"Saya terima nikahnya Sekar binti Wijoyo dg mas kawin uang senilai 1juta rupiah & seperangkat alat sholat dibayar tunai"
"Bagaimana para saksi?"
"Saaah" Suara serempak dari para saksi membuatku terharu. Bagaimana tidak. Sekarang aku menikah dg Sekar, bunga desa sekaligus anak kepala desa di tempat tinggalku. Indahnya bulan purnama di malam ini seolah menjadi saksi bisu ikatan cinta kita. Sekar meraih tanganku. Menciumnya dg takdhim. Akupun mengusap kepalanya kemudian mengecup keningnya.
Dulu aku tak berani berharap banyak tentang hubungan kami. Aku sadar siapa diri ini. Derajat keluarga kami sangat berbeda. Sekar anak yg berpendidikan tinggi. Keluarganya berkelimang harta. Bahkan pak Wijoyo adalah kepala desa kami. Sedangkan aku hanya anak petani lulusan pesantren. Orang tuaku juga bukan orang kaya. Kami hanya memiliki sepetak sawah serta rumah kayu yg jauh dari kata mewah.
Hubungan ini berawal dari remang-remang cahaya bulan di bulan Suro. Bulan sakral bagi penduduk Jawa. Pada malam itu rembulan baru menampakkan sedikit sinarnya. Kami para penduduk desa sedang mengadakan ritual malam 1 suro. Ritual diawali dg membaca doa bersama kemudian dilanjutkan dg _ngumbah _gaman__ . Sebagai seorang lulusan pesantren aku diberikan kepercayaan oleh penduduk setempat untuk memimpin doa. Sedangkan ritual _ngumbah gaman_ dilakukan oleh pemuka adat.
Tok tok tok "Assalamualaikum.. permisi.. Pak inggi ini saya Rohmat" kataku sambil mengetuk pintu rumah pak Wijoyo. "Waalaikumsalam.. Maaf kang, bapak & ibu sudah berangkat kepunden tadi. Yang dirumah tinggal saya dan juga beberapa warga yg lagi menyiapkan konsumsi." Jawab sekar sambil menundukkan pandangannya. Hal itu membuatku leluasa memandangi wajahnya yg ayu. Kulitnya yg sawo matang tak mengurangi kadar kecantikan pada dirinya. Bibirnya yg tipis terlihat semakin manis ketika tersenyum. "Oow begitu ya neng. Tapi kemaren saya diminta pak lurah untuk memimpin doa jam 8 malam. Apa saya telat ya"
"Gak kang.. Mungkin sekarang acaranya baru dimulai. Apa akang saya antar saja? Sekalian saya mau membawa konsumsi untuk dibagikan ke warga"
"Ya neng.. kalau begitu biar saya saja yg mengangkat nasinya. Neng yg bawa snaknya."
"Baik kang. Terima kasih"
Kemudian aku mengangkat nasi kotak yg sudah tertata rapi. Kami berjalan menuju punden tempat diselenggarakan acara. Dalam perjalanan aku mencoba mengobrol untuk mengurangi rasa canggung. "Malam ini bulannya cerah ya neng"
Sekarpun tertawa mendengar ucapanku "Akang kalau ngomong suka ngawur. Yg cerah itu cahaya lampu kang. Bukan cahaya bulan. Kalau bulan sih cahayanya cuman _secleret_ aja. Kan baru tanggal 1"
"Walaupun cahayanya sedikit tapi itu sudah mewakili wajah ayumu. Bukankah alismu yg indah itu seperti bulan malam ini" Jawabku asal. "Maksud akang" "Katanya alis cah ayu _nanggal sepisan_ ?" Sekarpun tersipu malu mendengar ucapanku. "Sekar.. apakah boleh akang menanyakan sesuatu?"
"Akang mau tanya soal apa?" jawab Sekar. "Soal hati Sekar. Apakah dihatimu sudah ada nama calon pendampingmu?" Sekarpun memberi jawaban dg gelengan kepala. Membuatku semangat. "Baiklah kalau begitu aku akan mengajak orang tuaku untuk segera datang meminangmu".
Tak terasa langkah kami telah sampai pada _punden_ tempat diselenggarakan acara. Kamipun perpisah menuju tempat tujuan masing-masing.
Malam itu mataku tak bisa terpejam. Aku terus saja memikirkan Sekar. Bagaimana mungkin dia belum punya tambatan hati. Sedangkan aku tahu setiap hari pasti ada laki-laki yg datang untuk mendekatinya. Aku tahu rifalku sangat banyak. Mereka yg mempunyai wajah tampan. Mereka yg tinggi kekuasaan. Mereka yg kaya raya. Hal itu membuat nyaliku menciut.
Malam semakin larut. Namun aku masih tak bisa tidur. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil wudhu dan melakukan sholat istikhoroh. Berharap mendapatkan jawaban atas kerisauan hatiku.
Malam berganti malam. Dan aku masih rutin melakukan sholat istikhoroh. Sampai hari ke7 aku semakin mantap dg pilihan hatiku. Aku akan datang meminang Sekar entah bagaimanapun keputusan orang tuanya nanti.
Saat matahari mulai naik akupun berangkat ke sawah bersama bapak. Kami berjalan beriringan sambil membawa cangkul yg diletakkan dibahu. Akupun memberanikan diri untuk mengutarakan niatku meminang Sekar. "Pak.. Rohmat sudah besar. Sudah bisa bertanggung jawab kepada keluarga. Dan sekarang Rohmat punya niat untuk membina rumah tangga dg seorang gadis"
"Ya le.. Semoga pilihanmu wanita solehah yg bisa menjaga kehormatanmu & keluarga. Dan pasti bisa menjaga kehormatan dirinya sendiri. Bapak gak bisa memberi apa-apa. Hanya bisa mendukung & berdoa. Memangnya siapa gadis itu? Kok kamu belum pernah bawa kerumah untuk kenalan?"
"Gak usah dibawa kerumah juga bapak sudah kenal pak.. Gadis pilihan Rohmat itu Sekar. Anaknya pak lurah" seketika wajah bapak berubah masam. "Kamu itu kalau ngomong mbok yo jangan nglantur. Sekar itu anaknya pak lurah. Duetnya banyak. Lha kamu punya apa kok mau ngelamar Sekar? Bapak gak mau kalau kamu ajak kesana. Mau ditaruh dimana muka bapak kalau tetangga tau lamaran kita ditolak. Ibukmu jg pasti gak mau." Jawab bapak panjang lebar. Aku hanya diam. Memberikan waktu berfikir untuk bapak. Dan besok aku akan membujuknya lagi.
Hari demi hari berlalu. Tiada hari yg luput dari bujuk rayuku kepada kedua orang tuaku. Sampai akhirnya mereka menyerah dg sikap teguhku. "Yo wes to pak.. kalau emang itu pilihannya Rohmat kita turuti saja. Jodoh kan gak memandang harta atau jabatan. Kalau Tuhan menjodohan pasti dimudahkan urusannya" Kata ibu pasrah. "Ya sudah kalau begitu besok hari jumat kita kesana. Jumat kan hari baik." Imbuh bapak. Akupun merasa lega mendengar jawaban mereka.
Hari jum'at telah tiba. Aku dan kedua orang tuaku kerumah Sekar untuk meminangnya. "Assalamualaikum" ucapku sesampai dirumah Sekar. "Waalaikumsalam.. Ada nak Rohmat & keluarga. Mari silahkan masuk." Jawab pak Wijoyo "buk.. buatin minum 3 ya. Ini ada nak Rohmat dan keluarganya" perintahnya pada sang istri. "Ya pak" tidak berapa lama Rosa ibu dari Sekar datang dg membawa nampan berisi minum dan camilan. "Mari, silahkan diminum" sapanya ramah. Namun keramahan itu berubah menjadi kemarahan saat bapak telah memberi tahu maksud kedatangan kami. "Apa...? Kalian ingin meminang Sekar? Memangnya kalian punya apa?"
"Sudah lah bu jangan marah-marah. Kita serahkan keputusan ini kepada Sekar. Toh nantinya yg menjalani rumah tangga itu dia. Harta tidak menjamin kebahagian orang bu. Yg penting mereka saling mencintai"
"Cinta? Memangnya mereka akan kenyang makan cinta. Harta itu penting pak.. dg harta kita bisa melakukan segalanya." Belum selesai Rosa berbicara. pak Wijoyo segera memanggil Sekar. "Sekar.. sini nduk. Ada keluarga Rohmat ingin meminangmu" Sekar segera datang. Dia duduk dilantai tepat dibawah bapaknya. "Nduk.. ini keluarga Rohmat datang untuk meminangmu. Bapak serahkan keputusannya sama kamu" kata pak Wijoyo yg kemudian dijawab anggukan oleh Sekar. "Alhamdulillah. Bapak hanya bisa memberi restu pada kalian. 1 pesan bapak pada kamu nduk, Jangan pernah mengukur kebahagiaan dg harta."
"Inggih bapak". Jawab Sekar singkat.
Setelah kepulangan keluarga Rohmat, kemarahan Rosa semakin menjadi. "Sekar. Kamu itu bagaimana sih nduk. Pilih pendamping hidup kok kere. Rohmat itu gak punya apa-apa. Mending kamu nikah sama Heri aja. Anak juragan sapi. Duitnya banyak. Bisa nuruti semua keinginanmu" omongan Rosa langsung disanggah oleh pak Wijoyo "Heri memang anak juragan buk. Tp dia malas bekerja. Apa-apa hanya mengandalkan uang bapaknya. Ditambah lagi Heri sukanya mabuk-mabukan. Apa ibu pengen anak kita hidup dg seorang pemabuk? Apa ibu bisa menjamin kebahagian Sekar jika menikah dg orang kaya. Sudah lah bu. Rohmat itu anaknya baik. Agamanya jg pinter. Pekerja keras. Pasti dia akan bertanggung jawab terhadap anak kita bu"
"Mau pinter atau bagaimanapun ibu tetep gak suka. Ibu gak merestui hubunganmu Sekar." Ibu kemudian pergi kekamarnya dg emosi yg meledak-ledak. "Jangan dengerin omongan ibumu nduk. Bapak sudah merestui hubungan kalian. Menikahlah. Karena dg menikah kamu bisa menyempurnakan separuh agamamu." Kata pak Wijoyo kepada Sekar. Sekarpun berhambur memeluk bapaknya dg rasa haru
"Terima kasih bapak sudah mendukung Sekar. Tapi ibu tidak merestui kami pak"
"Kalau soal itu jangan terlalu difikirin. Biar bapak yg ngomong" jawab Wijoyo.
Bulan telah berganti. Namun Rosa masih belum bisa menerima keadaan ini. Kami menikah tepat dibulan purnama. Disaat bulan dg sempurnanya memancarkan cahaya. Begitu indah. Membuat kami terhanyut dalam terang. Berharap indahnya cahaya bulan malam ini bisa menerangi hati ibu mertuaku. Sehingga ia bisa menerimaku sebagai menantunya.