Tahun ini Pangeran Tan Liong genap berusia 26 tahun, ayahandanya baginda Raja Tan Siok sudah sibuk mencarikan jodoh untuk putranya itu. Sudah beberapa kali Raja Tan Siok berusaha menjodohkan putranya dengan putri dari beberapa kerajaan tetangga namun tidak ada satu pun gadis yang mampu memikat hati Tan Liong.
Beragam alasannya, kurang cantiklah, kurang pandailah, kurang sopanlah, serta banyak kurang-kurang lainnya yang sengaja dibuat-buat oleh Tan Liong untuk menolak perjodohan. Padahal putri-putri tersebut merupakan gadis pilihan dan yang terbaik di kerajaan asal mereka.
"Hm ... aku punya ide," ujar baginda ratu Xia Yue, ibunya Tan Liong.
"Apa itu, ratuku sayang?" sahut raja Tan Siok.
"Bagaimana kalau kita mengundang beberapa kerajaan sekitar mengirimkan putri terbaik mereka mengikuti pelatihan keputrian di kerajaan kita."
"Ah, jangan sampai kesannya kita meremehkan pelatihan keputrian kerajaan lain sampai kita membuat pelatihan juga," sanggah Tan Siok.
"Dengar dulu rajaku ... kita buat saja ini pelatihan dalam skala besar, tingkat negeri. Yang ikut nanti kita beri hadiah berupa 1.000 keping uang emas dan pemenang kontesnya adalah putri dengan nilai kelulusan terbaik yang akan menjadi istri Tan Liong."
"Bagaimana kalau Tan Liong menolak lagi? Hah, entah dia pakai alasan apalagi untuk menolak perjodohan dengan putri terbaik itu."
"Rajaku sayang, jangan lupa akan pepatah lama tak kenal maka tak sayang ..."
"Apa hubungannya pepatah itu dengan pelatihan keputrian dan istri untuk Tan Liong?"
"Begini, aku minta rajaku membebaskan Tan Liong dari semua tugas kerajaan agar dia bisa ikut pelatihan keputrian itu."
"Sayang, apa kamu lupa kalau Tan Liong, putra kita itu adalah lelaki tulen?"
"Tentu saja tidak, rajaku sayang. Kita tinggal mengubah tampilan Tan Liong menyerupai seorang putri, agar dia bisa ikut pelatihan itu dan berbaur dengan putri-putri yang lain. Dengan begitu, Tan Liong akan mengenal bahkan berteman dengan beberapa perempuan yang ikut pelatihan keputrian."
"Aduh sayang, Tan Liong itu lelaki ... kamu suruh tinggal dengan beberapa wanita sekaligus, bagaimana kalau jiwa kelelakiannya tergugah lalu ... dia mencemari gadis-gadis itu nantinya?"
"Haha, kamu tahu putramu itu berakhlak baik. Dia tidak akan merusak anak gadis orang. Tapi kalau sampai dia berani menodai peserta pelatihan, malah lebih baik, langsung saja kita nikahkan. Jika lebih dari 1 gadis maka gadis pertama jadi calon permaisuri dan gadis lain otomatis jadi selir." jawab ratu Xia yue yang tersenyum bangga atas ide cemerlangnya.
"Ah ... baiklah, baiklah. Terus bagaimana kalau Tan Liong menolak idemu, sayang?"
"Katakan padanya aku akan mogok makan!" tegas ratu Xia Yue.
***
Setelah melewati perdebatan sengit dan beberapa pertimbangan, akhirnya raja Tan Siok dan pangeran Tan Liong sepakat menyetujui ide ratu Xia Yue. Singkatnya, undangan pelatihan itu pun diedarkan ke beberapa kerajaan. Dan rupanya undangan tersebut disambut begitu antusias, bahkan ada kerajaan yang mengirimkan lebih dari 1 putri utusan kerajaan, sebab diundangan itu tertulis tidak wajib putri raja, putri selir atau putri pejabat istana yang boleh ikut tapi boleh dari kalangan biasa yang berminat pun boleh ikut pelatihan keputrian gratis selama 1 bulan di kerajaan Tan.
Ratu Xia Yue ingin menjaring putri yang berkualitas sebagai calon menantunya kelak, jadi mereka tidak mengharuskan putri raja saja.
***
"Ya Tuhan, seandainya aku punya anak perempuan pasti akan secantik ini," puji ratu Xia Yue setelah melihat hasil make over periasnya pada Tan Liong. Sementara yang dipuji hanya cemberut karena sang ibunda berulang kali mencubit dagunya gemas.
"Pasang senyum manis, muka judes gitu siapa yang mau berteman dengan pangeran cantikku, ini?" protes ratu Xia Yue seraya menepuk pundak Tan Liong.
"Biarkan saja, ini salah satu caraku menyeleksi calon istri," sahut Tan Liong sambil membenahi hanfu putih sederhananya. Ya, walaupun menyamar jadi perempuan, pangeran Tan Liong ingin penampilannya sesederhana mungkin. Tanpa riasan dan juga perhiasan sesuai dengan lakon yang di pilihnya sebagai gadis desa bernama Jia Li.
***
"Hei kamu, minggir!" perintah seorang putri kerajaan Bao pada Tan Liong (Jia Li).
"Ini adalah tempat pelatihan, tidak memandang kamu putri dari kerajaan mana, status kita sama," balas Jia Li pada Bao Lian.
"Eh, berani kamu ya. Dilihat dari penampilanmu, tampaknya kamu anak orang miskin, haha," ujar Bao Lian lagi diikuti tawa rekannya.
Jia Li mengingat baik-baik wajah Bao Lian dan teman-temannya yang ikut tertawa, seolah memberi tanda silang merah di dahi mereka.
"Sst ... kamu, ke sini. Jangan dengarkan kata mereka, jangan terpancing, mereka memang suka bicara begitu," kata seorang gadis sambil menarik ujung hanfu Jia Li. Jia Li menurut.
"Em ... aku Jia Li, kamu siapa?"
"Oh, kenalkan namaku Mei Shin aku dari kerajaan Kaili."
"Jauh juga, kamu putri kerajaan?"
"Bukan. Aku hanya anak angkat penasehat kerajaan. Ayahku memintaku ikut pelatihan ini untuk mencari pengalaman."
"Mencari pengalaman atau kamu berminat sama hadiah utamanya?"
"1.000 keping uang emas? Kalau iya, aku akan sangat membantu keluarga angkatku yang sedang kesusahan mencari dana untuk pengobatan ibuku."
"Kalau tidak dapat, bagaimana?" pancing Jia Li.
"Ya, tidak apa-apa. Pengalaman yang kudapatkan di sini lebih berharga."
"Oh ... apa kamu juga berminat menjadi jodoh pangeran Tan Liong?"
"Aku? Haha ... mana mungkin, aku hanya rakyat jelata. Kamu, apa berminat menjadi jodoh pangeran Tan Liong?"
Jia Li terkekeh, "Sama sepertimu, Mei Shin. Aku juga gadis desa, rakyat pinggiran dari kerajaan ini, mana mungkin pangeran Tan Liong melirikku. Aku ikut pelatihan ini juga sekedar iseng, mana tahu dapat hadiah yang dapat mengubah derajat hidup keluargaku," sandiwara Jia Li.
"Wah, tampaknya kita bisa berteman karena senasib, lihatlah dari segi penampilan kita berbeda jauh dari mereka, dan lihat juga sikap mereka yang pilih-pilih teman bahkan seolah membuat kelompok sendiri."
"Kamu benar Mei Shin, tapi apa tidak terlalu cepat memberi penilaian sementara kita belum mengenal mereka secara pribadi?"
"Bagaimana bisa mengenal secara pribadi? Mereka anti berdekatan dengan kita begitu."
"Ya, ya ... kamu benar juga, pilihlah teman yang mau berteman dengan kita, itu lebih baik," simpul Jia Li. Saat bercakap dengan Mei Shin, Jia Li sudah merasa 'ini dia yang aku cari' dan hampir mengusulkan agar pelatihan itu dibatalkan saja, namun Jia Li mengurungkan niatnya karena ingin mengenal Mei Shin lebih baik lagi.
***
"Jia Li, bangun ... kelas segera di mulai," gugah Mei Shin.
Jia Li mengerjapkan matanya, berusaha menjernihkan pikirannya, sebagai Tan Liong tentu dibangunkan oleh gadis semanis Mei Shin adalah sesuatu yang istimewa, "Hm ... aku ingin setiap hari begini, wajah pertama yang ingin kulihat saat bangun pagi adalah wajah cantikmu ini, Mei Shin," ujar Jia Li sambil membingkai pipi Mei Shin dengan kedua tangannya.
"Hei Jia Li, kamu malah mengigau, cepatlah! Ayo, kita mandi bersama saja, untuk menghemat waktu," usul Mei Shin.
"Kau duluan saja, aku tidak akan lama bersiap," sahut Jia Li yang saat mandi berniat akan mencukur kumisnya yang mulai tumbuh. 'Ah Mei Shin, kamu saja yang tidak tahu apa yang terjadi jika sepasang kekasih sampai mandi bersama,' batin Tan Liong sambil tersenyum devil.
Hari ini materi pelatihan adalah bagaimana menyiapkan makanan serta menyajikannya, Jia Li kewalahan melakukan itu. Rambut Jia Li awut-awutan dan wajahnya cemong-cemong kena jelaga membuatnya jadi bahan tertawaan pengajar dan peserta pelatihan.
"Haha, lihat gadis miskin ini, sudah jelek, jorok dan tidak bisa memasak, tapi impiannya jadi permaisuri, bodoh! Mana mungkin pangeran tertarik pada gadis kucel sepertimu?" hina putri Bao Lian pada Jia Li diiringi tawa teman-temannya.
Diam-diam Mei Shin mendekati Jia Li, "Sebaiknya kamu gunakan ini," ujarnya sambil memberikan celemek dan penutup kepala. "Memasak juga ada seni-nya Jia Li, tidak boleh asal jadi. Sebab yang kita masak nanti akan masuk ke tubuh kita, jadi sumber tenaga. Jadi kita harus siapkan yang terbaik, tidak hanya tempat dan bahan masakan tapi juga kita sendiri, lakukan dengan hati, sekalipun hanya memasak," ceramah Mei Shin.
***
Setelah mengikuti karantina pelatihan selama 4 minggu, tibalah saatnya para gadis peserta pelatihan menampilkan kebisaan yang mereka dapatkan selama pelatihan untuk dinilai. Berbeda dengan gadis lain yang berusaha tampil maksimal agar mendapat nilai terbaik, Mei Shin dan Jia Li terkesan santai, seolah tidak punya target apa pun, mereka tidak ingin terlalu memaksakan diri.
Saat kontes menari, lagi-lagi Jia Li menjadi bahan tertawaan karena gerakannya yang terkesan kaku.
"Lihat, gadis tomboy itu ... dia lebih pantas memainkan pedang dari pada selendang seperti itu," komentar putri Vivian Chang.
"Kamu benar Vivian, nilai menari-nya pasti terendah lagi, sama seperti kelas memasak. Hah, baguslah. Lagi pula mana mungkin perempuan juga yang tidak feminim itu bisa dipilih pangeran," timpal Bao Lian.
***
Hari pengumuman hasil penilaian pelatihan pun tiba, mereka semua menunggu dibacakan siapa yang akan jadi pemenang kontes kecantikan kerajaan Tan. Semua peserta bersorak saat pihak kerajaan memutuskan nilai tertinggi akan mendapat hadiah 2.000 keping uang emas dan 1.000 keping untuk semua peserta.
Sementara putri Bao Lian tersenyum anggun atas perolehannya, Mei Shin justru sibuk mencari Jia Li, sahabatnya selama karantina.
"Ya ampun, Jia Li kemana, sih? Apa dia kecewa kalau namanya tidak masuk nominasi?" gumam Mei Shin.
"Pemenang ke tiga jatuh pada putri Mei Shin," baca pembawa acara. Tidak menyangka masuk dalam urutan ketiga setelah Bao Lian dan Vivian Chang, Mei Shin melangkah ragu ke panggung menerima plakatnya, dia tetap memikirkan keberadaan Jia Li.
"Para putri yang kami hormati, terima kasih telah mengikuti pelatihan keputrian di kerajaan kami, namun kami mohon maaf ... walaupun pemenang kontes kecantikan ini jatuh kepada putri Bao Lian, sekali lagi kami mohon maaf sebab pangeran Tan Liong menolaknya menjadi calon permaisuri dan keputusan ini syah, tidak dapat diganggu gugat," ujar ketua tim juri pelatihan. Sontak pengumuman itu membuat suara yang berdengun, menyampaikan protes.
"Tidak bisa begitu! Nilaiku yang terbaik, aku pemenang kontes ini, maka aku juga seharusnya menjadi calon permaisuri," sanggah Bao Lian.
"Anda benar putri Bao Lian, tapi masalah selera ... kami tidak bisa memaksa tuan pangeran," sahut juri ketua.
'Doooong!' bunyi gong menggema memenuhi aula kerajaan Tan.
Raja Tan Siok, ratu Xia Yue dan pangeran Tan Liong memasuki aula, membuat sejumlah mata tidak berkedip termasuk Mei Shin.
"Astaga, kenapa aku seperti mengenal pangeran Tan Liong?" gumam Mei Shin.
"Pantas tangannya kekar dan dadanya rata, ternyata Jia Li adalah ..."
"Hah? Pangeran Tan Liong mirip dengan gadis miskin itu," timpal yang lain.
Pangeran Tan Liong melihat ke arah para putri peserta pelatihan.
Dheg! Hati Tan Liong bergetar saat tatapannya bertemu dengan Mei Shin dan melemparkan senyum terbaiknya.
"Saya sangat berterima kasih pada ibunda ratu Xia Yue yang memberikan ide ini, meskipun harus jadi pangeran cantik, bergaul dengan beberapa gadis sekaligus membuat saya mengenal pribadi dan punya penilaian sendiri. Bagi saya, cantik tidak hanya terletak pada wajah atau sikap anggun yang dibuat-buat, tidak pula pada nilai tertinggi dari tiap materi, tapi cantik itu terletak pada ketulusan hati seseorang yang selalu membuatku nyaman, saat menyamar menjadi Jia Li," kata pangeran Tan Liong di podium.
"Ja-jadi, apa pangeran sengaja menyamar agar ... "
"Benar, juri memang berhak menilai dan menentukan pemenang kontes, namun aku ikut kontes itu agar bisa menilai sendiri mana yang pantas atau tidak pantas menjadi permaisuriku," potong Tan Liong menyahuti Bao Lian yang bermaksud melayangkan keberatannya.
"Wooaaaah ..." koor para peserta yang kecewa mendengar perkataan Tan Liong.
"Dan malam ini aku nyatakan, calon permaisuriku adalah ... Mei Shin," ungkap Tan Liong. Pangeran turun dari podium dan berjalan ke arah Mei Shin.
"Mei Shin, aku jatuh cinta padamu ... maukah kau jadi kekasih sekaligus permaisuriku?" ujar Tan Liong sambil berlutut dengan sebelah kakinya di hadapan Mei Shin.
"A-aku ... kamu, bagaimana bisa?" Mei Shin bingung dan terkejut atas perlakuan Jia Li. Mei Shin tidak menyangka Jia Li gadis sederhana yang cantik, teman sekamarnya selama karantina ternyata adalah pangeran Tan Liong.
"Mei Shin aku memilihmu. Aku tidak terima penolakan!" tegas Tan Liong lagi.