Seorang wanita dengan parasnya yang sangat sempurna terlihat sedang mengasah pedang kesayangannya.
Hari ini, kerajaan mereka harus melakukan penyerangan terhadap para pemberontak yang ada di perbatasan timur.
Penyerangan yang paling sempurna, yaitu pada malam hari.
Sebagai seorang putri, wanita itu memiliki kemampuan di atas rata-rata daripada kebanyakan wanita yang tinggal di Kekaisaran Romawi.
"Diana, apa kau yakin?" tanya neneknya.
"Ya, aku yakin. Aku harus segera berangkat, Nek. Aku akan kembali secepatnya," sahutnya buru-buru pergi di ikuti oleh anjing kesayangannya, Baccus.
"Pulanglah dengan selamat!" teriak neneknya yang hanya dibalas senyuman oleh Diana.
Diana Raynesha adalah putri dari Kekaisaran Romawi. Ia merupakan anak ke-6 dari Raja Xaverius dan Ratu Emeralda.
Diana bisa dibilang seorang putri yang pembangkang. Dia sangat jauh berbeda dengan para kakaknya yang selalu mematuhi aturan kerajaan.
Merupakan anak terakhir dan terlahir sebagai seorang wanita, ia acap kali diremehkan oleh orang tuanya sendiri hingga membuat Diana haus akan pujian.
Dia sebenarnya wanita yang baik dan lembut. Diana akan selalu membantu masyarakat Roma yang kesulitan dalam pekerjaan maupun finansial.
Berbanding terbalik dengan para kakaknya yang semuanya adalah pria dan memiliki sifat sombong dan kejam.
Diana sendiri pun lebih dekat dengan neneknya, ibu dari mamanya.
Neneknya pernah berkata, bahwa dulu mamanya adalah wanita yang baik dan sederhana. Namun karena harta dan tahta membuat mamanya memiliki sifat tamak dan egois.
Untuk itulah Diana lebih nyaman tinggal bersama neneknya di rumah sederhana tepat di samping danau.
...
Diana mulai memacu kuda putihnya dengan sangat cepat ke arah hutan belantara sana, sedangkan Baccus mengikutinya dari arah belakang.
Anjing jenis Cane Corso itu selalu setia menemani tuan nya pergi ke mana pun.
Memerlukan waktu 2 jam untuk sampai ke perbatasan timur, namun tak membuat wanita itu lelah. Justru semangatnya semakin membara tatkala sayup-sayup terdengar suara pedang beradu dan langit malam yang terlihat memerah.
Diana kemudian menghentikan kuda miliknya untuk melihat situasi yang ada.
"Baccus, apa kau siap?" tanya Diana pada Baccus yang seketika menggerakkan ekornya riang.
Mereka berdua sudah lama ingin ikut andil dalam peperangan. Selama ini Diana hanya melakukan perburuan di dalam hutan dan melatih bela dirinya sendiri.
"Hihaaa!"
Diana memacu kudanya sangat cepat hingga hanya beberapa detik saja dia sudah masuk di dalam lingkungan peperangan itu.
Beberapa prajurit romawi yang melihatnya pun seketika terkejut.
Bagaimana tidak?
Diana terlihat sangat cantik dengan baju perang yang melekat indah di tubuh rampingnya.
Baju bagian atas hanya mampu menutupi benda berharganya, sedangkan bagian perut dibiarkan terpampang nyata.
Begitu pun dengan rok yang ia kenakan yang panjangnya hanya mencapai setengah paha mulusnya.
Setelan baju itu hanya mampu dibeli oleh para bangsawan di Roma. Harganya sangat mahal karena didesain menggunakan kulit buaya langkah. Baju itu berwarna cokelat, sangat kontras dengan kulit Diana.
Rambutnya dibiarkan tergerai indah hingga mengikuti hembusan angin yang semakin membuatnya terlihat cantik di mata semua orang.
Sedangkan kaki jenjangnya dibalut indah oleh sendal yang talinya melingkar sampai ke lutut.
Ia memegang pedang kesayangannya dengan penuh percaya diri.
Begitu pun dengan panah yang digantung di punggungnya hingga mampu menyempurnakan penampilan dewi perang itu.
"Apa yang kalian lihat?!" teriaknya pada beberapa prajurit romawi.
Melihat seorang wanita cantik berada dalam kondisi perang, bukankah sangat langkah?
Para prajurit romawi mau pun pemberontak di sana langsung mengusap bibir karena air liur yang menetes.
Wanita itu benar-benar beracun.
...
Pasukan romawi hampir kalah. Jumlah mereka hanya tinggal seratus orang, sedangkan para pemberontak itu masih sekitar dua ratus orang.
Diana akhirnya yang memegang perintah karena sang jendral telah gugur beberapa saat yang lalu.
Tubuh Diana mengalami luka yang cukup banyak, namun tak mengurangi pesonanya di mata para lelaki di sana.
Termasuk seorang pria yang sejak tadi memandanginya lembut.
Lelaki itu tak bisa mendekati Diana karena penjagaan ketat dari beberapa prajurit. Jangan lupakan seorang anjing yang sedari tadi terus menghalau para musuh yang ingin menyerang Diana.
Diana berjuang sangat keras hingga pasukannya berhasil memukul mundur para pemberontak itu.
Mereka adalah orang-orang yang merasa tak adil dengan sistem pemerintahan Kekaisaran Romawi hingga akhirnya mereka mengumpulkan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama untuk menggulingkan Raja Xaverius yang terkenal sangat kejam dan licik.
Diana jatuh dengan posisi berlutut. Badannya bergetar hebat karena ini adalah kali pertama ia membunuh orang.
Seketika rasa bersalahnya muncul.
Diana memandang ke sekelilingnya yang hanya menampilkan pemandangan yang mengerikan.
Ia melihat orang-orang yang gugur dengan linangan air mata.
Kenapa harus ada perang seperti ini?
Bagaimana jika mereka yang meninggal adalah tulang punggung keluarga?
Bagaimana jika mereka adalah seorang ayah yang sedang dinantikan kehadirannya oleh anak mereka?
Bagaimana jika istri mereka tengah mengandung dan mendapati kenyataan bahwa suaminya telah gugur? Anak mereka akan lahir tanpa ayah.
Bagaimana jika mereka adalah seorang anak yang seharusnya bisa menggapai cita-cita dan mengubah dunia, namun malah berakhir mengerikan seperti ini?
Diana sangat terluka ketika ia sadar bahwa berperang bukanlah jalan yang tepat mencapai suatu tujuan.
Wanita itu perlahan mulai berdiri. Tangannya terkepal kuat hingga sendi-sendinya berbunyi.
Meskipun ia pulang membawa kemenangan, namun arah tujuan Diana sekarang berubah.
Ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi hingga orang-orang itu memberontak.
Tak ada sebab tanpa akibat.
Diana langsung berlari ke arah kuda miliknya yang masih bertahan meskipun warna putih itu sudah berubah warna menjadi kemerahan.
Ia memacu kudanya dengan sangat cepat menuju arah istana dengan amarah memuncak.
Sedangkan di balik pohon sana, terlihat seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah tengah memandang sendu pada kepergian wanita itu.
"Aku merindukanmu, sayang ..." ucapnya lirih.
TAMAT
❤💔
Ikutin terus cerpenku krna beberapa cerita akan memiliki keterkaitan 😘