Putra mahkota kerajaan Anceloti, memasuki usia tiga puluh tahun. Hal itu membuat raja dan seluruh anggota keluarga lainnya resah, sebab Carlo Eldescobia belum memiliki calon permaisuri. Ia putra tunggal tentu sangat di tuntut untuk melanjutkan keturunan dalam kerajaan tersebut.
Waktu Carlo hampir habis ia gunakan untuk perang dan berlatih bela diri. Sebab ia begitu terkenal sebagai ahli dalam bermain pedang yang tak terkalahkan.
Carlo berperawakan sedang, tak besar bahkan tak gagah layaknya panglima perang. Jika di lihat dari postur tubuhnya mungkin tak meyakinkan jika ia adalah penakluk perang.
Namun keahlian itu, tak membuat hati Ratu Victoria sang ibu, bangga. Ia lebih senang jika anak satu satunya itu menjadi penyusun strategi berperang saja di atas meja. Agar tak beresiko tinggi. Di tambah lagi usia yang telah masuk kepala tiga. Sang Ratu melakukan ancaman pada sang anak, bahkan akan memutuskan pergi dari istana jika Carlo tak mau menikah.
Perjodohan sudah sering di lakukan, dan selalu gagal. Karena Carlo selalu tak yakin akan mendapatkan seorang istri seperti yang ia inginkan. Maka di adakanlah sayembara untuk pemilihan calon permaisuri untuk putra mahkota tersebut.
Maka setelah pengumuman di keluarkan, berbondong bondong lah para putri kerajaan manapun, dari wilayah barat, timur, utara dan selatan Kerajaan Anceloti untuk mengikuti seleksi menjadi permaiasuri tersebut.
"Anaknda... Apakah kamu yakin terlibat langsung pada ajang seleksi ini?" tanya Ratu Victoria pada putranya, Carlo yang sedari tadi sudah di layani pengasuhnya, untuk mencukur bulu kakinya.
"Ibunda ratu, dengan aku ikut langsung dalam kelompok itu. Maka aku bisa dengan mudah mengetahui hati mereka yang sungguh tulus." Jawab Carlo sopan.
Ya... Carlo telah matang memutuskan akan menyamar menjadi wanita, demi ikut dalam seleksi pencarian istri untuknya sendiri.
Para putri raja terkumpul jumlahnya 7 orang termasuk Carlo yang mengaku memiliki nama Elsa Patrica. Berasal dari daerah tenggara kerajaan Anceloti. Mereka di karantina kurang lebih satu bulan. Melakukan segala jenis kegiatan. Mulai dari ketrampilan memasak, bergaul dalam keseharian hingga memoles diri. Sebab pada malam terakhir nanti akan di adakan lomba kecantikan yang mereka gelar sebagai acara pamungkas sayembara tersebut.
Dalam dua pekan Elsa alias Carlo sudah menemukan putri yang baik hati. Regina Allison. Selama karantina Elsa kerap di bully. Sebab hanya dia yang tak pernah menggunakan pakaian seksi seperti yang lainnya. Sama dengan Regina.
"Sudah lah Elsa, kamu tak perlu bersedih. Ada aku yang akan selalu siap menghibur sedihmu." Tepuk Regina pada punggung Elsa yang tengah menagis di buat buat.
"Tidak Re... Mestinya aku bercermin terlebih dahulu sebelum ikut sayembara ini. Dadaku tak semon tok, milik mereka. Pinggangku bahkan tak berlekuk. Aku tak pernah meminta bentuk tubuh seperti ini pada Tuhan yang menciptakan aku." Ujar Elsa dengan membuat suaranya selembut mungkin agar penyamarannya tetap tak terlihat.
"Stt... Jangan pernah salahkan Tuhan untuk urusan itu El. Setiap manusia di ciptakan dengan ciri bahkan rejekinya masing masing. Tidak semua wanita bangga memiliki tubuh indah. Kamu tau El, aku tak pernah berani menggunakan pakaian seperti mereka, yang serba terbuka. Sebab itu hanya mengundang pikiran negatif pada orang yang melihatku. Mungkin saja kita akan di lecehkan kaum Adam." Hiburnya pada Elsa.
"Re..., Kita ini putri. Sekeliling kita selalu ada pengawal yang bertugas menjaga kita. Lalu apa yang kau cemaskan?" sergah Elsa menanggapi ungkalan Regina.
"Kamu pikir pengawal tak punya hasrat? Mereka itu manusia El. Tindak kejahatan bukan karena keinginannya, tapi justru hadir karena adanya kesempatan. Karena itulah, sejak aku melihat penampilan para peserta ini. Aku langsung tertarik padamu. Sepertinya selera kita sama dalam hal berbusana." Ujarnya jujur.
"Aaah... Re. Aku berpakaian seperti ini karena posturku jelek, coba kamu lihat... Bulu kakiku keriting, panjang dan hitam. Aku bahkan butuh waktu berjam jam untuk mencukurnya sebelum berangkat ke kerajaan ini." Elsa alias Carlo menyibak rok panjangnya untuk menunjukkan bulu kaki yang mulai tumbuh.
"Ha... Ha... Ha. Itu bukan masalah. Kamu tau ? Nih... Buah yang aku miliki di dada ini bahkan tak sebesar milik mereka yang lain, aku perlu busa tebal untuk terlihat sempurna. Dan ini adalah paksaan dari ibundaku." Regina membuka dan menunjukkan buah yang tergendong melintang di dadanya. Memang berukuran tidak besar. Tapi, astaga... Mengapa hanya dengan melihat buah kecil itu, jantung Carlo berdebar debar?
"Apa mengkuti sayembara ini adalah paksaan bagimu?" tanyanya serius.
"Tentu saja, menurutku ini konyol. Masa hanya karena ingin mendapat istri, putra mahkota itu harus mengumpulkan banyak putri untuk di adu. Tidak kah ia berpikir, efek di kemudian hari? Tentu yang kalah akan kecewa, dan yang menang dan terpilih akan besar kepala." Curhatnya gusar.
"Bagaimana jika kamu yang terpilih?"
"Ha... Ha... Ha. Dan itu tidak mungkin. Kamu lihat saja, aku akan selalu melakukan hal buruk, agar tak pernah terlihat sempurna. Aku tak pernah ambisi dalam setiap kompetisi."
"Jika tak suka kompetisi, mengapa kamu ikuti ini?"
"Oh bestie... Bukankah sudah ku katakan ini adalah paksaan ibundaku."
"Artinya ... Kamu tak pernah serius untuk membuka hatimu untuk putra mahkota?" Cecar Elsa.
"El... Bagaimanapun Camestry itu datang saat ada kontak mata terhadap lawan jenis itu. Lihatlah betapa bodohnya mereka, yang selalu cari perhatian terhadap juri dan para pelayan istana di sana. Demi apa? Demi mendapatkan simpati dan poin lebih untuk di laporkan pada tuannya. Hah...!!! Dan itulah calon penjilat yang ketreampilan mereka hanya pencitraan. Bukan kah kamu tau, masakan yang juara 1 kemarin adalah buatanku, tetapi di akui oleh Queenee. Si putri manja dari Selatan." Jelas Regina lancar.
Benar saja tak satupun segala siasat para putri bahkan karakter asli mereka dapat dengan jelas Carlo nilai sendiri. Sebab ia juga bagian dari kelompok calon permaisuri tersebut.
"Jika kamu bagian dari juri lomba, menurutmu siapa yang layak menjadi permaisuri putra mahkota kerajaan ini?" Pancing Carlo.
"Aku tak pernah berpikir kesitu, juga tak punya hak menentukan. Sebab, aku lebih penasaran dengan Carlo Eldescobio itu. Sekehendak hatinya membuat kompetisi memilih calon istri. Apa dia kira, kita sebagai wanita juga tak bisa memilih calon suami? Jangan jangan nanti kita hanya di jadikan budak bukan ratu. Huh... Aku tak pernah ingin hal itu terjadi dalam hidupku." Ungkapnya jujur.
Malam terakhir tiba, semua putri di wajibkan menggunakan gaun secantik mungkin. Lomba kecantikan kerajaan bermulai. Juga berarti malam itu akan di adakan pengumuman siapa yang akan di pilih pangeran menjadi permaisurinya.
Penampilan mereka semua cantik memukau. Carlo tetap berbalut dalam gaun mewah serba tertutup. Sehingga sepatu bootnya tak tampak, karena tersembunyi di balik gaun panjangnya.
Kontes dan peragaan busana di mulai, nampak para putri menunjukkan kelebihan gaunnya masing masing berjalan lenggang lenggok di atas catwolk yang di siapkan.
Mulai dari mengibas rambut, meraba bagian dada agar fokus juri berfokus pada daerah itu, hingga ada putri yang berani menyibak roknya, agar paha putih mulusnya terlihat. Sungguh mempesona.
Tiba giliran Regina, ia hanya berjalan seadanya. Bahkan tampak malas, untuk melemparkan senyum pun hanya setengah. Belum selesai pertunjukkan Regina di atas panggung, tanpa di panggil Elsa maju dan menghampiri Regina, berjalan beriringan ke kiri dan ke kanan. Keduanya saling berpandangan, barulah Regina tertawa lepas.
Riuh tepuk tangan menguar memenuhi ruangan tersebut. Penonton bersorak melihat aksi kompak kedua putri di atas sana. Namun, perlahan senyap. Karena satu persatu atribut dan aksesoris Elsa ia lepaskan. Dengan tetap meletakan tangan kirinya di pinggang Regina.
Satu tangan Carlo terangkat memberi kode pada pelayannya. Dalam hitungan menit. Rupa Carlo telah berubah. Di balik gaun panjang itu, telah terpasang pakaian khas pangerannya. Wig telah terlepas, anting, bahkan dempul wajahpun telah terhapus. Yang tersisa kini adalah wujud pangeran tampan yang telah memutuskan untuk memilih Regina Allison menjadi permaisurinya.
"Regina Allison maukah kamu menjadi bestie ku selamanya? Mari mulai saling mengenal pribadi, sampai kau percaya jika aku ingin menjadikan mu ratu dalam hidupku." Ungkap Carlo lantang. Membuat Regina speechlees.
Bahkan membuat putri yang lain terduduk, ada pula yang semaput. Tak mengira jika Elsa Patrica adalah pangeran Carlo Eldascobio yang menyamar sebagai peserta sayembara selama ini.
Regina masih tergugu, bagaimana ia harus menjawab lamaran sang pangeran. Sebab dalam 30 hari ini, ia telah habiskan banyak waktu bersama putri Elsa yang ternyata pangeran Carlo.
"Sudahlah... Terima saja. Aku tetap menerima mu, bahkan tanpa busa tebal yang kau pakai sekarang." Bisik Carlo nakal di daun telinga Regina
Sontak Regina mencubit perut Carlo gemas, campur malu. Bukankah buah itu sudah ia tunjukan tanpa ragu pada Carlo, yang ia tetapkan sebagai bestienya selama karantina.
Tamat