Semuanya dimulai hari itu. Kana tiba di sekolah lebih awal. Tidak memiliki teman dan berujung berjalan menjauhi keramaian. Tersasar ke lorong kelas 12. Dia menabrak seorang perempuan cantik. Tidak sengaja, sepatunya memijak sepatu perempuan tersebut.
"Apa yang kau lakukan, sialan?"
Kana langsung mengerut takut. Jelas dia tahu. Sosok yang ditabraknya adalah senior.
"Ck, sepatuku jadi kotor."
"Cepat, bersihkan!" suruh teman Visia.
Kana tahu dia salah, tapi membersihkan sepatu akan membuat harga dirinya terhina. Lagipula itu hanya terpijak. Tidak ada bercak kotor.
"Hei, bersihkan!" Visia membentak.
"Ada apa?"
Pacar Visia bergabung. Kana semakin mengerut takut. Meski tampan, dia memiliki ekspresi angkuh. Belum lagi postur tubuhnya besar. Kana mungkin akan hancur dengan tinjunya.
"Dia memijak sepatuku." Visa melapor dengan bersungut-sungut. Sebab Visia sebagain dari hatinya. Kevin menjadi tertular kekesalan.
"Bersihkan!"
"Itu tidak kotor. Itu hanya terpijak." Kana membela diri.
Kevin tidak pernah pandang bulu. Ketika Kana menciptakan kekesalan. Dia menarik rambutnya.
"Kau bilang apa? Hanya terpijak?"
Kevin mendorong tubuh Kana. Dia terjerembab di kaki Visia. "Bersihkan! Jangan membuat aku mengulangi perintah atau kau akan aku habisi."
Tidak memiliki pilihan. Kana memakai telapak tangannya. Dia mengelus ujung sepatu Visia. Seperti tebakannya, tidak ada yang kotor.
Tiba-tiba, sebuah tangan menariknya untuk berdiri.
"Sam, apa yang kamu lakukan?" heran Visia.
Kana menoleh. Cowok yang dipanggil Sam memiliki penampilan tinggi, tampan dan tanpa ekspresi. Bagi Kana. Perpaduan itulah kesempurnaan.
"Aku yang seharusnya bertanya. Apa yang kamu lakukan pada pacarku?"
Bola mata Visia membulat. "Pacar?"
Kana turut mendelik. Pacar? Yang benar saja. Dia bahkan tidak mengenal Samuel. Lagipula kenapa Samuel mau menjadikannya pacar? Dia kurus, tidak putih dan buruk dalam bergaya. Cowok setampan Samuel tidak mungkin akan memilihnya.
"Ada masalah dengan itu?"
"T-tidak." Visa menggeleng. Terbata di waktu yang sama.
"Jadi?" Samuel kembali pada topik semula. "Apa yang kau lakukan pada pacarku?"
"Dia memijak sepatuku. Itu menjadi kotor."
"Kirim pesan atas mereknya. Aku akan mengirim ke rumahmu gantinya."
Tangan Kanan dibawa pergi. Dia mengikuti dengan tergesa. Langkah Samuel terlampau panjang.
"Sebentar." Kana menyentak lengan Samuel ke belakang. Mereka pun sama-sama berhenti. Saling berhadapan.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Memangnya kamu tidak memiliki telinga?"
Astaga, kepribadiannya mengesalkan. Sialnya Kana sudah terpesona oleh rupanya.
"Mungkin telingaku salah mendengar."
"Tidak, itu benar. Mulai hari ini kau adalah pacarku."
"Kau tidak rabun kan?"
Samuel mengerutkan kening. Bingung dibuat pertanyaan Kana.
"Lihat sekali lagi. Aku seburuk ini. Apa kau tidak salah orang?"
"Tidak."
Samuel melepas kalungnya. Kana mendelik begitu dada Samuel berada di depan mata. Di belakang sana, tangan Samuel mengikat kalung. "Mulai hari ini kau milikku. Jangan macam-macam. Aku suka menyiksa orang."
"Aku jelek," lirih Kana.
Samuel tidak peduli. Dia berbalik dan meninggalkan Kana dalam ribuan tanda tanya. Kenapa dan kenapa. Kana bahan terus mempertanyakan itu di saat hubungan mereka berjalan.
"Sam."
Sosok itu menoleh dari ponselnya.
"Kamu tidak malu?"
"Aku memakai pakaian lengkap kalau kamu buta."
"Bukan begitu. Pakianku terlampau buruk." Kana turun memandangi pakaiannya. Itu hanya kaos dan celana jeans pendek. Di sampingnya, Samuel mengenakan pakaian bermerk yang bahkan ditaksir lebih mahal dari harga dirinya.
"Bagus kalau kau tahu. Lain kali pakailah gaun agar feminim."
Kana hampir mengiyakan, tapi Samuel meneruskan. "Sebaiknya tidak usah. Kamu tidak akan pernah menjadi feminim. Hanya Visia yang bisa begitu."
"Kamu bilang apa?" Kana mendengar. Dia hanya butuh validasi dari Samuel.
"Lupakan saja."
"Kamu bilang hanya Visia yang bisa feminim."
Samuel berdiri. "Aku lupa memesan dessert. Kamu tunggu sebentar di sini."
Pada kencan-kencan selanjutnya Kana semakin curiga kalau Samuel sungguh ingin menjadi pacarnya. Sebab tidak berani. Kana hanya memastikan dirinya tidak memiliki perasaan lebih dalam. Itu pertahanan kalau-kalau Samuel tidak serius. Dia tidak akan sakit hati.
Masalahnya Samuel terus bertindak sebagaimana pacar yang seharusnya. Terlebih saat Kana diserang oleh fansnya.
"Hei."
Kana berhenti. Enam anak perempuan mendekatinya. Masing-masing membawa bungkusan merah. Kana tahu, hari ini adalah hari valentine. Masalahnya kenapa mereka memanggil? Dia bukan cowok.
"Berikan ini pada Samuel."
Sudahlah meminta bantuan, tidak ada kata tolong, angkuh pula. Mana mungkin Kana mau membantu. Dia justru terjebak kekesalan.
"Kenapa kalian tidak memberikannya secara langsung?"
"Sialan, dia banyak bicara," celetuk salah satu dari mereka.
"Dengar." Kana terdorong ke dinding. Terlampau keras. Punggungnya menjadi ngilu. "Samuel hanya bermain-main denganmu. Jangan merasa besar kepala."
"Aku tidak besar kepala."
"Lalu kenapa kau tidak mau? Kau pasti berpikir Samuel hanya milikmu. Cih, bahkan kau tidak pantas bersamanya."
Kana hanya diam. Permintaan bantuan malah menjadi ajang menjatuhkan mentalnya. Jelas ada kebencian dari para perempuan tersebut. Kana mengerti. Samuel sangat populer. Tidak ada yang terima dia memiliki pasangan, terlebih perempuan semacamnya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Itu Samuel. Langsung saja mereka menarik diri dan merendahkan kepala. Meski menyukai Samuel. Kasta mereka berada di bawah.
"Kalian merundung pacarku?"
"T-tidak seperti itu. Dia yang memulai."
"Memulai apa?" desak Samuel.
"Dia meminta kami untuk berhenti mengagumi kamu."
"Lalu, kalian marah?" Samuel tertawa pendek. "Lucu sekali. Jelas dia yang memiliki aku. Kenapa kalian merasa marah? Itu haknya."
Wajah-wajah mereka memerah karena malu. Kana meski enggan merasa terharu. Samuel membela dan memberikannya hak. Sungguh tindakan manis.
Tidak hanya itu. Masih ada peristiwa lain yang meruntuhkan benteng pertahanan Kana.
Byur!
Siang yang indah. Kepala Kana sudah diguyur oleh jus jeruk. Itu ulah perempuan tidak dikenal yang Kana pastikan merupakan fans Samuel.
"Maaf." Begitu katanya dengan nada mengejek.
Kana mengusap wajah. Tidak mau menciptakan lebih banyak masalah. Dia berbalik pergi. Seorang cowok merentangkan kaki. Kana tersandung. Hampir jatuh, tapi Samuel berhasil menariknya. Belum sempat berterima kasih. Samuel sudah menghajar si pelaku.
"Sam, hentikan!"
Kana terpaksa ikut melerai. Biarpun kesal. Dia cemas kalau Samuel terlibat dengan guru BK.
Berhenti. Samuel meraih gelas asal di meja. Dia mencampakkan isinya ke wajah perempuan yang mengusik Kana.
"Pergi berkaca. Apa pantas kau melakukan itu seolah aku milikmu. Aku hanya milik Kana. Kau hanya penggemar. Sadari posisi itu!"
Pertahanan Kana hancur. Tidak ada lagi kecurigaan. Dia percaya kalau Samuel benar-benar menyukainya. Itulah kenapa Samuel mau pacaran dengannya. Itu juga alasan kenapa Samuel terus membela dan berani memerangi fansnya sendiri.
"Sam!"
Di sore yang tenang Visia menghampiri mereka.
"Bisa tolong antarkan aku pulang? Supir tidak bisa menjemput. Aku mau melihat Mama di rumah sakit."
Samuel mengiyakan. Kana mencoba berpikir positif. Samuel sebelumnya memang dekat dengan mama Visia. Kebaikannya tersebut bisa jadi bukan karena perasaan suka yang masih tersisa.
Kana salah. Setelahnya Samuel dan Visia bersama. Entah pacaran atau tidak, tapi mereka terus berduaan. Dia pula tidak pernah diputuskan. Jadilah dia bingung sendiri.
"Sam."
Suatu hari. Kana mencekal tangan Samuel di lorong. Dia sudah lelah berpikir. Itu tidak kunjung membuatnya paham akan sikap Samuel.
"Apa benar kamu berpacaran dengan Visia?"
"Kamu sudah melihatnya. Kenapa harus bertanya?"
Kana terdiam. Hatinya berdenyut sakit. Dia pikir kedekatan mereka sudah merubah hati Samuel. Rupa-rupanya tidak. Dia tetap hanya pelampiasan.
"Apa artinya kita putus?" Kana tetap membutuhkan kepastian. Dia tidak bisa menentukan sendirian.
"Aku rasa kamu memiliki otak untuk menemukan jawabannya."
Samuel melenggang pergi. Tanpa rasa bersalah, apalagi kepedulian. Satu hal yang Kana benci. Dia masih menginginkan Samuel. Padahal eksperesi cowok itu selalu menunjukkan ketidaksukaan.
Kana berpikir Samuel benci penampilannya. Dia mulai membenahi diri. Tidak lagi asal. Kana membuat rambutnya bergelombang. Merias diri dan selalu memastikan tubuhnya harum.
"Sam."
Kana penasaran. Dia memberanikan diri menemui Samuel.
"Sebenarnya kamu memutuskan aku karena tidak pantas atau apa?"
"Aku mencintai Visia. Tidak pernah perempuan lain, apalagi kamu."
Kana merunduk dalam-dalam. Hatinya sakit. Sudut matanya bahkan memerah. Air mata berkumpul. Itu hanya butuh sedikit sentuhan untuk meluruh.
"Aku tahu, kalian sudah berpacaran selama lima tahun. Namun Visia mengkhianati kamu."
"Di sini aku yang mencintainya. Jadi jangan bahas kelakuannya."
"Lalu semua hubungan kita?"
"Jangan berpura-pura bodoh." Samuel mematikan ponselnya. Kini dia menatap pada Kana yang merunduk. "Kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyukai kamu."
"Kamu membelaku. Bahkan juga memperlakukan dengan baik."
"Itu karena kita perlu terlihat seperti pasangan di mata Visia."
"Jadi kamu tidak meninggalkan aku karena tidak pantas. Kamu memang menyukai Visia saja. Begitu?"
"Ya."
"Kenapa kamu melakukannya?" Air mata Kana meluruh. "Kenapa tidak mengatakan saja kalau aku hanya pelampiasan? Kamu tidak perlu begini dan membuat aku jatuh cinta."
"Kamu akan menolak."
Samuel membuka dompet. "Ngomong-ngomong, kamu sudah bekerja dengan baik. Visia cemburu dan kembali padaku. Sekarang katakan saja berapa yang kamu mau."
Kana berbalik. Dia berlari meninggalkan kelas Samuel. Air matanya kian deras. Padahal dia sudah senang. Untuk pertama kalinya seorang cowok menyukainya. Ternyata itu hanya drama.
Hari-hari berikutnya Kana berusaha melupakan Samuel. Namun itu sangat sulit. Bahkan setelah perlakuan Samuel, dia masih memiliki perasaan cinta. Meski begitu dia mengindari Samuel di sekolah.
Samuel lulus. Kana tidak bisa melihatnya lagi. Tetap saja, perasaannya masih ada. Dia bahkan menyimpan semua foto kebersamaan mereka. Diam-diam Kana berharap keajaiban membawa Samuel kembali padanya.
Itu terjadi. Kana bertemu dengan Samuel di universitas. Dia tetap sosok yang sama dari penampilan. Dia tampan, keren dan masih tidak suka menunjukkan ekspresi.
"Hai." Samuel mendekat. Kana menelan saliva. Otaknya berkata untuk pergi, tapi hatinya berdegup tidak karuan dan ingin terus bertahan.
"Aku tidak tahu kalau kamu masuk ke sini."
"Aku tidak mengikuti masa orientasi."
Kana menghindari tatapan Samuel. Ada yang salah. Itu bukan ketidaksukaan lagi. Itu semacam kerinduan yang dibalut perasaan bersalah. Namun Kana tidak mau percaya. dia takut kembali tersakiti.
"Mau ke mana?"
"Aku mau ke kelas."
"Biar aku antar."
Kana tidak menolak. Dia dilumpuhkan oleh perasaannya. Maka begitulah seterusnya. Kana ditemani oleh Samuel. Mereka membicarakan materi kuliah, beberapa topik umum atau gosip sekolah. Kana tidak berani bertanya ke mana Visia atau apakah mereka masih bersama. Dia tidak siap untuk terluka oleh fakta.
"Kak, cepat ke depan."
Di malam yang tenang, Kana terusik oleh panggilan sang adik.
"Buruan, itu calon suaminya udah nungguin loh."
"Calon apa?" heran Kana.
"Makanya turun."
Kana menutup buku. Dia turun ke ruang tamu. Samuel di sana. Duduk dalam balutan kemeja biru muda. Di seberangnya ada pasangan yang Kana ketahui sebagai orangtua Samuel.
"Duduk dulu."
Fina menarik lengan Kana. Dia terjatuh di sofa, masih dalam keterkejutan. Terlebih melihat barang hantaran di meja. Jantungnya berdegup keras mengalahkan rasa senang. Maka ditariknya Samuel keluar.
"Apa-apaan itu?"
Samuel tersenyum. "Aku mau menikahi kamu."
"Untuk apa?" Mata Kana berair. "Kau mau membuat drama lagi."
"Kali ini aku serius."
"Dulu saja kamu bersikap begitu, tapi apa? Cuma drama."
Kana mengusap matanya. Air itu kembali turun dengan deras. Bagaimanapun dia masih trauma.
"Kamu tidak akan percaya aku serius hanya dari kata-kata. Maka dari itu ayo kita menikah dan memiliki anak. Barulah kamu tahu aku serius atau tidak."
"Ke mana Visia?"
"Aku memutuskannya."
"Dia berselingkuh?" ejek Kana.
"Kamu benar. Dia hanya berpacaran kembali karena tidak ingin kalah dengan kamu."
Samuel menangkup wajah Kana. Jarinya secara perlahan menghapus air mata yang tersisa.
"Ayo menikah ya?" bujuk Samuel. "Itu saja yang bisa aku lakukan untuk menunjukkan keseriusan."
"Bagaimana kalau ternyata kamu berpura-pura?"
"Kamu bisa membuat kontrak yang mengikat aku. Bagiamana?"
Sudah ada jaminan. Kana mulai tenang.
"Atau begini saja. Coba bayangkan aku menikah dengan perempuan lain. Apa kamu rela?"
Kana menggeleng. Dia mencintai Samuel. Kalau sekedar berpacaran dengan perempuan lain dia tidak masalah. Lain halnya kalau Samuel menikah dengan perempuan lain. Itu akhir harapannya.
"Tidak."
"Jadi?"
Kana mengangguk. "Aku mau menikah dengan kamu."
Samuel membuka tangan. Langsung saja Kana masuk ke dalam pelukannya.
"Terima kasih karena masih mencintai aku."
Tiga minggu kemudian. Kana dan Samuel menikah. Sesekali Kana cemas kalau most wanted itu berpura-pura. Tapi kemudian bulan berganti, tahun berubah. Mereka dikaruniai sepasang anak kembar. Samuel pun tetap sama. Hanya mencintai dirinya.
TAMAT