Hai semuanya 🤗
Saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan cerpen star yang satu ini 😉
Tanggal pembuatan : 14 - 05 - 2022
Alkisah tentang seorang gadis cantik yang memiliki kulit berwarna putih susu. Ia tinggal bersama ayahnya disebuah desa yang ada didekat bukit. Nama desa tersebut adalah Desa Bulandra.
Desa Bulandra adalah desa yang sangat indah, udara sejuk pagi hari membuat insan seakan tak ingin berhenti untuk menghirupnya.
Aliran sungai yang sangat jernih membuat para gadis didesa seakan tak ingin pergi meskipun usai aktivitas mencuci bersama sambil bercanda ria.
"Hai Landria! kamu ngapain bengong aja disitu?" tanya salah seorang temannya yang sedang sibuk mengucek pakaian kotornya.
Landria hanya memalingkan wajahnya keasal suara.
"Ada apa sih... Apakah salah kalau aku bengong? yang penting aku tidak menggangu orang lain kan?" tanyanya acuh tak acuh.
"Is! kamu gitu banget sih kalau di nasehatin," kesal temannya.
"Ya udah kamu gak perlu nasehatin aku," ucapnya acuh tak acuh lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Begitulah sikapnya, ia menjadi gadis yang begitu pemurung semenjak kepergian ibunya yang menghilang begitu saja.
Sedangkan ayahnya sedang merantau jauh keluar kota untuk mencukupi kehidupannya.
Landria sudah pernah mencegah kepergian ayahnya untuk tidak kembali keluar kota dan hanya tinggal bersamanya.
"Ayah... Kenapa ayah pergi lagi? Landria ingin terus bermain bersama ayah... Untuk apa semua kekayaan ini jika Landria sendirian," rengeknya saat itu.
"Landria sayang... Ayah kerja juga buat kamu... Kamu gak mau kan jika diledeki anak miskin?" tanya sang ayah sambil mengelus puncak kepala anaknya.
"Ayah... Aku gak pernah malu jika hidupku tidak terlalu mewah. Lagian semua teman - temanku juga orang baik, kami tidak pernah melihat dari segi apa pun ketika berteman. Karna disini kami hidup sudah seperti saudara," jelasnya.
"Tapi ayah hanya ingin memenuhi semua kebutuhanmu putriku," ucapnya lalu mengecup dahinya.
"Ayah... Kekayaan sebanyak ini sudah sangat cukup bagiku! aku hanya ingin bersama dengan ayah, apakah itu permintaan yang sangat berat? oke! jangan dibahas lagi. Apa pun yang Landria katakan pasti ada saja penolakannya jika tentang kebersamaan," ucapnya yang kini sudah berkaca - kaca.
"Kalau begitu Landria pamit ingin kekamar, seandainya ibu masih ada disisi Landria! Landria tak mungkin merasa kesepian hingga harus meminta ayah menemani. Karna kasih sayang teman dan orang tua itu berbeda dan kebahagiaan bersama mereka saja tidak cukup," ungkapnya lalu berlari dengan air mata yang sudah turun membasahi pipinya.
Kini Landria sedang berada diatas pohon sambil menikmati buahnya.
"Wah... Buah jambu ini sangat manis," senangnya saat sudah menggigit sedikit buah yang sudah berwarna merah matang itu.
Ia pun terus menikmati satu persatu jambu yang dipetiknya sampai ia puas.
Karna rasa kantuk yang menyerang, membuatnya jadi menguap lalu tanpa sadar mulai menyandarkan kepalanya di batang pohon dan tanpa menunggu waktu lama ia pun terlelap.
Saat membuka mata ia sangat terkejut saat menyadari ia tidur sampai menjelang malam.
"Ya ampun! udah malam aja!" kejutnya sambil melihat kiri kanan.
"Oh iya! aku kan main kesungainya sore hari, pantesan bablas sampai malam hari." ucapnya yang baru saja mengingat kembali.
Akhirnya ia memutuskan turun lalu melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah.
Diperjalanan pulang, ia hanya melihat sebuah cahaya kecil terus berputar - putar didalam sebuah botol kaca.
"Cahaya apa itu ya?" batinnya lalu bergegas untuk mendekat.
Saat ia melihat apa yang ada didalam botol tersebut matanya sampai terbuka lebar.
"Apa? peri? masak iya didunia ini ada peri," herannya.
"Bukannya peri itu hanya kisah dongeng ya," sambungnya lagi.
"Tolong... Tolong aku," ucap suara kecil yang terdengar sangat lemah.
"Lah! suara apa itu?" tanyanya pada diri sendiri.
"Siapa pun tolong aku..." ucapnya suara kecil itu lagi.
"Apa itu suara peri didalam botol itu ya?" pikirnya.
Saat ia mengambil botol tersebut, tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan sang peri.
"Kamu! tolong bantu aku keluar dari botol ini," pintanya dengan wajah yang tampak pucat.
Landria yang merasa kasian akhirnya menolong peri tersebut.
"Makasih ya!" ucap sang peri yang masih berusaha mengatur nafasnya.
Landria hanya mampu terus memandang sang peri yang ukurannya sebesar jari telunjuk, ia masih duduk diatas kedua telapak tangannya.
"Peri! kenapa sayapmu basah?" tanya Landria.
"Itu akibat air yang ada dalam botol kaca itu," jelasnya.
"Oh... Bagaimana kalau kamu ikut aku kerumah ku saja, disana ada AC dan kipas angin. Mungkin itu dapat membuat sayapmu cepat kering," usulnya.
Tanpa pikir panjang sang peri pun mengangguk. Lalu senyuman lebar terbit dari bibir Landria karna ia bisa memiliki teman dirumahnya.
Sesampai ditumahnya ia menyuruh peri untuk tinggal didalam rumah Barbie nya yang cukup besar.
Semenjak hari itu mereka jadi lebih akrab, keceriaan yang dulunya tak pernah ada kini sudah tanpak kembali dari wajahnya.
Tapi ada satu hal yang membuat Landria heran. Tubuh peri ketika sudah menjelang malam tampak semakin memudar, tapi kembali berwarna saat sang mentari sudah kembali bersinar.
Setiap malam sang peri lebih sering duduk dijendela kamar Landria sambil menatap langit malam dibalik kaca jendela.
"Bagaimana mana ini? waktuku sudah tidak banyak lagi," sedihnya.
"Landria. Andaikala kamu tau kalau aku ini adalah ibumu! ibu yang sering kau sebut nama sebelum matamu terpejam setiap malamnya. Ibu sebenarnya sangat ingin dipanggil kata ibu sebelum ibu kembali menjadi bulan. Tapi... Apakah kamu akan percaya jika ini benar - benar ibu?" tanyanya merasa sedih.
"Jadi ternyata kau ini adalah ibuku," ucap sebuah suara yang tak lain dimiliki oleh Landria.
"Landria! kamu sudah bangun? kenapa? apakah ada nyamuk yang menggigit mu?" tanyanya merasa gugup.
"Itu tidak penting! yang terpenting bagiku sekarang adalah, apakah kau benar - benar ibuku?" tanyanya memastikan dengan tatapan mata yang begitu serius.
"Ya! aku adalah ibumu. Tapi aku tak yakin kalau kamu akan langsung percaya jika aku langsung mengatakannya padamu," jawabnya yang langsung membuat Landria mengambil tubuhnya lalu membuat sang tubuh menyandar pada pundaknya.
"Aku sangat senang! akhirnya aku bisa kembali memeluk ibuku," ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir dipipi indahnya.
"Ibu juga sangat senang karna kamu sudah mau mengakui ibu dengan mudah," responnya lalu yang terdengar hanyalah suara isak tangis seorang ibu dan anak yang sudah lama menahan gejolak kerinduan.
Sebenarnya malam ketika ia terjebak didalam botol adalah rencananya sendiri.
Ia adalah peri bulan yang bertugas menjadi bulan ketika malam tiba untuk menghibur mata insan yang kesepian agar dapat memancarkan senyuman.
Dulu sebelum menjadi peri bulan, ia hanyalah seorang manusia biasa dan ia sempat menikah dan dikaruniai seorang putri yang cantik jelita dan diberi nama Landria.
Namun saat usia anaknya sudah memasuki tujuh tahun ia harus berpisah dengan suami dan putri kecilnya.
Karna ia harus menjalankan tugas turun temurun sebagai seseorang yang memiliki darah putri bulan didalam tubuhnya dan kebetulan ialah yang bertugas menjadi penerus sinarnya bulan.
Karna ia sangat rindu pada anaknya, maka ia di izinkan untuk libur memberikan cahaya pada bulan. Hingga beberapa malam kemarin, bulan tidak pernah muncul lagi dan sekarang adalah detik - detik terakhirnya bersama putrinya.
Landria sebenarnya sangat tidak rela jika ibunya harus kembali menjalankan tugasnya sebagai peri bulan setelah ibunya menjelaskan semuanya.
Tapi mau bagaimana? ia tidak bisa memaksa takdir untuk berjalan sesuai keinginannya.
"Sekarang ibu harus kembali, sampai jumpa putriku. Ibu harap! kamu harus bisa selalu ceria tanpa ibu, jangan buat ayahmu khawatir denganmu." nasehatnya.
"Jangan sedih ya! Jika kamu merindukan ibu, kamu bisa memandang bulan dimalam hari. Anggap saja sinar bulan itu seperti sebuah pelukan beserta senyuman ibu untukmu." jelasnya.
Landria yang sudah tak mampu lagi untuk berkata - kata hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Tangisnya semakin kencang saat tubuh sang ibu menghilang seperti abu ditiup angin tapi berupa cahaya kecil menuju kelangit dan muncullah sebuah bulan yang sangat indah.
"Pantas saja ketika ayah dirumah setiap malamnya ayah selalu mengajakku memandang sinar bulan yang indah. Ternyata ayah sedang menyuruhku memandang ibu tanpa harus mengatakannya dan ibu jadi tau perkembanganku yang sudah tumbuh sebesar ini," batinnya sambil tersenyum.
Semenjak hari itu, Landria sudah berubah menjadi gadis yang sangat ceria seperti dulu lagi meskipun tanpa adanya sosok peri. Ia pun tak pernah memaksa ayahnya untuk terus menemaninya ketika kembali dari luar kota.
"Ayah! bulan itu cantik ya! seperti ibu," ucapnya saat sedang duduk diluar bersama.
"Iya cantik! sama seperti putri ayah juga," pujinya sambil tersenyum.
"Ibu itu seindah bulan yang bersinar dimalam hari dan aku sangat suka memandangnya karna ibu seorang peri bulan yang akan terus ada di hatiku meskipun sosoknya kini hanya ada didalam bayangan," ucapnya sambil memandang bulan lekat.
"Bagaimana mana kamu bisa tau?" tanya sang ayah merasa terkejut.
"Rahasia! intinya bulan yang bersinar dengan indah itu membuatku seperti melihat kecantikan ibu saat menatapnya," jawabnya sambil tersenyum lebar lalu memeluk sang ayah dan ayah juga balas memeluknya.
Akhirnya mereka kembali menikmati suasana malam yang indah karna dihiasi oleh sang bulan yang tak pernah bosan menunjukkan sinarnya bersama teman kecilnya bintang.
🍃 The and 🍃