Prang. Ctak. Prang. Ctak. Prang.
Bumi menangis bersimbah darah. Lautan tubuh teronggok layaknya daging yang tak lagi memiliki harga.
Pandangan Savana sedikit mengabur. Seluruh tubuhnya sebenarnya sudah sangat letih kini. Beberapa luka sayatan di lengan dan kakinya sesekali mengurangi daya konsentrasinya atas kedua senjata di tangannya.
Pedang panjang di tangan kanan. Serta belati kecil di tangan kiri.
Pedang panjang itu didapatnya sebagai hadiah dari Gema, sahabat kecilnya yang kini telah tiada. Sebuah panah menancap tepat di dada dan menembus hingga punggungnya.
Savana sempat bertatapan dengan Gema, lelaki yang juga disukainya itu, untuk terakhir kali. Sebelum akhirnya tubuh gagah Gema oleng jatuh ke tanah dari atas kuda yang ia tunggangi.
Sosok Gema tak lagi sempat Savana lihat, karena Savana pun masih sibuk menangkis dan menerabas musuh-musuhnya.
Prang. Ctak. Prang. Ctak.
Belati Savana telah banyak meninggalkan luka fatal pada musuh-musuhnya. Dengan gesit, Savana menikam beberapa anggota tubuh musuh. Seperti pinggang, dada, paha, serta tenggorokan.
Ada tujuan yang sedang diperjuangkan oleh Savana saat ini. Kemerdekaan negeri Nusara, tempat ia dilahirkan, dari ekspansi bangsa bar-bar Yudas.
Savana adalah putri ke dua dari penguasa negeri Nusara. Meski begitu, darah ksatria mengalir kuat pada urat dan nadinya, sehingga ketika ia mendengar ekspansi bangsa Yudas seminggu lalu, ia pun bersikeras ingin ikut membela negerinya.
Meski awalnya Ayahanda menolak keinginannya itu, namun pada akhirnya Ayahanda mengijinkannya jua untuk turun ke medan pertempuran.
Dengan satu syarat, Savana hanga diperbolehkan untuk menjaga lokasi yang menurut Panglima medan sebagai lokasi yang paling aman. Dan sekitar tiga hari yang lalu, sampailah Savana ke tempat perbatasan ini.
Ayahanda juga menyertakan Savana dengan tiga ratus prajurit yang dipimpin oleh panglima muda Gema, kekasih nya.
Hati Savana terasa sesak, kala ia mengingat tubuh Gema yang kini telah terbujur kaku entah di mana. Rasanya ia tak menyangka perpisahannya dengan Gema akan terjadi secepat ini.
Lokasi yang menurut Panglima Tertinggi dianggap paling aman, justru nyatanya malah mendapat serangan yang tak kalah sengitnya dari bangsa Yudas.
Syukurlah Savana memikiji kecerdikan dan ketangkasan yang diwarisinya dari leluhurnya, Kaisar Agung Wonolo. Kemampuan berpedang, berkuda, memanah, taktik perang, telah berhasil Savana kuasai di usianya yang masih sangat muda, delapan belas tahun.
Meski begitu, Ayahanda mulanya telah mempersiapkan rencana pernikahannya dua purnama mendatang. Sebelum berita ekspansi Bangsa Yudas datang dan menyebabkan mendung di benak seluruh penduduk Nusara.
Tak ada yang menginginkan peperangan terjadi di negeri ini. Walau bagaimana pun juga peperangan hanya akan melahirkan duka, bahkan bagi pemenang nya.
Dalam peperangan, tak ada yang benar-benar bisa dikatakan sebagai pemenang. Karena pemenang sekalipun, pasti akan merasakan kehilangan. Entah materil maupun non materil.
Akan ada anak yang kehilangan bapak nya. Akan ada istri yang akhirnya harus menjanda, sebab suami yang menjadi tulang punggung keluarga akhirnya tiada di medan juang.
Peperangan pasti akan selalu menimbulkan tangis dan luka untuk setiap pihak yang terlibat di dalamnya.
Karenanya Savana amat membenci bangsa Yudas yang begitu gemar menabuhkan gendang peperangan. Dan itu hanya demi menguasai wilayah bangsa-bangsa lainnya.
"Terkutuk bangsa Yudas!" Savana mengumpat marah.
Tapi lalu Savana langsung menegur dirinya sendiri. Suara ayahanda tiba-tiba saja terngiang di benaknya.
'Jangan membenci pelaku pengrusakan, Ana. Bencilah perbuatan buruk yang mereka lakukan. Karena pada dasarnya hati manusia masih bisa berubah. Siapa yang tahu, jika justru kelak manusia yang gemar membawa angkara saat ini, kelak akan menjadi penyebar kejayaan dan kebaikan bagi manusia di masa mendatang!' ucap Ayahanda dulu, lama sekali.
Savana menancapkan pedang panjang nya ke tanah. Dengan kekuatan kecilnya ia akhirnya bisa memukul mundur pasukan bangsa Yudas. Kini matanya menatap nanar pada tubuh dan darah yang memenuhi hampir seluruh area di depan matanya.
Savana merasa sangat letih. Rasanya ia ingin mandi di bawah guyuran air terjun Cidahu saat ini. Tapi tugasnya belum selesai.
Kini ia telah menjadi panglima sementara untuk dua ratus lima puluh prajurit nya yang masih tersisa. Lantaran panglima muda mereka, Gema yang kini telah gugur di medan juang.
Ah.. peras..
Perih itu kini merajam luka di hati Savana. Sekuat mungkin perempuan delapan belas tahun itu membendung tangis. Karena kini, ia tak akan lagi melihat senyum dan tawa di wajah kekasihnya itu.
'Gema, begitu cepat Kau pergi..' lirih batin Savana.
"Tuan Putri, kami telah menemukan.. jasad panglima Gema," suara laporan seorang prajurit masuk ke telinga Savana.
Savana terhenyak saat mendengar laporan prajurit itu.
"Hantarkan.." tenggorokan Savana serasa tercekat untuk sesaat.
"Hantarkan jasad panglima kembali ke ibu kota. Sampaikan pada keluarga dan istana untuk segera mengebumikan jasadnya. Beserta jasad prajurit lainnya yang juga telah gugur," titah Savana pada akhirnya.
"Baik, Putri!" prajurit itu sudah akan berbalik pergi, jika saja ia tak mendengad Savana yang kembali memanggilnya.
"Tunggu!"
"Ya, Putri?"
"... Katakan juga pada ayahanda kalau aku akan tetap di sini sementara waktu. Sampaikan kepadanya semua yang telah terjadi di sini serinci mungkin. Bergegaslah! Aku menunggu kabar pertempuran di perbatasan lainnya!" titah Savana kembali.
"Siap, Tuan Putri! Hamba undur diri!"
Dan prajurit itu pun berlalu pergi. Meninggalkan Savana yang masih termangu menatap sisa-sisa hasil pertempuran yang baru saja dilewatinya.
Para prajuritnya yang masih cukup kuat terlihat sibuk mencari jasad prajurit lain yang telah gugur. Sementara semua jasad bangsa Yudas mereka kumpulkan di satu tempat untuk kemudian dibakar. Ini bertujuan agar tanah bekas pertempuran di sini tak menjadi tanah mati yang dihinggapi wabah penyakit akibat jasad-jasad yang membusuk.
Itu Savana pelajari dari guru taktik perangnya, Guru Maham.
Savana tiba-tiba saja teringaf dengan gurunya itu. Ia membayangkan apa yang akan diucapkan oleh gurunya itu kelak, saat melihat penampilan dirinya saat ini.
Gurunya itu mungkin akan mengatakan seperti ini, "Savana. lihatlah dirimu! Tak sepatutnya seorang putri berlumuran darah sepertimu. Sudah kukatakan, berhentilah memegang pedang. Kecantikan wajahmu tak sepatutnya dilumuri oleh darah dan kotornya medan peperangan!"
Anna tersenyum meringis. Dengan perlahan, ia melepas ikatan yang telah menyanggul rambut panjang sepinggangnya sedari awal peperangan terjadi.
Rambut Savana pun berkibar pelan tertiup angin.
Sang putri kini menatap jerih pada tangannya yang mulai menebal oleh sebab seringnya ia memegang pedang.
Ditatapnya pula rompi besi yang ia kenakan kini. Terlihat oleh Savana banyaknya darah musuh yang mulai mengering di beberapa bagian rompi besi nya.
Savana lalu menatap ke kejauhan.
Teringat kembali olehnya sebentuk wajah tampan milik Gema yang pernah mengikat janji padanya sebulan yang lalu.
"Kita akan menikah, Savana. Tunggu aku menyiapkan segalanya," ucap Gema kala itu.
Dan, luka dalam hati Savana pun kini menganga. Sebuah penyesalan terlahir di dalam jiwanya.
"Andai saja saat itu kita segera menikah, Gema..Kau mungkin tak akan berhutang satu janji yang tak bisa kau tepati kini, kepadaku.."
***