Lawan Yang Tangguh
——————————————————
Catatan :
Cerita ini hasil dari pemikiran acak penulis. Jika ada kesamaan dengan cerita, latar belakang & waktu, dan tokoh, penulis mohon maaf.
————————————————
Elliot tertegun tatkala menemukan Ella dalam kondisi tidak baik-baik saja; sang Adik basah kuyup dari atas sampai bawah, ditambah di tangan kanannya terdapat sepatu yang tinggal sebelah, alhasil membuat si gadis tidak mengenakan alas kaki apapun.
"Ella...," suara Elliot bergetar, dia buru-buru mengayun tungkai mendekat. "Apa..., katakan padaku, siapa dalangnya!"
Elliot menangkap iris hijau milik Ella bergetar, menggigit bagian bawah bibirnya, si gadis berusaha keras menekan riak emosi ke bawah agar tidak memecahkan gelombang pasang yang berakibat tsunami.
Kemarahan Elliot benar-benar menyeramkan, Ella tidak bisa menahan kakak laki-lakinya bila sudah ditelan oleh amarah. Tetapi,
"Adikmu dirundung habis-habisan di toilet, Elliot,"
Ucapan Noah jelas bukan sesuatu yang keduanya ingin dengar.
Bahkan, bagi Ella, dia sama sekali tidak menduga ternyata Noah melihat kejadian yang menimpa dirinya kali ini. Atau melaporkannya langsung ke Elliot, termasuk di depan dirinya.
Elliot berputar, menatap tajam pemuda berambut merah, "Dirundung, katamu?" ancaman terserat jelas di setiap kata yang Elliot ucapkan. Melihat Noah mengangguk, dia melanjutkan, "Siapa?"
Ella dapat merasakan Noah sedang melirik dirinya, entah untuk meminta izin atau memastikan, bahwa dia akan mengatakan apapun agar Elliot mengetahui segalanya. Segala perundungan yang Ella dapatkan.
"Lebih baik kau membawa Ella berganti pakaian," kata Noah, dia sedikit mengangkat dagu. "Adikmu kedinginan."
Tidak butuh waktu lama Elliot membawakan baju ganti untuk Ella—Kakaknya jelas meminta Jordan untuk membantu, sebab sekarang yang bersama Elliot di depan toilet adalah dia, bukan Noah.
Ella tertegun saat ketiganya bergerak maju, Jordan mengambil tas karton yang berisikan baju kotor dari tangan Ella, dan membuangnya ke tong sampah.
Sementara Elliot lantas mengamit kedua tangan Ella, mengunci iris hijau sang Adik, dia berucap tegas, "Kamu Adikku, Ella, satu-satunya. Katakan padaku, kalau terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk–apapun itu, katakan. Kamu mengerti?"
"Kamu juga punya kami, aku dan Noah," Jordan menimpali, "Bahkan kalau Elliot menyebalkan, kamu boleh katakan itu pada kami, kami akan memberi pelajaran pada Kakakmu ini."
Mendengar bagaimana Jordan berbicara, ujung bibir Ella tertarik geli, sebab dia tahu, kalau Jordan tidak pernah berani dengan Elliot.
Sama sekali tidak.
Yang artinya, ucapan Jordan barusan hanya tentang Noah yang berdebat hebat dengan Elliot.
Sementara Elliot, dia sudah berputar menghadap Jordan, satu tangannya tetap menggenggam tangan Ella,
Alis si pemuda terangkat menantang, "Oh, memang kau mau memberiku pelajaran macam apa?" katanya, dagunya terangkat sekali.
Tertegun, butuh beberapa detik untuk Jordan menarik senyum lima jari, tangannya terangkat sambil meringis.
Ella tertawa ringan, dia sudah merasa lebih baik sekarang. Melihat bagaimana Kakak dan kedua teman Kakaknya berusaha keras mencoba untuk membantu, benar-benar membuat Ella merasa lega.
Jordan tampak sedikit terkejut, dan dengan cekatakan tangannya lantas mengeluarkan ponsel dari dalam saku.
Si pemuda surai coklat itu menatap layar dengan serius, lalu berucap sambil menjejalkan kembali benda pipih itu ke dalam saku, "Noah sudah menunggu." katanya, Jordan melirik Ella sekilas, "Katanya, sekarang, atau nanti?"
"Sekarang." Elliot menjawab tegas, genggaman pada tangan Ella mengeras, seolah-olah dia merasa kalau Adiknya akan hilang bilamana dia tidak menggenggam tangan kecil itu.
Mungkin Ella akan terus berpikir dua kali tentang apa yang akan dilakukan sang Kakak dan kedua temannya setelah berbicara, "Sekarang."
Karena apa yang Ella pikirkan adalah Noah sedang menunggu di suatu tempat, seperti kantin atau perpustakaan, atau tempat persembunyian mereka bertiga.
Bukan kelasnya sendiri.
Noah berdiri di depan kelas, bersandar di dinding sambil mengobrol dengan seorang pemuda, Dias, anggota klub basket, junior Elliot, sekaligus teman kelas Ella.
Melihat Noah dan Dias, yang notabene populer, mau tidak mau Ella makin mengerut di belakang sang Kakak.
Isi kepala Ella terus memuta kalimat, "Wah, konspirasi macam apa ini?"
Dan tatkala iris hijaunya melihat area sekitar penuh dengan para siswi yang sedang memuja mereka berempat, jelas kalimat, "Bahaya, ayo, kabur!" terpampang jelas di dalam kepala Ella.
"Jangan takut," kata Elliot, masih menggenggam tangan Ella. Jelas sang Kakak tahu kalau dia ketakutan. "Noah dan Dias, mereka sepupu."
Bagus, semakin banyak ancaman. pikir Ella ketakutan.
Elliot terus menggandeng tangan Ella, membawa si gadis bahkan melewati Noah dan Dias, masuk ke kelas.
Kelas sebelah kelas Ella.
Spontan, Ella menghentikan langkah, mencoba menarik tangannya dari Elliot, "K, Kak...,"
"Tenanglah, Ella." Elliot justru kian mengeras genggamannya, dan terus menarik Ella guna mengikuti dirinya masuk ke dalam kelas tersebut.
Di kelas X-2, bagian tengah ruangan, ada empat gadis duduk di sana, sedang mengobrol asik.
Dan mereka berdua, entah sejak kapan keduanya diikuti Noah dan Dias. Padahal yang Ella tahu hanya Jordan yang mengekor.
Kedatangan pemuda populer jelas mengundang banyak pasang mata, dan membuat keempat gadis itu menghentikan kegiatan bergosip dalam satu tarikan napas, memasang senyum semanis mungkin.
Tapi, tatapan mematikan terarah secara terselubung kepada Ella.
Elliot melirik Ella sekilas, lalu berujar penuh penekanan, "Ella Calista Zhyn," bukan berbicara, tapi berteriak. "Dia adalah Adikku, satu-satunya, kalau ada yang mengganggunya, akan berurusan denganku! Paham?"
"Kalian berempat," kini target Elliot berubah, tujuannya sekarang pada keempat gadis di hadapan mereka. "Cepat pilih, minta maaf, atau Drop Out?"
brak!
Gadis di tengah memukul meja cukup keras, dia berdiri, menatap nyalang dan menantang, "Jangan sombong, Elliot! Kamu bukan siapa-siapa di sini!"
Ella dan ketiga pemuda di belakang sontak mengumpat dalam benak, "Bodoh, malah cari mati."
Elliot tidak menjawab, dia hanya mengeluarkan ponsel, mengetik sesuatu di sana.
Selesai, Elliot mengangkat wajah, menaruh atensi penuh ancaman pada lawan bicara,
"Aku sudah memperingatkan, jangan katakan hal yang sebaliknya nanti di hadapan para Dewan Sekolah."
Setelah mengatakan hal tersebut, Elliot menarik Ella menjauh dari sana, diikuti Noah dan Jordan.
Dias mengikuti, tapi paling akhir.
Sepertinya Ella mendengar Dias menjelaskan sedikit mengapa Elliot berani berujar dengan mudah perihal Drop Out,
"Keluarga Zhyn," katanya. "aku rasa itu sudah cukup menjelaskan seberapa tangguh yang menjadi lawanmu, Anna."
.
.
.
—The End—
16 Mei 2022