Kerajaan S dipimpin oleh Raja Adolf dan Ratu Adena yang sangat disayangi oleh seluruh rakyatnya sebab kebijakan dan kebaikan yang keduanya miliki.
Tak hanya Raja dan Ratu, kerajaan S juga memiliki seorang pangeran bernama Julio yang menjadi harapan satu-satunya untuk memimpin kerajaan.
Suatu hari kerajaan yang selalu dalam keadaan tenang, tiba-tiba saja digemparkan oleh berita jika akan diadakan pemilihan wanita tercantik untuk pertama kalinya di kerajaan tersebut.
Yang istimewa, sebab semua wanita di kerjaan S diperbolehkan ikut. Baik wanita dari rakyat biasa maupun wanita dari kalangan bangsawan.
💕💕💕
Sementara di kerajaan ...
"Tidak Ayah," tolak Julio.
"Sampai kapan pun aku tak akan menerima adanya perjodohan," ucapnya.
"Kumohon Ayah, cukup beri aku waktu sedikit lagi. Aku akan segera menemukan tambatan hatiku," sambung Julio.
Raja Adolf hanya bisa menghela napas saat harus menghadapi putra satu-satunya yang sangat keras kepala.
Sang Raja menyadari jika semakin hari usianya terus bertambah, sudah saatnya Julio menyiapkan diri untuk menjadi penerusnya.
Salah satunya dengan memilih Putri yang nantinya akan menjadi Ratu dan mendampingi Julio memimpin kerajaan.
"Sayang, dengarkan Ibu ..." ucap sang Ratu menyela.
"Sebagai Raja yang baik, ingatlah untuk selalu memikirkan rakyat dalam setiap keputusan dan tindakan yang kau ambil."
Ratu Adena menggenggam kedua telapak tangan putranya, "Pilihlah sendiri pasanganmu Nak, itu sebabnya kami membuat sebuah kompetisi agar kamu bisa memilih wanita beruntung itu."
Sepertinya tindakan lemah lembut sang Ratu berhasil.
"Baiklah, tapi aku punya cara sendiri untuk memilihnya."
Raja dan Ratu saling memandang, entah apa lagi rencana yang ada di pikiran putranya.
Semoga apa yang direncanakan pangeran Julio berhasil hingga nantinya terpilih seorang putri yang tak hanya cantik tapi juga bijaksana.
💕💕💕
Di tempat yang berbeda, di kediaman salah satu keluarga bangsawan,
"Tidak!" tegas Tuan Hector.
"Tapi ayah, aku sangat ingin mengikuti kompetisi ini," pinta Cathleen dengan memelas.
"Apa yang kau harapkan dari mengikuti kompetisi aneh yang dibuat oleh kerajaan?" tanya Tuan Hector.
"Ayah bahkan bisa memberimu hadiah yang lebih baik!"
Cathleen yang mendengar penuturan sang ayah mulai menitikkan air matanya.
"Bukan Ayah ... Ayah salah jika mengira aku hanya menginginkan hadiahnya," bantah Cathleen.
"Lihat sekelilingku Ayah ... Ayah sudah memberiku banyak hal. Kepingan emas yang ayah berikan bahkan belum satupun yang kugunakan, sebab aku tak butuh apa pun," jelas Cathleen.
Wanita cantik dengan bola mata biru dan rambut cokelat yang tergerai masih terus menangis.
"Aku butuh teman Ayah ... aku kesepian," lanjutnya lirih.
"Aku juga ingin mengobrol dengan teman-teman wanita yang lain, aku juga ingin menghadiri undangan pesta teh, atau mungkin bermalam bersama dengan teman-teman wanita lainnya."
"Hanya itu Ayah, aku juga ingin seperti wanita lain yang sebayaku."
"Nyatanya aku hanyalah wanita aneh dan misterius yang terkurung dalam sangkar emas yang Ayah buat untukku," lanjut Cathleen.
Ucapan Cathleen mampu memberikan tamparan tepat di hari sang Ayah.
'Apa aku selama ini terlalu mengekangnya?'
'Apa semua yang kulakukan adalah kesalahan?'
batin Tuan Hector mulai meragu.
"Cathleen sayang, kau salah jika mengira apa yang Ayah lakukan ini membuatmu menjadi wanita aneh yang misterius," ucap Tuan Hector.
"Semua yang Ayah lakukan hanya untuk melindungimu saja Nak ... asal kau tahu dunia luar itu sangat kejam, penuh dengan siasat dan muslihat."
"Tunggu sampai kau siap Nak, dan kumohon mengertilah. Ayah melakukan semua ini sebab ayah sangat menyayangimu dan tak ingin kehilanganmu, hanya kamu harta paling berharga yang ayah punya sayang," jelas Tuan Hector dengan lembut.
Jika ayahnya sudah tampak rapuh seperti saat ini, maka Cathleen akan kembali lemah.
Cathleen yang awalnya sudah meneguhkan hati untuk memaksa sang ayah agar memberinya izin, akhirnya kembali luluh.
Wanita itu sangat mengerti bagaimana kesedihan yang ayahnya rasakan saat kehilangan sosok istri untuk selama-lamanya.
💕💕💕
Hari terus berlalu, 3 hari lagi kompetisi pemilihan wanita tercantik di Kerajaan S akan digelar.
Cathleen yang masih sangat ingin mengikuti kompetisi itu kini terlihat sangat gelisah.
Dengan gaun berwarna putih gading yang membalut tubuh indahnya Cathleen mondar mandir membuat Augustine salah satu pelayannya merasa khawatir.
"Nona muda, sekiranya apa yang membuatmu sangat gelisah? Apa masih karena kompetisi itu?" tanya Augustine.
Cathleen mengangguk, "Ya ... kau tahu aku hampir gila memikirkan keinginanku mengikuti kompetisi itu."
"Lantas, mengapa anda tidak ikut saja?"
"Kau tahu bagaimana ayah, dia tak mengizinkanku," jawab Cathleen dengan raut wajah sedihnya.
Augustine sungguh prihatin dengan nona mudanya, lalu tiba-tiba terlintas ide dibenaknya.
"Tapi kan saat ini Tuan sedang pergi berdagang, selama Tuan besar tak tahu kurasa tak akan ada masalah," ucap Augustine.
Cathleen nampak berpikir sejenak, ia lalu mengangguk dengan bersemangat.
"Kau benar ... aku tak perlu menjadi Cathleen, ayah tak akan tahu."
💕💕💕
Dengan bersemangat Cathleen mendatangi kerajaan. Sungguh suatu keberuntungan sebab celah jendela tempat untuk mendaftar hampir saja ditutup.
"Hei ... hei ... hei ...." teriak Cathleen dan Augustine bersamaan.
"Tolong jangan di tutup dulu, aku masih ingin mendaftar," ujar Cathleen.
"Apa anda dari keluarga bangsawan atau keluarga biasa?" tanya petugas kerajaan.
"A-aku dari keluarga biasa," jawab Cathleen ragu.
"Kalau begitu pulanglah Nona, pendaftaran sudah ditutup."
Usir petugas tanpa ragu.
"Ta-tapi tolonglah, kami datang dari jauh," kini Augustine yang memelas untuk Nona mudanya.
Karena tak ada respon maka Augustine dan Cathleen menyerah.
Namun emosi Cathleen memuncak mana kala ia melihat seorang gadis bangsawan diperlakukan sangat baik bahkan masih diterima untuk pendaftaran.
"Hei petugas!" Bentak Cathleen.
"Tadi kau mengusirku dan menolakku untuk mendaftar. Lalu mengapa kau bersikap sangat baik pada nona muda tadi?" tanya Cathleen dengan emosi.
Kali ini ia telah melepas topi lebar yang menutupi sebagian wajahnya.
"Apa karena aku bukan gadis bangsawan?"
"Untuk apa kalian meyebar berita ke seluruh negeri, jika yang boleh ikut hanyalah keluarga bangsawan," ujar Cathleen.
Petugas yang sempat menolaknya sampai termangu melihat kecantikan dan kesempurnaan paras seorang Cathleen.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Pangeran Julio mengamati gerak-gerik Cathleen.
"Ada apa ini?" tanya Julio.
Petugas sudah diberitahu jika Pangeran Julio tidak ingin identitasnya diketahui oleh Cathleen hanya bisa bungkam.
"Anda siapa? Jika tidak bisa membantu ... tolong jangan ikut campur," tegas Cathleen.
Pangeran Julio sempat terkesima melihat keberanian wanita cantik di hadapannya.
"Maaf jika aku mengganggu Nona, tapi dari yang ku dengar apa anda ingin mengikuti kompetisi?"
Cathleen mengangguk.
"Baiklah, katakan siapa namamu dan dari keluarga mana? Kamu boleh mendaftar padakuku," ujar Pangeran Julio.
"Benarkah?" tanya Cathleen tak percaya.
"Tentu saja ... jadi siapa namamu?"
"Namaku? Hem .... Hem ...." Cathleen mulai bingung.
Dia belum menyiapkan itu semua.
"Namanya Agatha, dari keluarga Gustav di pinggiran kota," ucap Augustine, ia tahu Nona mudanya mengalami kesulitan.
"Ya .. ya benar, namaku Agatha dari keluarga Gustav," ulang Cathleen kini dengan yakin.
Pangeran Julio mengernyit keningnya.
'Ada yang aneh,' batinnya.
Namun karena ia mulai tertarik dengan wanita yang mengaku bernama Agatha, akhirnya ia menerima saja pendaftarannya tanpa berpikir panjang.
"Tiga hari lagi, datanglah kembali ke istana. Bawa segala kebutuhanmu, jangan berlebihan. Masa kompetisi 2 minggu kau akan tinggal bersama para peserta lain di istana jika lulus tahapan awal," jelas Pangeran Julio.
Dengan wajah berbinar Cathleen dan Augustine pergi meninggalkan istana.
Akhirnya keinginannya terwujud.
Merasa curiga, Pangeran Julio mengutus seorang pengawal kerajaan untuk mengikuti dan menyelidiki siapa sebenarnya wanita yang mengaku bernama Agatha.
💕💕💕
Hari kompetisi tiba, ratusan wanita dari berbagai kalangan berkumpul menjadi satu di lapangan besar kerajaan.
Cathleen yang menyamar sebagai Agatha sengaja meminjam beberapa pakaian milik Augustine.
Meski sederhana, namun Cathleen tetap tampak sangat cantik dan bersemangat.
Dari ratusan wanita, dengan sabar Cathleen menunggu gilirannya untuk mengikuti tes kecerdasan. Beruntung Cathleen rajin belajar dan membaca hingga semua soal dapat ia jawab dengan mudah.
Dari Ratusan, kini tinggal 20 wanita yang tersisa.
Dan sayangnya dari 20 wanita 18 orang diantara berasal dari kalangan bangsawan sedang 2 wanita lainnya berasal dari kalangan rakyat biasa.
Semua wanita yang terpilih harus tinggal di istana selama 2 Minggu, mempelajari seluk-beluk dan sejarah kerajaan.
Sangat malang nasib Cathleen, sebab impiannya untuk mendapatkan banyak teman harus pupus. Para wanita bangsawan enggan berteman dengannya yang kini menyamar sebagai rakyat biasa.
"Hei sepertinya kamu tak begitu senang mengikuti kompetisi ini?" tanya teman sekamar Cathleen yang bernama Brisia.
Cathleen menghela napasnya, "Ya, sebab semua yang terjadi tak sesuai dengan apa yang kubayangkan."
Cathleen lalu menceritakan niat awalnya pada Brisia. Ia begitu kecewa saat para peserta lain seakan jijik pada mereka berdua.
"Ternyata ayah benar, dunia tidak sebaik yang kupikirkan. Ada banyak hal kejam yang bisa terjadi dan melukaiku," ucap Cathleen lirih.
Brisia tak banyak berkomentar, dia hanya berperan menjadi pendengar yang baik.
💕💕💕
Tak terasa 2 minggu sudah hampir berlalu, berbagai macam ujian dilakukan oleh pihak istana secara diam-diam. Para wanita tanpa sadar akhirnya menunjukkan tabiat asli mereka.
Agatha atau Cathleen juga mulai merasa nyaman berteman dengan Brisia. Pembawaannya yang ceria, polos, apa adanya, dan sedikit manja membuat Brisia nyaman berlama-lama berada di dekatnya.
Malam ini adalah malam terakhir keduanya berada di istana. Besok semua wanita dibolehkan pulang dan menunggu pengumuman di kediaman masing-masing.
"Brisia, hanya ini yang bisa kuberikan padamu sebagai kenang-kenangan," ucap Cathleen sembari memasangkan gelang di tangan besar milik Brisia.
"Aku tak yakin jika kita masih bisa bertemu lagi, tapi 2 Minggu ini aku sangat senang karena bisa merasakan memiliki teman yang sangat baik sepertimu, terimakasih Brisia."
"Kita pasti bertemu lagi Agatha, aku janji akan mencari dan menemukanmu. Masih banyak hal seru lainnya yang harus kau coba," balas Brisia.
💕💕💕
Sebulan telah berlalu, Cathleen bersyukur ayahnya tak mengetahui apa yang telah ia lakukan ketika beliau pergi.
Namun pagi itu, kegaduhan terjadi di kediaman keluarga Hector.
Iring-iringan kerajaan tiba-tiba saja datang berkunjung. Cathleen yang sedang merawat taman bunganya, hanya bisa melihat dari kejauhan ayahnya yang tengah menyambut sosok-sosok yang tampak sangat berwibawa.
Cukup lama para tamu berada di ruang kerja ayahnya, hingga Cathleen diminta untuk ikut bergabung.
Wanita itu sangat terkejut ketika mengetahui jika 3 orang dihadapannya kini adalah Raja, Ratu, dan Pangeran.
Wajah Cathleen semakin memucat kala mengingat jika pria yang menerima pendaftarannya kala itu adalah Sang Pangeran.
"Sungguh suatu kehormatan, kediaman kami dikunjungi oleh Yang Mulia Raja, Ratu, dan Pangeran," ucap Cathleen dengan sopan.
"Perkenalkan Yang Mulia, nama saya adalah Cathleen Annela Hector."
Hening.
Raja dan Ratu terpukau dan kagum melihat kecantikan Cathleen.
"Hai Agatha," ucap Pangeran Julio, "Masih ingat denganku?"
"Te-tentu saja saya ingat Yang Mulia. Mengenai kebohongan itu, saya sungguh minta maaf. Ayah saya tak mengetahui apapun, saya bertindak seorang diri."
"Hukum saya saja Yang Mulia."
Cathleen yang merasa bersalah telah berbohong sontak bersimpuh memohon ampun pada keluarga kerajaan.
Semua orang di ruangan itu cukup terkejut dan seketika hendak tertawa.
Pangeran Julio bangkit dari duduknya dan mendekati Cathleen yang tengah menunduk.
"Hei, tak perlu minta maaf. Dari awal aku sudah tahu segalanya," ucap Pangeran Julio dengan lembut.
"Aku yang harusnya minta maaf sebab telah membuatmu menunggu lama."
Merasa bingung Cathleen akhirnya memberanikan dirinya menatap Pangeran. Ada getaran di hatinya saat kedua netra mereka bertemu.
"Aku kemari untuk memintamu menjadi temanku," ucap Pangeran Julio sembari menunjukkan gelang pemberian Cathleen.
Cathleen menutup mulutnya dengan kedua tangan sebab tak percaya.
"Aku sebenarnya menyamar sebagai Brisia untuk mengenalmu lebih jauh lagi Cathleen. Maaf telah berbohong," ujarnya.
"Kebersamaan kita meyakinkanku jika hanya kau yang benar-benar pantas menjadi temanku. Temanku di sepanjang usiaku, temanku berbagi suka dan duka hingga maut memisahkan kita," ucap Pangeran Julio dengan genggaman erat di kedua tangan Cathleen.
"Be my Princess Cathleen?"
Tanya Pangeran Julio dan di jawab anggukan oleh Cathleen.
Buliran bening berlinang dari kedua pelupuk mata wanita cantik itu saat Pangeran Julio membawa dirinya dalam dekapan hangatnya.
Keduanya tak menyangka jika kebohongan dan penyamaran mereka membawa keduanya menjadi teman yang sesungguhnya, teman sehidup semati.
💕 The end 💕