Hujan turun dengan sangat deras membasahi seluruh tubuh Kenzo pria yang saat ini baru putus dari pacarnya karna Ia baru tau kenyataan jika pacarnya selingkuh. Ia yang memang sangat mencintai pacarnya saat ini berdiri mematung sambil menitikkan air mata.
Kenzo mengingat kejadian pagi ini saat Ia datang untuk memberi kejutan pada Clara pacarnya, Ia baru pulang dari luar kota dan langsung menuju kos Clara.
Saat Ia baru mau masuk, teman-teman Clara terlihat ketakutan. Kenzo membuka pintu kamar Clara karna memang Ia punya kuncinya, Ia melihat pakaian berserakan lalu tatapannya tertuju pada dua orang yang sedang tidur.
Karna suara pintu terdengar, Clara langsung membuka matanya, Ia melihat Kenzo dengan panik lalu melihat kearah teman laki-lakinya di samping.
Kembali kesaat ini, tiba-tiba air hujan berhenti menetes padanya, Ia langsung melihat keatas yang ternyata ada payung hitam yang melindunginya.
Kenzo langsung menoleh ke belakang untuk melihat kearah orang yang memegang payung.
Anak berusia 7 tahun berjinjit memayunginya.
Kenzo langsung berjongkok di depannya karna Ia terlihat kesulitan berjinjit sambil memegang payung.
Anak kecil itu bernama Dara, Ia mengusap air mata Kenzo, "Jangan menangis." ucapnya dengan nada khas anak kecil.
Kenzo semakin berkaca-kaca, anak kecil sangat mengerti dan peduli padanya.
Saat ini umur Kenzo sudah 17 tahun, Ia sudah duduk di kelas 3 SMA, Ia bersekolah di luar kota.
Kenzo tidak menyangka gadis lugu seperti Clara ternyata aslinya seperti itu, Clara terlahir di keluarga pas-pasan jadi dari umur 13 tahun Ia sudah melakukan seks di luar nikah untuk biaya hidup.
"Rumah kamu dimana?" tanya Kenzo pada Dara
Dara menunjuk rumah tingkat 3 di depan mereka.
"Kamu masih kecil jangan main di luar, sekarang penculikan anak sedang banyak terjadi," ucap Kenzo
Dara yang memang pintar menunjuk cctv di dekat pagar rumahnya.
"Tapi tetap saja, lain kali hati-hati," kata Kenzo
Dara mengangguk sambil tersenyum cerah.
"Dara pulang dulu, nanti dicariin sama Mama, payungnya untuk Kakak ganteng saja," kata Dara sambil memberikan payung.
Dara berlari pergi, saat di depan pagar Ia menoleh lagi, "Kakak, jangan sedih lagi," Dara kembali berlari masuk.
Kenzo mengangguk sambil memegang payungnya.
"Jadi namanya Dara," gumamnya
Setelah Dara masuk ke rumah barulah Kenzo pulang ke rumahnya sendiri yang tidak terlalu jauh dari rumah Dara.
Ia masuk kerumah dalam keadaan basah kuyup, di ruang tamu kedua orang tuanya sedang mengobrol sambil bercanda-canda.
Kenzo sedikit melengkungkan bibirnya saat melihat kedua orang tuanya yang memang selalu mesra, impiannya adalah bisa mempunyai pasangan seperti kedua orang tuanya, mereka pacaran sejak sekolah menengah dan menikah diwaktu kuliah.
Kedua orang tuanya melihat kearah Kenzo yang baru datang.
"Ken, kamu pulang?" tanya Mamanya yang langsung menghampirinya
Kenzo mengangguk
"Ini basah kuyup, cepat naik keatas lalu mandi air panas," ucap Papanya yang juga langsung mendekat.
Kenzo masih tetap hanya mengangguk. Ia naik ke lantai atas.
Ia tidak membawa barang bawaan karna besok Ia akan kembali ke asrama.
Di kamar Kenzo menitikkan air mata lagi, sangat sulit melupakan kenangan bersama Clara.
*
Keesokan harinya Kenzo sudah bersiap untuk kembali ke asrama, ini tahun terakhir dan juga semester terakhir sekolahnya.
Saat Ia turun dari tangga, Ia melihat Clara sedang mengobrol bersama Mamanya. Mereka berhenti bicara saat melihat Kenzo turun.
Wajah Kenzo berubah dingin sedangkan Clara bersikap biasa, Ia tersenyum ceria dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Ma Ken pamit," ucap Kenzo
Mamanya bingung dengan sikap Kenzo, Ia melihat kearah Clara.
Kenzo sudah berjalan pergi keluar karna taxinya sudah ada.
"Kami bertengkar biar Cla bujuk dia dulu." Clara berlari mengejar Kenzo
Kenzo sudah akan naik taxi tapi tangannya digenggam erat oleh Clara.
"Ken, kamu salah paham, aku dijebak sama dia tapi kami gak melakukan apapun," kata Clara ingin memperbodoh Kenzo
"Oh... tapi kita sudah berakhir," kata Kenzo
Saat Kenzo sudah masuk ke taxi, Ia membuka kaca taxi, "Ingat jangan datang ke rumahku lagi,"
Taxi langsung jalan, Kenzo meminta dihentikan di depan rumah besar, rumah milik keluarga Dara.
Satpam membuka pagar, "Mau cari siapa?" tanyanya
"Dara ada gak?" tanya Kenzo
"Oh Non Dara ada, dia lagi belajar piano, ayo masuk." Satpam langsung mempersilakan Kenzo masuk karna Ia tau jika Kenzo adalah anak tetangga.
Kenzo meminta taxi menunggunya, lalu Ia masuk mengikuti satpam.
Satpam membawanya menuju ruangan Dara belajar.
Saat pintu dibuka, Dara sedang memainkan piano, untuk ukuran anak seumur dia itu sudah sangat luar biasa.
Dara menoleh lalu langsung menghentikan tangannya, Ia tersenyum lalu turun dari kursi.
"Kakak..." ucapnya seraya berlari mendekat, "Kakak datang,"
"Uhu..." Kenzo mengangguk
"Kakak gak sedih lagi?" tanya Dara
"Tidak, Kakak kesini mau pamit harus kembali ke asrama, tapi 3 bulan lagi Kakak akan kembali dan kuliah disini," kata Kenzo sambil mengusap kepala Dara
"Kalau begitu kita bisa main bersama, Dara akan nungguin Kakak hingga pulang," kata Dara sambil memainkan jari kiri Kenzo.
"Ingat, nama Kakak adalah Kenzo rumah Kakak ada di ujung sana dekat taman ada rumah berwarna abu-abu," kata Kenzo
Dara mengangguk sambil tersenyum
"Ya sudah Kakak pergi dulu, lanjutkan belajarnya, saat Kak Ken kembali Kak Ken ingin mendengar kamu bermain piano dengan indah,"
Dara kembali hanya mengangguk, senyumnya sangat manis dan lucu, pipi tembemnya semakin tembem saat Ia tersenyum, tubuhnya sedikit gendut, lengannya bulat.
Dara mengikuti Kenzo hingga depan sampai taxi jalan, keduanya saling melambaikan tangan seperti saudara.
*
*
*
Beberapa bulan berlalu
Kenzo sudah lulus, Ia sudah kembali ke rumah.
"Ma, Ken pergi main ke rumah Dara dulu," Kenzo pamit
"Dara? gadis mana lagi? bagaimana dengan Clara?" tanya Mamanya tanpa henti
"Dara anak kecil umur 7 tahun, Ia sangat lucu, Ken menyukainya karna Dia..." ucap Kenzo terhenti dengan mata berkaca-kaca
Mamanya juga berkaca-kaca, Ia langsung mengingat kenangan tentang Adik perempuan Kenzo yang bernama Naya. Naya hilang sewaktu umur 4 tahun membuat seluruh keluarga sedih.
"Ma, maaf," ucap Kenzo
Mamanya tersenyum tipis, "Tidak apa, nanti ajak Dara main,"
Kenzo mengangguk lalu langsung pergi keluar.
Setelah Kenzo pergi, Mamanya menitikkan air mata, Ia langsung menatap foto besar di dinding, foto keluarga mereka saat masih lengkap sebelum Naya hilang.
Kenzo naik motor menuju rumah Dara.
Ia membuka helmnya saat sampai di depan rumah Dara.
Dara yang lagi di balkon kamarnya melihat kedatangan Kenzo, Ia langsung berlari turun dengan ceria.
Mama dan Papanya yang kebetulan ada melihat senyum mekar di wajah Dara.
"Ada apa cantik, sepertinya ada hal bahagia," kata Papanya
"Di depan ada Kak Ken yang waktu itu Dara ceritain, Dara ingin memainkan piano untuknya," kata Dara bersemangat menuju pintu depan.
Ia membuka pintu masuk sambil tersenyum melihat Kenzo yang sudah berdiri akan mengetuk pintu, tangannya masih diudara.
Dara menariknya masuk menuju orang tuanya, "Ma, Pa ini Kak Ken, kami ingin main piano di dalam, boleh?" tanya Dara
"Tentu," jawab Papanya
Kenzo menyapa kedua orang tua Dara lalu mengikuti Dara menuju ruang belajar piano.
Dara duduk di depan pianonya, "Kakak duduk disini," Dara menepuk bangku di sampingnya.
Kenzo tersenyum lalu langsung duduk, Ia duduk sambil memperhatikan jari mungil sedang memainkan piano dengan indah.
Setelah selesai Kenzo langsung bertepuk tangan.
"Dimasa depan Dara akan memainkan piano di pernikahan Kak Ken, dan kalau Kak Ken tidak menemukan pasangan hidup, saat Dara dewasa Dara akan menjadi wanitanya Kak Ken," Ucap polos Dara
Kenzo tersenyum, "Ya sudah nanti jika Kak Ken gak bisa menemukan pasangan, Kak Ken akan menikahi Dara dewasa,"
Dara mengangguk tapi Kenzo hanya tersenyum.
*
Beberapa hari sudah berlalu, Kenzo selalu mengantar Dara ke sekolah, orang tua mereka juga mulai saling mengenal. Mereka sudah seperti saudara kandung.
Kenzo juga sudah mulai kuliah di universitas yang dekat dengan sekolah Dara.
Karna Kenzo pernah kehilangan seorang adik jadi sejak bertemu Dara rasa sakit perlahan terobati, begitu juga dengan orang tua Kenzo yang juga merasa bahagia sejak ada Dara di tengah-tengah mereka walaupun mereka tidak tinggal serumah.
*
Waktu tanpa terasa sudah berlalu 2 tahun, karna Opa Kenzo yang ada di luar negeri sakit parah jadi keluarga Kenzo terpaksa harus pindah ke luar negeri untuk menemani Opa.
Kenzo melanjutkan kuliah di luar negeri, Ia menjadi mahasiswa pertukaran karna kebetulan universitasnya bekerja sama.
Mereka mulai menjalani hidup masing-masing, Dara yang memang masih muda juga hanya menghabiskan hari-harinya dengan belajar.
Beberapa tahun berlalu saat Dara sekolah menengah pertama, keluarga Dara mengalami musibah, rumah yang mereka tempati mengalami kebakaran.
Dara yang saat itu baru berumur 13 tahun melihat dengan mata kepala sendiri saat orang tuanya dilalap api saat menolongnya.
Dara menangis tersedu-sedu saat orang membawa mereka keluar dari kobaran api, Ia melihat orang tuanya sudah tidak bernyawa dengan tubuh yang hampir tidak sempurna.
Untuk anak seumurannya itu adalah trauma.
Hingga beberapa tahun berlalu saat melihat api traumanya akan muncul.
Saat ini Dara sudah berumur 18 tahun, Ia sudah lulus SMA tapi karna saat ini Ia bukan anak orang kaya lagi melainkan cuma anak panti jadi Ia tidak melanjutkan kuliah.
Kedua orang tua Kenzo sudah kembali dari luar negeri, saat mereka melewati rumah keluarga Dara, mereka saling memandang dengan shock.
Keduanya turun dari taxi dan menatap rumah yang tidak sepenuhnya hangus.
Saat ada tetangga yang lewat, orang tua Kenzo langsung menghentikan mereka.
"Maaf Pak, yang tinggal di sini kemana ya?" tanya Papa Kenzo
"Oh pemilik rumah ini meninggal begitu juga pembantu mereka, tapi putri mereka berhasil selamat dan dibawa ke panti asuhan terdekat, kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun lalu, sekitar 5 tahunan," kata tetangga
Mama Kenzo menitikkan air mata dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Dara pasti menderita, Pa kita cari Dara sekarang," kata Mama Kenzo
Papa Kenzo mengangguk lalu mengucapkan terima kasih pada tetangga.
Keduanya pergi ke panti asuhan terdekat, disaat mereka mengobrol dengan pemilik panti tentang hidup Dara, air mata Mamanya Kenzo tanpa henti mengalir, lalu mereka mengurus surat adopsi.
Dara baru pulang kerja dan langsung disuruh masuk ke ruangan pemilik panti.
Dara membuka pintu dan pandangan tiga orang di dalam langsung tertuju padanya. Ia langsung menitikkan air mata saat melihat 2 orang yang sangat dikenalnya.
Mamanya Kenzo langsung berjalan pelan menuju kearah Dara. air matanya terus mengalir apalagi melihat Dara yang sedikit tidak terurus.
Mereka saling memeluk, "Kita pulang sekarang," kata Mama Kenzo
Setelah mengurus semuanya, mereka langsung pulang ke rumah lama keluarga Kenzo.
Walau rumah itu tidak mereka datangi cukup lama tapi tetap bersih karna pembantu lama mereka tetap mengurus semuanya.
Kamar Dara berada di samping kamar Kenzo.
Setelah beberapa hari orang tua Kenzo langsung mengurus semuanya, mereka mengadopsi Dara dan memasukkannya di kartu keluarga mereka sebagai adik Kenzo.
*
5 bulan berlalu Kenzo pulang ke rumah, Mamanya tersenyum bahagia melihatnya.
"Ada kejutan untuk kamu," ucap Mamanya
"Apa?" tanya Kenzo
"Sekarang keluarga kita nambah satu orang, sekarang kamu punya adik sah secara hukum, tebak siapa?" ucap Mamanya
Kenzo hanya menaikkan alisnya menandakan tidak tau.
Dara turun dari tangga dan langsung berhenti saat melihat Kenzo berada di ujung tangga.
"Ini adik kamu Dara," kata Mamanya sambil menunjuk Dara
Kenzo menatap kearah Dara, bukannya senang Ia malah sedih, Ia menatap Dara dengan penuh kerinduan, sekarang Dara bukan lagi anak kecil tapi Ia sudah tumbuh dewasa menjadi gadis cantik.
"Adik secara hukum?" tanya Kenzo
Mamanya mengangguk.
Dara turun dan langsung memeluk Kenzo dengan sedikit malu.
"Dara rindu sama Kakak," kata Dara
"Kakak juga," ucap Kenzo
*
Beberapa waktu berlalu mereka menghabiskan waktu bersama seperti keluarga bahagia.
Malam hari Dara datang belakangan ke restoran, saat Ia masuk Ia melihat Kenzo duduk berdampingan dengan seorang wanita.
Mama melambaikan tangan pada Dara, Dara berjalan mendekat dan duduk di depan Kenzo.
Kenzo hanya diam sedangkan Bianca yang berada di samping Kenzo langsung tersenyum manis kearah Dara.
"Sayang, kenalin ini Bianca calon tunangan Kakak kamu," ucap Papa
Seketika jantung Dara langsung tidak karuan, Kenzo hanya menunduk.
"Mereka sudah saling mengenal sejak lama dan mereka pernah pacaran," tambah Mama
"Oh, itu bagus," kata Dara
Kenzo mengangkat wajahnya untuk menatap Dara, tatapannya tidak seperti seorang Kakak ke adiknya melainkan seperti seorang pacar.
Bianca melihat ada yang aneh.
"Oh ya Ma, Pa, kan Dara baru mulai kuliah dan karna harus mengejar ketinggalan jadi Dara pulang dulu ya," ucap Dara
"Tapi kan Dara belum makan malam," ucap Mama
"Tadi sudah makan sama teman baru," kata Dara yang langsung berdiri, Ia pamit pergi.
Dara pulang sengaja jalan kaki, hujan rintik-rintik tapi seperti akan deras, Dara berjalan sambil menitikkan air mata.
"Seharusnya Dara tidak boleh jatuh cinta pada Kakak, mereka pasti kecewa jika tau tentang ini, tapi Dara gak bisa jika harus melihat Kakak bersama orang lain," gumamnya
Ia duduk di bangku taman masih terus hujan-hujanan.
Ia merasa hujan seperti berhenti, pas Ia mengangkat wajahnya Ia melihat Kenzo memayunginya.
"Ayo pulang," ajak Kenzo sambil memegang tangan Dara.
Dara mengangguk dan langsung berdiri, Ia mengikuti Kenzo saat berjalan. Di bawah payung hitam keduanya berjalan diam sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sekarang hubungan keduanya sangat canggung tidak seperti saat dulu mungkin karna mereka sudah dewasa.
Sesampainya di rumah, Dara langsung berjalan pelan keatas menuju kamarnya.
Kenzo menatap langkah Dara yang sudah ada di langkah ke 8.
"Adek," ucapnya membuat Dara terhenti.
Dara berbalik dan menatap Kenzo sambil tersenyum miris saat mendengar panggilan Kenzo padanya.
"Sebelum terlambat kubur dalam-dalam perasaan itu," kata Kenzo karna Ia tau jika Dara menyukainya melebihi suka terhadap adik pada Kakaknya.
Dara mengangguk sambil tersenyum tapi hatinya tidak pernah bisa berbohong, air matanya menetes perlahan.
Dara meneruskan langkahnya dan langsung berlari ke kamar.
*
Kenzo pergi dari restoran lebih dulu alasannya karna ada pekerjaan mendadak padahal Ia sengaja ingin mengejar Dara.
Kenzo tidak ingin menyakiti Bianca lagi seperti dulu saat Ia lebih memilih Clara daripada Bianca padahal Bianca sangat baik.
Dara berdiri di depan kamar mandi, Ia mulai batuk lagi, wajahnya kembali pucat karna terkena hujan.
*
Beberapa bulan kemudian
"Ma, Pa Dara ingin belajar bahasa asing 1 tahun saja jadi izinkan Dara pergi belajar keluar boleh ya," ucap Dara
"Tapi..." ucap Mama terhenti
"Hanya setahun Ma biarin saja Dara," ucap Papa saat menatap kearah gadis yang sudah dianggapnya sebagai anak itu.
"Tapi janji untuk terus menelpon," kata Mama
Dara mengangguk, tatapannya langsung tertuju pada Kenzo yang hanya diam.
"Oh ya Kak mungkin Dara gak bisa menghadiri pernikahan Kakak, tapi Dara akan mengirim email untuk Kakak nanti," Dara tersenyum
Kenzo hanya diam menatapnya.
*
Di bandara, Dara memeluk Papanya.
"Papa akan melakukan yang terbaik, jadi tetap jaga diri, fokus pada penyembuhan diri, disana akan banyak perawat yang bersama kamu," bisik Papanya
Dara mengangguk, "Terima kasih Pa,"
Dara memeluk Mama dan Kakaknya lalu melambaikan tangan.
*
Pertunangan Kenzo dan Bianca sedang berlangsung, Papa mengirimkan video itu ke Dara yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Dara menontonnya di layar besar bersama perawat yang selalu bersamanya.
"Saat nanti kamu sembuh maka kamu akan jadi wanita tercantik saat memakai gaun," kata perawat menghibur Dara
Dara berusaha melengkungkan bibirnya tapi tetap tidak bisa.
1 bulan berlalu
Papa mendapat telpon dari Dokter yang merawat Dara, wajah Papa langsung pucat, ponselnya terjatuh hingga hancur.
Kenzo dan Mamanya melihat kearah Papa yang bergegas ke kamar mencari beberapa barang.
Keduanya ikut masuk, "Pa kenapa?" tanya Mama
Papa menitikkan air mata, "Ayo kita lihat Dara untuk terakhir kalinya,"
"Terakhir kali?" tanya Mama bingung
"Bawa pasport dan kartu lainnya, kita pergi ke Singapura sekarang juga," kata Papa tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Sesampainya di Singapura mereka bergegas menuju rumah sakit.
"Pa ini ada apa? apa Dara kecelakaan?" tanya Mama yang masih bingung
Papa hanya diam.
Mereka masuk ke sebuah ruangan, betapa terkejutnya Kenzo dan Mamanya melihat kain putih menutupi seseorang.
Kenzo buru-buru membuka kain itu, Ia menganga tidak percaya melihat mayat Dara di depannya, tubuh Dara hanya tinggal tulang dan kulit.
Mama shock dan langsung pingsan.
Kenzo tidak bergerak, perawat yang menemani Dara selama ini memberikan sebuah kaset pada Kenzo.
Kenzo menerimanya, air matanya tidak bisa menetes saat ini.
Mayat Dara dibawa kembali ke negara asal, Ia dimakamkan di dekat makam kedua orang tuanya.
Kenzo tidak menghadiri pemakamannya melainkan berdiam diri di kamar sambil menonton video.
Video tentang keseharian Dara sejak Ia dirawat, perawat mengambil diam-diam video itu. Saat itu Dara bercerita jika Ia mencintai Kakaknya tapi itu tidak bisa, Ia memendam rasa itu karna tau akan menyebabkan semuanyq terluka.
Video saat Dara menonton pertunangan Kenzo juga ada.
Kenzo menitikkan air mata, "Aku juga mencintaimu Dara, maaf tidak sempat mengatakannya,"