Rembulan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bulan. Rembulan termasuk dalam kelas nomina atau kata benda, hingga dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Jika dijadikan nama seseorang, Rembulan mencerminkan seseorang yang setia dan penyayang. Juga menyukai tantangan dan memiliki kepribadian yang luwes.
Bulan juga merupakan salah satu fenomena alam yang sangat mengagumkan. Setiap hari dia menampakkan wujudnya yang selalu berubah-ubah, tidak pernah sekalipun dia salah dalam menampakkan dirinya.
Bulan juga mempunyai wajah yang sangat indah dan cantik dengan cahaya yang cemerlang namun tetap sejuk sehingga kita mampu untuk saling bertatap dengannya.
Terlepas dari itu semua, bagiku bulan yang terindah bagiku adalah kau, Rembulanku.
💕 💕 💕 💕 💕
Semuanya berawal ketika setahun yang lalu, aku yang selama ini hidup London akhirnya kembali ke tanah air.
Beginilah nasib menjadi anak korban perceraian, aku yang memilki saudara kembar harus hidup terpisah sejak kami lulus SMA.
Namaku Afiansyah, pria lajang berusia 40 tahun. Tampan, matang dan mapan, itulah kesan pertama kebanyakan wanita saat bertemu denganku.
Dua puluh dua tahun yang lalu, Aku ikut dengan ayahku yang bekerja di London, sedang kakak kembarku ikut dengan ibuku yang berprofesi sebagai dokter di Indonesia.
Ariansyah, nama kakak kembarku. Sering kupanggil Rian.
Meski kami terpisah jarak, namun komunikasi kami tetap berjalan lancar. Rian sudah menikah dengan seorang wanita bernama Bella. Meski sampai saat mereka menikah aku belum pernah bertemu langsung dengan Bella.
Pernikahan mereka berlangsung secara mendadak, jika tidak salah saat usia kami 22 tahun. Itu berarti terjadi ketika aku dan Rian baru 4 tahun hidup terpisah, dan selama itu aku bahkan tak pernah tahu jika Rian sebenarnya telah memiliki kekasih.
Aku berprofesi sebagai seorang CEO salah satu pusat kebugaran terbesar di London. Karena pekerjaan, juga untuk menjaga kesehatan dan bentuk tubuhku aku rajin berolah raga.
Bagusnya, dari kebiasaan baikku itu membuatku tampak jauh lebih muda dari usiaku sebenarnya.
Statusku memang masih bujang, tapi tak lagi bujangan. Banyak para wanita dari berbagai usia mengantri untuk menjadi wanitaku. Entah hanya wanita semalam atau yang serakah dan ingin menjadi wanitaku untuk selamanya.
💕 💕 💕 💕 💕
Hari itu ... pertama kali aku mengunjungi Indonesia setelah 22 tahun aku tak menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku.
Aku sengaja mengatakan pada Rian jika aku akan datang 2 hari lagi, tapi nyatanya disinilah aku sekarang.
Berdiri di depan sebuah pintu rumah mewah sambil memencet bel.
'Apakah ini alamat yang benar?' batinku.
Aku mengecek ponselku, berniat mengecek kembali alamat dan lokasi yang pernah dikirimkan Rian. Di saat yang bersamaan pintu rumah itu terbuka.
Ku alihkan pandanganku pada seorang wanita, tidak ... lebih tepat jika disebut gadis, pasalnya dari tampilan dan wajahnya dia masih sangat muda.
Aku memandang penuh ketertarikan pada gadis kecil ini, netra abu-abunya, bibir mungilnya yang tebal dan nampak penuh. Lalu pandanganku turun pada buah kembar yang ku taksir sedang ranum-ranumnya. Lalu semakin turun memikirkan keindahan apa yang tersembunyi di balik rok mini bermotif kotak-kotak yang ia kenakan.
"Papa ... papa ... " gadis itu memekik menyadarkan aku dari lamunan nakalku yang sedang memikirkan gadis ini sedang merintih dalam kungkunganku.
"Ada apa sayang? Mengapa membuat keributan di pagi hari?" jawab seorang pria dari dalam dengan suara bariton yang menggema.
Masih dengan tatapannya yang terpaku padaku, gadis itu menjawab.
"Ada orang yang sangat mirip denganmu, Papa ..." jawabnya masih dengan berteriak.
Sebegitu seriusnya gadis ini memerhatikan wajahku hingga ia tak menyadari jika pria yang dia panggil papa sudah berada tepat di belakangnya.
"Fian ..." serunya.
"Rian ..." balasku.
Ya ... pria yang dipanggil Papa oleh gadis ini adalah Rian, saudara kembar ku.
Kami berdua saling berpelukan, melepas segala kerinduan. Meski begitu, sesekali aku melirik pada gadis kecil yang masih setia menatap pemandangan mengharukan yang terjadi di hadapannya.
Belakangan baru kuketahui gadis itu bernama Rembulan, atau biasa dipanggil Bulan. Putri satu-satunya Rian dan istrinya Bella.
Keluarga kecil ini menyambutku sangat baik, terutama Bulan. Keponakanku itu nyatanya sangat manja. Dari Bella kutahu jika kesibukan Rian setelah diangkat menjadi kepala cabang sebuah bank swasta terbesar, membuat Bulan kerap rindu dengan kebersamaan bersama ayahnya.
Jadi bisa kusimpulkan jika Bulan rindu pada sosok ayahnya yang semakin sibuk dan sebagai paman yang baik tentu aku mengikuti semua keinginan Bulan.
Kami berdua semakin dekat, bagi yang tak tahu hubungan kami mereka bisa saja mengira kami sepasang kekasih.
Bulan tak segan-segan bergelayut manja di lenganku saat kami sedang berjalan-jalan. Ia juga sering bersandar di pundakku, dan kadang tanpa merasa canggung Bulan sering berpakaian yang bisa meruntuhkan pertahanan hasratku.
Siapa yang harus kusalahkan?
Diriku? Bukan inginku untuk bertemu dan menjatuhkan hatiku padamu.
Atau menyalahkanmu? Aku bahkan tak tahu bagaimana perasaanmu padaku, lantas apakah pantas jika aku menyalahkanmu atas rasa yang kian dalam mengakar di hatiku?
Atau salahkan pada hatiku yang dengan bodohnya, tanpa berpikir dengan logika, memilih kau ... wahai Rembulanku, menjadi satu-satunya wanita yang kuinginkan hadir di setiap detik selama sisa hidupku.
Hingga hari itu tiba, tepat ketika aku sudah sebulan ini berada di Indonesia dan menjadi hot uncle bagi Bulan.
"Fian, aku dan Bella harus ke rumah orang tua Bella. Ibunya Bella sedang masuk rumah sakit," ujar Rian.
"Bisakah aku menitipkan Bulan padamu? Esok Bulan harus mengikuti ujian masuk universitas, dia tak bisa ikut kami."
Aku hanya mangut-mangut saja, ada kecemasan yang tampak di wajahku dan itu di salah artikan oleh Rian.
"Tak perlu terlalu khawatir, mertuaku sudah tua ... bagi orang tua sepertinya sudah biasa jika berbagai macam penyakit mulai muncul."
'Astaga, aku merasa semakin berdosa pada Rian,' batinku.
Bagaimana tidak, aku cemas bukan karena mertuanya yang sakit. Aku mencemaskan diriku yang semakin hari semakin sulit membendung hasratku pada Bulan, keponakanku sendiri.
Akhirnya apa yang kucemaskan terjadi. Entah apa yang ada di pikiran Bulan, mengapa tiba-tiba berenang padahal hari sudah malam.
Gadis itu tampak sangat mempesona dengan bikin berwarna merahnya yang membuatku menelan saliva berkali-kali.
Dalam pandanganku kini, Bulan sangat menggoda saat ia dengan perlahan berjalan kearahku, melenggak lenggokkan pinggulnya.
Naluri kelelakianku menuntunku turut melangkahkan kakiku padanya.
Sungguh aku bahkan tak bisa membedakan mana bulan yang asli. Apakah yang sedang bersinar indahnya di atas sana, atau yang tengah berjalan ke arahku. Keduanya sama-sama indah.
Tanpa ragu lagi, segera kuraih pinggangnya dan kukecup bibirnya dengan menuntut. Apalagi saat kurasakan Bulan menyambutku dengan membuka mulutnya, memberiku akses lebih jauh lagi.
Aku yang sudah termasuk profesional dalam hal ini, membimbing Bulan, gadisku untuk berbaring di kursi berjemur yang ada di tepi kolam renang.
Ciumanku berpindah ke leher jenjangnya yang putih dan mulus, tak segan-segan ku tinggalkan jejak kepemilikan di sana.
"Euugghh... pa-pa-paman," Bulan melenguh, sementara aku semakin tertantang.
"Daddy... panggil aku Daddy saat kamu mendesah sayang," ucapku.
Terus menerus aku menyerangnya dengan sentuhan yang membuatnya terus melenguh, mendesah, hingga akhirnya ia menjerit hanya karena sentuhanku di pusatnya.
"Apa kamu ingin Daddy melanjutkannya? Daddy akan membawamu seperti terbang ke bulan," tanyaku.
Bulan yang saat itu aku yakin sudah terbakar gairah hanya bisa mengangguk lalu memohon agar aku melakukan lebih.
"Lakukan Daddy, lakukan sekarang juga. Aku bersedia ikut denganmu menyelam nikmatnya perjalanan kita ke bulan," balasnya.
Aku yang sudah terbakar gairah, akhirnya meruntuhkan pertahananku.
Bless....
Hanya dengan sekali hentakan, jeritan Bulan terdengar sangat merdu di telingaku.
Tubuh polos yang basah karena peluh, di tambah cairan bening yang mengalir dari pelupuk mata gadis yang kini telah resmi menjadi wanita, membuatku sangat mengagumi indahnya Bulan malam ini.
Malam itu menjadi yang malam pertama dari banyak malam lainnya, saat kami menikmatan penyatuan hingga rasanya kami akan melayang hingga ke bulan.
Tak terasa 2 bulan kembali berlalu. Malam itu seperti biasa, aku menanti wanitaku, wanita yang kini mengisi malam-malamku dengan cinta dan kepuasan tiada tara.
Ceklek, pintu kamarku terbuka.
"Ada apa sayang, kenapa kamu tampak murung?"
Tanpa menjawab, cairan bening mulai mengaliri pipinya. Dengan tangan bergetar ia menunjukkan benda pipih berwarna putih dengan dua garis merah di atasnya.
Meski ikut panik, aku membawa Bulan dalam dekapanku.
Kuciumi pucuk kepalanya sambil membelai surai lembutnya.
"Sudah ... sudah ... tenanglah Daddy akan tetap bertanggung jawab," ucapku.
Brak..... suara pintu kamarku yang dibuka dengan kasar.
"Bertanggung jawab untuk apa?" suara bariton Rian menggema di kamarku.
Bella yang terkejut segera masuk ke kamarku saat melihat putrinya menangis dengan tubuh bergetar dalam dekapku.
Bella meraih benda pipih itu lalu akhirnya ikut menangis.
"Bertanggung jawablah Fian!" Bentak Rian.
"Tentu aku akan bertanggung jawab, namun bagaimana dengan fakta jika dia adalah keponakanku?"
Kenyataan jika Bulan adalah putri dari kakak kandungku seakan membuatku ingin menembus batasan ini.
Aku ingin menghancurkan batasan-batasan norma bahkan aturan dari kepercayaan yang kita yakini selama ini.
Bughh...
Untuk pertama kalinya Rian memukulku.
"Bulan bukan anak kandungku," ucap Rian lirih diikuti tangisan dari Bella yang semakin menjadi dan Bulan yang sontak tak sadarkan diri.
Sebuah fakta baru yang aku ketahui jika Rian awalnya menikahi Bella untuk bertanggung jawab atas apa yang tak pernah di lakukannya. Cinta dalam diamnya pada Bella sahabatnya kala itu, membuatnya rela mengorbankan dirinya.
Kini 5 tahun telah berlalu, di bawah indahnya bulan yang menghangat malam di London ... aku dan Bulan saling mengecup mesra.
Sungguh tak pernah kusangka jika kedatangan ke tanah kelahiranku, membuat hidupku akhirnya diterangi dengan banyak cahaya bulan.
Cahaya dari Rembulan, istriku.
Lalu ditambah lagi cahaya dari Moona, putriku.
💕💕 End 💕💕