"Aku harus menang! Atau setidaknya aku harus jadi juara tiga, agar aku bisa mendapatkan sekantong emas nantinya," tutur Jasmine kepada Stephanie, teman baru nya yang juga mengikuti kontes kecantikan kerajaan bersamanya.
Jasmine membutuhkan uang untuk mengobati adiknya Raphael yang kini terbaring sakit di rumah. Meski keluarganya masih memiliki darah bangsawan, namun Jasmine mengakui kalau keluarganya adalah bangsawan termiskin di negeri Enmar.
Bagaimana tidak? Karena bahkan untuk mengobati Raphael, adiknya yang berumur lima tahun itu saja Jasmine harus mengorbankan dirinya dan mengikuti kontes itu.
Padahal Jasmine adalah gadis yang terbilang tomboy. Jadi ia sangat tak nyaman ketika Ia harus berdandan dan bersikap anggun seperti layaknya putri bangsawan lainnya.
Tapi demi Raphael yang masih juga tak bisa berjalan di usianya yang ke lima tahun, Jasmine akhirnya mengikuti kontes itu.
"Phanie," panggilan Jasmine pada Stephanie yang meski cantik dan lebih tinggi dari Jasmine beberapa senti, namun sayangnya gadis itu bisu.
"Menurutmu, Pangeran itu orang yang seperti apa ya? Aku berharap pangeran tidak seperti yang dirumorkan oleh orang-orang?" ucap Jasmine asal.
Keduanya kini sedang duduk istirahat di taman istana. Menunggu hasil pengumuman babak sebelumnya yang telah mereka lewati. Masih ada satu babak tersisa, dan Jasmine masih harus bersaing dengan lima belas putri bangsawan lainnya, termasuk juga Stephanie.
Jasmine duduk bersandar pada batang pohon beringin. Kakinya ia tekuk dengan posisi sila. Posisi duduk yang mengundang celaan dari putri-putri lainnya terhadap Jasmine.
Tapi Jasmine tak perduli. Toh ia sudah berpura-pura bersikap manis di depan para kasim saat pemilihan tadi. Jadi ia ingin beristirahat sejenak saat ini dengan menjadi dirinya sendiri.
Di samping Jasmine, Stephanie menatap putri tomboy itu dengan pandangan bertanya.
Dan, seolah bisa mengerti apa arti pandangan Stephanie itu, Jasmine pun melanjutkan ucapannya.
"Kau tahu tidak, kalau Pangeran itu katanya menyukai lelaki?" bisik Jasmine di telinga Stephanie.
Stephanie tampak terkejut.
"Ya! Dan, katanya lagi, pangeran itu hobi merias diri seperti layaknya wanita!" tutur Jasmine kembali.
Stephanie kali ini langsung memandang ke arah lain. Sikap yang Jasmine artikan sebagai tanda tak percaya dengan ucapannya.
"Benar! aku mempunyai kenalan seorang kasim muda di istana. Dan ia mengatakan pernah melihat Pangeran menghapus riasan di wajahnya. Tidakkah menurutmu itu sangat aneh, Phan Phan?"
"Jasmine! aku tak menyangka kau bisa bertahan masuk hingga ke babak ini. Jangan bilang, kau mengancam para juri penilai dengan otot mu itu, hah?!" sebuah suara cempreng memotong percakapan Jasmine dan Stephanie.
Jasmine sudah langsung bisa menebak pemilik suara itu, bahkan sebelum ia menolehkan wajahnya ke arah asal suara.
Aurora. Gadis menyebalkan yang juga adalah musuh bebuyutan Jasmine sedari kecil itu, sudah berdiri di hadapan Jasmine dan Stephanie yang masih duduk. Sebuah senyuman angkuh bertengger di wajahnya.
"Oh.. setidaknya caraku lebih baik, dibandingkan dengan caramu. Yang memaksa para juri itu untuk meloloskan mu dengan menggunakan...tubuhmu!" cecar balik Jasmine pada Aurora.
"Jaga mulutmu!" Aurora seketika meradang. Wajahnya memerah tak ubahnya seperti kepiting rebus yang kelewat matang.
"Kau juga, jaga mulutmu! Atau kubilang, jaga paruh mu itu yang seperti bebek. Tak henti-hentinya kau ber kwek-kwek di manapun kita bertemu," cibir Jasmine kembali.
"Kau?!" Aurora menuding kan telunjuknya kepada Jasmine.
"Apa? hah?!" Jasmine balas mendelik kan matanya pada Aurora seraya mensedekapkan kedua tangannya.
Merasa tak akan bisa menang dari Jasmine, Aurora pun memandang Stephanie, yang sedari tadi masih tampak diam.
"Kau ini aneh. Bagaimana bisa kau berbincang-bincang dengan gadis itu. Bukankah dia itu bisu? Atau kau mungkin memiliki bahasa planet yang hanya dimengerti oleh kalian berdua ya?" Aurora tersenyum sinis. Merasa menang karena menemukan sasaran empuk.
Stephanie hanya terdiam, tak menanggapi ucapan Aurora. Ia justru melayangkan pandangannya ke segala arah. Pada para putri lain yang menjadi kontestan kecantikan.
Tak ada raut bersahabat atau satu orang pun yang nampak ingin menolongnya ataupun ikut campur dalam perselisihan ini.
Ada kekecewaan di wajah Stephanie. Tampak jelas ia tak menyangka kalau para putri yang mengikuti kontes kecantikan ini semuanya apatis. Tak perduli.
Tapi kemudian, sebuah suara lantang terdengar di samping Stephanie. Dilihatnya Jasmine yang tiba-tiba saja berdiri dan berteriak lantang.
"Jaga mulutmu itu, Aurora! Tak sepatutnya seorang putri bangsawan menghina putri bangsawan lainnya!" cecar Jasmine dengan berani.
"Apa hubungan mu dengan gadis bisu itu? Kenapa kau sibuk membelanya?" cibir Aurora kembali.
"Siapa pun itu tak selayaknya menerima hinaan, apalagi jika itu terkait fisik dan penampilan. Sungguh! Penghinaan mu kepada Phan Phan, sangat mencerminkan kualitas kebangsawanan mu, Aurora!" cecar Jasmine kembali.
"Kau?!" Auror merasa geram karena kembali kalah bersilat lidah dengan Jasmine.
Belum sempat ia membalas penghinaan terselubung Jasmine tadi kepadanya, kepala kasim tiba-tiba saja datang dan melerai perselisihan di antara mereka.
"Diam, semuanya! Tolong jaga sikap kalian saat berada di lingkungan istana ini! Pengumuman putri yang lolos ke babak berikutnya akan diumumkan sesaat lagi. Tolong bersikaplah yang tenang selagi menunggu!" perintah sang Kepala Kasim, sebelum akhirnya berlalu pergi.
Tak lama kemudian, Kepala kasim pun menghilang pergi. Diikuti juga oleh Aurora yang melangkah menjauh dari tempat Jasmine dan Stephanie berada.
Jasmine pun kembali duduk ke tempatnya tadi, dengan posisi sila. Ia lalu menyadari Stephanie yang menatapnya lekat-lekat.
"Kenapa Phan Phan? soal tadi, jangan terlalu dipikirkan. Bukan salahmu juga kan kalau kamu tak bisa bicara. Lagipula ini kan kontes kecantikan. Bukan kontes berbicara," Ucap Jasmine, mencoba menghibur Stephanie.
"Salahkan saja pangeran bodoh kita itu yang tak pandai memberikan judul kontes yang benar! ahahahaahaaha!" Jasmine tertawa bahak. Tak menyadari kilatan emosi yang melintas di pandangan Stephanie.
***
Sekitar satu masa lilin kemudian (satu masa lilin terbakar habis = sekitar setengah jam), Kepala kasim kembali datang untuk mengumumkan nama-nama putri yang lolos ke babak berikutnya.
Jasmine merasa gugup. Ia sangat berharap namanya termasuk ke dalam nama-nama yang disebutkan oleh kepala kasim itu.
Meski begitu, pandangannya mencari ke sekitar. Ia mencari sosok Stephanie yang tak jua muncul setelah sempat berpamitan ke kamar ganti tadi.
"Di mana Phan Phan?" Jasmine bergumam pelan.
"Baiklah. Ada dua orang yang berhasil masuk ke babak final," ujar kepala kasim.
"Tunggu dulu, kepala kasim! Bukankah seharusnya ada lima orang di babak final?" tanya salah seorang putri.
"Keputusan pangeran berubah. Hanya ada dua orang yang berhasil masuk ke dalam babak final kontes kecantikan ini."
Seketika itu juga suasana menjadi hening. Semuanya langsung berdoa semoga nama mereka menjadi salah satu dari dua nama yang akan disebutkan oleh sang kepala kasim.
"Stephanie Orlando dan.."
'Phan Phan lolos!' jerit senang Jasmine di dalam hati. 'Tapi, di mana Phan Phan?' Jasmine kembali melayangkan pandangannya ke segala arah.
"Jasmine Odelia!" teriak Sang kepala kasim.
Seketika itu juga Jasmine langsung membeku. Ia sama sekali tak menyangka bisa lolos hingga ke final. Meski sebenarnya itulah yang sangat diharapkannya.
"Kepada para putri yang saya panggil namanya, silahkan ikuti saya sekarang juga!" perintah kepala kasim.
Dengan rasa tak percaya, Jasmine pun mengikuti langkah kepala kasim melewati halaman istana.
"Tunggu dulu, Kepala Kasim! Phan Phan, maksud saya, Stephanie, kontestan lain yang juga lolos ke final belum kembali dari kamar ganti!" Jasmine mencoba memberikan informasi mengenai Stephanie.
Sang kepala kasim tampak diam sebentar. Sebelum akhirnya ia memberikan jawaban, "Dia sudah terlebih dulu ada di ruang balairung utama. Beserta juga pangeran."
Mengetahui hal itu, akhirnya Jasmine pun bisa bernapas lega.
Kepala kasim lalu memerintahkan Jasmine untuk memasuki ruang balairung utama seorang diri. Katanya, sang Pangeran telah menunggunya di dalam.
Merasa gugup, Jasmine pun memasuki ruang balairung dengan kepala yang selalu ia tundukan.
Begitu sampai di dalam, Jasmine menyadari keberadaan sosok wanita bergaun kuning gading. Saat Jasmine mengangkat kepalanya sedikit, ia dapati sosok Stephanie berdiri sekitar lima meter di hadapannya.
"Phan Phan! Kau di sini! Kita lolos!" seru Jasmine dengan wajah tersenyum lebar. Ia pun bergegas mendekati Stephanie dan memeluk teman barunya itu. Lalu, tiba-tiba saja Jasmine menyadari sesuatu.
Seketika itu juga Jasmine langsung melepaskan pelukannya pada Stephanie. Ia memandang heran pada Stephanie..
"Untuk ke depannya, aku tak berharap kau akan memanggilku Phan Phan lagi, Putri Jasmine," ucap Stephanie untuk pertama kalinya dengan suara nge bass.
Jasmine tercengang. Ia bahkan lupa untuk menutup kembali mulutnya yang masih menganga lebar. Matanya membulat sempurna, dengan tangan yang terjulur ke depan, menuding pada Phan Phan.
"Kau!?!"
Kemudian Stephanie tersenyum. Perlahan ia mendekati Jasmine kembali, sementara Jasmine malah melangkah mundur karena ketakutan.
Hingga punggung Jasmine sudah membentur pintu masuk saja, barulah ia akhirnya berhenti mundur. Dan, serta merta ia langsung berada dalam kurungan tangan Stephanie.
Stephanie masih tersenyum lebar ke arahnya. Gemintang di mata biru Stephanie tampak berkilau sangat indah. Tapi Jasmine menyadari ada sesuatu yang ditutupi oleh teman barunya itu.
Sebuah rahasia yang sangat besar.
Perlahan, tangan kanan Stephanie meraih rambut di kepalanya, lalu menariknya. Dan Jasmine terkejut, saat mendapati rambut panjang Phan Phan langsung terjatuh dalam satu tarikan tadi. Meski begitu, di kepala Phan Phan masih ada rambut pirang golden yang sangat pendek, dengan sedikit poni di bagian depan yang menutupi separuh dahi nya.
"Rumor tentang pangeran yang senang berhias itu memang fakta yang bisa dibenarkan.." Ucap Phan Phan masih dengan suara nge bass.
Jasmine merasa gugup karena Phan Phan seperti mengingatkannya pada kalimat yang diucapkannya tadi siang.
"Tapi, rumor tentang pangeran yang menyukai lelaki?.."
wajah Phan Phan tiba-tiba saja mendekati wajah Jasmine. Membuat Jasmine jadi kian gugup.
"Akan ku buktikan kalau itu adalah rumor yang sama sekali tak benar!"
Jasmine terhenyak, Dan tanpa sadar, ia langsung menarik buka baju depan Phan Phan. Apa yang dilihatnya, sangat mengejutkan Jasmine.
Sebuah da*da bidang yang rata, tampak menantang Jasmine. Bukan gundukan gunung kembar, yang sebenarnya sangat ia harapkan bisa dilihatnya.
Jasmine seketika itu juga menatap ke atas, tepat ke mata Phan Phan.
Ada pandangan menuduh yang Jasmine hujamkan pada mata Phan Phan.
"Hello, Jasmine. Bagaimana kalau kita berkenalan sekali lagi? Perkenalkan, namaku yang sebenarnya adalah Stephan Orland."
'Pangeran!?' batin Jasmine berteriak.
Dan sebelum Jasmine menyadari sesuatu, tahu-tahu pangeran Stephan sudah menghadiahkan sebuah kecupan di pipi nya.
"?!!"
***