Emmelin tersadar dari pingsan. Tadi ia sedang berjalan melewati hutan untuk mengantarkan kue Cubit kegemaran Neneknya, Oma Ruth.
Oma tinggal berdua dengan kucing peliharaannya, Mimi, di gubuk tua yang ada di ujung jalan dari seberang hutan ini.
Satu tahun yang lalu, saat Opa meninggal dunia, Bunda pernah menawarkan Oma untuk tinggal bersama kami di pinggir kota. Tapi Oma menolaknya dengan halus.
Pun ketika Om Erlan, adik Mama juga menawarkan Oma untuk tinggal bersamanya, Oma juga kembali menolaknya.
Kepadaku, Oma memberikan jawaban ambigu. "Nanti juga Emma akan tahu alasan Oma memilih untuk tinggal di sini," ucap Oma saat itu.
Jadi, ketika Emma sudah melewati sepertiga perjalanannya, tiba-tiba saja ia merasa sesuatu terjatuh dan menimpa kepalanya. Hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.
Dan, begitu Emma tersadar, tahu-tahu satu jam telah berlalu. Akhirnya, Emma pun kembali menggegaskan langkahnya menuju rumah Oma.
Emma tak menggunakan sepeda atau alat transportasi lainnya. Untuk menuju rumah Oma, biasanya ia membutuhkan waktu setengah jam saja dengan berjalan kaki.
Jalanan menuju rumah Oma masih berupa tanah alami. Apalagi semalam tadi hujan, jadi Emma sudah membayangkan jalanan yang becek dan lagi berlumpur.
Sesampainya di rumah Oma, waktu sudah mendekati zuhur. Emma mulanya merasa heran karena suasana di luar rumah terlihat sepi.
Biasanya setiap kali Emma berkunjung, Mimi, kucingnya Oma akan lebih dulu menyambut kedatangannya, bahkan sebelum Emma sampai di depan pintu.
Tapi hingga Emma sudah berdiri di depan pintu pun, tak ada tanda-tanda kemunculan Mimi.
Emma melayangkan pandangannya ke sekitar halaman. Mengira Mimi mungkin tertidur di bawah meja di luar rumah, yang terbuat dari kayu yang di tebang. Namun, ia tak jua melihat sosok Mimi.
Pandangan Emma justru menangkap keberadaan sesuatu yang baru di depan pekarangan. Sebuah gundukan kecil, dengan sekuntum bunga matahari yang tergeletak di atasnya.
"Itu tampak seperti kuburan. Apa jangan-jangan Mimi!?" Emma bergumam.
Emma bergegas masuk ke dalam rumah yang pintunya tak pernah terkunci. Dan, ketika ia masuk, ia langsung mendapati Oma yang tampak tertidur di kursi goyangnya.
Emma mulanya ingin menanyakan perihal gundukan tanah di halaman depan kepada Oma. Tapi saat dilihatnya Oma yang tampak pulas tertidur, akhirnya Emma memutuskan untuk membiarkan Oma nya tidur terlebih dahulu. Ia akan menunggu Oma terbangun sendiri baru kemudian Emma akan menanyakan perihal gundukan itu.
Emma lalu meletakkan bungkusan kue nya di atas meja. Kemudian ia pergi ke kamar tidur Oma dan membuka lemari pakaian Oma.
Dari dalam lemari itu, Emma mengeluarkan selimut kuning milik Oma. Setelahnya, Emma kembali berjalan ke ruang depan dan menutupi badan Oma dengan selimut yang baru saja diambilnya.
Dan, detik berikutnya, Emma tiba-tiba mengalami kejadian yang luar biasa.
Saat Emma sedang menutupkan selimut di badan Oma, ia tak sengaja menyentuh pipi Oma Ruth. Dan, tiba-tiba saja Emma mendapatkan visi imajiner.
Emma melihat Omma Ruth yang tampak berdiri dan menghadap ke cermin. Sebuah senyuman sedih terpasang di wajahnya.
Terkejut dengan penglihatan itu, Emma pun spontan menjauhkan tangannya dari Oma. Dan, seiring lepasnya tangan Emma pada pipi Oma, penglihatan itu pun seketika itu juga menghilang.
Emma tercengang. Ditatapnya wajah Oma yang masih pulas tidur. "Apa! Apa yang barusan terjadi?!" Emma melontar tanya entah pada siapa.
Merasa penasaran, Emma pun akhirnya tak bisa menahan diri untuk membangunkan Oma Ruth. Ia ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi tadi.
Perlahan, Emma kembali menyentuh pipi Oma. "Oma..?" Emma memanggil dengan lembut.
Dan, ketika tangannya sudah bersentuhan dengan Pipi Oma, keajaiban itu pun kembali terjadi. Visi yang tadi pun kembali muncul di pandangan Anna.
Oma masih berdiri di depan cermin. Sebuah senyuman sedih terpampang jelas di wajahnya. Baru saja Emma hendak menyapa visi itu, ketika ia mendengar suara Oma yang berkata.
"Emmeline, Sayang.. Maafkan Oma. Oma berharap Oma memiliki waktu yang cukup untuk menceritakan kepadamu rahasia terbesar yang Oma simpan sepanjang hidup Oma ini.."
"Tapi Oma takut, Oma tak bisa menunggu lebih lama lagi. Karenanya Oma meninggalkan kenangan ini untukmu, Emm. Karena Oma yakin, ketika kamu bisa melihat kenangan yang Oma buat ini, itu berarti kamu sudah memiliki kekuatan leluhur yang Oma miliki.."
Sampai di sini, Emma melepaskan sentuhan pada pipi Oma Ruth. Entah kenapa ia memiliki firasat tak enak tentang apa yang akan ia dengar dari Oma dalam visi tadi.
"Oma.. Oma Ruth.. Bangun, Oma. Ini Emma. Emma bawa kue cubit kesukaan Oma. Emm..!" Tenggorokan Emma serasa tercekat. Pandangannya ia fokuskan pada bagian da*da Oma. Yang, setelah ia amati beberapa lamanya, ternyata tak jua menunjukkan adanya pergerakan.
Tangan Emma bergetar. Firasat itu kian kuat meremas jiwanya. Tapi ia menolak untuk mengakui. Menolak untuk menyadari.
Akhirnya, masih dengan tangan yang bergetar, Emma pun menjulurkan telunjuknya ke bawah hidung Oma Ruth. Dan, hasilnya adalah ia tak bisa merasakan hembusan napas Oma.
"?! Oma!" Emma seketika itu juga menghambur ke pangkuan Oma.
Emma lalu berusaha untuk membangunkan Oma dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Namun Oma tak kunjung terbangun.
Justru ia menyadari sensasi dingin ketika kulitnya tak sengaja kembali bersentuhan dengan kulit Oma. Dan, visi tadi kembali muncul.
"Jangan bersedih, ya, Emm. Pada dasarnya kita semua pasti akan sampai pada batas akhir usia kita. Oma Ruth pun begitu.." ucap Oma dalam penglihatan ajaib Emma.
"Oma telah mewarisi kemampuan melihat masa lalu ini sejak Oma berumur enam belas tahun.. dua tahun lebih tua dari usia mu saat ini.." lanjut Oma dalam penglihatan ajaib Emma.
"Ap..Apa!? Melihat masa lalu?!" Emma terkejut dan spontan berhenti meronta di pangkuan Oma.
Emma lalu mengangkat pandangannya ke atas. Ke tempat seharusnya di mana wajah Oma sebenarnya kini berada, namun apa yang bisa dilihatnya kini adalah Oma dalam visi.
Atau seperti yang Oma katakan, visi ajaib yang dilihatnya kini adalah kenangan/ masa lalu yang sengaja Oma tinggalkan untuknya.
Emma lalu merasakan tangannya menyentuh wajah Oma yang kini telah mendingin. Seketika itu juga buliran air berhamburan tumpah dari ujung kedua matanya.
"Oma..!! hiks!!" Emma terisak.
Ia lalu mendengar kembali Oma dalam kenangan berkata.
"Menangislah, Emm. Jika dengannya kamu akan merasa lebih baik. Tapi Oma berharap kamu akan segera bangkit dari kesedihanmu, dengan segera. Karena kamu kini telah memegang amanah kekuatan ini.."
"Kekuatan penglihatan menembus masa lalu ini bisa terjadi setiap kali kamu bersentuhan dengan kulit orang lain. Kamu bisa mempelajari semua ilmu berkaitan dengan kekuatan ini dari diari yang sudah Oma tuliskan untukmu.."
"Ambil saja di lemari baca Oma. Segera setelah kamu menyadari kekuatan ini.."
"Satu pesan Oma kepadamu adalah, sebisa mungkin, jangan menunjukkan kekuatanmu kepada orang lain. Bahkan kepada Bunda mu sekali pun. Karena Bunda mu pun tak pernah tahu kekuatan Oma ini. Itu akan lebih menjamin keselamatan mu dan keluarga mu.."
"Karena bagaimana pun juga, ada pihak lain yang telah mengincar kekuatan ini sedari lama. Dulu sekali, Oma pernah menemui salah satu pengikut kelompok jahat itu. Namun karena sesuatu hal, kami pun berdamai, dan ia telah berjanji untuk menjaga kerahasiaan kekuatan Oma ini.."
"Tapi Oma tak bisa menjamin kamu tak akan bertemu dengan kelompok jahat itu. Karenanya, Emm, sembunyikan kekuatanmu sebaik mungkin!"
"Kekuatan ini sebenarnya bisa bermanfaat untuk mu juga untuk orang lain. Sekarang, kamu bisa membantu Ayah mu menemukan kunci mobil yang sering terlupa ia letakkan di mana, bukan?"
Oma dalam kenangan tersenyum kecil. Membuat Emma ikut tertawa kecil, meski sesak di dadanya itu masih merajam, ketika diingatnya kalau Oma yang dilihatnya saat ini hanyalah berupa kenangan saja.
"Jadi jangan menyalahkan kekuatan ini ya, Emm. Kamu harus selalu bisa mensyukuri setiap pemberian yang telah dititipkan Yang Maha Kuasa kepada-Mu. Karena bagaimanapun juga, rasa syukur adalah kunci untuk setiap kebahagiaan.."
Emma tertegun, ketika ia memahami maksud kalimat terakhir Oma itu. Ia lalu menarik tubuhnya menjauh dari jasad Oma. Dan, seketika itu pula visi kenangan Oma pun terhenti. Tak lagi bisa dilihatnya.
Emma menatap wajah Oma yang masih tampak seperti orang yang tertidur pulas. Dihapusnya kedua bulir yang bersisa di pipinya. Lalu ia meraih jemari tangan Oma yang kini tak lagi memiliki kehangatan. Dan ia pun mendengar kalimat terakhir Oma kepadanya.
"Jadilah wanita yang tangguh, Emm. Oma yakin, kamu bisa menggunakan kekuatan ini untuk selalu berbuat baik. Oma sayang padamu, Emmeline.."
Dan Emma pun seketika itu juga menghambur, memeluk jasad Oma Ruth. Dua bulir air mata kembali mengaliri pipi Emma. Sesak itu kini masih juga menyiksa jiwanya.
Kepergian Oma yang sangat tiba-tiba ini masih terlalu mengejutkan baginya. Tapi Emma berjanji kepada Oma, juga pada dirinya sendiri. Kalau ia akan menjadi wanita yang tangguh seperti yang Oma harapkan.
Emma akan menggunakan kekuatan ini untuk menolong orang-orang. Seperti yang juga dilakukan oleh Oma sepanjang hidupnya selama ini.
"Emma berjanji, Oma. Emma juga sayang Oma Ruth!" ucap Emma.
Setelahnya, Emma pun bergegas menelpon Bunda untuk mengabarkan perihal Oma yang telah tiada. Dan, pada sore hari itu juga, Oma Ruth pun dimakamkan di samping gundukan tanah di depan rumah. Yang ternyata benar adalah kuburan Mimi.
'I love you, Oma..' sapa Emma untuk terakhir kalinya di dalam hati.
***