsung memeluknya.
"Tuan Putriku....kau sudah tahu kan sekarang? Kau harus rela bahwa aku tak pernah ada, aku hanya isi dari pikiranmu." Ujar Alden. Oceana menangis dan tersenyum, "Iya....iya.....tapi Alden, kau harus tahu, kalau aku sangat sangat beruntung bisa menciptakanmu. Jika memungkinkan....ayo...kita bertemu lagi, dan di saat itu, kau akan menemuiku dengan tubuh Manusia..." Ujar Oceana.
"Kita lihat bagaimana Tuhan berkehendak. Aku pergi sekarang, selamat tinggal, Tuan Putriku." Ujar Alden.
Oceana tersenyum, menatap Alden yang perlahan hilang dari pandangannya......
*************
"Selesai!" Ujar seorang wanita cantik dengan dua anak itu.
"Huhuuuu, ceritanya sedihhhh!! Huaaaa!!!" Tangis seorang anak laki-laki yang bernama Albert.
"Huaaa, benar! Hiks! Huhu!!" Jawab seorang anak perempuan yang bernama Lilith.
"Hahahaha, kalian ini cengeng sekali. Mama kalian yang menceritakannya saja tidak menangis! Iya kan, Oceana sayang?" Ejek Abdel, laki-laki yang ber-status sebagai Suami Oceana itu.
Oceana terkekeh pelan, ia mencium kedua anaknya yang menangis. "Tidak apa-apa, mereka kan masih anak-anak." Ujar Oceana lembut.
"Wleee! Kami dibela Mama!!" Ejek Albert.
"Ohooo, nakal ya! Papa makan kamu siniii! Rawrrr!"-Abdel.
"Hiii, takuttt! Maaa, ada Monsterrr!!" Teriak Albert. Oceana dan semuanya tertawa melihat tingkah laku Albert. Lalu,
TING TONG!
"Ah, biar Mama saja yang buka." Ujar Oceana. Ia bangkit dan membuka pintu rumahnya.
"Ya? Siapa?" Tanya Oceana.
"Dengan Oceana Daisy?" Tanya Laki-laki yang wajahnya tertutup topi itu.
"Iya, kenapa?" Ujar Oceana lagi. "Siapa Sayang?" Tanya Abdel sembari menggendong kedua anaknya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Bisik Oceana.
"Alden." Wanita itu membulatkan matanya saat Laki-laki itu mengatakan namanya.
"Ini aku, Alden. Kau lupa?" Tanya Alden. Ia membuka topinya, dan memperlihatkan wajahnya yang memerah karna menahan tangis.
Oceana tersenyum sangat lebar, ia melompat dan memeluk laki-laki yang selama ini telah menjadi penyemangatnya itu.
"ALDENNNNN!!!!!"
_The End_