Hai semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan cerpen buatan Star 😊 Star sangat berterima kasih bagi siapa yang sudah mau like dan komen ya... 🙏
Tanggal pembuatan : 15 - 05 - 2022
Dahulu kala ada sebuah kerajaan besar yang sangat megah. Para rakyat hidup dengan tenang disana, tidak ada yang merasa menderita karna Kerjaan tersebut dipimpin oleh seorang Raja yang sangat adil.
Suatu hari sang Raja merasa cemas karna putra mahkotanya sudah menghilang, sejak pagi ia tak kunjung melihat wajah putranya itu.
Sang Raja sudah menyuruh semua para prajurit Kerajaan untuk mencari putranya itu.
"Maaf baginda Raja! kami masih belum bisa menemukan keberadaan pangeran," ucap salah seorang prajurit yang berlutut dibawah kursi kerajaan yang sedang diduduki sang Raja.
"Bagaimana mungkin?" heran sang Raja.
"Kami benar - benar tidak dapat menemukan keberadaan pangeran Baginda, sepertinya pangeran sudah tidak berada lagi di lingkungan Istana." ucap prajurit yang satunya.
"Kalau begitu kalian boleh mencari sampai keluar Kerajaan, apa bila masih belum ketemu baru kalian umumkan pada rakyat! siapa tau ada yang mengenalinya," perintah sang Raja.
"Siap Baginda Raja! akan kami laksanakan," ucap mereka serentak lalu pergi dari hadapan Baginda.
Disisi lain tampak seorang pria yang baru berusia delapan belas tahun dalam bopongan seorang penyihir tua.
"Hah! dimana aku ini?" tanya pangeran yang baru saja tersadar.
"Hihihi... Kamu sudah bangun juga pangeran tampan," ucap penyihir tua tersebut.
"Atas dasar apa kau menculik ku hah?" tanyanya merasa kesal.
"Kau bilang atas dasar apa? hihihi... Ini semua aku lakukan karna perbuatan ayahandamu yang tidak adil pangeran," jawabnya merasa geram.
"Memangnya apa yang ayahanda perbuat hingga kamu bisa mengatakan hal itu terhadapnya. Setauku! ayahanda adalah rajanya yang sangat dihormati karna membawa kedamaian bagi negri ini," jelasnya merasa tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan sang penyihir.
"Hihihi... Hai Pangeran putra mahkota! tau apa kau hah? sudah berulang kali aku mencoba menculikmu tau! tapi niatku selalu terhalang dinding pelindung yang dipakai penyihir lain di Kerajaan mu," beritahunya.
"Lalu! kenapa kau masih bisa menculikku di saat pelindung itu masih ada?," tanyanya lagi.
"Hihihi... Itu Rahasiaku pangeran, karna tadi malam aku sudah berhasil memancing tubuhmu untuk berjalan ketempat yang belum dipasang pelindung." ucapnya yang langsung membuat pengerah tertawa.
"Heh! kenapa kau malah tertawa hah? apakah ada hal lucu?" tanyanya merasa geram.
"Apakah kau masih tidak menyadari kekonyolanmu wahai penyihir tua? kau tadi berkata bahwa caramu mendapatkanku adalah sebuah rahasia! tapi diujung ucapan kamu malah memberitahunya," beritahunya sambil terus tertawa mengejek.
"Heh! berani - beraninya kamu merehkanku dengan tawa jelekmu itu," geramnya.
"Jelek? ya ampun... Haruskah aku memberikan cerminku yang jumlahnya seribu untukmu? kau dengan lancarnya berkata bahwa tawaku ini jelek? heh! tawaku ini begitu menawan dibandingkan suaramu yang seperti Kunti dan satu lagi! tak lupa wajah jelekmu yang penuh kerutan," ledeknya.
"Oh... Berani kamu mengataiku seperti itu ya! apa kamu tidak takut aku jatuhkan?" tanya sang penyihir.
"Untuk apa aku harus takut! kalau mau jatuhkan ya tinggal jatuhkan! untuk apa harus pakai ancaman segala. Toh! kamu juga yang rugi karena sudah susah payah mencari cara untuk menangkapku," ucapnya yang sukses membuat sang penyihir bungkam dalam sekejap.
"Oke! terus saja kau hina aku ya! tapi ketika sampai disana, aku pastikan kamu yang akan menangis sejadi - jadinya." geramnya.
"Buktikan wahai penyihir jelek," hinanya lagi dengan tampang sombongnya dengan kedua tangan yang di lipat dibawah dada.
Penyihir itu kini memilih diam, yang ada ia malah semakin gila jika menghadapi sikap pangeran yang ia pikir adalah seorang lelaki pendiam ternyata juga memiliki mulut bar bar.
"Kau pasti berpikir aku adalah pengeran imut dan penurut! tapi sayang! itu hanya didepan ibunda dan ayahanda! aslinya aku juaranya saingan mulut," sombongnya lagi didepan penyihir hingga ia hanya mampu mengembuskan nafas berulang kali untuk meredakan rasa marahnya.
Kini sampailah mereka didepan sebuah goa yang begitu besar dan gelap.
Goa tersebut tampak tak terurus. Buktinya, dibagian luar dinding terdapat beberapa jaring laba - laba yang bergoyang - goyang ditiup angin.
"Kita sudah sampai pengeran gendut! tubuhmu sangat berat tau," resahnya lalu menghempaskan tubuh sang pengeran begitu saja.
"Wah! wah! wah! dimana kesopanannya pada pangeran yang tampan dan tadi kau bilang gendut! heh! matamu sebagai seorang nenek - nenek rabun telah kumat ya? jika begini ceritanya aku terpaksa harus menghadiahimu kaca mata terbaru di Kerjakan ku. Mungkin saja bisa membantu mata tua bangkamu yang sudah tampak menjadi abu karna dimakan umur," celotehnya yang membuat kesabaran si penyihir sejak tadi habis begitu saja.
"Aku benar - benar sudah muak dengan sikapmu pengeran! rasakan ini," ucap nenek sihir tersebut dan pangeran yang tampan malah berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita.
"Ya ampun... Kenapa aku malah merubahnya menjadi putri? kalau begini gagallah aku membuat ramuan yang hanya sukses jika menggunakan jantung salah satu putra Raja," batinnya merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Tapi sosok perempuan lebih cocok dengan bibirnya yang sangat cerewet," pikirnya lagi.
"Oh... Ternyata itu keinginanmu! pantas saja kamu diusir oleh ayahandaku karna suka mengobrak abrik tubuh manusia yang tak berdosa secara paksa meskipun itu untuk membuat ramuan yang berguna bagi Kerajaan," geramnya.
"Hihihi... Akhirnya kau sadar juga! ku akui kau cukup pintar pangeran! ups! maksudku putri cantik," ledeknya.
"Heh! meskipun tubuhku kini tubuh seorang putri! tapi jiwaku masih tidak akan pernah terganti sebagai seorang pangeran," ucapnya lalu langsung melompat tepat dihadapan penyihir tua yang tidak sempat untuk mengelak.
Dengan mudah sang pengeran merebut tongkat yang digenggam oleh sang penyihir.
"Tolong! ampuni aku, aku bersalah." ucapnya sambil bersujud.
"Sekarang malah kamu yang mengemis pelepasan terhadapku," ucapnya sambil tersenyum miring.
"Cepat beritahu aku apa obat penawarnya," tanyanya sambil mengancungkan tongkat sang penyihir.
"Jika ibunda mau mencium dan menganggap kau mirip dengan putranya, saat itulah kamu akan kembali menjadi pangeran." jawabnya dengan suara bergetar.
"Hehe! makasih untuk itu, tapi masalah memaafkanmu itu tidak mungkin! karena kau tidak layak untuk hidup! aku sangat tau kalau perkataanmu sebelumnya agar mudah terbebas saja," ucapnya dengan tatapan tajam.
Tanpa pikir panjang pangeran menghancurkan tongkat sang penyihir dengan kekuatannya. Si penyihir hanya berteriak kesakitan lalu menghilang ketika sudah menjadi abu hitam yang pekat lalu terbang ke udara.
Pengeran yang masih bingung memilih untuk mencari jalan pulang menuju ke Kerajaan nya kembali. Ada banyak rintangan yang harus ia lewati agar sampai kesana, karna jalan sang penyihir yang membawanya cukup curam dan berbahaya jika hanya dilalui dengan kaki kosong saja.
Tapi pangeran tidak pernah menyerah, ia tau kekuatannya masih belum sepenuhnya ia dapatkan apa lagi untuk terbang.
Setelah berjuang mati - matian akhirnya sampailah ia didepan gerbang Kerajaan.
"Ada apa ini? kenapa ramai sekali?" batinnya.
Saat ia memasuki tempat tersebut ada banyak garis cantik yang memandang jijik kearahnya.
"Ccck! ternyata begini mata rakyat kaya sebenarnya. Paling suka meremehkan orang yang berpenampilan buruk! tapi parasku jauh lebih cantik. Apa lagi jika aku yang menggunakan gaun yang sama sekali tak cocok ditubuhmu itu tau," ledeknya dalam hati.
Ditengah jalan, ia tak sengaja menabrak seorang gadis yang terlihat sangat cantik. Tanpa sadar pipi pangeran jadi bersemu saat tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan gadis tersebut.
"Kamu tidak apa - apa? ya ampun... Bajumu kotor sekali, mari ikut aku untuk berganti pakaian. kamu tidak perlu cemas! karna aku akan memberitakannya secara percuma untuk mu dihari pemilihan kecantikan ini," tawarnya.
Hari kecantikan adalah hari dimana sang putri akan memilih dayang pendamping yang sangat cantik untuk bermain bersamanya dan membimbingnya menjadi sepertinya.
"Ya ampun... Adikku itu selalu saja menganggap wanita - wanita cantik itu sebagai mainan hidup yang menggemaskan," batinnya merasa geli.
Usai mengganti pakaian dan dioles sedikit make up ia jadi tampak bersinar dibandingkan gadis yang lain dan itu sukses membungkam mulut - mulut para gadis yang awalnya sempat menghinanya.
Acaranya pun dimulai dan beruntung ia adalah gadis yang dipilih oleh adiknya sendiri dengan dua orang gadis lainnya.
Banyak tepuk tangan meriah yang terdengar usai pemilihan tersebut.
Tiba - tiba ibunda datang kehadapan nya sambil berkata "kau gadis cantik! wajahmu sangat mirip dengan putraku hingga aku jadi teringat kembali dengannya yang sangat aku rindukan, bolehkan aku memelukmu?" tanyanya sambil memegang dagunya.
"Sebuah kehormatan bagiku jika yang mulia ratu ingin memelukku," jawabnya sambil mengangkat sedikit gaunnya.
Akhirnya sang Ratu pun memeluknya, tak lupa membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
Tiba - tiba tubuh pengeran jadi bercahaya, cahayanya begitu terang sampai semua yang hadir jadi sulit untuk melihat dengan jelas.
Saat cahaya tersebut perlahan - lahan sudah meredup barulah semuanya dapat melihat kearahnya kembali dan begitu terkejut nya mereka saat melihat wajah tampan pangeran yang membuat setiap pipi sang gadis yang hadir bersemu merah.
"Putraku ternyata ini kamu, bagaimana bisa?" tanya ibundanya merasa heran sekaligus bahagia lalu kembali memeluknya.
Dengan tenang pangeran mulai menceritakan semuanya dan diujung cerita ia meminta izin pada ibunda dan ayahanda untuk sekalian meminang seorang gadis yang hadir disini.
"Ibunda tau! di umurmu yang sudah bisa dibilang dewasa ini, kamu berhak memilih pasanganmu sendiri." ucap ibundanya sambil mengelus kepala putranya.
Suasana tampak tegang dan gadis yang sempat menolongnya jadi sangat terkejut saat sang pengeran datang kehadapannya sambil berkata "hei! kamu gadis cantik yang baik hati, maukah kau menjadi pendampingku nanti dan tinggal bersamamu di kerajaan yang indah ini?" tanyanya sambil mengecup punggung tangan sang gadis.
"Tapi... Aku hanya gadis biasa yang memiliki orang tua yang kaya," ucapnya sambil menunduk.
Pengeran hanya tersenyum sambil berkata "aku tidak perduli dari mana asalmu dan berapa banyak hartamu! karna yang aku inginkan hanyalah keberadaanmu disisiku, itu sudah cukup. Sekali lagi, apakah kau mau menjadi pendampingku dan tinggal bersamaku di Kerajaan yang indah ini?" jelasnya dan dengan malu - malu gadis itu mengangguk hingga senyuman pangeran semakin merekah lebar lalu memeluk tubuhnya erat.
"Terimakasih karena kamu sudah mau menerimaku," ucapnya dalam pelukan.
"Terima kasih kembali pangeran karna sudah mau memilihku dan menerimaku apa adanya tanpa ada apanya," responnya membalas erat pelukan pangeran.
Akhirnya, beberapa hari kemudian setelah acara ini Kerjaan melangsungkan pernikahan untuk pengeran. Mereka pun hidup bahagia selamanya di Kerajaan yang indah itu.
Ia sangat bersyukur meskipun merasa sedikit tak suka dengan acara kecantikan yang menurutnya begitu menggelikan saat adiknya memperlakukan mereka seperti boneka.
Tapi dengan adanya cara itu ia bisa berubah kembali menjadi seorang pangeran setelah menang menjadi seorang putri tercantik yang dipilih oleh adiknya sendiri.
🍃 The and 🍃