Hampir tiap menit dalam hidupnya tidak akan pernah berakhir segala keluh dan kesah yang ia hadapi. Buatnya menjadi bagian dalam istana sudah sangat-sangat melelahkan bahkan merepotkan. Merutuki dirinya bahwa kesialan sedang bersenang-senang dengannya. Wajahnya yang kini sudah dirias sedemikian rupa dan tengah menggunakan pakaian wanita yang ternyata sangat menyiksa dan menekan harga dirinya sebagai seorang pria terlebih dia seorang pangeran.
Beberapa jam sebelumnya ia menikmati jalan-jalan di kota tentu saja dengan sihir penyamaran dan melewati portal sihir agar bisa menembus langsung menuju kota. Rasanya hari ini bisa menebus kebebasan setelah terkurung oleh puluhan buku-buku yang harus dipelajari seperti bertahun-tahun padahal hanya seminggu penuh.
Menghirup dalam-dalam suasana sore. Kakinya menapaki deretan kios pasar namun bukannya semakin sepi justru semakin ramai bahkan anak-anak kecil berani keluar dari rumahnya dan bermain dengan teman-temannya.
"Oh sepertinya Erik mengatakan suatu hal tentang festival panen teh yang acaranya dibuat oleh rakyat", festival yang membuatnya memberanikan diri menembus malam yang semakin pekat. Meski begitu ia merasa harus lebih waspada karena bisa saja para pengawal bisa melihat penyamarannya.
Dia memaklumi diri kalau dia bukan seorang yang benar-benar ahli sihir namun menguasai sihir penyamaran sudah ia inginkan sejak hari "itu" dan berani mendeklarasikan ia seorang master penyamaran. Itu yang ada dalam benaknya sebelum akhirnya ia harus mengikuti kontes kecantikan di festival rakyat.
'Aku bukan lagi master penyamaran karena penyamaran hanya bisa mengubah mata, rambut dan wajah bukan mengubahku menjadi perempuan!', pikirannya menelan kepahitan itu sekarang.
"kumohon ka!! Demi kak Rosa, menangkan hadiah pertama kontes ini", Mel memohon. Bocah yang satu ini terus memohon. Dion bisa saja menolaknya sejak awal jika bukan karena dirinyalah yang menyebabkan bunga Rosamint yang dibawa tercebur ke sungai yang sedang deras saat itu.
Mel yang miris melihat begitu bunganya lenyap dalam aliran air meledakan tangisnya.
"itu bunga Rosamint buat kakak Rosa!! Huwaaaa!!". Mel langsung berjongkok lemas dan semakin menangis kencang. Dion yang tak sengaja menabraknya semakin panik. Ia tau benar bunga itu memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan dan bocah kecil yang sedang menangis ini tidak berbohong.
"Mel udah kerja di kebun dekat istana buat dibayar itu!!" suaranya menjadi pekikan. Orang-orang menatapku dengan tatapan orang yang tega membuat anak kecil menangis seperti ini. Akhirnya menyerah dan berjongkok di depan Mel.
"adik kecil aku minta maaf aku akan menggantinya-"
"kalau minta maaf bisa mengembalikan bunganya Mel maafin kakak putih!". Ia merasa terbodohi, bahkan bocah kecil ini bisa melihat paras asli dibalik sihirnya, bocah berkemampuan langka ini setidaknya akan sangat bermanfaat kalau-kalau seoarang ahli sihir yang sedang mencari murid.
"lalu bagaimana aku menebusnya?", tanyanya lagi sambil memikirkan bahwa mengambil dari kebun istana memang sangat mudah namun ia tidak bisa kembali lagi untuk memberikan bunganya pada Mel karena akan langsung tertangkap pengawal pribadi di istana setelah ada gelombang sihir dari portal sehingga ia tidak tau kapan bisa keluar lagi dari sana. Pilihannya sangat sulit, mencari sekitar sini akan butuh waktu berbulan-bulan bahkan harus keluar dan menuju hutan itu akan membuat seisi istana gempar. Isi pikirannya berseliweran mencari solusi.
"itu!", tangannya menunjuk pada Rosamint yang terpajang menjadi hadiah pemenang kontes kecantikan.
"Dek, aku ga mungkin bisa ikut kontes itu-", ia tidak melanjutkan kalimatnya sebab mata sembab Mel mulai kembali menangis.
"ka Rosa sakit ka! Mel cuma punya kakak di rumah!".
Itu semua menjadi akar masalah baru yang mau tak mau harus ia hadapi. Menekan rasa malunya dan sesaknya korset yang ia kenakan dan berlenggok di atas panggung ditambah tidak nyamannya buah jeruk yang mengganjal di dadanya.
"Senyum ka!!" Teriak Mel dari sisi panggung, kemudian diikuti siulan dan sorak teriakan penonton yang memadati alun-alun kota.
Walaupun Dion masuk babak final, dirinya tak merasa bangga dengan pencapaiannya menjadi perempuan jadi-jadian dan wajahnya terasa berat apalagi setelah Mel memasangkan bulu mata tambahan padanya.
"kakak putih hebat! Kali ini pertarungan akan semakin sengit!", ucapnya bersemangat. "tapi kakak punya kemampuan apa?", tanya Mel sambil menatap Dion dari kepala sampai atas.
"maksudnya apa?"
"babak terakhir akan menampilkan potensi diri, potensi kakak apa?". Tanyanya lagi, "ka Rosa bilang biasanya orang tampan atau cantik tidak punya kemampuan apa-apa selain tampangnya".
'Kalimat yang memuji sekaligus mengejek ini membuatku benar-benar kesal terlebih diucapkan oleh bocah yang terlihat berumur 10 tahun, kakaknya harus mendapatkan murka dariku', pikirnya.
"bocah kamu meremehkanku!", gusarnya. "aku akan menari!". Mulut besarnya mengucap kata-kata di luar pikirannya.
'sial aku termakan ucapan bocah! gimana aku nari?' tanyanya pada diri sendiri di tengah panggung. Ketika lagu mulai berdendang ia mulai bergerak lembut mengikuti temponya. Kakinya bergerak lincah ketika tangannya bergerak gemulai cantik. Kemudian pinggulnya berlenggok cepat ketika kedua tangannya terangkat keatas. Telanan ludah yang pertama ia sudah membuang rasa malunya, berikutnya ia membuang ketakutannya akan opini buruk mengenai anehnya bagaimana dirinya menari karena ia hanya tau bagaimana berdansa dengan pasangan. Penonton hanya diam dan tanpa soarakan itu membuatnya tergelincir namun tidak membuatnya berhenti menari dan tetap melanjutkan saat posisi terduduk sampai lagu selesai. Kali ini ia takut tidak akan berhasil memenangkan kontes, melihat Mel juga hanya tercengang melihatku.
Keringat mengucur deras dan seketika seluruh penonton riuh dan bertepuk tangan malah makin ramai dari yang awal. Semua penonton menyukai penampilan perempuan jadi-jadian, ia mentertawakan diri.
Dapat di tebak selanjutnya sebuket Rosamint ia dapatkan, Mel melompat bahagia. Setelah mengantarkan pulang dan bertemu Rosa yang langsung menjitak kepala Mel dan meminta maaf padanya saat wajahnya pucat berusaha berbicara kemudian berpamintan dan keluar dari rumah mereka.
"sudah puas bermain yang mulia?", ia dapat langsung menebak siapa pemilik suara berat ini. Erik, pengawal pribadinya.
"tentu saja Erik bukannya kamu menikmati penampilanku tadi?", tanyanya sambil berjalan.
"penampilan apa yang mulia? oh apakah maksud anda wanita cantik yang sangat ahli menari tadi?! "
"...."
"ya dia tipeku, kalau yang mulia ingin tau", jawabnya dengan bersemangat.
"kamu tidak akan berjodoh dengannya! Cepat teleport, aku lelah". Menahan kepalan tangannya yang ingin meninju wajahnya setiba di istana.
"Baik yang mulia".
End
****