Aku cepat-cepat membuka mata karena terdengar suara yang sangat mengerikan, perlahan-lahan aku membuka kelopak bunga yang masih tertutup embun pagi hari. Aku melihat semua peri di hutan berterbangan karena ketakutan, akupun semakin bingung, “sebenarnya apasih yang terjadi ?” Akupun terbang ke arah suara mengerikan itu berasal, karena masih pagi jadi aku hanya melihat samar-samar manusia yang sedang menebang pohon terbesar di hutan ini dan banyak lagi pohon yang ditebang secara liar dengan menggunakan gergaji mesin yang sangat besar dan bersuara bising, akupun kembali ke kota peri dan tak lama kemudian suara bising tadi menghilang dan semua peri-peri menjadi sedikit lebih lega sekarang. Siang hari pun datang, aku bersama teman teman ku beranjak menuju sungai tempat kami semua untuk minum dan mengambil air untuk rumah bunga kami supaya tidak cepat layu. Setelah sampai kami kaget karena sungai yang biasanya jernih sekarang menjadi hitam keruh dan berbau tidak enak, setelah ditelusuri ternyata cairan hitam yang lengket itu berasal dari pipa besar yang tersambung ke sebuah perusahaan textil di kota manusia, perusahaan itu baru beroprasi selama seminggu dan telah membuat perubahan yang besar bagi kami para peri.
Sebulan telah berlalu dan hampir setiap hari aku dan teman-teman peri ku menderita karena mendengar serta melihat hutan ditebang secara tidak sehat dan sungai tempat yang kami butuhkan pun sekarang sudah total tidak bisa dipakai untuk minum ataupun untuk menyiram bunga kami lagi karena air nya sangat kotor dan sepertnya beracun. Aku tidak tahan melihat semua teman teman di kota peri menderita, aku putuskan aku akan melihat kota manusia dan mencoba mencari cara untuk menghentikan kekacauan di hutan bunga kami. Aku terbang dengan menggunakan sayap kecilku cukup jauh. Aku sudah sampai di kota manusia dan melihat orang-orang memasuki toko-toko dengan panik dan tergesa-gesa, akupun bingung kenapa orang-orang di kota sangatlah terlihat ketakutan dan sedih.
Aku melihat banyak orang yang bertengkar hanya karena sekarung beras dan banyak sekali kecelakaan mobil di jalan raya karena pengemudinya yang sangat gugup ingin pergi ke super market. Aku mendengar suara yang mengatakan bahwa jumblah kasus Covid-19 semakin banyak di dunia dan saat ini di Indonesia pun sudah ada orang yang terjangit virus ini. Akupun perlahan mengerti bahwa segala kekacauan di kota manusia ini disebabkan oleh manusia yang panik dan takut akan virus dan berita bahwa Indonesia mungkin akan di Lock down dan mereka semua takut tidak mempunyai persedian makanan di rumah masing-masing. Aku belum cukup mendapatkan informasi dan memutuskan untuk menginap di taman kota, di sana aku mencari bunga yang cocok untuk menjadi tempat berlindung dan beristirahat ku di sini. Susah bagiku untuk menemui bunga yang bersih dan segar seperti di rumah ku, di kota manusia kebanyakan bungganya sangat kotor tertimpa polusi dan juga sudah layu, aku tidak mempunyai pilihan lain dan segera aku membersihkan bunga yang ada dan mulai tidur, sayap kecil ku keram karena perjalanan yang cukup jauh dari hutan ke kota manusia.
Pagi harinya aku terbangun karena suara klakson kendaraan yang berisik, setelah aku terbang cukup tinggi, akupun melihat banyak kendaraan yang terjebak macet karena satu sama lain yang tidak mau mengalah dan inggin jalan duluan. Aku terbang ke tengah kota, disitu ada layar besar yang terpampang jelas, aku melihat manusia di layar itu yang sedang memberi tahu informasi bahwa dalam tiga hari lagi pemerintah akan melakukan Lock Down. akupun kembali ke hutan tempat ku tinggal dan masih bingung akan banyaknya yang aku lihat selama dua hari ini di kota manusia.
Sudah dua bulan semenjak aku pergi ke kota manusia, dan selama dua bulan itu pula aku dan semua teman-teman periku hidup dengan tenang, meskipun sungai kami belum bersih seperti dulu lagi tapi airnya mulai membaik dan sudah tidak terlalu berbau tidak sedap. Aku merasakan bahwa udara pun semakin segar dan pohon-pohon yang ditebang sudah mulai menumbuhkan bibitnya lagi, aku senang karena suara berisik yang biasanya membngunkan aku setiap pagi kini sudah tidak ada lagi. Aku senang sekaligus bingung kenapa manusia kini telah berhenti mengganggu hutan kami lagi?. Aku pun berinisiatif pergi ke kota manusia sekali lagi untuk memastikan apa yang telah terjadi di sana.
Sesampainya aku di kota pemandangan yang aku lihat sekarang benar-benar telah berbeda dari apa yang pernah aku lihat dulu sekitar dua bulan yang lalu. Sekarang kota yang biasanya ramai sesak menjadi sangat sepi, aku hanya melihat beberapa orang yang melintas dan memakai selembar kain yang menutupi mulut dan hidung. Aku pun kembali ke hutan dan beristirahat.
Setelah enam bulan berlalu, hidup kami para peri menjadi kembali seperti semula, udara di hutan semakin segar dan air di sungai kini sudah dapat diminum dan dapat digunakan untuk menyiram bunga agar tidak cepat layu. Aku peri Rhea (Sansekerta: Aliran Sungai) sekarang dapat mengatakan bahwa ini masa yang terbaik untuk alam beristirahat dari segala bentuk polusi yang dibuat oleh manusia. “Meskipun aku tidak tahu berapa lama hidup kami para peri sangat tenang seperti ini dan apakah hutan akan kembali rusak karena perilaku manusia?, yang jelas aku sangat bahagia sekarang entah sapai kapan ketentraman bagi kami ini akan berlangsung.